
“Aku sama sekali tidak tahu, Tuan. Aku baru datang kemari,” jawab si bartender menggeleng kencang dan terlihat ketakutan.
“Hm.” Mykola tak berkata apa-apa lagi. Dia bergegas masuk menemui Vlad, yang tengah menyisir ruangan demi ruangan dalam bangunan tiga lantai itu. Vlad sudah berada di lantai teratas, ketika Mykola datang sambil membawa ransel Altea.
“Aku menemukan ini di tempat sampah, Tuan,” seru Mykola sambil terengah. “Itu berarti, Nona Miller memang berada di sini,” imbuhnya.
Vlad menghentikan apa yang sedang dia lakukan. Pria itu menoleh, lalu menatap ransel yang dibawa Mykola. “Ada atau tidak ada di sini, kenapa mereka harus membuang barang-barangnya?" pikir Vlad. “Aku sudah menanyai para pelayan. Tak satu pun dari mereka yang mengaku pernah melihat Altea di tempat ini," ujar Vlad seraya mengembuskan napas pendek.
“Bagaimana dengan ruang pengawas? Kita bisa mencari di rekaman CCTV, Tuan,” saran Mykola.
“Kita coba saja.” Vlad tersenyum samar, kemudian mengajak Mykola kembali ke lantai bawah. Mereka menyeret dua orang penjaga kasino yang terluka di bagian kaki. Tanpa belas kasihan, keduanya memaksa orang-orang itu untuk memberitahukan akses menuju ruang pengawas.
“Ada di ruang paling belakang,” jawab salah seorang penjaga sambil meringis, saat kaki mereka yang terus mengucurkan darah dipaksa untuk berjalan ke bagian belakang gedung. Di ruang pengawasan itu, mereka juga dipaksa oleh Vlad untuk memutar gambar yang sempat terekam CCTV sejak tadi malam.
Lagi-lagi, Vlad harus menerima kekecewaan. Dia tak menemukan keberadaan Altea di antara monitor yang memenuhi dinding ruangan.
“Bagaimana sekarang, Tuan?” tanya Mykola hati-hati. "Jika Nona Miller tak pernah kemari, lalu mengapa barang-barangnya ada di tempat Sampat?"
“Kita pulang dan atur ulang strategi,” jawab Vlad setelah berpikir.
Tanpa kedua orang itu ketahui, wanita cantik yang mereka cari saat itu tengah berada di lantai bawah tanah. Akses masuknya melalui sebuah lorong kecil. Tersembunyi di balik dinding gudang penyimpanan makanan, yang tertutup oleh lemari besi. Membutuhkan kode angka khusus, agar lemari itu bisa terbuka.
Namun, kejelian Mykola serta kecerdasan Vlad, nyatanya tak berhasil mendeteksi keberadaan lorong tersebut.
Lantai bawah tanah itu berfungsi sebagai tempat penyimpanan para gadis yang akan dijual, setelah diperiksa kondisi kesehatannya sebelum dilempar ke tempat pelelangan. Terdapat peralatan kesehatan dan kedokteran lengkap di sana. Di sana juga terdapat puluhan bangsal yang berderet rapi dan dalam kondisi bersih. Banyak pula gadis-gadis muda menarik seumuran Altea yang seperti sedang disekap di lantai itu.
“Kemarilah,” suruh Irmina ketus pada Altea, yang baru beranjak turun dari ranjang pemeriksaan dalam keadaan telanjang.
“Aku bukan badut, Nyonya. Setidaknya biarlah aku memakai pakaian terlebih dulu,” sahut Altea tak kalah ketus.
“Apa bedanya kau memakai baju atau tidak. Setelah kau dijual pada para pria hidung belang, kau tak akan memakai pakaian sehelai pun,” cibir Irmina.
Altea tak segera menjawab. Dia menatap wanita yang berprofesi sebagai tenaga kesehatan itu dengan sorot penuh amarah. Tak lama kemudian, Altea meludahi wanita itu.
“Perempuan kurang ajar!” Irmina sudah mengangkat tangan, hendak melayangkan tamparan ke wajah cantik Altea. Akan tetapi, sebuah suara nyaring menghentikan gerak Irmina.
“Apa yang kau lakukan? Jangan sampai dia tergores sedikit pun, karena dia adalah aset! Lagi pula, sejak kapan kau jadi mudah terpancing emosi, Irmina?” tegur Folke keheranan.
“Sejak aku bertemu dengan gadis sialan ini!” gerutu Irmina dengan wajah bersungut-sungut. “Katakan pada Tuan Dietmar. Gadis ini tidak bisa dijual karena dia sudah tidak perawan!” lanjutnya dengan raut jengkel.
“Apa!” Suara Folke terdengar nyaring. Matanya terbelalak lebar, seakan hendak terlepas dari kelopaknya. “Dia tidak perawan? Ta-tapi ….” Folke mendadak kalut. Dia berjalan mondar-mandir di depan Irmina. “Apa yang harus kukatakan pada Tuan Dietmar,” pikir pria kurus itu seraya mengusap-usap kepala plontosnya.
