Since I Found You

Since I Found You
Besieged



Setelah mendengarkan pesan dari Vlad, Altea baru bisa tidur dengan nyenyak. Dia ingin memimpikan sang kekasih yang akan menjemputnya esok hari. Baru membayangkannya saja, telah berhasil membuat seluruh beban dalam hidup Altea seakan terangkat. Altea tak pernah tidur selelap seperti malam ini, dari semenjak dirinya dibawa pergi oleh Vlad ke Rusia.


Altea merasakan tubuhnya begitu nyaman. Dia bahkan dapat mendengar dengkuran halusnya, sampai sebuah tangan kekar meraba pundak dan terus menjalar ke leher. Tangan itu berakhir di wajah, lalu membungkam mulut serta lubang hidungnya hingga Altea tak dapat bernapas.


Wanita muda itu terkesiap. Dia langsung terbangun dengan peluh bercucuran. Dirabanya permukaan ranjang. Altea juga menyapu pandangan ke sekitar. Namun, tak ada siapa pun di dalam kamar berukuran luas itu selain dirinya. “Ah, hanya mimpi rupanya,” ucap Altea seraya mengembuskan napas lega.


Baru saja Altea hendak turun dari ranjang, tiba-tiba terdengar seseorang membuka kunci pintu kamar dari luar. Tampaklah Delma yang masuk dengan ditemani beberapa wanita seumuran Altea. “Selamat pagi, Nona Miller,” sapanya. “Aku membawa para pegawaiku untuk membantumu bersiap-siap,” ujar Delma.


Altea tak banyak bicara. Dia hanya mengangguk setuju, saat para wanita membawanya ke kamar mandi dan melakukan perawatan di tubuhnya. Sementara, Delma dan pelayan lain menyiapkan peralatan make up lengkap.


Dua jam lamanya, Delma habiskan untuk menyempurnakan penampilan Altea. Dengan sangat hati-hati, dia memasangkan gaun pengantin mewah yang dipenuhi payet, ke tubuh ramping wanita muda itu. “Sudah siap,” ujar Delma sesaat setelah memasangkan mahkota kecil bertabur berlian, yang menjadi satu dengan tudung kepala berwarna putih transparan.


“Mari. Ikutlah denganku,” ajak Delma seraya mengulurkan tangannya, yang segera disambut oleh Altea. Dua wanita berbeda usia tadi melangkah anggun keluar dari kamar.


Tepat di ambang pintu, Herbert Miller sudah menunggu dengan raut tegang. Namun, pria paruh baya itu berusaha menyembunyikan keresahan yang sedang dirasakannya. Melihat penampilan cantik putri bungsunya, membuat Herbert sedikit terhibur.


“Biar kuambil alih dari sini, Nyonya. Aku yang akan menemaninya ke altar,” ucap Herbert sopan.


“Apa Anda sudah tahu di mana tempat pemberkatannya?” tanya Delma ragu. Ada rona khawatir tersirat dari wajah wanita senior itu.


“Tentu saja. Anak buah Tuan Ludwig Stegen sudah memberitahukan padaku,” jawab Herbert yakin. “Jangan lupa, Nyonya. Aku adalah ayah kandung dari wanita cantik ini. Aku yang seharusnya bertugas membawa dia melewati altar, dan mengantarkannya kepada calon pengantin pria,” sambung pria itu.


“Baiklah." Dengan berat hati, Delma memasrahkan Altea pada Herbert. Lagi pula, apa yang pria paruh baya itu katakan memang benar adanya.


Herbert segera meraih tangan Altea dengan wajah berseri. Dia meletakkan tangannya, di atas punggung tangan Altea, lalu menepuk-nepuk perlahan. “Kau cantik sekali, Nak,” sanjungnya.


“Sudahlah. Jangan banyak bicara lagi, Ayah. Cepat bawa aku ke altar,” bisik Altea teramat pelan, agar tak terdengar oleh Delma dan para pelayan yang mengikuti di belakang mereka.


“Iya, Nak.” Herbert mempercepat langkahnya. Dia keluar dari mansion, kemudian menyusuri jalan setapak yang dihiasi bunga-bunga di sisi kanan dan kiri. Jalan setapak itu berhenti, di depan gapura dari tanaman bunga rambat yang berbentuk melengkung.


Beberapa meter di depan Herbert dan Altea, tampaklah Ludwig yang sudah berdiri gagah di samping pendeta. Pria itu terlihat sangat menawan, dalam balutan tuksedo putih yang disesuaikan dengan gaun pengantin Altea.


“Ayo, Nak,” ajak Herbert, ketika dia merasa bahwa Altea hanya diam terpaku. Pria paruh baya itu sampai harus sedikit menarik lengan putrinya.


