
Sigap Mykola menghindar. Pria tampan berambut gelap itu bergerak refleks menangkis kapak yang diarahkan padanya. Mykola memegang pergelangan kanan pria bertubuh tinggi besar tadi, menggunakan sebelah tangan. Sedangkan, satu tangan lainnya menahan tangan kiri lawan yang berusaha menyerang dirinya. Mykola lalu menumbuk dada pria itu menggunakan kepala.
Pria tinggi besar tadi mundur beberapa langkah. Posturnya yang kokoh, membuat dia mudah mengendalikan keseimbangan. Setelah mengusap dada yang terasa sakit, pria itu kembali maju sambil mengayunkan kapak bergagang pendek tadi. Dia menyerang Mykola yang kali ini sudah ada dalam posisi kuda-kuda.
Saat pria asing itu mendekat, Mykola sudah siap menghadang sebelum si pria sempat mengayunkan senjatanya. Satu tendangan keras terarah ke tangan pria itu, yang sudah terangkat hendak mengayunkan kapak. Saking kuatnya tendangan tadi, kapak yang ada dalam genggaman langsung terlepas dan terlempar.
Mykola memutar badan sambil kembali melesatkan tendangan kedua, yang kali ini terarah langsung ke dada lawan.
Pria tinggi besar tadi terjengkang ke belakang. Dia jatuh telentang di tanah berumput, di antara tumbuhan ilalang yang cukup tinggi.
Sebelum si pria sempat bangun, Mykola melepas blazernya, lalu melempar sembarangan. Tujuannya adalah agar dia dapat bergerak dengan lebih leluasa. Mykola berjalan gagah ke dekat lawan. Sang ajudan Vlad tersebut sudah mengangkat kaki hendak menginjak dada si pria.
Akan tetapi, dengan cepat pria itu menahan sepatu Mykola menggunakan kedua tangan. Dia mengumpulkan seluruh tenaga, lalu mendorong kaki putra Margosha Vanko tersebut hingga mundur beberapa langkah. Setelah ada jarak, barulah si pria bangkit. Dia mengepalkan kedua tangan di depan dada, bersiap untuk kembali menyerang Mykola.
“Siapa kau? Kenapa mengawasi area mansion majikanku?” tanya Mykola tegas. Raut wajahnya yang selalu terlihat kalem, kali ini berubah drastis.
“Kau tidak perlu tahu siapa aku, Bocah,” jawab pria itu diiringi senyum mengejek.
“Aku mungkin akan membiarkanmu pergi, andai kau mau berkata jujur,” ujar Mykola tanpa melepaskan sikap waspada, karena pria yang berdiri beberapa langkah di hadapannya bisa saja menyerang dengan tiba-tiba.
“Cuih!” Pria itu menanggapi ucapan Mykola dengan meludah ke samping, sebagai pertanda bahwa dia tak bersedia bekerja sama.
Melihat gelagat lawannya yang demikian, Mykola berinisiatif menyerang terlebih dulu. Dia memasang knuckle tangan sebelum kembali maju. Pertempuran sengit pun berlangsung.
Mykola beberapa kali terkena pukulan di wajah. Namun, dia juga berhasil membalas. Mykola yang menguasai ilmu beladiri, tidak mengalami kesulitan dalam menghadapi pria tadi.
Dengan beberapa gerakan saja, pria itu sudah terkapar setelah menerima tendangan serta pukulan keras di bawah dagu.
Mykola berjalan mendekat. Dia mengambil kapak yang sejak tadi tergeletak di tanah. Pria tampan itu menurunkan tubuh. Mykola menekuk kaki kanan di dekat tubuh si pria. Sedangkan, lutut sebelah kirinya menekan leher hingga wajah pria asing itu sedikit terangkat. “Katakan kau bekerja untuk siapa?” desak Mykola sambil mendekatkan ujung runcing kapak tadi ke wajah si pria.
“Bunuh saja aku, Bocah.” Bukannya menjawab pertanyaan Mykola, pria yang sudah tak berdaya itu justru masih terkesan menantang.
“Aku akan membiarkanmu pergi andai kau ….”
“Persetan kalian berdua!” cibir si pria sambil meludah ke wajah Mykola.
Mykola mendesis pelan, ketika amarahnya kembali tersulut atas sikap pria itu. Dia tak harus memberikan ampun lagi kepada pria yang baru saja bertarung dengannya. Mykola mengayunkan kapak yang berada dalam genggaman, lalu dia tebaskan ke kepala si pria. Darah segar menciprati wajah serta bagian depan kemejanya.
“Persetan juga denganmu! Cuih!” balas Mykola. Dia balas meludahi wajah pria yang kini telah menjadi mayat. Mykola kemudian berdiri, seraya terus memperhatikan jasad dengan kapak yang masih menancap di kepala. Pria tampan berambut gelap tersebut mencari sesuatu yang dapat dijadikan petunjuk. Namun, sayangnya dia tak menemukan apapun, selain rokok dan pemantik dari saku celana pria asing itu.
Pria tampan berdarah Rusia-Ukraina tersebut mendengkus kesal, sambil mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya. Mykola mengelap wajah dengan rata, membersihkannya dari bercak darah yang mengotori. Setelah itu, dia memungut blazer yang tadi dilemparkannya.
Sang ajudan setia Vlad tersebut merogoh ponsel dari saku blazer.
Pada awalnya, Mykola hendak menghubungi beberapa anak buah agar menyingkirkan mayat pria asing di semak-semak tadi. Namun, panggilan dari Vlad lebih dulu masuk ke ponselnya. Pria itu menyuruh Mykola agar segera menghadap.
