
Willy menggeleng kencang. Masuk penjara, tak pernah ada dalam rencana masa depannya. “Tidak! Tolong jangan jebloskan aku ke penjara! Ini semua adalah salah Altea!” tolaknya panik.
“Kau memang pengecut, Willy! Aku malu menjadi sepupumu!” Kekesalan Altea sudah berada pada puncaknya. Dia berjalan menyingkirkan tubuh Mykola yang menjadi penghalangnya sejak tadi. Altea lalu mendekat pada Willy. Tak ada seorang pun yang mengira, bahwa wanita muda itu akan melayangkan bogem mentah kepada sang sepupu. Pukulan tadi tepat mengenai pipi kanan Willy. Saking kerasnya tinju yang diterima oleh pemuda berambut priang itu, hingga membuat dia terhuyung ke belakang dan hampir terjatuh.
“Hei, Nona Miller! Jaga sikapmu!” sentak Mykola. Dia yang biasanya bersikap tenang, harus menunjukkan amarahnya karena sikap Altea yang berada di luar kendali. Baru kali ini, emosi Mykola terpancing oleh sosok seorang gadis jalanan. Dengan segera, asisten Vlad tersebut memegang erat tubuh Altea, agar tak lagi menyerang Willy.
“Lepaskan aku. Sialan kau!” Altea memberontak. Dia semakin menggila, sehingga Mykola terpaksa semakin memperkuat pegangannya.
“Ingatlah sekarang kau sedang berada di depan siapa!” geram Mykola tepat di telinga Altea, membuat gadis itu seketika terdiam. Dia langsung menoleh kepada Vlad. Tak hanya Altea, Mykola dan Willy pun turut memandang ke arah Vlad yang menyaksikan kekacauan itu dengan raut datar.
Sesaat kemudian, wajah dingin Vlad berangsur berubah. Awalnya, yang tampak hanya sebuah gerakan kecil di sudut bibir. Lama-kelamaan senyuman kecil itu berganti menjadi tawa lebar. Vlad tak pernah bersikap demikian. Hal itu membuat ketiga orang yang ada di sana menjadi keheranan, saat melihat sikap aneh pria tampan di kursi roda tersebut.
“Kau benar-benar hiburan yang menyenangkan, Altea Miller,” celetuk Vlad di sela-sela tawanya.
“Apa maksudmu? Apa kau pikir aku ini badut?” protes Altea tak terima.
Tawa Vlad semakin nyaring. Ternyata, Altea memiliki karakter yang tak jauh berbeda dengan Bella, gadis dari masa lalunya yang harus membuat dia merasakan patah hati hingga hancur berkeping-keping. Perpaduan sikap liar dan semaunya sendiri yang Altea tunjukkan, telah menarik perhatian Vlad.
“Aku terpaksa membantunya mencuri, Tuan. Uang hasil mencuri itu Altea gunakan untuk biaya hidup sehari-hari,” terang Willy. “Aku tak tega melihatnya berkeliaran dalam kondisi kelaparan di jalanan!”
“Tutup mulutmu, Anak mama!” sergah Altea. Lagi-lagi, dia berusaha melepaskan diri dari Mykola yang masih memeganginya dengan erat.
“Kenapa dia harus berkeliaran di jalanan? Bukankah dia bisa tinggal di rumahmu atau ayah kandungnya?” tanya Vlad. Dia tak memedulikan sikap Altea yang semakin tidak terkendali.
“Itu karena dia ingin menghindar dan bersembunyi dari Paman Herbert, ayah kandung Altea,” jawab Willy dengan yakin.
“Brengsek kau!” Pada akhirnya, Altea berhasil lepas dari Mykola. Dengan segera, dia mendekat kepada Willy dan melayangkan satu pukulan lagi. Kali ini, tinju wanita bermata cokelat tersebut bersarang di ulu hati sepupunya. Willy pun meringis menahan sakit.
“Hentikan, Altea Miller!” Vlad tiba-tiba berdiri dari kursi roda. Dia kembali memamerkan tubuhnya yang tinggi dan gagah di hadapan Altea serta Willy. “Jika kau tak bisa menjaga sikap, dengan terpaksa aku akan membawamu ke kantor polisi sekarang juga!” tegas Vlad yang membuat Altea seketika terdiam.
“Paman Herbert berutang banyak pada seorang mafia yang merupakan bandar judi di daerah kami, Tuan. Dia berutang dalam jumlah besar. Paman tak sanggup membayar, sehingga ….” Willy tak melanjutkan penuturannya. Dia menoleh kepada Altea yang memandangnya dengan tatapan membunuh.
“Lanjutkan!” titah Vlad.
