
Altea duduk di depan meja rias, menghadapi berbagai jenis alat kecantikan yang tak asing lagi bagi dirinya. Selama kurang lebih satu minggu, dia digembleng dengan berbagai pelatihan oleh Delma.
Altea memandangi paras cantiknya yang sudah dipoles riasan. Sapuan blush on dan lipstik merah, telah berhasil membuat wanita dua puluh tiga tahun itu menjadi terlihat sangat berbeda. Putri bungsu Herbert tersebut, bahkan sempat merasa tak percaya dengan tampilan dirinya.
“Kau belum berganti pakaian, Nona Miller?” Suara Delma membuyarkan lamunan Altea.
Altea menoleh. Dia tersenyum lembut. Bahasa tubuhnya sudah terlihat jauh lebih luwes dan tenang, jika dibandingkan dengan beberapa waktu yang lalu. Altea kembali mengarahkan pandangan ke cermin rias, ketika Delma mendekat dan berdiri di belakangnya.
“Kau memiliki rambut yang sangat indah, Nona Miller. Ini merupakan aset berharga bagimu,” ucap Delma sambil merapikan rambut cokelat Altea. Setelah itu, dia beranjak ke dekat tempat tidur.
Delma mengambil gaun malam seksi berwarna hitam. “Segeralah berganti pakaian. Sebentar lagi, akan ada seseorang yang menjemputmu kemari,” suruhnya sembari menyerahkan gaun malam dengan tali kecil di bagian pundak dan belakang.
Altea berdiri. Dia menerima gaun minim tersebut. Wanita muda tersebut memandangi pakaian yang sedang dipegangnya. Seumur hidup, Altea tak pernah mengenakan baju dengan bahan yang sangat sedikit seperti itu. “Apa karena ini aku harus mencukur bulu kaki dan ketiak,” ujarnya tak acuh seraya berlalu ke kamar ganti, meninggalkan Delma yang hanya tersenyum geli mendengar ucapan wanita muda tadi.
Sementara itu, di sebuah apartemen mewah. Ludwig berdiri sambil memandang keluar. Tatapannya menerawang, menembus kegelapan malam berhiaskan kilauan lampu-lampu gedung pencakar langit. Cahaya lampu kendaraan di jalanan pun ikut menyemarakan, dan seakan ingin melawan warna pekat yang menyelimuti.
Cukup lama Ludwig terpaku di tempatnya, hingga terdengar suara lift berbunyi. Pria tampan berpostur tegap itu menoleh, bersamaan dengan pintu lift yang terbuka. Tampaklah seseorang yang sedang dia tunggu hadir di sana.
Seorang wanita dengan ankle strap heels 15 cm berwarna gold, melangkah masuk ke ruang apartemen mewah berlantaikan marmer hitam. Suasana pencahayaan yang temaram, tak dapat menyembunyikan kecantikan dan pesona wanita dalam balutan mini dress yang memperlihatkan sebagian besar keindahan tubuhnya.
Wanita berambut panjang itu berdiri dengan tatapan ragu, meskipun dia tetap melangkah maju hingga berada tepat di hadapan Ludwig yang memandangnya lekat. “Selamat malam,” sapa si wanita seraya memperlihatkan senyum manisnya, untuk menepis rasa gugup yang dirasakan saat itu.
“Altea Miller,” sebut Ludwig dengan suara berat dan dalam. Pria tampan berambut cokelat tersebut tak mengalihkan perhatiannya sejak tadi, dari sosok cantik di hadapannya.
“Ya,” balas si wanita yang tak lain adalah Altea. “Nyonya Delma mengatakan agar aku datang kemari malam ini. Apa aku sudah layak untuk dijual pada pria dari kalangan atas?” tanya Altea dengan perasaan berkecamuk dalam dada.
“Jika Delma mengatakan ‘iya’, maka itu artinya memang ‘ya’. Dia yang lebih tahu seberapa besar kesiapanmu,” jawab Ludwig.
Altea mengangguk pelan. Dia menunduk demi menghindari tatapan lekat yang diarahkan Ludwig padanya. Altea merasa tak nyaman dengan sikap pria itu. “Jadi, di mana aku bisa menemui pria itu?” tanyanya sambil terus menunduk.
“Di hadapanmu,” jawab Ludwig singkat, tetapi berhasil membuat Altea seketika mengangkat wajahnya. Wanita muda bermata cokelat itu menelan ludahnya dalam-dalam.
