Since I Found You

Since I Found You
Mr. Angry



Vlad merutuki diri sendiri. Dia jarang memakai kaki palsu, sehingga tak terbiasa saat menggunakannya. Hal itu membuat gerakan dan keseimbangan tubuhnya menjadi tak terkendali seperti tadi.


Betapa malunya Vlad, ketika dia hampir terjatuh dan harus dibantu oleh Altea agar tetap berdiri tegak. “Lepaskan aku!” sentaknya demi menutupi rasa malu. Namun, hal itu segera dia sesali, karena harus melampiaskan amarah atas keadaan dirinya pada seseorang yang justru berusaha membantu.


“Ma-maaf. Aku ….” Vlad menegakkan tubuh, sembari berusaha melepaskan pegangan tangan Altea, yang masih berada di kedua lengannya.


“Tidak apa-apa. Aku sudah biasa mendapatkan bentakan dan tamparan. Itu makananku sehari-hari,” ucap Altea tersenyum getir. Dia berlalu meninggalkan Vlad, yang masih termangu di tempatnya berdiri.


Sesaat kemudian, pria rupawan bermata biru itu segera menguasai diri. Dia mulai beranjak menuju meja yang telah disediakan oleh pelayan tadi. Vlad memperhatikan Altea, yang sudah duduk lebih dulu di sana sambil membaca menu.


“Makanan apa yang cocok dimakan saat petang begini?” pikir Altea pelan. “Ah, sudahlah. Semua makanan ini terlihat lezat. Membuatku bingung.” Wanita muda berambut coklat itu melemparkan buku menu begitu saja ke atas meja.


“Kamu mau apa? Roti lapis berisi keju busuk?” cibir Vlad seraya tertawa pelan.


“Tidak lucu, Tuan. Kata-katamu selalu terdengar menyakitkan,” gerutu Altea. “Aku akan memesan makanan yang sama denganmu saja,” putusnya beberapa saat kemudian.


“Terserah kaul.” Vlad mengembuskan napas pelan. Dia menunjuk menu apa saja yang menjadi pesanannya, pada pelayan di dekat meja. Seorang pria muda dengan seragam rapi, dan selalu membungkuk sopan untuk setiap pesanan yang Vlad sebutkan.


“Baik, Tuan. Akan segera kami siapkan semua pesanan Anda,” ujar si pelayan, seraya mengangguk serta membungkukkan badan. Sebuah sikap yang dirasa terlalu sopan di mata Altea. Hal itu menggelitik naluri keingintahuannya.


“Kenapa pelayan di sini, bersikap seolah-olah bahwa kau adalah raja?” tanya Altea sembari menautkan alis.


“Tentu saja, karena mereka tahu bahwa aku yang menggaji karyawan di sini,” jawab Vlad enteng. Sorot matanya lurus menatap pada Altea.


“Kau menggajinya?” ulang Altea tak mengerti. “Jadi … restoran ini milikmu?” Bibir mungil wanita cantik bermata cokelat itu terbuka lebar saking terkejutnya.


“Begitulah,” sahut Vlad. Dia mengambil segelas air putih yang sudah tersedia di atas meja, lalu meneguknya perlahan.


“Kau? Pemilik restoran mewah dan paling terkenal ini?” Altea berdecak kagum, “ta-tapi … rumahmu tampak sangat sederhana. Kau seperti orang desa pada umumnya,” pikir Altea masih dengan mimik tak percaya.


“Kau pikir kenapa Mykola memanggilku Tuan?” Vlad mendengkus kesal.


“Kukira kalian hanyalah dua sahabat. Tuan Mykola Vanko terlalu takut padamu, sehingga dia bersikap penuh hormat dan kaku seperti itu. Walaupun terkadang aku ...." Altea kembali terdiam.


“Mykola adalah satu-satunya orang yang kupercaya. Dia menangani segala urusan bisnis dan perusahaan selama aku menyendiri di Sieseby,” jelas Vlad pelan. Ada kegetiran yang terpancar dari tatapannya yang sayu.


“Kenapa Anda memilih untuk menyendiri? Apa hanya gara-gara kehilangan sebelah kaki?” tanya Altea dengan begitu enteng.


Namun, itu justru membuat Vlad kembali terpancing emosi. “Mudah sekali bicaramu, Nona. Aku berdoa supaya kau tak pernah kehilangan sedikit pun dari anggota tubuhmu,” geram Vlad. "Kau tak tahu seperti apa rasanya kehilangan kebanggaan dan harga diri. Kaki adalah penopang tubuh. Ketika aku kehilangan sebelah penopang dari tubuhku, maka keseimbangan dalam diriku pun menjadi terganggu. Ruang gerakku menjadi sangat terbatas."


“Bukan itu maksudku,” kilah Altea. Dia lalu terdiam untuk mengatur napas, sambil merangkai kata-kata yang terdengar jauh lebih halus. Altea dapat menangkap sesuatu dari cara Vlad menanggapi ucapannya. Pria itu menjadi sangat sensitif karena kondisi fisiknya yang tak lagi sempurna.


