Since I Found You

Since I Found You
Melodious Song



Vlad mengakhiri perbincangannya dengan Mykola. Dia melemparkan ponsel ke atas kasur dengan seenaknya. Pria tampan tersebut kemudian menggerakkan kursi roda ke dekat jendela. Seperti biasa, dia duduk termenung di sana sambil menatap ke luar.


Danau itu masih terlihat sama. Airnya jernih dengan rumput liar di sekelilingnya. Mereka bergerak lembut, seperti tarian seorang balerina. Begitu indah, padahal tak ada musik sama sekali.


Sesederhana itukah sebuah kehidupan? Tak harus selalu sempurna untuk merasa lengkap. Namun, kenapa terasa begitu sulit bangkit dari keterpurukan. Apa yang Mykola katakan tadi memang benar adanya. Vlad, telah kehilangan jati diri. Semua kekuatan serta kehebatan cucu dari seorang pembesar asal Rusia Gleb Ignashevich itu telah sirna bersama sebagian kakinya yang diamputasi.


Vlad mengembuskan napas kasar. Dia melirik tongkat yang jarang sekali dirinya gunakan, selain untuk pergi ke kamar mandi. Vlad lebih senang duduk di kursi roda. Menutupi kaki dengan kain flanel agar dia tak melihat kondisi menyedihkan yang menimpa dirinya. Akan tetapi, tiba-tiba ada dorongan yang terasa begitu kuat. Menyeruak hebat seakan hendak menerobos keluar dan menariknya dengan sangat kencang.


“Apa-apaan ini?” gumam pria berambut pirang tersebut seraya menggeleng pelan. Dia menggeser kursi roda ke dekat tongkat itu berada. Vlad menyibakkan kain yang menutupi bagian bawah tubuhnya. Dia kembali memaksakan diri untuk bangkit. Pria itu meraih tongkat penyangga dan memakainya. Vlad berjalan keliling kamar menggunakan tongkat tadi.


Selama ini, dia tak pernah menggunakan tongkat terlalu lama. Ada rasa lelah yang mulai mendera. Namun, Vlad tetap berdiri. Dia ingin merasakan lagi bergerak seperti dulu. Menyingkirkan segala penghalang yang membuatnya memilih kursi roda menyedihkan.


Tiba-tiba, tercetus ide dalam benaknya. Vlad berjalan menuju pintu. Dia melangkah keluar menggunakan tongkat tadi. Namun, setelah dirinya berada dekat tangga, Vlad tertegun sambil menatap ke bawah. Belum pernah dia merasa ragu saat melihat undakan anak tangga. Berbeda dengan saat ini. Ada rasa tidak percaya diri yang tiba-tiba menyelimuti hatinya.


“Mari kubantu,” ucap suara halus dari belakang, membuat Vlad seketika menoleh. Dia melihat Altea sudah berdiri tak jauh darinya. Wanita muda itu berjalan mendekat sambil tersenyum.


“Mari turun,” ajaknya. Dia meraih lengan kanan Vlad tanpa merasa canggung sama sekali.


“Kau pikir aku tidak bisa melakukannya sendiri?” protes Vlad dingin. Namun, dia tak menolak ketika Altea memegangi lengannya.


“Aku yakin kau pasti bisa. Akan tetapi, saat ini kau terlihat ragu,” sahut Altea tenang.


“Jangan sok tahu. Aku memiliki insting yang jauh lebih tajam darimu, Nona Miller.” Vlad tersenyum sinis. "Aku mampu mengetahui segala hal yang tersembunyi."


“Aku bisa menebaknya meski kau tak memberitahukan hal itu, Tuan Ignashevich,” balas Altea mencoba untuk tetap terlihat tenang. Dia mulai memapah Vlad menuruni anak tangga dengan hati-hati.


“Lalu, kenapa kau masih terlihat tenang seperti ini?” Vlad melirik sejenak kepada wanita muda di sampingnya.


Altea tak segera menjawab. Dia terlalu fokus membantu Vlad menuruni undakan anak tangga. "Kenapa aku harus merasa takut atau risau? Aku kemari untuk menjadi perawatmu. Bukan hendak mencuri barang berharga yang kau miliki," sahut Altea membantu Vlad menuruni sisa anak tangga dengan pelan.


"Siapa yang mengatakan bahwa kau adalah pencuri?" pancing Vlad. Mereka telah berada di lantai bawah. Vlad berdiri gagah di samping Altea, meskipun dia memakai tongkat sebagai penyangga tubuhnya agar seimbang.


"Tidak apa-apa. Kau tahu segalanya," jawab wanita muda bermata cokelat itu. Dia mengarahkan Vlad ke kursi di ruang keluarga. "Kapan terakhir kau turun kemari?" tanya Altea berbasa-basi. Wanita muda itu mengalihkan topik pembicaraan.


"Setahun yang lalu," sahut Vlad sambil mengedarkan pandangan. Dia tersenyum kecil saat melihat kehadiran Elke, yang terbelalak seperti mendapat sebuah kejutan istimewa.


