SIERA

SIERA
9.



Bagas tiba di kantor miliknya, ia langsung melangkahkan kaki memasuki kantor dan terus berjalan hingga ke ruangan kerja pribadi.


Karena emosi yang belum reda, akibat kelakuan Rama yang semakin berani menantangnya hari ini, Bagas menjadi frustasi, Bagas memang adalah pengusaha sukses dan cerdas, namun jika di kaitkan dengan masalah Anjeli Bagas akan menjadi sosok yang rapuh dan tak berdaya.


"Anjeli, beraninya kau meninggalkan ku, jika suatu saat aku bertemu dengan mu, lihat saja apa yang akan aku perbuat untuk mu, dasar gadis tak tau diri, beraninya mempermainkan hidup ku."


Amarah Bagas semakin menjadi saat ia melihat foto pernikahan mereka yang masih terpajang diatas meja kerjanya.


"Alang, Keruangan ku sekarang....!."


Mendengar panggilan dari Tuannya, Alang langsung bergegas ke ruangan tuan Bagas untuk menghindari amukan dari harimau ganas itu.


"Tuan..."


Melihat Alang yang tiba-tiba muncul, Bagas sedikit terkejut.


"Dimana tata Krama mu?, langsung masuk dan membuat kaget orang."


"Hehehe....Maaf Tuan."


Temui semua pemilik klub malam ini, dan buat janji dengan mereka.


"hah....sebanyak ini Tuan?."


Mendengar pertanyaan Alang, Bagas langsung melemparkan tatapan tajam seakan ingin menerkam Alang.


"Iya baik Tuan, segera buat janji,"


ucap Alang dan langsung melangkah keluar ruangan tuan Bagas sebelum ia dilempar keluar oleh bos kejam itu.


Alang langsung menemui ibu Mia sang menejer dan meminta bantuannya untuk menghubungi sebagian pemilik klub malam untuk membuat janji dengan Bos mereka.


"Apa...?, sebanyak ini. Apa dia sudah tidak waras dan kerja sama seperti apa yang kali ini dia rencanakan dengan pemilik rumah bordil dan klub malam ini."


"Sudah jangan banyak nanya, aku juga gak tau, yang jelas mereka harus datang kekantor besok ketemu dengan tuan Bagas."


"Huft....baiklah," ucap Bu Mia dengan berat hati, sebab yang mereka undang ke kantor kali ini adalah para pengusaha dari dunia hiburan malam.


"Hay ... kalian bantuin," ucap Alang pada bawahan ibu Mia.


Secara bersamaan mereka melakukan panggilan dan membuat janji pada semua pemilik Klub malam itu.


"Kelar juga, Bos kali ini sepertinya kurang waras,"


ucap Alang pada Bu Mia.


"Jangan mulai deh, aku sudah hampir jantungan tadi pagi gara-gara ledenin kamu bergosip."


Cetus Bu Mia dan langsung meninggalkan Alang seorang diri yang masih sibuk dengan pikirannya terhadap yang dilakukan tuan Bagas kali ini.


***


Keesokan harinya.


Para pemilik klub malam berdatangan satu persatu dikantor milik Bagas.


Para pegawai kantor yang sebagian besar tak tau akan hal tersebut, menatap para pemilik klub itu dengan tatapan aneh dan mulai bergosip.


"Masih sayang dengan nyawa kalian?," ucap Alang melempar pertanyaan pada karyawan yang bergosip tentang bos mereka.


"Maaf pak Alang."


"Sudah sana kerja, jangan bergosip entar kalian diterkam, Mau?."


"Gak pak."


Para karyawan langsung kembali bekerja dan tidak ada lagi yang berani membahas soal kedatang para tamu dari pemilik klub malam dan sebagian rumah bordil.


"Alang, jika mereka suda tiba, arahkan mereka ke ruang rapat, sekarang juga,"


ucap Bagas pada asistennya.


"Baik Tuan."


Alang berjalan menuju Lobi kantor, di sana sudah sangat ramai dengan kehadiran para pengusaha hiburan malam.


"Selamat siang, anda semua silahkan ikut saya, rapatnya akan segera dimulai dan tuan sudah menunggu di ruang rapat sekarang."


Bagas yang sudah berada di ruangan rapat perusahaan miliknya yang mampu menampung kurang lebih seratus orang banyaknya, terlihat sedang bersiap-siap.


Tok...tok...


"Masuk," ucap Bagas yang sudah berada di dalam ruangan bersama ibu Mia."


"Silahkan duduk. Mohon maaf jika saya memanggil kalian secara mendadak, hari ini aku ada pengumuman penting, bagi siapa yang mampu menemukan gadis dalam foto ini dan menyiapkan semalam untuk menemani ku, maka akan aku beri imbalan satu milyar,"


"Alang, Bagikan foto gadis itu pada mereka semua, dan bubarkan rapatnya." Bagas berjalan keluar dan meninggalkan ruang rapat tersebut.


"Inikan foto nyonya Anjeli?," bisik mereka.


