Since I Found You

Since I Found You
Bring You Home



Vlad tak melepaskan tangan halus Altea, saat keluar dari bangunan mewah bergaya Victoria itu. Lampu-lampu terang yang menyala indah dari tiap sudut gedung kasino, tak mampu mengalihkan perhatiannya dari paras cantik yang kini berlari kecil di belakangnya. Jantung Vlad berdebar. Entah karena memenangkan taruhan atau karena dapat menggenggam jemari wanita yang selama ini dia cari tanpa lelah.


“Bisakah kau berjalan lebih cepat, Nona Miller? Aku merasa orang-orang Ludwig Stegen sedang mengikuti kita,” ujar Vlad. Dia lalu berhenti dan menghadap kepada Altea.


“Apakah sepatu hak tinggi itu menghambat pergerakanmu? Biar kubantu melepaskannya.” Tanpa menunggu jawaban Altea, Vlad setengah berjongkok. Dia melepaskan sepasang high heels berwarna hitam. Vlad membawa sepatu mahal di tangan kiri, sedangkan tangan kanannya terus menuntun Altea.


“Kau akan membawaku ke mana, Tuan?” tanya Altea sesaat setelah mereka tiba di sisi jalan raya. Suasana ramai jalan utama ibukota dengan kendaraan padat berlalu lalang, membuat Vlad tak dapat mendengar jelas kalimat wanita yang kini berubah menjadi jauh lebih anggun tersebut.


“Apakah kau mengatakan sesuatu?” Vlad mendekatkan wajahnya pada Altea. Harum aroma tubuh wanita muda dengan riasan yang semakin menambah kecantikannya itu, berhasil membuyarkan konsentrasi Vlad.


“Kau akan membawaku ke mana?” ulang Altea.


Namun, Vlad tak menjawab. Dia malah tersenyum lebar, sambil mengajak Altea menyeberangi jalan yang cukup lebar. Dengan langkah yang semakin cepat, Vlad membawa Altea ke hotel tempatnya menginap.


Setibanya di depan kamar, Vlad memasukkan kartu yang berfungsi sebagai kunci. Pintu terbuka bersamaan dengan tangan Vlad yang terulur ke dalam, sebagai isyarat kepada Altea.


Namun, Altea masih berdiri di tempatnya. Dia seakan enggan memasuki kamar itu. Altea menggeleng pelan. “Aku harus kembali,” ucapnya tiba-tiba.


Vlad terhenyak untuk sesaat. “Kau ingin kembali padanya?” tanya Vlad setengah tak percaya.


“Anda tidak mengerti, Tuan. Aku tidak bisa pergi dari sisi Ludwig Stegen.” Altea mundur beberapa langkah. Dia sudah bersiap untuk berbalik dan berlari meninggalkan Vlad.


Akan tetapi, Vlad lebih sigap. Dia mencekal lengan Altea, lalu membalikkan tubuh ramping itu perlahan sehingga menghadap padanya. “Apakah pria itu mengancammu?” tanyanya lagi.


Altea menggeleng lemah.


“Lalu, apa yang membuatmu ingin kembali ke sisi pria itu?” Vlad mendekatkan wajah, hingga ujung hidung mancungnya bersentuhan dengan hidung Altea.


“Aku tidak bisa mengatakannya padamu,” tolak Altea. Wajah cantik itu terlihat kian murung.


“Apakah ini ada hubungannya dengan keluarga kakakmu?” tanya Vlad, yang seketika membuat Altea terbelalak.


“Kau … mengetahui tentang mereka?” tanya Altea pelan.


“Ya. Herbert sudah mengakui semua kesalahannya padaku. Ayahmu yang brengsek itu telah berbohong, dengan mengatakan bahwa kakakmu dan keluarganya berada dalam bahaya jika kau tak menurut. Itu semua dilakukan agar kau bersedia menyerahkan diri pada Dietmar Kreuk. Herbert hanya mengada-ada, Nona Miller! Nyatanya, kakakmu dan keluarganya baik-baik saja. Tak ada seorang pun yang mengancam keselamatan mereka. Tidak pula Dietmar," tegas Vlad. Dia menuturkan dengan penuh keyakinan.


“Astaga.” Altea menutup mulut tak percaya. Dia tak dapat mengungkapkan betapa lega perasaannya, ketika mengetahui bahwa sang kakak dan keluarganya ternyata baik-baik saja. Separuh beban dalam diri Altea seakan terangkat.


“Kau sudah bebas sekarang, Nona Miller.” Vlad tersenyum lembut seraya membelai pipi mulus Altea. “Sekarang, masuk dan beristirahatlah sebentar. Tepat tengah malam nanti, akan ada helikopter yang menjemput kita,” sambungnya.


Ekspresi Altea mendadak berubah tegang. Dia menggigit bibirnya pelan, ketika satu tangan Vlad melingkar di pinggangnya. Setengah memaksa, Vlad mengajak Altea masuk. “Ayolah, Altea," ucap Vlad lagi. "Boleh kan aku memanggilmu begitu?” Suara maskulin pria bermata biru itu menggoda indera pendengaran putri bungsu Herbert tersebut.


“Tidak! Kau tak mengerti.” Altea menjauhkan tangan Vlad dari tubuhnya, lalu kembali mundur.


