SIERA

SIERA
24.



Tiba di rumah sakit internasional Malaysia.......


Bagas langsung membopong tubuh istrinya yang sudah bermandikan air ketuban.


Perawat yang tengah berjaga di ruang UGD, langsung sigap menangani pasien dan menghubungi dokter kandungan segera.


Bagas yang sangat panik tak menghiraukan dirinya lagi yang sudah setengah badan basah.


Alang yang tanggap dan mengenal sang bos lebih mendalam, langsung meninggalkan Bagas membelikan pakaian ganti untuknya, karena koper milik mereka masih berada diatas taksi.


Di rumah, Alma terlihat sibuk mempersiapkan segalanya, Alma teringat jika Siera butuh Baju ganti, langsung menuju keluar menemui sang supir taksi dan memintanya menurunkan semua barang milik Bagas, Siera, dan Asisten Bagas.


"Aunty, Siera bantu ya!".


"Anak pintar, diam di sini dulu ya, Aunty ambil baju ganti kamu, dan kita ke rumah sakit sekarang."


"Ah...Aunty gak seru...!"


Saatnya berangkat ke rumah sakit.....! ucap gadis cilik itu penuh semangat.


Rumah sakit internasional malaysia.


"Wah....Aunty, rumah sakitnya keren, besar lagi. Aunty rumah sakitnya ada taman bermainnya ngak?, Siera mau main, pasti seru main di luar negri."


"Anak cerewet. Kau ini kalau ada maunya persis seperti ibu kamu."


Alma mengelus kepala Siera dan mencubit pipi mungil tuan putri Bagas dan Anjeli.


"Aunty kenal dengan ibu Siera,


kasi ketemu donk Aunty,


Siera pengen liat ibu,


Siera rindu ibu,


di sekolah teman-teman semua punya ibu,


Siera sendiri yang tak punya ibu....


uh....uh...uh..."


"Siera..." ucap Alma lirih, perkataan Siera barusan, bagaikan busur panah yang menghujam menembus benteng pertahanan hatinya, bahkan bulir air mata hampir saja meloloskan diri dari bendungan air mata yang hampir meluap.


"Anak ini, apa ia sedang akting sedih?, barusan tadi kegirangan minta main dalam sekejap langsung dalam mode sedih, tapi perkataan anak ini seakan tak tau siapa ibunya." Begitu pemikiran yang terlintas pada Alma melihat tingkah lucu Siera, sebentar girang penuh semangat dalam sekejap langsung berubah menjadi sedih.


Kerana sudah sampai di ruangan operasi, Alma langsung menemui Bagas.


"Mas apa ada kendala dengan pengurusan operasi Anjeli?"


"Sejauh ini, masih aman. Anjeli sementara di persiapkan untuk tindakan pembedahan."


"Lalu bagaimana keadaan mereka, Anjeli baik-baik, kan?, dan janinnya?"


"Sudah, jangan khawatir dokter sudah menangani, kita tunggu informasi dulu."


"Ah...Aunty Anjeli, kasian...!, Siera jadi sedih."


"Siera, Anjeli bukan Aunty, Tapi ibu kamu, yang Aunty itu hanya saya."


"Ayah...!, itu benar gak?"


Bagas terdiam mendengar pertanyaan Siera. Lidah dan mulut kaku seketika. Bagas tak tau harus menjelaskan seperti apa pada Siera.


"Benar kata Anjeli, Mas memang sangat keterlaluan, pantas dia tak pernah sudi untuk menghubungi mu." Emosi Alma tak tertahan lagi melihat Siera dengan panggilan Aunty pada ibunya sendiri, ia cukup yakin jika itu adalah didikan Bagas dan ibunya.


"Alma, maaf."


"Maaf katamu, asal kau tau aku bertemu dengan Anjeli pertama kali, hatiku sangat teriris melihat apa yang ia alami, ingin rasanya aku menghilangkan kata suami dalam pikirannya, agar ia tenang menjalani hidupnya, tapi anak yang ia kandung membelenggu kami, hingga terus terikat dengan mu.


Pikirkan itu dengan baik...!


Pria bejat sepertimu tak cukup dengan kata maaf, jika ingin Anjeli menerimamu kembali berjuang lah seorang diri, seperti ia berjuang seorang diri menjalani hidupnya saat suami tak peduli padanya.


Jika bukan, karena bayi kamu dan Siera mungkin aku sudah mengusir mu pergi jauh dari sini dan jangan pernah kembali."


Alma meluapkan emosi yang selama ini ia Kurung dalam hatinya, melihat penderitaan sahabatnya. Ia pikir selama ini Anjeli hidup bahagia dengan pria kaya sukses dan mapan, tapi di balik itu semua, Anjeli hanyalah sebatas istri yang menahan derita demi keluarga yang sangat ia cintai.