"Vlad? Kau di sini?" Elke bergegas menghampiri anak semata wayangnya. Wanita itu begitu bersemangat membantu Vlad untuk duduk di sofa ruang keluarga yang nyaman. “Kau hendak mencari apa, Nak? Seharusnya kau panggil saja Altea atau diriku. Kami bisa menyediakannya untukmu.”


“Aku memang sengaja ingin keluar dari kamar, Bu. Aku mulai merasa bosan di sana,” tutur Vlad diiringi senyuman yang terlihat jauh lebih tulus.


“Syukurlah, Nak ” Elke yang merasa terharu, segera memeluk putranya demikian hangat. “Aku merasa separuh jiwaku kembali lagi, setelah beberapa waktu menghilang,” ujarnya lirih sambil menempelkan kepala di bahu putra satu-satunya itu.


“Maafkan aku, Bu,” ucap Vlad lirih, tapi terdengar jelas oleh Elke.


“Maaf untuk apa, Nak?” Elke mengusap air matanya dengan segera. Dia menengadah. Menatap wajah tampan putra kesayangannya.


“Sekian lama aku melampiaskan kekecewaan dan amarahku padamu,” ungkap Vlad. Sorot mata birunya tampak pilu.


“Tak ada yang perlu dimaafkan, Nak. Aku mengerti sepenuhnya. Siapa pun yang berada dalam posisimu, tak menutup kemungkinan akan melakukan hal sama.” Elke tersenyum lembut, lalu memeluk putranya lagi. Kali ini jauh lebih erat.


Dalam moment tersebut, ekor mata Elke sempat menangkap sosok Altea yang menaiki tangga diam-diam menuju lantai dua. Elke tersenyum samar. Baru dua hari gadis tersebut bekerja di sana. Akan tetapi, Altea sudah membawa pengaruh positif bagi putranya. “Aku harus berterima kasih pada Nona Miller,” ucap Elke dengan yakin.


“Untuk apa?” Vlad mengurai pelukan sang ibu sembari melayangkan tatapan protes.


“Aku yakin, ini semua karena dia. Nona Miller yang membawa perubahan di rumah ini,” jawab Elke. Senyuman bahagia tak jua pudar dari wajahnya yang masih terlihat cantik meski tak muda lagi.


“Tidak, Bu. Ini bukan karena siapa pun. Apalagi wanita seperti dia,” sanggah Vlad. “Akulah yang sepenuhnya sadar akan kekeliruan selama ini,” tegasnya.


“Ah. Apapun yang melatarbelakangi perubahanmu, itu bukan hal penting lagi, Nak. Melihatmu turun dan mengobrol denganku seperti sekarang, itu sudah jauh lebih dari cukup.” Elke menangkup wajah Vlad dengan kedua tangan, lalu mencium keningnya lembut.


“Percayalah, Nak. Apapun yang terjadi, semuanya pasti karena satu alasan,” ucap Elke lembut.


“Aku mengerti, Bu,” balas Vlad seraya mengusap punggung tangan Elke. Dalam hati, dia juga mengakui keanehan sikapnya hari ini. Tak dapat dipungkiri bahwa ada kata-kata pedas Altea yang membuat Vlad merasa tertampar. Namun, dia tak ingin mengakui hal itu secara terang-terangan di hadapan sang ibu.


Tiba-tiba, Vlad teringat pada perjanjian yang sempat dirinya sepakati dengan Altea. Belum juga sebulan, tetapi gadis itu sudah membuat hari-harinya yang membosankan menjadi berubah.


“Aku ke atas dulu, Bu. Ada sesuatu yang harus kukerjakan,” pamit Vlad seraya mengecup punggung tangan Elke. Dia lalu bangkit dari sofa. Tangannya kuat mencengkeram pegangan tongkat yang akan dia gunakan untuk meniti anak tangga. Vlad harus kembali berjuang untuk melawan rasa ragu dan menumbuhkan keyakinan dalam diri bahwa dia sanggup melakukan semuanya.


“Biar kubantu, Nak,” ucap Elke. Wanita itu sudah maju beberapa langkah.


Namun, Elke harus mengurungkan niat, ketika Vlad mengangkat satu tangannya.


“Aku bisa sendiri, Bu. Tenang saja. Putramu tidak selemah itu,” tolak Vlad seraya menyunggingkan senyuman simpul. Dia mulai meniti anak tangga dengan hati-hati.


Sementara Elke terus memperhatikan dari bawah, hingga sang putra berhasil sampai di lantai dua. Barulah wanita paruh baya itu dapat tersenyum lega.


Vlad sempat menoleh pada sang ibu sebelum melanjutkan langkahnya menuju kamar. Saat itu, dia berpikir untuk menghubungi Mykola secepatnya. Vlad akan meminta asisten kepercayaannya tersebut, untuk menyelidiki latar belakang Altea dengan lebih detail.


Akan tetapi, belum sempat niat itu terlaksana, sayup-sayup terdengar petikan gitar diiringi nyanyian merdu yang berasal dari kamar Altea.