
“Tidak, Tuan!” Altea segera mengangkat wajahnya. “Tidak! Jangan lakukan apapun,” cegah wanita muda itu. “Aku tidak ingin Anda melakukan sesuatu yang berbahaya demi diriku.”
“Lalu, kau ingin aku melakukan apa?” tanya Vlad yang masih memasang raut serius. Pria tampan tersebut tampak lain dari biasanya. “Kau tahu bahwa aku sudah mengobrak-abrik Kasino Goldgeld. Dietmar Kreuk hanya memiliki satu kaki saat ini. Folke bahkan telah tewas dengan kepala berlubang. Aku tak akan menyesal jika harus menghabisi Ludwig Stegen demi dirimu.” Vlad berbicara dengan penuh penekanan. Dia tak main-main atas ucapannya tadi.
Mendengar penuturan Vlad yang terdengar mengerikan, Altea bergerak mundur hingga punggungnya menyentuh dinding kaca. Wanita muda berdiri sambil bersandar, karena dia tak dapat bergerak ke manapun lagi. Terlebih, ketika Vlad sudah berdiri tepat di hadapannya.
Mereka berdua dalam keadaan basah kuyup. Akan tetapi, Vlad tak memedulikan rambut gondrongnya yang menjadi tak beraturan, karena terkena air. Begitu pula dengan Altea. Dia menepiskan rasa dingin yang mulai menyergapnya, akibat mandi terlalu lama. Saat ini, Altea bahkan masih dalam keadaan polos.
“Aku akan melakukan apapun untuk membuatmu merasa nyaman dan aman,” ucap Vlad pelan serta dalam. Suara beratnya berbaur dengan gemericik air dari dalam shower.
Vlad menyentuh paras cantik Altea, lalu mencium mesra wanita itu beberapa saat, hingga dia kembali melepaskan bibir wanita muda itu.
“Aku tak peduli, meskipun kau tidak memiliki tangan dan kaki. Selama dirimu masih menyimpan perasaan cinta untukku, itu sudah lebih dari cukup,” ucap Vlad seraya merekatkan keningnya dengan kening Altea.
“Dari mana Anda tahu, bahwa aku mencintaimu, Tuan?” tanya Altea seraya memejamkan mata.
“Aku tahu meskipun kau tak mengatakannya secara langsung. Aku adalah pria dewasa, yang sudah mengerti dengan bahasa tubuh lawan jenisku. Tak perlu malu mengakui perasaanmu. Katakan saja.” Vlad menyentuh dagu Altea, kemudian mengangkatnya perlahan. “Besok, ibuku tiba dari Jerman. Dia akan menghadiri upacara pernikahan kita. Kuharap, kau tak menunjukkan sikap seperti ini di hadapannya, karena dia pasti akan jauh lebih sedih.”
Altea mengangguk pelan. Dia tak bisa berkata apapun, karena sibuk mengatur debaran jantungnya. Perasaan tak karuan seperti itu memang kerap hadir, setiap kali dirinya berhadapan langsung dengan Vlad.
“Bagus. Gadis pintar.” Vlad tersenyum, lalu mengusap permukaan bibir Altea yang basah sebelum kembali menikmatinya seperti siang tadi, sebelum mereka bercinta.
Keesokan harinya, Elke tiba di mansion bersama Mykola. Wanita paruh baya itu teramat bahagia, ketika bisa bertemu lagi dengan Altea. Kerinduannya terhadap wanita muda tersebut sudah tak terbendung.
“Ya, Tuhan. Akhirnya kita dapat bertemu lagi, Nak.” Penuh haru, Elke memeluk serta menciumi Altea hingga berkali-kali. Rasa bahagia tak terkira, terpancar jelas dari raut wajah ibunda Vlad tersebut.
“Aku sangat bahagia, karena kau telah kembali bersama putraku. Dia akan menjagamu dengan baik, Nak,” ucap Elke. Lagi-lagi, wanita itu mengecup lembut kening Altea.
“Terima kasih, Nyonya. Aku juga sangat bahagia bisa bertemu lagi dengan Anda,” balas Altea tak kalah bahagia. Senyuman manis nan hangat terlukis indah di paras cantiknya.
“Tidak, Nak. Berhenti memanggilku dengan sebutan ‘Nyonya’. Mulai sekarang, panggil aku ibu. Kau adalah putriku. Putriku yang semakin cantik. Lihatlah. Penampilanmu sudah banyak berubah." Air mata terus berjatuhan membasahi pipi Elke. Wanita paruh baya itu terlihat sangat emosional. Dia tak kuasa mengendalikan perasaannya yang luar biasa bahagia.
Sementara itu, Vlad hanya terpaku menyaksikan adegan di hadapannya. Tak berbeda dengan Mykola. Pria tampan berdarah Rusia-Ukraina tersebut tidak dapat berkata apa-apa. Namun, melihat kasih sayang yang ditunjukkan Elke terhadap Altea, tiba-tiba telah memantik rasa rindunya terhadap sang ibu.
