
Setelah percakapan dengan Diman, Bagas kembali melihat Anjeli yang belum sadarkan diri. "Kamu kapan siuman, aku sangat membutuhkanmu sekarang, kau jangan tidur lagi, cepatlah bangun, Amar dan Siera mencari mu, kita akan punya baby lagi, kau jangan lemah seperti ini, tolong bangunlah, Sayang...!" bisik Bagas dengan membelai rambut indah Anjeli dengan wajah masih pucat pasi.
Mendengar nama kedua buah hatinya, Anjeli mulai mengedipkan mata mengisyaratkan pertanda jika ia memulai untuk mencoba membuka mata dan mengembalikan kesadaran yang kini berada dalam alam mimpi dan sulit untuk terbangun.
Bagas yang kegirangan melihat respon balik istrinya dengan ucapannya langsung mengecup kening anjeli, berharap istrinya segera bangun dari mimpinya sekarang.
Diman yang baru tiba di rumah sakit bersama kedua keponakannya, langsung diantar oleh pegawai RS setelah menyebutkan nama Anjeli. "Paman, ibu sakit lagi ya?" tanya Siera yang tak paham dengan situasinya sekarang, yang ia tahu hanya Omanya yang sedang di rawat di rumah sakit dan kenapa ketika perbincangan di telpon malah paman dan ayahnya membahas Anjeli ibunya.
Paman Diman tak menjelaskan apapun pada Siera, ia hanya mengulas senyum pada gadis cilik yang berjalan terengah mengikuti langkah kaki orang dewasa, yang sulit memahami jika kaki kecilnya kesulitan mengikuti ritme pergerakan kaki jenjang mereka. "Pelan sedikit jalannya, Siera kewalahan...!, emang ibu kenapa Sampai harus buru-buru, Paman." Pegawai rumah sakit milik Sean yang semakin gemas dengan tingkah lucu Siera langsung menggendong putri kecil yang juga sering berkunjung ke rumah sakit bermasa paman Sean dan ayahnya, jadi wajar jika hampir semua pegawai yang bekerja di rumah sakit mengenal baik Siera yang semakin menggemaskan dengan tingkah lucunya.
"Paman perawat, coba dari tadi gendong Siera kan cepat...!," cetusnya pada perawat yang juga familiar karena sering bermain dengan gadis cilik tersebut ketika berkunjung.
"Kau semakin hari tambah cerewet, pantas paman Sean dan ayah mu kewalahan."
"Hahaha.....Paman ingat aja, jika aku sering berulah...!" ucap Siera pada paman perawat yang sering menjadi pemeran pendukung Siera jika sedang berulah.
Tiba di ruangan persalinan, tampak Bagas sedang duduk sambil mengotak Atik gadget miliknya, entah sedang dengan kesibukan apa sekarang. Ia baru fokus dengan keadaan sekitar setelah mendengar suara Siera yang memanggilnya dengan nada keras. Bagas langsung mengalihkan pandangan menuju sumber suara yang ia hafal betul.
Bagas langsung berdiri menghampiri Siera dan mengambil alih putrinya dari gendongan sang perawat, dan mengucapkan terimakasih padanya. Perawat yang mengantar Diman dan kedua keponakannya kini berpamitan melanjutkan rutinitasnya.
"Mana istrimu?, bagaimana keadaanya?, apa kau tak bisa mengontrol kecebong mu?, kau ini terlalu mendominasi hingga membuatnya hamil kembali sedang Amar masih sangat kecil," oceh Diman yang kini terdengar seperti mak-mak yang identik dengan ocehan mereka tiap hari menghadapi anak yang sulit diatur.
"Cikk...jangan salahkan diri ku, aku ini pria subur wajar jika langsung menembus benteng pertahanan," balasnya tak mau kalah debat dengan Diman.
Diman menurunkan Amar dari gendongannya dan mendudukkan di kursi tunggu," tunggu disini baby, paman mau ketemu sama ibu kamu, anak-anak belum boleh masuk diruangan persalinan jadi kalian tunggu disini dulu," jelas Diman pada ke dua bocah itu.
Diman berjalan ke arah pintu ruang dan membuka pintu tersebut, ia langsung disambut oleh petugas yang sedang berjaga, "Maaf pak, siapa yang anda cari?," tanya salah seorang petugas.
"Dimana Anjeli?" tanya Diman to the point'
"Dia masih terbaring lemah, jika boleh bapak bisa menunggu diluar sebentar hingga ia kembali sadarkan diri," ucap pegawai RS kepada Diman.
Diman terlihat agak emosi, hingga ia yang masih berdiri di depan pintu masuk, kini merogoh benda pipih dari saku celananya, "Sean...jika salah satu pegawai mu melarang aku bertemu dengan Anjeli, apa aku harus melemparkan mereka keluar ruangan sekarang?" ucap Diman yang ternyata langsung menghubungi Sean sebagai pemilik rumah sakit tersebut.