“Apa yang tak kumengerti?” Vlad menautkan alisnya. Dia mulai putus asa menghadapi penolakan Altea.


“Aku … aku bukan wanita baik-baik, Tuan. Aku sama sekali tak pantas berada di dekatmu." Altea menatap Vlad dengan sendu.


“Ludwig Stegen menjadikanku wanita penghibur untuk melunasi utang-utang ayah.” Altea memalingkan muka saat berkata demikian.


“Lalu?” Vlad mengangkat sebelah alisnya.


Altea menoleh dan memandang lurus pada pria yang selama ini telah mengisi angan-angannya. “Aku menjadi wanita simpanan Ludwig, sampai utang ayahku lunas,” lanjut Altea dengan suara bergetar.


“Aku sudah memenangkan taruhan. Itu artinya kau telah bebas. Harus berapa kali kujelaskan padamu?” ujar Vlad dengan nada bicara yang begitu lembut.


“Tapi, Tuan. Aku adalah wanita rendahan,” ucap Altea dengan suara yang teramat lirih. “Entah berapa kali Ludwig menikmati tubuhku, hingga diriku tak dapat menghitungnya lagi. Dia ...." Altea tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Kembali terbayang setiap perlakuan Ludwig terhadap dirinya.


Altea kembali merasa ragu. Dia mere•mas pinggiran gaun malamnya. Kegusaran tampak jelas dalam sorot mata cokelat wanita muda tersebut. "Aku ... tak ada lagi yang tersisa dari diriku, Tuan."


"Kau menyisakan satu yang istimewa untukku," ucap Vlad.


"Jangan merayuku, Tuan. Aku ...."


Belum sempat Altea menyelesaikan kata-katanya, Vlad sudah lebih dulu membungkam wanita itu dengan ciuman hangat dan penuh perasaan. Sentuhan bibir itu terasa begitu manis. Andaikan Altea dapat menghentikan waktu, dia pasti akan melakukannya. Altea memejamkan mata, ketika Vlad menikmati bibirnya. Sensasi yang dirasakan begitu berbeda, jika dibandingkan dengan saat Ludwig menyentuhnya.


“Tuan.” Altea melepaskan ciuman itu, saat jantungnya berdebar semakin kencang. “Aku bukan wanita baik-baik, apa jadinya jika ….”


Kalimat Altea kembali terjeda, ketika Vlad lagi-lagi melu•mat bibirnya tanpa jeda. Tak hanya sampai di situ, pria asal Rusia tersebut langsung mengangkat tubuh Altea. Dia membaringkannya di atas ranjang berukuran besar.


Beberapa saat kemudian, Vlad menghentikan kemesraan itu. Dia memandang Altea dengan penuh arti. “Tunggu sebentar.” Vlad mengecup kening Altea, sebelum turun dari tempat tidur. Dia berjalan ke dekat meja, di mana terletak tas jinjing miliknya. Vlad mengambil sesuatu dari saku tas tersebut. Setelah itu, dia kembali ke tempat tidur.


“Ini milikmu. Kau meninggalkannya di kamarku pada malam itu." Vlad menyodorkan sepasang perhiasan kecil yang dirinya ambil tadi ke hadapan Altea yang sudah dalam posisi duduk.


“Astaga. Kau menyimpannya, Tuan?” Altea begitu terharu dan tak percaya.


“Tentu saja. Kau meninggalkan anting ini di meja kamarku. Artinya, aku harus mengembalikannya padamu. Karena itulah, aku terus berusaha untuk membawamu kembali." Vlad tak henti-hentinya tersenyum. Dia menyelipkan rambut coklat Altea yang indah di balik telinga.


Aroma bunga yang semerbak menguar, dari helaian rambut panjang Altea yang sekarang jauh lebih terawat. Vlad menarik napas dalam-dalam, lalu membuangnya perlahan demi menghalau gairah yang mulai menggila. Dia fokus memasangkan giwang bermata jamrud dari telinga Altea, lalu menggantinya dengan anting-anting kecil terbuat dari emas.


“Apa kau masih ingat pada malam itu, Altea? Kau memberikan sesuatu yang paling berharga dalam hidupmu, lalu pergi begitu saja. Kau tak tahu betapa kacaunya aku saat itu. Sentuhanmu telah mengubah hidupku." Helaan napas berat Vlad menghangat di telinga Altea yang kali ini hanya tersipu.


Vlad sudah berniat mengulang malam indah yang pernah dirinya lalui bersama Altea, sebelum wanita itu menghilang. Namun, dering telepon genggam milik Vlad membuatnya harus mengurungkan hal tersebut. Nama Manheim tertera di sana, yang artinya Vlad harus menerima panggilan tadi.


“Ya, bagaimana?” tanya Vlad tanpa basa-basi.


“Helikopter menuju bandara sudah siap di landasan, tuan. Aku sudah meminta izin pada pihak hotel untuk lepas landas di sini,” jawab Manheim.


“Baiklah. Aku akan bersiap dalam waktu sepuluh menit.” Vlad mematikan sambungan telepon begitu saja. Dia mengalihkan perhatian sepenuhnya kepada Altea yang tampak penasaran. “Kita lanjutkan urusan yang terjeda, setelah tiba di St. Petersburg,” ujarnya seraya mengerling nakal.