Since I Found You

Since I Found You
Beautiful Mermaid



Luma•tan mesra dan panas terus berlangsung, bahkan hingga pintu lift terbuka. Ludwig mengangkat tubuh Altea, yang segera melingkarkan tangan di leher pria itu. Pria tampan tersebut membawanya berjalan keluar dari lift, tanpa menghentikan ciuman menggairahkan tadi.


Ludwig lalu mendudukkan Altea di bangku bulat dekat meja bar. Setelah itu, barulah dia menghentikan adegan manis tadi untuk beberapa saat. “Apakah hanya ciuman yang dapat menghentikan segala ocehanmu?” tanya Ludwig setengah berbisik. Tatap matanya sudah terlihat lain, menyiratkan dorongan luar biasa yang ingin segera diluapkan dengan leluasa.


“Apa kau baik-baik saja?” tanya Altea tak menghiraukan pertanyaan pria tampan di hadapannya.


“Tidak,” jawab Ludwig. “Aku menjadi tidak baik-baik saja setelah bercinta denganmu kemarin malam.” Helaan napas berat pria tiga puluh tahun tersebut, begitu jelas di ruangan apartemen yang sepi.


Altea menatap lekat si pemilik mata abu-abu itu. Harus kembali dia akui, bahwa Ludwig memang teramat tampan. Dia memiliki aura yang sangat berbeda jika dibandingkan dengan Vlad. Ludwig, terlihat sedikit lebih dewasa dan matang. Selain itu, penampilannya juga rapi. “Apa maksudmu?” tanya Altea tak mengerti.


“Aku tak ingin ada pria lain yang menikmati tubuhmu,” ucap Ludwig masih dengan nada bicara seperti tadi. Embusan napas beratnya menghangat di wajah cantik Altea. Membuat wanita muda itu memejamkan mata. Terlebih, ketika Ludwig menjalarkan ciuman ke lehernya.


Altea mende•sah pelan. Dia ingin menjauhkan wajah berhiaskan bulu-bulu yang terasa sedikit tajam itu dari lehernya. Akan tetapi, sensasi geli bercampur nikmat yang dia rasakan, tak dapat dirinya abaiakn begitu saja. “Apa kau akan membayarku untuk malam ini?” tanya Altea sambil mere•mas tengkuk pria yang terus mencumbuinya.


“Tenang saja. Aku akan membayarmu,” sahut Ludwig seraya mengangkat wajahnya yang sudah memerah karena menahan gejolak. Pria itu sudah tak sabar. Dia membantu Altea turun, lalu menuntunnya berjalan menuju kamar.


Di dalam kamar, Ludwig kembali melu•mat bibir merah Altea. Tangannya cekatan menurunkan mini dress yang wanita muda itu kenakan, termasuk pakaian dalam berbahan lace.


Ludwig merengkuh tubuh ramping Altea yang sudah polos, kemudian membaringkannya di kasur.


Lembut dan penuh perasaan. Hangat serta bergairah. Cumbuan mesra Ludwig menghujani tubuh indah Altea, dari ujung kaki hingga bibirnya kembali bertaut dengan bibir wanita muda tersebut.


Malam itu, Altea kembali melihat postur tegap Ludwig tanpa tertutupi apapun. Dia dapat menyentuh lengan berhiaskan ukiran tato. Dada serta perut kokoh pria tersebut. Altea juga kembali merasakan hal lain, yang membuatnya tak mampu berkata-kata.


Penyatuan indah kemarin malam, mereka ulangi lagi untuk kesekian kalinya. Desa•han dan erangan, berbaur menjadi satu dengan helaan napas berat yang mengisi kamar mewah bernuansa gelap.


Di atas tempat tidur berlapis sprei berbahan sutra warna olive, Ludwig kembali menikmati pelayanan Altea yang sebenarnya belum berpengalaman. Akan tetapi, entah mengapa dia merasa ketagihan untuk kembali mengulangi percintaan panas mereka.


“Hanya aku yang boleh yang boleh menyentuhmu,” bisik Ludwig menghangat di telinga Altea.


Altea menoleh ke samping, di mana wajah tampan Ludwig berada. Dia tersenyum kecil untuk sesaat, sebelum dirinya kembali meringis menahan hentakan kencang Ludwig dari belakang. Pria itu tak memberinya ampun sama sekali, bahkan hingga Altea terkulai. Ludwig juga tidak peduli dengan sprei basah, yang menandakan bahwa dirinya kembali membuktikan kehebatan di depan Altea.