“Kau?” Altea tak tahu harus berkata apa. Dia mengikuti gerakan Ludwig yang melangkah ke sofa, dengan sebotol minuman di atas meja.
“Astaga. Menjijikan,” gumam Altea sangat pelan, sehingga Ludwig tak dapat mendengarnya. Meski begitu, Altea tetap melangkah gemulai ke tempat pria itu berada.
Altea duduk di paha sebelah kiri Ludwig. Wangi parfume pria bermata abu-abu tersebut seketika tercium dengan sangat jelas. Aroma yang berbeda dengan milik Vlad. Namun, Altea yakin bahwa keduanya pasti merupakan parfume mahal dan berkelas, karena tak seperti bau sepupunya Willy.
Ludwig menuangkan minuman ke dalam gelas kristal. Dia menggenggam gelas mewah itu, lalu meneguk pelan isinya. Dari jarak sedemikian dekat, Altea dapat melihat betapa tampan dan memesonanya pemilik Kasino Goldgeld tersebut. Keindahan paras yang tersembunyi, dalam sikap dan raut kejam serta dingin yang selalu diperlihatkan pria tersebut.
Satu tegukan berhasil membasahi tenggorokan Ludwig. Dia lalu beralih pada Altea. Pria dengan kemeja hitam itu mendekatkan gelas bekas dirinya minum ke mulut Altea. “Minumlah,” ucapnya pelan setengah berbisik.
Altea merasa ragu. Walaupun dia pernah hidup di jalanan, tetapi dirinya tak berminat mencicipi minuman beralkohol seperti itu. Namun, wanita muda bergaun minim tersebut kembali teringat akan semua yang Delma katakan, saat memberikan arahan-arahan padanya.
Mau tak mau, Altea melakukan apa yang Ludwig katakan tadi. Altea mendekatkan bibirnya yang merah merona, lalu meneguk minuman di dalamnya. Susah payah dia menelan minuman itu. Terlebih, karena Ludwig memberinya tak hanya satu tegukan. Altea kembali menenggak minuman tersebut hingga beberapa kali.
“Aku bukan seorang peminum,” ucap Altea yang masih duduk di paha sebelah kiri Ludwig.
Pria tampan berambut cokelat itu tak menanggapi. Dia hanya melirik sesaat kepada Altea, lalu meletakkan kembali gelas yang sudah kosong di atas meja.
Ludwig melingkarkan tangan kiri di pinggul wanita itu. Sedangkan, tangan kanan menyentuh dagu Altea. Satu sentuhan lembut di bibir si wanita. Adegan itu berlangsung selama beberapa saat, hingga Ludwig memindahkan tangannya dari dagu ke leher Altea.
Ludwig tak ingin wanita yang akan menjadi teman kencannya malam itu, menghindari ciuman yang makin lama semakin panas dan menggairahkan dari dirinya.
Luma•tan demi luma•tan disertai isapan lembut, memanjakan mereka. Altea pada awalnya tak menyukai apa yang Ludwig lakukan. Kali ini, dia tampak mulai mengikuti irama permainan si pria. Ciuman Ludwig begitu nikmat, meski tetap terasa berbeda jika dibandingkan dengan gaya seorang Vlad Ignashevich.
Setelah puas menikmati bibir merah Altea, Ludwig kemudian menyuruh wanita berambut panjang itu untuk turun. Dia memposisikan Altea berdiri membelakangi, dengan kedua kaki ditekuk sejajar di lantai dan dijadikan sebagai tumpuan. Tinggi Altea kini sama dengannya yang masih dalam posisi duduk.
Altea yang ada dalam pengaruh minuman beralkohol, lagi-lagi hanya menurut. Dia tak menolak, ketika tangan Ludwig dengan cekatan melepas simpul pita dari tali di bagian belakang mini dress-nya. Setelah itu, Ludwig menurunkan tali kecil di pundak kiri dan kanan Altea, hingga bagian atas tubuh wanita itu polos seketika. Altea mengembuskan napas pelan. Ini adalah kali kedua dia memperlihatkan tubuh polosnya di depan seorang pria.
“Berbaliklah,” titah Ludwig dengan nada bicara seperti tadi.
Altea yang masih dalam posisi berlutut, memutar tubuh dengan pakaian yang sudah terlepas. Jatuh dan terkumpul di lantai. Dia terdiam memperhatikan Ludwig yang tengah melonggarkan sabuk, membuka pengait celana, lalu menurunkan resleting. Ludwig juga memperlihatkan sesuatu, yang membuat wanita itu kembali menelan ludah dalam-dalam.