Sekian lama, Mykola meninggalkan rumah dan ibunya yang merupakan seorang janda. Dia tak pulang dan tidak juga menghubungi wanita yang telah mengandung serta melahirkannya tersebut. Perasaan bersalah hadir dalam relung hati pria berambut gelap itu.
Mykola bergeser semakin mendekat kepada Vlad. Dia berbisik pada sang majikan. Vlad hanya menanggapinya dengan anggukan. Setelah itu, Mykola membalikkan badan, lalu meninggalkan Vlad dan yang lainnya.
Dengan kecepatan tinggi, asisten kepercayaan Vlad tersebut mengendarai mobilnya menuju bagian lain Kota St. Petersburg. Hanya dalam waktu satu jam, dia telah tiba di salah satu townhouse kota itu. Mykola menghentikan kendaraannya, tepat di depan bangunan dua lantai dengan dinding berwarna cokelat tua.
Mykola terdiam beberapa saat di dalam mobilnya, sebelum memutuskan turun. Pria itu melangkah gagah sambil merapikan blazer serta rambut gelap, yang sebenarnya masih tertata dengan baik. Mykola berdiri di depan pintu masuk utama. Pria tampan tersebut tampak salah tingkah. Namun, ketika dirinya sudah mengangkat tangan hendak mengetuk, tiba-tiba pintu dibuka dari dalam.
“Kau siapa?” tanya Mykola seraya menautkan alis.
“Aku tetangga Bibi Margosha,” jawab gadis itu ramah. “Bibi!” panggilnya sekali lagi.
“Maaf, Nona. Aku bukan petugas dari bank. Aku ….”
“Mykola? Apa itu kau, Nak?” Terdengar suara seorang wanita dari dalam rumah. Wanita paruh baya yang langsung menuju pintu. Dia berdiri di sebelah gadis tadi. “Astaga, ternyata memang benar dirimu.” Tanpa banyak bicara, wanita itu langsung menghambur ke dalam pelukan Mykola yang hanya tertegun.
Sedangkan, gadis tadi menyaksikan dengan raut tak percaya. “Apakah dia Mykola yang sering kau bicarakan padaku, Bibi?” tanya si gadis.
“Ya, kau benar. Dia Mykola. Putraku,” jawab wanita yang tak lain adalah Margosha Vanko, ibunda Mykola.
“Astaga.” Si gadis berdecak tak percaya. “Bibi tidak pernah mengatakan bahwa dia setinggi ini,” ujarnya polos, seraya terus memperhatikan Mykola yang lama-kelamaan merasa risi.
“Putraku sudah dewasa. Pantas saja jika dia tumbuh setinggi ini,” ucap Margosha menanggapi. Dia sudah melepaskan diri dari pelukan Mykola yang terlihat kikuk. Margosha menyeka air matanya, lalu menoleh kepada gadis tadi. Setelah itu, dia mengalihkan perhatian pada Mykola yang masih terpaku di tempatnya. “Masuklah, Nak. Ini adalah rumahmu. Kau tak perlu merasa sungkan,” ajak Margosha. Dia meraih tangan Mykola, lalu menariknya masuk. Sementara, si gadis masih berdiri dekat pintu.
“Kemarilah. Akan kuperkenalkan kau pada putraku.” Margosha melambaikan tangan, menyuruh gadis itu agar mendekat. Gadis cantik berambut panjang tadi menurut. Dia duduk di sofa yang kosong, tak seberapa jauh dari Mykola.
“Kau sudah sering mendengar ceritaku tentang Mykola. Ini adalah keajaiban. Aku rasa, berkat dirimu juga yang sering mendoakanku setiap kali pergi ke gereja,” ucap Margosha yang tak dapat menyembunyikan keharuannya. “Inilah putraku yang tampan. Dia sudah kembali. Ternyata, dia tak lupa jalan menuju rumahnya.”
“Aku turut senang, Bibi. Setidaknya, kau tak akan merasa kesepian lagi sekarang.”
“Ya, semoga.” Margosha menyeka air matanya, lalu menatap Mykola yang terlihat kebingungan. Dia tak tahu harus berkata apa.
“Gadis itu adalah Milana Sezja. Dia yang selalu menemaniku di sini.” Margosha mengarahkan tangannya kepada gadis cantik tadi.
Mykola mengikuti arah tangan sang ibu. Tanpa diduga, tatap matanya beradu dengan gadis bernama Milana tadi. Pria rupawan itu mengangguk kikuk seraya melemparkan senyuman.
“Apakah kau bekerja di tempat yang jauh, Tuan?” tanya Milana.
“Tidak … ya … aku ….” Mykola tergagap, lalu terdiam untuk mengatur ulang kalimatnya. “Aku lebih banyak menghabiskan waktu di Jerman,” jawab Mykola kemudian.
“Kau terlihat sangat gagah dan menawan, Nak. Sepertinya kau sekarang bukanlah orang sembarangan,” ucap Margosha mendekat. Tangannya terulur dan bermaksud untuk menyentuh pundak Mykola.
Namun, tanpa diduga ajudan kepercayaan Vlad Ignashevich itu tiba-tiba mundur dengan sikap penuh waspada. Dia bahkan hampir menangkis tangan Margosha, andai tak segera dirinya hentikan.