“Kau harus memberiku bonus yang besar,” ucap Altea manja, saat keduanya sudah merebahkan diri untuk beristirahat sejenak. Altea tahu, bahwa tak lama lagi Ludwig pasti akan kembali meminta dilayani. Seperti kemarin malam, mereka menghabiskan waktu hingga beberapa kali permainan panas.


“Bukan masalah untukku,” ujar Ludwig seraya melirik sejenak kepada Altea yang tengah memandangnya. Raut wajah pria itu nyaris tanpa senyuman sama sekali.


“Kenapa kau mengganggu kencanku malam ini?” tanya Altea penasaran.


“Tak perlu kujawab,” sahut Ludwig datar. Dia memejamkan matanya.


“Tidak ada. Aku memakan apapun yang kuinginkan,” jawab Ludwig tanpa membuka matanya.


“Berapa tinggi badanmu?” tanya Altea lagi.


“6 kaki 1,62 inci,” jawab Ludwig singkat.


“Apa kau pernah memiliki kekasih, istri, atau ….”


Ludwig membuka mata. Dia menoleh pada Altea yang sedang berbaring dalam posisi menyamping di sebelahnya. Tanpa memberikan jawaban kepada wanita itu, Ludwig mendekat lalu menciumnya dengan mesra. Dia menindih tubuh polos Altea. Selanjutnya, sudah dapat dipastikan apa yang akan terjadi antara mereka berdua.


......................


Ludwig membuka mata, ketika merasakan sentuhan di wajahnya. Meski masih sedikit samar, tetapi dia dapat melihat sosok kesayangan bernama Bubba tengah menjilati pipinya.


“Hey. Selamat pagi, Bubba,” sapa Ludwig seraya bangkit, lalu duduk bersandar. Dia menyugar rambutnya yang acak-acakan hingga sedikit rapi. Ludwig melirik bantal sebelah yang kosong. “Apa kau melihat dia?’ tanya pria itu, pada anjing kesayangan yang duduk menghadap padanya.


Bubba seakan mengerti dengan pertanyaan tuannya. Dia menarik selimut yang menutupi bagian bawah tubuh Ludwig. Untungnya, Ludwig tak pernah tidur dalam kondisi telanjang bulat, meskipun dia baru selesai bercinta.


Dengan hanya mengenakan celana tidur, pria itu berjalan keluar kamar mengikuti Bubba yang berlari pelan menyusuri koridor kamar. Bubba baru berhenti, ketika mereka tiba di dekat kolam renang yang berada di balkon.


Kolam itu berukuran tidak terlalu lebar, dengan pembatas terbuat dari kaca tebal. Siapa pun yang berenang di sana, dapat menikmati kesegaran air ditambah pemandangan suasana kota berhiaskan gedung-gedung pencakar langit.


Itu pula yang sedang dinikmati Altea saat ini. Tubuhnya masih berada dalam air, tapi pandangan wanita muda itu tertuju pada hamparan Kota Berlin dari ketinggian sekian puluh meter.


Altea tersenyum lembut. Rasanya seperti mimpi, ketika dia dapat menikmati semua keindahan yang sedang dia rasakan saat ini. “Tuan,” ucapnya lirih. Dia tahu bahwa Vlad ada di salah satu sudut Kota Berlin. Sorot mata Altea tiba-tiba berubah sendu.


“Sudah berapa lama kau berenang?” Suara berat Ludwig membuyarkan lamunan Altea, tentang sosok tampan Vlad Ignashevich yang sangat dia rindukan.


Altea segera menoleh. Dia melihat Ludwig berdiri di tepian kolam. Wanita muda itu berenang ke arah di mana Ludwig berdiri. Altea mendongak, memandang pria tampan yang baru bangun tidur tersebut.


Ludwig yang tadinya berdiri, perlahan menurunkan tubuh. Dia melipat kaki kiri dan menekuk kaki kanan. Pria itu meletakkan tangan kanan di atas lutut, lalu mengangkat dagu Altea menggunakan tangan kiri. “Putri duyung,” ucapnya sambil terus memegangi dagu Altea, yang masih berada di dalam air.


Altea tersenyum lembut. Tanpa diduga, tangannya bergerak menciprati wajah Ludwig dengan air, sehingga pria tampan itu langsung memalingkan muka dan melepaskan tangannya dari dagu Altea.


Ludwig terlihat hendak protes. Namun, dia mengurungkan niatnya, saat melihat Altea tertawa renyah sambil kembali ke tengah kolam. Altea bahkan sempat menjulurkan lidah, sebagai tanda ejekan terhadap pria itu. Ludwig kembali menegakkan tubuh. Dia berdiri tegak, sambil memperhatikan Altea yang asyik berenang.