“Beritahu dia bahwa aku tidak layak dijual. Setelah itu, lepaskan aku dengan segera,” sahut Altea dengan enteng.
“Kau …,” geram Folke. Dia mengeratkan rahang sebagai tanda bahwa dirinya tengah menahan emosi luar biasa. Tak ingin terpancing lebih jauh, Folke akhirnya memutuskan untuk menghubungi Dietmar, yang saat itu berada di tempat lain bersama Herbert. Mereka tengah berada di sebuah rumah makan, yang letaknya berada agak jauh dari kasino.
“Tuan ….” Belum sempat Folke melanjutkan kalimat, salah seorang anak buahnya keluar dari dalam lorong sambil terengah-engah.
“Tuan, dua pria misterius itu berhasil mengalahkan semua pengawal di sini. Kami sudah kewalahan menghadapi mereka,” lapornya.
“Astaga!” Folke menepuk keningnya. Makin bertambahlah kecemasan yang dia rasakan kini. “Lalu, di mana mereka sekarang?” Pria berkepala botak itu malah menanyai sang anak buah. Dia sepertinya lupa, bahwa dirinya masih tersambung dalam percakapan di telepon dengan Dietmar.
“Mereka sudah pergi, Tuan,” jawab anak buah itu sembari menunduk dalam-dalam.
“Dasar bodoh!” sentak Folke sambil menjauhkan ponselnya. Dia tersadar dan pastinya tak ingin jika Dietmar sampai mendengar apa yang dia ucapkan.
“Hei, Folke!” sentak Dietmar. “Kau jangan main-main! Aku menunggumu berbicara dari tadi!”
“Tuan,” sahut Folke. “Maafkan aku. Sepertinya, rencana kita tidak dapat berjalan sempurna.”
“Apa maksudmu!” sentak Dietmar nyaring, sehingga Folke harus menjauhkan ponsel dari telinganya.
“Putri Herbert ternyata sudah tidak perawan lagi. Selain itu, kasino … kasino kita diserang, Tuan,” jelas Folke dengan suara bergetar karena ketakutan.
“Diserang? Bagaimana bisa? Ada di mana kau?” sentak Dietmar.
“A-aku menjaga aset di ruangan bawah tanah agar dia tidak melarikan diri, Tuan,” terang Folke.
“Ah, sialan!” gerutu Dietmar. Dia sudah hendak melayangkan segala sumpah serapah pada anak buahnya itu, ketika terdengar rintihan kesakitan dari Folke. “Ada apa lagi?" tanya Dietmar tak sabar. Namun, tak terdengar jawaban dari anak buah kepercayaannya tersebut. Dietmar hanya mendengar suara berisik dan teriakan tak jelas dari beberapa orang.
Tanpa Dietmar ketahui, bahwa ketika Folke tengah bertelepon dengan dirinya, Altea diam-diam menusuk punggung pria kurus itu menggunakan pisau bedah. Satu tusukan cukup dalam menembus permukaan kulit pinggang Folke.
Irmina sendiri terlalu terkejut, ketika dengan gerakan cepat Altea menyambar peralatan kedokteran yang berjajar rapi di atas meja stainless. Dia memilih sebuah pisau, karena benda itu yang paling tajam selain gunting.
“Hentikan dia!” teriak wanita bertubuh tambun tersebut, saat Altea berusaha melarikan diri.
Beberapa anak buah Folke langsung mencegah Altea yang berlari ke arah lorong. Mereka sekuat tenaga memegangi wanita muda yang memberontak dan menggila. Altea terlalu sulit untuk dikendalikan, tak seperti gadis-gadis lain yang tak berani melawan.
“Apa yang harus kami lakukan? Apakah kami boleh memukulnya?” tanya salah seorang dari anak buah Folke.
Sambil meringis, Folke mengangkat satu tangannya. Dia menggeleng lemah dengan telepon genggam masih menempel di telinga kiri. “Tuan, akan kita apakan gadis liar ini? Dia sudah tidak memiliki nilai jual? Apakah harus kita bunuh sekarang?” giliran Folke yang bertanya pada Dietmar.
“Kau akan semakin menghancurkan hidupku jika membunuhnya sekarang!” geram Dietmar. "Setidaknya tunggu sampai aku datang. Biar aku yang memutuskan setelah melihat gadis sialan itu!” Dietmar mengakhiri panggilan tadi. Dia juga membanting telepon genggam mahalnya ke atas meja restoran.
“Siapa yang akan kau bunuh, Tuan? Jangan katakan kau berubah pikiran terhadap putriku.” wajah Herbert memucat, setelah mendengar percakapan Dietmar dan Folke barusan.
“Bagaimana lagi? Putrimu sudah tidak perawan. Dia tidak akan bisa masuk bursa lelang. Jalan satu-satunya untuk mendapatkan uang lebih dari putrimu adalah dengan menjual jantung, ginjal dan organ dalam lainnya ke pasar gelap!” jawab Dietmar ketus, seraya berdiri dan berlalu meninggalkan Herbert yang terpaku tak percaya. Herbert tak menyangka akan jadi seperti ini.