SIERA

SIERA
25.



Ruang operasi...


Didalam ruang operasi suasana sangat menegangkan. Kondisi Anjeli beberapa kali menunjukkan kondisi tidak stabil.


dokter yang melakukan tindakan operasi semua terlihat tegang.


Beberapa kali tekanan darah terlihat menurun dari layar monitor pemantauan yang terpasang, jumlah hitungan nadi pasien yang normalnya biasa sekitar delapan puluhan, sedang Anjeli hanya menunjukkan angka enam puluhan kebawah.


Oh...sungguh suasana operasi yang sangat menegangkan.


"Asisten, tolang persiapkan alat resusitasi bayi segera mungkin, keadaan pasien sangat menurun, saya khawatir janinnya juga akan kehabisan oksigen didalam."


"Baik, dok"


Beberapa menit berjalan lapisan kulit demi kulit tersay*t hingga memperlihatkan lapisan ekstoderm atau lapisan paling luar yang membungkus janin dalam kandungan terlihat. dokter langsung membuka lapisan tersebut dan mengeluarkan sisa cairan ketuban.


Cairan ketuban habis terisap, bayi segera dikeluarkan dari dalam rahim Anjeli.


Benar saja bayi itu, tak menunjukkan pergerakan, tangisan pun tak terdengar. dokter anak yang bertugas, bergegas melakukan tugasnya memberikan rangsangan taktil pada bayi tersebut.


Oh...tidak...!


bayi Anjeli belum juga segera menunjukkan respon apapun, dokter terus berusaha semaksimal mungkin melakukan tindakan penyelamatan.


Sedangkan Anjeli masih berjuang hidup dan mati, melawan kondisi yang kian tak stabil untuknya.


Bercucuran keringat mengalir dari jidat sang dokter, perawat yang menemani beberapa kali mengelap jidat tersebut, menandakan jika suasana sedang gawat, pasien tak menunjukkan keadaan membaik.


dokter kandungan yang melakukan tindakan operasi, terlihat mempercepat gerakan, jahitan demi jahitan dilakukan dengan baik dan teliti di tiap lapisan kulit yang sudah tersay*t itu, hingga pada lapisan terakhir dan proses operasi pun selesai, namun keadaan masih menegangkan tekanan darah yang normalnya 120/80 milimeter hydrargyrum atau disingkat mmHg, menunjukkan angka dibawah normal. Dan pasien kini terlihat sesak dan tak sadarkan diri setelah jahitan luka operasi selesai.


"Asisten, persiapkan ambubag dewasa sekarang dan oksigen dewasa....!, kita akan melakukan tindakan resusitasi pada pasien, ia terlihat sangat sesak, dan kita harus memperbaiki jalan napas segera sebelum oksigen diberikan.


"Baik, dok."


Tindakan penyelamatan pada Anjeli dan bayinya terus berlanjut dengan menegangkan.


Sementara di luar sana, entah ada apa dengan Bagas ia terlihat sangat tegang dan khawatir beberapa kali, jantungnya berdegub kencang. Napasnya tak teratur, telapak tangan keringat dingin.


"Ada apa dengan anak dan istri ku?, kenapa dengan diri ku?, aku merasakan ketegangan yang luar biasa, entah apa penyebabnya." Begitu terlintas dipikiran Bagas saat menunggu anjeli di depan ruang tunggu operasi pasien.


Tak lama berselang, entah ada apa yang sedang terjadi, terlihat perawat menuju ke arah Bagas dan lainnya.


"Anda suami nyonya anjeli, kan?, tolong iku aku ke dalam, sekarang...!,


deg....


Jantung Bagas semakin kencang berdetak.


"Ada apa ini?" pertanyaan mulai muncul dalam pikiran semua orang yang tengah menunggu Anjeli.


Alma dan Alang sama tegangnya, sedangkan Siera terlihat bingung dengan situasinya.


"Aunty Alma, Anjeli itu ibu ku, kan?,


apa ibu ku sedang dalam bahaya?,


Apa Siera tak akan bertemu ibu lagi?,


Aunty jawab Siera...!"


Alma yang tak sanggup lagi menahan sesak dan air mata, bukannya menjawab pertanyaan tersebut malah memeluk gadis cilik itu dan menangis sesegukan dalam pelukan hangat putri Anjeli.


"Aunty jangan nangis, ibu pasti selamat."


Didalam ruang pasca operasi, Bagas di kejutkan dengan kondisi istrinya yang pucat pasi dan belum sadarkan diri.


Bagas yang biasanya kuat langsung menangis di samping sang istri,


"Akankah itu adalah perkataan terakhir yang didengar darinya?," guman Bagas dengan linangan air mata.


