
Vlad menghentikan mobilnya di halaman mansion mewah peninggalan sang ayah angkat. Di sana, terlihat beberapa pengawal. Jumlahnya memang tak seberapa. Setelah kematian sang ayah angkat yang bernama Roderyk Lenkov, Vlad hanya menempatkan sedikit orang di dalam bangunan megah tersebut.
Dengan langkah tergesa-gesa, Vlad memasuki mansion tadi. Setibanya di dalam bangunan megah tersebut, dia langsung menuju ruang kerja. Vlad mengeluarkan ponsel. Pria asal Rusia itu menghubungi sang asisten setia, Mykola Vanko.
“Aku tidak mau tahu. Aku ingin kau menyelidiki Ludwig Stegen hingga ke hal terkecil sekalipun!” titah Vlad penuh penekanan. Raut wajahnya memerah, karena menahan amarah yang teramat besar.
“Jangan khawatir, tuan. Aku akan berusaha mendapatkan segala informasi yang terperinci tentang pria itu,” sahut Mykola dari seberang sana. “Bagaimana dengan Nona Miller? Apakah anda sudah menemukannya?” tanya Mykola membuat Vlad mendengkus kesal. Dari kemarahan sang majikan, Mykola dapat menebak apa yang terjadi. Namun, pria berdarah Rusia-Ukraina tersebut tak berani terlalu banyak bicara.
“Aku sudah bertemu dengannya, Mykola. Namun, dia menolak ikut denganku,” terang Vlad. Deru napasnya mulai tak beraturan.
“Nona Miller menolak ikut dengan anda?” Mykola setengah tak percaya dengan apa yang didengarnya.
“Itulah yang membuatku heran.” Vlad mengempaskan tubuh ke sofa. Si pemilik mata biru itu mencoba menenangkan diri. Vlad mengatur napas agar merasa lebih nyaman.
“Kira-kira, kenapa Nona Miller bersikap demikian?” tanya Mykola seperti pada dirinya.
“Aku akan segera mencari tahu,” jawab Vlad. Tanpa berpamitan terlebih dulu, dia menutup sambungan telepon. Dia kembali membuka daftar kontak di ponselnya. Vlad mencari nama yang akan dia hubungi, yaitu Herbert Miller. Nomor telepon itu dia dapatkan dari Mykola, saat mereka mendatangi kediaman ayahanda Altea tersebut.
“Hallo. Siapa ini?” tanya Herbert di seberang sana.
“Ini aku, pak tua,” jawab Vlad dingin.
Herbert tak langsung menanggapi. Pria paruh baya itu terdiam hingga beberapa saat. Entah karena takut atau ada alasan lain, yang membuat ayahanda Altea tersebut menjadi begitu sungkan kepada Vlad. Ya, dia mengetahui siapa yang menghubunginya. Herbert mengenal suara serta logat bicara Vlad yang khas.
“Kenapa kau diam? Apa kau masih merasa takut padaku?” tanya Vlad sinis. Dia sudah kehilangan rasa hormatnya pada sosok ayah seperti Herbert, yang telah tega menjadikan putri sendiri sebagai tameng perlindungan diri.
“Ada apa, tuan?Apakah anda sudah menemukan keberadaan Altea?” tanya Herbert memberanikan diri bicara.
“Ya. Aku sudah bertemu dengan putrimu,” jawab Vlad masih terdengar sinis.
“Apakah dia ada bersama anda sekarang, tuan? Syukurlah jika putriku baik-baik saja.” Herbert mengembuskan napas lega. Namun, perasaan lepas dalam hatinya, kembali berubah menjadi kegundahan setelah mendengar ucapan Vlad.
“Putrimu tidak bersedia ikut denganku.”
Herbert kembali terdiam. Dia mengembuskan napas berat diiringi keluhan pendek. Herbert melakukan itu secara berulang, untuk sekadar menghalau kegelisahan yang melanda hati serta pikirannya.
“Katakan, alasan apa yang melatarbelakangi putrimu sehingga bersikap demikian?” Nada pertanyaan Vlad terdengar penuh penekanan. “Pertama, dia rela ikut denganmu tanpa melakukan perlawanan seperti yang pernah dilakukannya dulu. Kedua, Altea Miller sangat menurut padaku. Akan tetapi, tidak saat ini. Dia lebih memilih tunduk kepada Ludwig Stegen.”
Hening. Herbert lagi-lagi bungkam. Dia seakan tak berani bersikap terus terang kepada Vlad. Padahal, mereka tidak sedang berhadapan secara langsung. Akan tetapi, Herbert masih merasakan kengerian terhadap pria asal Rusia tersebut.
