SIERA

SIERA
34.



Selamat Membaca


Perjalanan pulang ke Indonesia.


Anjeli segera menghubungi Alma menginformasikan jika mereka akan segera pulang, dan demi keselamatan mereka, Anjeli memutuskan ikut mas Bagas ke Indonesia untuk sementara waktu, dan hanya bisa membantu Alma menangani butik mereka dari sebrang negri.


Alma sangat paham dengan kondisi mereka sekarang dan tak mempermasalahkan apapun.


"Siapa yang barusan menghubungi kamu?" tanya Sean.


"Anjeli, dia memutuskan untuk pulang."


"Ya, aku rasa itu lebih baik. Mereka keluarga yang sangat merepotkan."


"Ya, keluarga yang sangat merepotkan memang apalagi dengan keberadaan sang mantan yang sulit untuk dilupakan, entah diriku bisa betul-betul menggantikan posisinya atau tidak?" jawab Alma to the point'.


Perkataan Alma membuat Sean terdiam sesaat, ia mengakui jika sulit melupakan Anjeli, apalagi sekarang Anjeli dan Alma adalah dua sahabat yang sulit terpisahkan, akan ada waktu intens untuk mereka sering bertemu dan rasa itu akan semakin sulit untuk di delete dari hatinya.


"Alma, maaf tapi posisi kalian sama dalam hatiku, kau sendiri yang salah pergi meninggalkan ku hanya karena masalah kecil, sedang kau tau jika aku sangat mencintaimu saat itu, hingga gadis lain masuk dan hampir menggantikan posisi dirimu, namun jujur aku lebih susah melupakan dirimu dari pada Anjeli."


"Kenapa, dengan diri ku?"


"Semua hal yang pertama bagiku adalah dari dirimu."


"Maaf, kamu salah, untuk hal yang satu itu perlu kamu ralat. Aku masih ting-ting sedang kamu gak tau entah sudah berapa banyak korban diluaran sana yang menderita dari sifat kamu yang suka PHP."


"Kau ini, omonganmu selalu saja menusuk dan tak terkendali, berbeda dengan Anjeli, seperti apapun keadaannya ia pasti akan bisa mengontrol setiap prilakunya."


"Setiap orang memang diciptakan berbeda, jika semua gadis seperti Anjeli justru itu yang bahaya, hati kamu tak akan mampu menampungnya," ucap Alma dengan nada kesal padanya.


"Cemburu, ya?, pantes dari tadi ada bau hangus, rupanya ada yang sudah terbakar sejak lama," balas Sean menggoda Alma, yang sudah emosi hingga ubun-ubun.


"Apaan sih...!"


Sean mendekati Alma dan mulai bermanja padanya, bukannya merawatnya ia malah menggunakan kesempatan dalam kesempitan. " Dasar buaya lautan selalu saja seperti itu, tak pernah berubah sama sekali." ucap Alma yang sudah jengkel dengan kelakuan dari Sean.


Sean kini tampak serius, dan mulai mengajak Alma membicarakan rencana pernikahan mereka yang sempat tertunda beberapa kali, Sean mengutarakan rencananya untuk segera melanjutkan pernikahan mereka yang tertunda. Alma pun tanpa ragu langsung menyambut hangat topik pembicaraan mereka. Alma menyetujui semua rencana yang Sean sudah susun dengan rapi. Sean mengemukakan rencananya jika ia ingin mengadakan akad nikah di Malaysia dan melanjutkan resepsi di Indonesia karena sebagian besar keluarga mereka tinggal di Indonesia.


"Jadi kapan kita akan mengadakan acara akad nikah....?" tanya Alma semakin serius dengan pembahasan mereka.


"Tiga hari kedepan." jawab Sean singkat.


"Tapi, gaunku belum jadi."


"Jual aja, kita cari gaun yang sudah jadi setelah kamu sembuh. Aku tak izin kan kamu lelah, nanti kamu sakit lagi dan pernikahan kita batal. Aku sudah gak tahan dengan malam pertama kita, atau malam ini kita nyicil aja sekalian." Melihat sisi buaya Sean kumat lagi, Alma langsung beranjak dari sisinya dan mengambil posisi agak menjauh darinya.


Sean sedikit emosi dan mulai melancarkan aksinya pada sang gadis pujaan hati, namun jangan harap aksinya akan berjalan dengan mulus karena Alma adalah gadis yang cukup galak, dan sulit untuk ia taklukkan.