Bagas hanya terdiam, tak ada sepatah kata pembelaan diri keluar dari mulutnya, ia sadar betul perkataan Alma bagaikan tamparan baginya sebagai suami yang tak bertanggung jawab.


Meski kata maaf ia ucapkan beribu kali, namun hal itu tak akan pernah sebanding dengan penderitaan Anjeli istrinya.


"Betapa bejatnya aku, bahkan anak ku sendiri tak aku akui." Guman Bagas dengan menjambak rambut sendiri hingga terlihat acak-acakan.


"Alang yang baru datang dari toko pakaian, tercengang melihat keadaan bosnya, namun ia tak berani menanyakan hal apa gerangan yang tengah terjadi pada Dia dan Alma.


"Tuan, ini pakaian ganti. Sebaiknya Tuan ganti pakaian dulu."


Bagas mengambil pakaian tersebut dan melangkah menuju toilet untuk membersihkan diri serta mengganti pakaiannya yang sudah basah.


Setelah berganti pakaian Bagas kembali keruang tunggu pasien.


Tampak seorang suster sedang berjalan ke arah mereka.


"Maaf, apa kalian keluarga pasien?, salah satu keluarga yang mewakili, tolong ikut saya ke ruang dokter...!"


"Mas Bagas ikutlah, kamu lebih berhak." Ucap Alma padanya.


sampai dalam ruangan dokter langsung menjelaskan semua prosedur tindakan pada Bagas.


"Tuan....Kami Membutuhkan tanda tangan tindakan operasi yang akan segara di lakukan, dan satu hal lagi kami informasikan, keadaan pasien sekarang dalam kondisi tak baik, kami membutuhkan banyak kantong darah untuk tindakan pembedahan, sesuai dengan hasil pemeriksaan kadar hemoglobin dalam darah pasien sangatlah rendah, tindakan pembedahan sangat beresiko besar untuk ibu dan janin, mohon kesediaan dari bapak, jika terjadi sesuatu pada pasien tolong berikan kami pilihan yang mana akan kami dahulukan untuk tindakan penyelamatan segera."


Deg....


Ini bukan pilihan bagi Bagas tentu mereka sama penting baginya.


"dokter, aku tak dapat membuat pilihan seperti itu, lakukan lah yang terbaik buat anak dan istriku."


"Tuan, jika aku sarankan selamatkan ibunya, apa tuan akan setuju?"


"Jika itu pilihan terbaik, aku setuju."


Bagas langsung keluar dari ruang dokter tampa sepatah kata apa pun.


Pikirannya tampak kacau.


Bagas duduk di ruang tunggu pasien, pikirannya kalut, ia tak tau entah apa yang akan terjadi padanya kelak, yang terlintas dipikirannya sekarang adalah bayangan Anjeli dan perkataan terakhir dari sang istri yang terus terngiang ditelinga.


Baru kali ini ia tak mampu mengendalikan dirinya, seakan ada sesuatu dari dalam dirinya meronta ingin ia lampiaskan untuk mengurangi beban.


Alma yang melihat Bagas tampak kacau, hanya dapat menghela napas panjang. Alma terus berpikir jika Bagas seperti ini ia khawatir akan menjadi stres dan tak terkendali.


Terbesit dalam pikiran Alma untuk menghibur Bagas, dengan menyuruh Siera mengajak Ayahnya pergi makan malam di kantin rumah sakit, apalagi sebentar lagi senja akan berganti malam, saatnya makan malam untuk putri kecil mereka.


"Siera, kamu lapar gak?, Mau makan sama Ayah?, makanan di rumah saki enak-enak loh?"


"Ah...Aunty jangan boong, orang makanan di rumah sakit itu tak enak."


"Waduh....anak ini susah amat dia ajak kompromi," gumannya mendengar tanggapan Siera.


"Siera kamu liat Ayah, kayaknya dia lapar, liat aja mukanya sampai lemas gitu."


"Oh...iya, kami belum sempat makan siang, sampai lupa, gara-gara Ayah buru-buru ngajak ke luar negri."


"Kalau begitu kamu ajak Ayah dan Paman Alang makan bersama, di luar, ada tempat makan yang enak bangat, kamu pasti suka."


"Okey, Aunty. Tapi Aunty sendirian gak ada yang nemanin."


"Udah gak apa nanti kalau kamu sudah makan, temanin aunty ke kantin saja, aunty sudah biasa makan di kantin rumah sakit."


"Tapi, kan gak enak."


"Asalkan kenyang udah cukup bagi Aunty, nanti pulang dari rumah sakit baru deh makan enak, Aunty akan masakkin yang enak-enak buat kita semua."


"Oke deh, Aunty."