“Um, menurutku ….” Altea menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Bagiku, kau sama sekali tak terlihat seperti seseorang yang cacat. Kau justru terlihat sangat sempurna. Kau tampan, gagah, penuh wibawa dan ... disegani. Buktinya, meskipun kau duduk di kursi roda, tapi Tuan Mykola terlihat begitu segan padamu. Itu artinya, kehilangan satu kaki, tak membuat kharisma dalam dirimu menjadi sirna. Cuma ...." Altea menjeda kata-katanya.


"Cuma apa?" tanya Vlad seraya menaikkan sebelah alis.


“Sungguh, Tuan. Saat pertama kali melihatmu, aku berpikir bahwa kau tak kekurangan apapun. Sejujurnya, aku tak pernah melihat seorang pria yang setampan dirimu." Altea kembali menyanjung Vlad habis-habisan. Wanita berambut panjang itu berdehem cukup keras. Dia baru menyadari bahwa dirinya telah banyak bicara.


“Begitukah?” tanya Vlad seraya kembali mengarahkan pandangan kepada Altea.


“Ma-maaf, jangan bentak aku lagi. Aku tidak bermaksud tidak sopan, Tuan.” Altea segera menenangkan sang majikan, yang dia kira akan meluapkan amarahnya lagi.


"Ternyata kau seorang perayu ulung rupanya," ujar Vlad dengan senyuman kecil di sudut bibir.


"Aku belum pernah merayu pria manapun seperti tadi," balas Altea polos.


"Lalu, apa maksudmu mengatakan semua kata-kata bualan tadi padaku?"


"Tentu saja agar kau tak marah-marah lagi," sahut Altea yang segera mengulum bibirnya.


Vlad kembali tersenyum samar. “Aku terlalu lapar, sampai-sampai tak punya tenaga untuk memarahimu,” sahut pria itu, bersamaan dengan beberapa orang pelayan membawakan troli makanan. Di atas troli tadi, ada beberapa menu pesanan pria rupawan itu. Para pelayan menata semua hidangan di hadapan Vlad dan juga Altea.


“Genießen Sie die Vorspeise (selamat menikmati hidangan pembuka), Tuan dan Nona,” ucap beberapa pelayan tersebut sebelum berlalu.


“Makanlah,” suruh Vlad seraya mengangkat dagu, sebagai isyarat agar Altea mengambil sendok dan garpu yang sudah tertata rapi di samping piringnya.


“Gunakan alat makan dari urutan yang terluar,” ujar Vlad. Nada bicaranya kali itu tak terlalu ketus seperti biasanya.


Altea menurut. Dia meraih sendok dan garpu, kemudian mulai menyantap makanan pembuka khas Jerman, yaitu Bayrischer Kartoffelsalat (Salad Kentang Bavaria). “Ini enak sekali!” serunya sambil memejamkan mata rapat-rapat. Wanita muda itu memukul-mukulkan kedua tangannya yang tengah menggenggam alat makan ke permukaan meja. Seumur hidup, Altea tak pernah merasakan makanan senikmat seperti yang sedang dia santap.


“Sudah kukatakan agar kau menjaga sikapmu. Kau boleh memakai pakaian sederhana dan asal-asalan, tapi sebisa mungkin jangan menunjukkan sikap dan tak terkendali seperti itu. Tunjukkan bahwa kau adalah wanita yang berkelas,” tegur Vlad, bagaikan seorang guru yang tengah mendidik muridnya.


Seketika, Altea terdiam. Putri Herbert Miller itu menurunkan kedua tangan ke bawah meja. Sementara, tatapannya tampak memelas. Hal tersebut dia lakukan sebagai pertanda bahwa dirinya merasa bersalah. "Maaf, Tuan. Aku belum terbiasa. Aku terlalu sering hidup di jalanan yang tanpa aturan." Altea tersenyum canggung.


"Biasakan hal itu, jika kau masih ingin menjadi perawatku. Jangan bersikap menjijikan," tegur Vlad lagi dengan ketus.


"Iya, Tuan. Aku akan memperbaiki sikapku," sahut Altea. Perlahan, dia menaikkan tangan kanan, lalu menyendok satu suapan. Namun, baru saja ketenangan dirasakan di meja makan itu, Altea kembali berulah. Dia bergerak-gerak seperti cacing kepanasan.


Vlad yang merasa terganggu, menatap aneh kepada Altea. "Kenapa lagi?" tanyanya tak habis pikir.


"Aku ingin buang air kecil," jawab Altea setengah berbisik.


"Astaga." Vlad berdecak kesal. Namun, dia tetap menunjukkan ke mana arah toilet pada wanita muda itu.


Tanpa berlama-lama, Altea segera beranjak dari hadapan Vlad. Wanita muda tersebut berjalan dengan terburu-buru, bahkan setengah berlari. Dia sudah tak tahan ingin segera ke kamar mandi.


Akan tetapi, ketika hendak melewati pintu yang menghubungkan ruangan tadi dengan lorong menuju toilet, tanpa sengaja Altea menabrak seorang pria.


"Hey!" protes si pria yang memiliki postur tubuh sama seperti Vlad. Pria berambut cokelat tadi sedang sibuk dengan ponselnya. Dia mendongak, lalu menatap tajam kepada Altea.