"Ya, udah nikmati masa bebas mu sekarang, akan ada saatnya kamu tak berkutik dengan ku."


Mendengar ucapan Sean berusan Alma semakin menjauhkan dirinya dari predator Sean, yang sudah mulai menampakkan sisi buasnya sekarang.


***


Esok hari pun tiba...Anjeli menulis sepucuk surat berisi ucapan pamit pada sahabatnya itu.


Anjeli akhirnya kembali ke tanah air setelah beberapa bulan berada di negri Jiran.


Ada rasa lega dan bahagia bercampur duka atas kepulangan Anjeli sekarang.


Anjeli yang sudah meninggalkan rumah sejak Siera berumur 2 tahun, sekarang ia akhirnya kembali kepada keluarga yang telah ia tinggalkan sebelumnya, karena alasan tertentu.


"Siera, senang gak Ibu pulang kembali...?"


"Ibu, Siera sangat senang pulang dengan ibu dan sekarang ada Dede bayi, pasti rumah kita akan tambah ramai lagi."


"Ya, Siera senang gak punya adik...?"


"Ada senangnya dan ngak nya juga."


"Lho kenapa ada ngak senangnya....?"


"Ya, karena adek bayi lebih disayang dari pada Siera."


"Oh...jadi kakak cemburu sama adik bayi sekarang. Kasian ya sama adik bayinya, belum ngerti apa-apa udah dicemburui sama kakak."


"Siera gak marah sama Ade bayi, tapi marahnya sama Ayah dan Ibu yang gak adil sayangnya."


"Nak, adik bayi kan masih kecil, belum bisa makan sendiri, belum bisa mandi sendiri, belum bisa jalan sendiri, belum bisa ngomong kayak Siera, lah terus kalau dia di samain dengan Siera adek bayi bakalan sakit dan Siera tak punya adik sehat lagi karena Siera maunya diperlakukan sama dengan dedeknya, gimana dong?"


"Oh...jadi Ibu dan Ayah bukan tidak sayang Siera lagi."


"Tentu bukan, Nak. itu karena Ade belum bisa ngapa-ngapain kayak Siera."


"Maaf, Siera pikir dengan adanya adek bayi Ayah dan Ibu tidak sayang lagi sama Siera,"


Ucapnya lirih dan di dengarkan oleh Bagas.


"Jadi Putrinya Ayah lagi cemburu berat nih?"


Goda Bagas pada putrinya yang sudah mulai paham dengan penjelasan dari Anjeli.


"Ah....Ayah gak boleh ikut campur masalah perempuan."


"Oh...jadi cemburu ini masalah perempuan ya. Ayah baru tau....?!"


Tiba di Negri tercinta.....


"Syukurlah penerbangan kita aman," ucap Miranti yang suka kesulitan jika berhubungan dengan pesawat.


"Oma kalau diajak naik pesawat gak seru. Naik pesawat langsung bobok." cetus Siera.


"Kamu ini, itu karena Oma mabuk, jadi harus banyak bobok, kalau ngak Oma bisa Oek....Mau kena muntah sama Oma...?" balas Oma dengan candanya.


"Gak"


jawabnya Siera dengan melipat tangan tanda tak suka.


"Mas, sudah menghubungi Alang supaya, gak terlambat menjemput kita di bandara, kasian Amar, udah rewel semenjak mendarat."


"Yah, biar aku yang gendong Amar. Moga aja ia tenang sama Ayah."


"Jagoan Ibu sama ayah dulu yah, Ibu mau periksa barang bawaan kita nanti ada yang ketinggalan."


Anjeli mulai memeriksa barang yang mereka bawa dan semuanya tampak aman.


Disisi lain tampak seorang wanita hampir seumuran Anjeli yang tak berhenti memata-matai pergerakan mereka, siapa lagi kalau bukan Mira yang selalu mencari celah untuk menghancurkan rumah tangga Bagas dan Anjeli, dan entah rencana apalagi yang sedang ia buat untuk membuat anjeli dan Bagas berpisah setelah bersatu kembali.


"Baguslah akhirnya ia pulang juga, tunggu saja kebahagiaan yang kamu miliki sekarang takkan berlangsung lama, kali ini aku sudah merencanakan hal yang pasti akan membuat kamu menangis darah dan meninggalkan suami kamu untuk selamanya."


~Bersambung~