"Sudah jangan berbisik lagi ?, terserah kalian mau melakukan cara seperti apa untuk mendapatkan gadis itu, tapi ingat jangan melukai atau menyentuh gadis itu, kalian akan telan hidup-hidup oleh Tuan Bagas," ucap Alang memperingatkan para pemilik klub malam yang hadir pada pertemuan hari ini.


"Tuan....Jika kami menemukan nyonya, dan nyonya bertanya tentang imbalan maka apa yang kam harus katakan?."


"Katakan saja, Tuan kalian sudah menyiapkan bagian istimewa untuknya cek senilai satu milyar. Ini ada selebaran buat kalian, kalian boleh bagikan selebaran ini pada pengunjung klub malam kalian, masalah kompensasi kalian berurusan sendiri dengan mereka, uang satu milyar saya rasa cukup besar untuk kalian," ucap Alang dan mengakhiri rapat tersebut.


"Gila, Tuan Bagas mengeluarkan uang sebanyak satu milyar hanya untuk semalam bersama nyonya, aku saja bertahun-tahun bekerja dengannya tak pernah dapat kompensasi sebesar itu, keterlaluan."


Cetusnya sambil berjalan meninggalkan ruang rapat.


Bu Mia yang penasaran, menahan Alang dengan maksud meminta penjelasan tentang apa yang barusan terjadi, tapi tampaknya Alang memang tidak tau sama sekali akan rencana Tuan Bagas kali ini.


****


Rama yang mendengar kabar tentang pengumuman itu, langsung tak tenang.


"Bagas edan, masa istrinya sendiri mau dijadikan wanita malam, jangan harap kamu bisa bertemu dengan Anjeli, aku harus menemukan cara agar kabar ini tak sampai ke telinga Anjeli."


Rama berpikir untuk menyusun siasat agar Bagas dan Anjeli tidak akan pernah bertemu lagi.


Rama berjalan menuju ruangan Anjeli untuk memastikan jika Anjeli dapat melakukan pekerjaannya dengan baik dan tak menemui kendala.


"Anjeli, bagaimana apakah ada kendala dengan tugas yang aku berikan?,"


tanya Rama pada Anjeli.


"Tidak ada, Bos. Semuanya aman,"


ucap Anjeli yang terdengar mengubah panggilannya kepada Rama.


"Jangan panggil aku seperti itu, aku bukan bos kamu," cetus Rama yang tak suka dengan penggilan itu.


"Tapi mereka memanggil seperti itu, jadi sebaiknya aku juga menyesuaikan."


"Tidak untukmu, aku tak suka mendengarnya, aku lebih suka mendengar kamu memanggilku dengan mas Rama."


"Aku bukan siapa-siapa kamu, tak pantas bagi ku dengan panggilan itu."


"Kalau begitu cepatlah bercerai dengan Bagas dan menikah dengan ku dengan seperti itu kamu akan menjadi orang paling penting dalam hidup ku."


"Mas...."


Rama mendekat pada Anjeli dan menatapnya dengan lembut.


"Nah, seperti itu. Aku sangat senang mendengarnya."


Anjeli yang tak bisa menolak, hanya terdiam membalas tatapan Mas Rama. Ia yang sudah sangat lama merindukan Anjeli langsung menarik tubuhnya dan mendekapnya dengan erat.


"jangan bergerak tetaplah seperti ini, aku hanya ingin melepas rindu dengan mu."


"Jangan seperti ini, aku masih berstatus istri mas Bagas."


"Aku tak peduli Anjeli, bukankah kamu menikah dengannya dulu karena diancam olehnya."


"Mas..."


"Berpisah Lah dengannya dan menikah dengan ku Anjeli, aku akan membuat hidup mu lebih bahagia."


"Mas aku minta maaf, tapi itu tak akan terjadi, carilah gadis yang lebih baik dari ku."


"jika tak bahagia, kenapa masih bertahan?."


Rama menatap Anjeli, yang tak mampu membalas tatapannya, Rama mengangkat dagu Anjeli dan mencoba membuat hubungan mereka lebih dekat, namun ketika Anjeli hampir di cumbu oleh Rama, Anjeli tersadar dan langsung menghindar.


"Mas, ini tak benar. Tolong jangan seperti ini, aku masih istri sah Bagas "Anjeli mendorong Rama agar melepaskan dirinya.


"Aku tak peduli, kali ini suka atau tidak suka aku akan mendapatkan mu,"ucapnya pada Anjeli.


Rama melepaskan pelukannya dan membaringkan tubuh Anjeli diatas meja kerja Anjeli, dan menekan tubuh Anjeli hingga ia tak berdaya.


"Mulai hari ini, kamu akan tinggal di rumah ku, dan jangan mencoba untuk membantah, aku bisa melakukan apa yang Bagas lakukan untuk mu hingga kamu hamil dan melahirkan Siera."


"Kamu jangan keterlaluan, Mas"


"Jika kamu tau apa yang Bagas rencanakan untukmu, apa kamu masih mau menjadi istri pria brengsek itu?."


Nada Rama mulai meninggi karena Anjeli masih setia dengan dengan orang seperti Bagas Wirawan yang tega membuat rencana yang keji untuk istrinya sendiri. Rama yang mulai tak tahan, hampir melampiaskan emosi pada Anjeli.