“Di mana Tuan Ignashevich?” tanya Altea setengah bergumam sambil mengedarkan pandangan. Mata coklatnya menatap setiap tamu undangan yang hadir. Namun, dia tak menemukan sosok Vlad di sana.


“Sudahlah. Kau harus percaya padaku. Dia pasti akan datang kemari dan menggagalkan pernikahan ini. Turutilah ucapannya kemarin,” bujuk Herbert pelan.


Setelah terdiam sejenak, barulah Altea kembali melangkah menuju altar. Dia melingkarkan tangannya di lengan sang ayah. Namun, Altea segera melepaskan tangannya dari Herbert, ketika sudah tiba di hadapan Ludwig.


“Kau cantik sekali, Perle,” sanjung Ludwig seraya menyentuh dagu Altea, lalu mengarahkan wajah cantik itu kepadanya.


“Apakah bisa kita mulai upacaranya sekarang?” tanya pendeta seraya berdehem pelan.


“Ya. Aku juga tak ingin membuang waktu lebih lama lagi,” sahut Ludwig. Pria itu kembali pada ekspresi wajahnya yang datar.


“Sebelum kuikatkan tali suci pada kedua mempelai, apakah ada di antara para tamu undangan yang merasa keberatan dengan pernikahan ini? Jika ya, anda bisa mengatakannya sekarang atau diam selamanya,” ucap sang pendeta lantang.


“Aku yang keberatan!” seru suara yang terdengar nyaring, dan mengganggu jalannya acara sakral yang diadakan di taman belakang mansion milik Ludwig tersebut.


Sontak, semua orang menoleh ke arah sumber suara. Demikian pula puluhan anak buah Ludwig yang sudah bersiaga membentuk pagar pembatas, di sekeliling tempat acara. Mereka mengeluarkan senjata masing-masing, yang tersembunyi di balik jas hitam.


“Apakah kau tetap akan membiarkan anak buahmu menembakku, meskipun aku datang bersama Jenderal Inre Harald, Ludwig Stegeb?” Entah dari mana datangnya, sosok tegap dan gagah Vlad tiba-tiba sudah berdiri di belakang altar yang dihiasi bunga-bunga hidup berwarna putih. Dia berjalan mendekat seraya merengkuh pundak Inre yang terlihat tegang.


“Tuan?” Wajah pucat Altea seketika berseri, saat melihat sosok yang dirinya rindukan tengah berjalan semakin mendekat.


“Jangan tembak!” seru Inre pada anak buah Ludwig, yang sudah siap membidik ke arahnya.


Ludwig tak tinggal diam. Dia segera mengangkat satu tangan kepada anak buahnya, sebagai isyarat agar mereka menurunkan senjata. Wajah rupawan itu terlihat begitu dingin dan datar. Akan tetapi, sorot matanya tajam menembus bola mata Vlad yang berwarna biru.


“Kau terlambat, Vlad Ignashevich. Altea sudah bersedia menikah denganku,” cibir Ludwig tanpa ekspresi yang berlebihan.


“Terlambat katamu? Altea hanya terpaksa menerima ini,” balas Vlad diiringi tawa mengejek.


“Minggirlah sebentar, Pak Pendeta." Ludwig menggeser tubuh kurus sang pendeta. Begitu pula Herbert yang sigap membawa Altea menjauh. Sementara, para tamu undangan yang mulai merasakan adanya masalah, menyingkir dari tempat duduk dan pergi satu per satu. Di sana hanya tersisa puluhan anak buah Ludwig yang masih mengepung Vlad dan Inre.


“Bawa dia padaku, Jendral.” Masih dengan rautnya yang datar, Ludwig mengulurkan tangan kepada Inre.


“Jika dia kubawa padamu, maka aku akan mati,” sahut Inre menggeleng ragu.


“Percayalah. Kau akan baik-baik saja. Aku akan melindungimu,” bujuk Ludwig dengan ekspresi yang semakin dingin.


“Aku tak yakin apakah kau masih bisa percaya diri melihat keadaanmu yang terdesak." Vlad menyeringai kecil, dengan bola mata terarah ke sisi kanan Ludwig.


Mau tak mau, Ludwig mengikuti arah pandang Vlad. Di sana, dia mendapati puluhan orang berjumlah dua kali lipat lebih banyak dari pengawalnya. Mereka menggunakan seragam taktis lengkap dengan helm dan rompi anti peluru.


“Menyerahlah. Lagi pula, Jenderal Inre sekarang sudah berada di pihakku. Kau tak memiliki pelindung lagi sekarang,” ujar Vlad tersenyum puas.