"Cikkk....Kak Diman selalu saja tak bisa mengontrol emosi, kau ini sebelas dua belas dengan Bagas, Dasar kumpulan keluarga tempramen buruk," cetus Sean pada Diman yang notabene lebih senior darinya, namun tak menyakitkan dirinya untuk membalas ucapan Diman kakak sepupu Anjeli.
"Ya, aku di sana segera....!," ucap Sean tak ingin memperumit masalah.
"Maaf pak, silahkan ibu Anjeli sudah siuman dan mencari bapak sekarang."
Diman melototi para pegawai hingga membuat mereka bergetar ditempat dengan tatapan mau Diman. "Kak....jangan membuat mereka ketakutan, cukup Bagas yang sering berulah di sini, jangan tambah pemeran lagi, Sean akan kewalahan menghadapi kalian."
"Ah...kau benar sekali Anjeli, kakak mu itu seperti harimau dia tak marah saja menakutkan apalagi jika sudah seperti ini," ucap Sean mendukung perkataan Anjeli barusan, membuat Diman semakin melototi dirinya.
"Jangan terlalu menakutkan, Kak. Ingat umur, dari semua gadis yang berani sama kakak hanya Rina adik Rama, itupun karena ia mengenal kakak dan bibi....aku malah khawatir dengan status mu sekarang."
Diman langsung mendekati Sean dan melingkarkan lengan kekarnya di leher Sean hingga membuat Sean tercekik sesaat kemudian mulai batuk merasakan sesak. "Ihs...galak amat..." ucap Sean sambil memegang lehernya.
Para petugas yang sedang menyaksikan mereka semua terdiam ditempat dan tak ada yang berani mendekat untuk melerai mereka. "Kak, udah...anjeli mau muntah tolong antarkan aku ke toilet."
"Hey....apa kalian senang gaji buta..!, antarkan dia ke toilet," ucap Diman sambil memberi perintah dengan tegas, Sean yang notabene pemilik rumah sakit tak bergeming sama sekali, ia memang lebih segan dengan Diman dibanding Bagas mengingat besik Diman sebagai ahli bela diri nomor satu di wilayah mereka dan tak satupun yang berani macam-macam dengannya jika mendengar nama samaran milik Diman dalam dunia kekerasan yang sudah lima tahun silam ia tinggalkan demi menata kehidupan lebih baik.
Sean mengekor dibelakang mereka dan terlihat sangat iba pada wanita yang jujur masih membayangi hidupnya meski kini ia sudah bersama dengan Alma, akan tetapi rasa yang ia miliki untuk Anjeli masih menyisakan jejak dalam hati terdalam, memang benar cinta pertama sulit untuk dilupakan dan diabaikan dari hati terdalam.
"Dia memang masih mencintai adikku, lalu untuk apa bersama Alma sekarang, dasar kau pecundang Sean...tak bisa melupakan Anjeli sampai kapan pun, dan begitu pandai menyembunyikan rasa," gumannya melihat rasa peduli Sean yang meninggalkan Alma dan memilih merawat ibu Rianti dan Anjeli.
"Sean, apa perlu aku membelikan tiket balik ke Malaysia sekarang. Kau seharusnya berada disamping istri mu sekarang, atau kembali lah dan bawa mereka di sini, jangan jadi pecundang seperti ini, ingat putra mu dan istrimu, Anjeli sudah ada aku dan Bagas yang menjaga sedang ibu Rianti ada Rama dan istrinya yang selalu memantau keadaannya," ucap Diman yang kini sudah kembali normal dengan emosi yang sempat ia lupakan pada Sean dan para pegawainya.
Sean langsung keluar dari ruangan dengan wajah kecewa, sedang Anjeli yang masih lemas hanya terdiam mendengar ucapan Diman, ia paham betul maksud ucapan kakaknya.
"Jangan terlalu dekat dengannya, akan ada banyak hati yang terluka dengan keakraban kalian, dari sorot matanya masih menyisakan rasa terdalam untukmu, Bagas dan aku setipe kami memang terlihat brengsek namun kami akan gelap mata jika milik kami diusik oleh orang lain, itu yang membuat ku masih berdiri tegak mendukung suamimu sekarang, karena ia pria yang sangat menyayangi diri mu meski kadang bersikap brengsek karena kami bukan tipe lelaki romantis."
"Kak, kau salah paham. Dari dulu hingga sekarang tak ada sedikitpun nama Sean dalam hati ku, aku sungguh mencintai Bagas dengan segala kekurangan dirinya, kemanapun aku pergi takdir selalu menyatukan kami karena cinta kami yang terlihat rapuh di luar namun kokoh di dalam hati."
"Itulah kami, Kak," jelas Anjeli.
...----------------...