Terpaksa, Mykola menyeberang jalan dan kembali ke dekat gerbang mansion. Di sana, dia berbicara kepada penjaga. Mykola menyuruh agar penjaga tadi memanggil teman-temannya, supaya dapat membantu menyingkirkan mayat di semak-semak ilalang seberang jalan.
“Iya.” Setelah memberikan sedikit arahan, Mykola bergegas masuk untuk menemui Vlad. Dia melangkah cepat sambil membawa blazer di tangan kanan. Mykola, berusaha untuk tak bertemu siapa pun. Dia bersembunyi, setiap kali ada pelayan yang melintas. Mykola melakukan itu hingga tiba di kamarnya.
Mykola harus membersihkan tubuh serta berganti pakaian, sebelum menghadap sang majikan. Beberapa saat kemudian, pria tampan berambut gelap tadi sudah terlihat rapi. Sebelum keluar kamar, dia meraih ponsel dari atas kasur. Sambil melangkah menuju ruangan Vlad, Mykola membuka pesan masuk yang berasal dari Anatoli.
“Apa maksudmu?” tanya Mykola menghentikan langkah, saat menghubungi anak buahnya tadi. “Tidak mungkin orang yang sudah menjadi mayat bisa bangun lagi dan melarikan diri,” ucap Mykola pelan tapi penuh penekanan.
“Aku dan Edmon sudah memeriksanya, tuan. Kami bahkan dibantu oleh Helge dan teman-teman yang lain untuk menyisir hingga radius beberapa meter. Akan tetapi, kami tak menemukan apapun,” lapor Anatoli. “Kami berpikir bahwa mungkin saja ada seseorang yang telah membawa mayat itu dari sini,” ujar Anatoli lagi.
“Baiklah. Terus awasi keadaan di luar. Laporkan pergerakan apapun yang sekiranya mencurigakan,” titah Mykola sebelum mengakhiri panggilannya. Dia kembali melanjutkan langkah menuju ruangan Vlad.
“Apa ada sesuatu yang penting, Tuan?” tanya Mykola, sesaat setelah memasuki ruang kerja sang majikan.
“Ya,” jawab Vlad singkat seraya mengulurkan tangan ke arah kursi yang berada di depan meja kerjanya. “Seorang pelayan telah menemukan sebuah alat penyadap berukuran kecil, saat membersihkan lantai gudang,” jelasnya.
“Alat penyadap?” ulang Mykola seraya mengernyitkan kening. Sesaat kemudian, pria itu terkesiap. Raut wajahnya menegang. “Kebetulan sekali,” gumamnya seakan tak percaya.
“Apa kau juga menemukan sesuatu yang mencurigakan, Mykola?” tanya Vlad. Sorot mata biru calon suami Altea tersebut tampak penuh selidik terhadap asisten kepercayaannya.
“Lebih dari mencurigakan, Tuan." Mykola mencondongkan badan, sehingga menjadi lebih dekat pada sang majikan. “Ada seseorang yang menerbangkan drone kecil ke area luar mansion. Aku berhasil menangkapnya. Dia adalah seorang pria tinggi besar dengan janggut yang lebat.”
“Apakah dia orang Rusia?” tanya Vlad lagi.
“Sepertinya begitu, karena dia bisa berbahasa Rusia dengan fasih. Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa dia bukan orang Rusia asli,” jawab Mykola pelan.
“Apa kau berhasil mengungkap identitasnya?” cecar Vlad, pria yang akan segera melepas masa lajangnya.
“Sayangnya tidak." Mykola menggeleng pelan. “Dia malah menantangku, sehingga terpaksa harus kuhabisi,” sambungnya dengan bahasa tubuh dan gaya bicara yang terlihat tenang, seolah-olah manusia yang dia bunuh tadi hanyalah seekor serangga.
“Apakah kau berpikir sama dengan yang kupikirkan, Mykola?” Vlad mengangkat satu alisnya sambil tersenyum samar.
“Alat penyadap dan drone adalah satu kesatuan yang sempurna, Tuan. Mereka seperti sedang mengumpulkan informasi dari mansion ini. Mungkin, kita bisa mulai menyisir setiap sudut kediaman Anda. Aku yakin bahwa si pemilik alat penyadap tadi masih berada di sekitar sini,” ujar Mykola.
"Bawa saja mayat orang yang kau bunuh tadi kemari, sekadar untuk menakut-nakuti siapa pun yang berani menyusup masuk ke mansionku,” titah Vlad.
“Tidak bisa, Tuan. Seseorang telah membawa lari mayat itu. Aku menyuruh beberapa anak buah kita untuk membuang mayatnya. Akan tetapi, setelah mereka sampai di sana ternyata mayat pria misterius itu sudah menghilang,” terang Mykola.
“Sudah pasti bahwa mayat itu tak mungkin menghilang dengan sendirinya, kecuali ….” Vlad tak melanjutkan kata-katanya. Dia memandang penuh arti pada Mykola.
“Kecuali ada seseorang atau beberapa yang membawanya pergi. Itu artinya ….”
“Orang-orang tak dikenal itu telah mengepung tempat ini!” geram Vlad memotong kalimat Mykola dengan cepat.
“Apakah kita harus merasa khawatir dengan keadaan ini, Tuan?” tanya Mykola hati-hati.
“Kurasa tidak perlu." Vlad menyeringai sambil menyugar rambut gondrongnya. “Ada Karl Volkov yang bersedia membantu kita dengan suka rela,” ujarnya jumawa.