"Tuan, kami minta maaf, tapi kami sudah berusaha semaksimal mungkin memperbaiki kondisi pasien, tapi semua belum membuahkan hasil yang baik, istri dan putra anda masih dalam kondisi kritis sekarang," ucap sang dokter yang berdiri disisi Bagas, dan menjelaskan keadaan pasien sekarang.


"Aku sangat berterimakasih, setidaknya kita masih punya kesempatan menyelamatkan keduanya, dokter." Bagas kini lebih tenang melihat Anjeli dan putranya masih bernapas dan masih ada kesempatan mereka untuk melanjutkan hidup bersamanya.


Pemantauan berjalan sudah dua jam lamanya, Bayi Anjeli sudah semakin membaik, tapi tidak dengan sang ibu.


Bayi mungil itu terdengar menangis, dan Bagas langsung menghampiri bayinya yang bersebelahan ruangan dengan Anjeli, dan di batasi dengan dinding kaca, sehingga Bagas masih bisa melihat keadaan bayinya dari ruang sebelah.


Rasa sedih berganti rasa bahagia kala dokter yang menangani untuk pertama kalinya, mengucapkan selamat ya pak, bayi anda laki-laki, dan dia sudah selamat dari masa kritisnya sekarang, namun bapak belum bisa menggendongnya kami masih harus merawatnya dalam ruang inkubator ini, untuk pemulihan sepenuhnya.


Untuk pertama kalinya kata selamat terucap setelah beberapa jam proses kelahiran itu.


Pada umumnya dokter dan perawat atau bidan akan memberikan selamat pada pasien dan keluarga setelah bayi lahir dan terdengar menangis.


Akan tetapi, untuk proses persalinan Anjeli sangat jauh dari peristiwa membahagiakan itu, kelahiran putra Bagas disambut dengan suasana yang sangat menegangkan, hingga ucapan kata selamat tak terpikirkan oleh siapa pun.


Melihat anaknya membaik meski oksigen masih terpasang, Bagas sangat bahagia. Bayi mungil yang ada dihadapannya sekarang mengisyaratkan betapa besar perjuangan Anjeli untuk melahirkannya dengan selamat.


"Ayah janji akan menyayangi kalian, dan membahagiakan kalian.


Tak akan ada lagi Ayah yang egois, Tak akan ada lagi Ayah yang kasar, Tak akan ada lagi Ayah yang cuek,


yang akan kalian temui adalah Ayah yang sangat menyayangi dan melindungi kalian.


Tuhan....terimakasi atas kesempatan ke dua ini, aku akan berusaha memperbaiki semua kesalahan ku dulu.


Sayang terimakasih dan maafkan Ayah mu ini," ucap Bagas lirih di depan inkubator tempat anaknya berada, dokter yang mendengar ucapan itu, pun terlihat meneteskan air mata, begitu juga dengan semua petugas yang menyaksikan.


"Aku terharu, melihat Tuan sangat mencintai istri dan anaknya." ucap mereka lirih melihat Bagas.


Balik ke Anjeli.


Berbeda dengan sang bayi, kondisi Anjeli terus menjadi kritis, dua kantong darah telah habis, namun keadaan pasien masih sangat Pucat. dokter yang menangani kembali panik, dan melakukan tindakan segera untuk penyelamatan pasien, alat pacu jantung terlihat dikeluarkan dari tempatnya, Bagas yang melihat dari ruang sebelah langsung bergegas ingin menemui Anjeli, namun apalah dayanya dokter langsung menahan Bagas dan tak memperbolehkan keruang sebelah, dan hanya mengizinkan Bagas menyaksikan sang istri yang terlihat sedang meregang nyawa di ruangan sebelah bersama sang bayi.


"Tidak, izinkan aku menemuinya, tolonglah, dia istriku. Kalian jangan seperti ini, izinkan aku menemaninya......tolonglah.....jangan kurung aku disini." Teriak Bagas dari ruang sebelah yang telah dikunci, hal ini dilakukan agar dokter yang menangani pasien lebih fokus dan tidak terganggu olehnya.


"Maaf Tuan, tenanglah dan kita do'akan nyonya Anjeli dapat melewati semuanya."


"Tenang apanya...., istriku sedang sekarat kalian malah mengurungku disini, kalian jahat....." Tangis Bagas pun pecah, ia tak peduli lagi dengan jiwa maskulin pada dirinya, yang ada dalam pikirannya kali ini, ia sangat takut Anjeli akan meninggalkannya selamanya.


*


*


*


Huft.....tegang, bikin ngos......!!!


Maaf ya, ceritanya agak sedih bercampur tegang, tapi semoga kalian terhibur.


masih penasaran dengan kisah Anjeli selamat atau ngak...???


aku tunggu komentar nya Yach....


kalau rame autor kasi bonus di Jum'at berkah ini, UP lanjutan 2 bab.


Tetap dukung terus dan jangan kasih kendor biar Thor tambah semangat....


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Segudang hati untuk pembaca setia dan yang baru mampir.