Dengan sorot dingin dan tajam, Vlad meletakkan telepon genggamnya di atas meja. Dia terus memperhatikan alat komunikasi canggih tersebut. Hingga beberapa saat berlalu, tak ada apapun yang terjadi. Namun, Vlad belum mengubah posisinya, atau sekadar mengalihkan pandangan dari ponsel tadi.
“Baiklah, Herbert,” ucapnya pelan dan dalam. “Jadi, ini yang kau mau?” Baru saja Vlad mengalihkan pandangan ke laci meja kerja, layar ponselnya tampak menyala. Nama Herbert tertera di sana. Vlad menyunggingkan senyuman sinis. Dia menggeser ikon telepon berwarna hijau, untuk menjawab panggilan masuk itu.
“Tuan,” sapa Herbert ragu.
“Katakan!” balas Vlad tegas dan penuh penekanan.
“Aku … aku yang memberikan ancaman kepada Altea,” ungkap Herbert masih dengan nada bicara yang terdengar ragu.
“Ancaman seperti apa?” desak Vlad.
Herbert terdiam sejenak. Dia mungkin sedang merangkai kata-kata, yang akan disampaikan kepada Vlad. Sesaat kemudian, pria paruh baya tersebut kembali berbicara. “Altea sudah tidak peduli meskipun aku mati. Dia mengatakannya sendiri padaku. Itu sangat masuk akal, setelah semua yang kulakukan.” Herbert mengawali penuturannya.
“Namun, permasalahanku dengan orang-orang dari Kasino Goldgeld tidak akan pernah tuntas, andai diriku tak segera melunasi utang yang jumlahnya sangat banyak. Mereka memberikan sedikit sekali waktu. Sementara, Altea selalu dapat menghindar. Seperti yang anda ketahui. Putriku sangat licin bagaikan seekor belut. Karena itulah, aku memakai cara lain agar dapat membuatnya menyerah.” Herbert kembali terdiam. Dia mengembuskan napas berat.
“Tidak perlu bertele-tele. Katakan! Apa yang membuat Altea Miller bersikap demikian!” desak Vlad tak sabar.
“Aku … aku … aku mengatakan bahwa Agatha beserta keluarganya, berada dalam ancaman orang-orang dari Kasino Goldgeld. Aku tahu bahwa Altea sangat menyayangi kakak serta keponakannya. Karena itulah aku menjadikan mereka sebagai ….”
“Kurang ajar!” sentak Vlad menyela penjelasan Herbert. “Beruntung karena kau tidak ada di hadapanku saat ini! Jika kita berbicara secara langsung, maka aku tak akan segan melubangi kepalamu dengan pistolku!” Vlad mendengkus kesal. Dia benar-benar marah.
“Aku sangat menyesal. Aku ….”
“Kau ayah tidak berguna! Jika dirimu belum siap untuk mengemban tanggung jawab terhadap keluarga, sebaiknya kau habiskan hidup seorang diri sampai mati!” Amarah Vlad tak tertahankan lagi. Dia menutup sambungan telepon begitu saja. Vlad bahkan memukul permukaan meja dengan kepalan tangannya.
Miris, itulah yang dirasakan pria tiga puluh tahun tersebut. Vlad kembali teringat akan nasib dirinya yang juga terabaikan. Dia memiliki ayah yang sama bejat seperti Herbert. Bukan tanpa alasan, jika Vlad merasa bahagia saat mendengar berita kematian sang ayah yang sangat dirinya benci.
Vlad Ignashevich, terlahir dari hasil hubungan gelap antara Elke dengan pria asal Rusia bernama Viktor Drozdov. Viktor memang kerap mengencani banyak wanita, meskipun dia sudah memiliki istri.
Sejak beranjak remaja, Vlad memilih tinggal bersama sang kakek di Rusia. Sejak saat itu pula, dia tak lagi menemui Elke. Namun, ada satu kejadian yang membuatnya harus kembali ke Sieseby, di mana sang ibu berada. Kenangan buruk yang membuat dirinya terpenjara dan terpuruk, meratapi kondisi fisik tak sempurna.
Harus diakui bahwa Vlad mulai bangkit dan kembali pada jati dirinya, setelah kehadiran Altea. Wanita muda keras kepala dan tanpa aturan itu, telah memberi semangat baru kepada Vlad. Namun, ketika pria berambut pirang tersebut akan benar-benar menjemput sisa waktu yang lama terabaikan, Altea justru pergi dan menolak kembali padanya.
“Apa yang kau lakukan padaku, Altea Miller?” Vlad menyandarkan tubuh sambil memejamkan mata. Mungkinkah dia telah jatuh cinta?