“Paman Herbert berencana menyerahkan Altea pada bandar judi itu. Dia akan menjual putri kandungnya sendiri. Karena itulah Altea berusaha lari dan bersembunyi. Altea juga tidak mungkin bersembunyi di rumahku, karena Paman Herbert pasti akan menemukannya,” sambung Willy. “Maafkan aku, Altea. Aku tak punya pilihan lain dan tak ingin dipenjara,” ucapnya kemudian seraya mengalihkan perhatian kembali pada sepupunya itu.
“Benarkah itu?” Terbersit perasaan tak percaya dalam hati Mykola saat mendengarkan penuturan Willy, berhubung kedua sepupu itu sudah berkali-kali berkata bohong padanya.
“Begitu rupanya.” Vlad manggut-manggut sebelum kembali duduk dengan penuh wibawa. “Seharusnya, kau memberitahukan semua itu padaku sejak pertama kali datang kemari, Nona Miller. Dengan begitu, aku tak akan mencurigaimu.” Mata biru Vlad menatap teduh kepada Altea.
Akan tetapi, Altea memilih untuk membuang muka. Dia tak ingin membalas tatapan pria tersebut. Bagi Altea, kisah hidupnya merupakan aib yang tak seorang pun boleh tahu.
Untuk sejenak, suasana berubah hening. Hal itu berpangsung hingga terdengar suara Elke yang memanggil nama Altea. “Nona Miller? Apa kau masih di atas? Ada yang mencarimu di luar!” seru ibunda Vlad tersebut.
“Aku tidak mengenal siapa pun di sini!” sahut Altea dengan segera.
“Lalu, siapa yang mencarimu?” Kali ini, giliran Mykola yang bertanya.
“Aduh, gawat! Jangan-jangan ....” Willy setengah melotot, lalu menepuk keningnya pelan.
“Siapa?” tanya Vlad dan Mykola secara bersamaan.
“Nona Miller?” Seruan Elke kembali terdengar, membuat Willy mengurungkan niat untuk membuka mulut.
“Aku harus turun,” putus Altea yang meninggalkan rasa penasaran besar di hati Vlad serta Mykola.
“Kutemani!” ujar Vlad singkat, dan lebih mirip sebagai kata perintah.
“Tidak usah!” tolak Altea.
“Ini bukan penawaran. Apakah harus kuingatkan lagi tentang posisimu di sini?” ujar Vlad seraya meraih tongkatnya. Dia berjalan ke arah pintu keluar.
“Ya, ampun. Ya, sudah. Kalau begitu, Anda duluan,” sahut Altea malas. Dia membiarkan Vlad dan Mykola keluar terlebih dulu. Asisten kepercayaan sang tuan rumah tersebut terlihat begitu telaten memegangi Vlad menuruni tangga. Dia tak menyerah meskipun pria gondrong itu menolak bantuan Mykola berkali-kali.
“Apa yang kau pikirkan sama dengan yang kupikirkan, Altea?” bisik Willy pada sang sepupu beberapa saat setelah tak ada siapa pun di kamar Vlad selain mereka berdua.
“Kau memang bodoh! Bagaimana bisa ayahku mengetahui tempat ini?” Altea menepuk belakang kepala Willy cukup keras.
“Aku tidak sengaja!” seru Willy tertahan. “Dia datang saat aku hendak pergi kemari,” sanggahnya.
“Ck!” Altea berdecak kesal. “Dia pasti mengikutimu kemari,” gerutunya.
“Kurasa ayahmu akan kesulitan mengikuti kecepatan mobil tuan tampan tadi. Dia menyetir seperti pembalap formula satu,” sahut Willy sambil menggaruk-garuk kepalanya. “Kecuali ….”
“Apa?” Altea semakin gemas melihat tingkah sepupunya tersebut.
“Kecuali jika Paman Herbert bertanya pada ibuku. Ibu tahu kalau aku pergi kemari,” ujar Willy ragu-ragu.
“Astaga!" Altea mengacak-acak rambut cokelatnya yang panjang. Dia terlalu kalut, sehingga tidak dapat berpikir dengan jernih. Apalagi, ketika dirinya mendengar langkah kaki seseorang tengah menaiki tangga.
Altea semakin gugup saat si pemilik langkah itu sudah sampai di tempatnya berdiri.
Sosok pria tampan berambut gelap yang tak lain adalah Mykola, tersenyum penuh arti padanya. “Turunlah, Nona Miller. Tuan Herbert sudah menunggumu di bawah. Aku ingin kau bertemu dan berbicara dengannya. Dengan begitu, aku dan Tuan Ignashevich dapat memutuskan apakah cerita sepupumu merupakan bualan belaka, atau memang sebuah kejujuran," ucap Mykola, membuat Altea harus menahan napas.