SIERA

SIERA
23.



Sean mulai menjelaskan dengan detail keadaan Anjeli, hingga uang satu milyar yang ia berikan padanya menjadi biaya operasi pengangkatan pada tumor otak Anjeli.


Antara ingin marah atau terharu mendengar semua cerita istrinya, termasuk kebersamaannya selama satu tahun bersama Rama, dimana Anjeli terus mempertahankan kesuciannya, hingga membuat Rama berpaling dan berpindah hati pada dokter Farah.


Bagas jatuh tersungkur merasakan dinginnya lantai, sedingin hatinya dulu yang pernah ia rasakan bersama Anjeli, hingga membuat ia menjelma bagaikan makhluk buas yang ingin memakan mangsanya.


Membuatnya menderita dan tak memberi kesempatan padanya, merasa diri dicampakkan sang istri, tanpa ia sadari, jika cintanya seluas lautan.


"Sean, antarkan aku dan Siera menemuinya, aku ingin minta maaf padanya dan mengakui kesalahan ku padanya, aku sudah banyak menyakitinya."


Melihat Bagas terperosok karena menyesali perbuatannya, memunculkan perasaan iba di hati Sean, yang sebelumnya sangat membenci sikap kasar Bagas pada Anjeli.


"Bagas asal kau tau, aku dan Rama sudah lama menaruh hati pada Anjeli, tapi karena merasakan hati Anjeli lebih kuat padamu kami pun mengalah demi kebahagiaan kalian, tapi sikapmu selama ini, membuat kami sangat sakit melihat Anjeli menderita. Jika itu permintaanmu mohon maaf aku tak bisa membantumu Bagas, berusahalah sendiri. Sudah cukup bagi saya dan Rama melindungi Anjeli selama kau tak perduli padanya."


Sean melangkahkan kaki keluar dari ruangan miliknya meninggalkan Bagas yang masih terdiam di lantai meratapi semua kesalahan masa lalunya.


"Aku bodoh, memang bodoh, dan terlalu bodoh untuk menyadari semual hal yang telah kau korbankan untuk ku,"


ucapnya lirih memaki dirinya sendiri atas kebodohan yang terlalu lama membelenggu hati dan pikirannya.


Bagas keluar dari ruangan dokter Sean, dengan wajah sedih, terus melangkah menuju mobil miliknya, dan meninggalkan rumah sakit itu.


Pikirannya kosong, tatapannya tak berarah, membuat Bagas hampir menabrakkan kendaraan miliknya pada pembatas jalan.


Ia pun menghentikan sejenak mobil miliknya. Memperbaiki pikirannya yang kusut, hingga merasakan sedikit ketenangan dan melajukan kembali kendaraan roda empat miliknya.


Bagas tak langsung pulang kerumah, karena ia khawatir gadis ciliknya mencurigai keadaan dirinya yang terlihat kacau.


Bagas tiba di kantor miliknya, masuk dan langsung menuju ruang pribadi dan mengistirahatkan sejenak semua penat yang ia rasakan hari ini.


Teringat Anjeli yang akan segera melakukan operasi sesar, Bagas mengambil handphone miliknya dan menghubungi asistennya.


"Alang keruangan ku sekarang...!"


"Tuan, ada yang anda butuhkan?"


"Ya, pesankan tiga tiket pesawat ke kuala Lumpur hari ini, atas nama ku, Siera dan kamu."


"Tuan apa ada proyek besar disana?, atau Tuan akan bertemu dengan kolega bisnis yang baru?, biar aku siapkan berkasnya."


"Tidak ada bisnis, aku akan menjemput istri dan anak ku di sana."


"Baik, Tuan"


Alang meninggalkan ruangan Tuan Bagas, dengan pikiran penuh tanda tanya, tentang Anjeli dan anaknya.


"Memangnya sejak kapan nyonya hamil ?, kenapa tak pernah ada kabar?, dan tiba-tiba saja punya anak lagi." Begitu isi pikiran Alang sekarang.


Tiket sudah di pesan, koper telah disiapkan termasuk koper milik Siera dan juga Alang.


Bagas dan Alang kini tinggal menjemput Siera.


Bagas masuk kedalam rumah dan mencari Siera.


"Ayah ... aku sudah siap, saatnya kita berangkat!"


Mendengar cucunya meneriakkan kata berangkat, nyonya Miranti bergegas menemui mereka.


"kalian mau kemana?, kok bawa koper segala?"


"Mau jemput Tante Anjeli, omah!"


"Bagas..."


"Ya, benar yang Siera katakan, jika tak suka silahkan angkat kaki dari rumah ini dan pergilah tinggal bersama Mira calon menantumu itu."


Setelah ucapannya yang begitu menusuk, Bagas keluar meninggalkan ibunya, menuju bandara internasional.


Di dalam mobil, Siera tak banyak cerewet, karena rasa kantuk yang melandanya. Sekarang memang adalah jadwal tidur siang gadis cilik itu.


"Alang jam berapa jadwal keberangkatan di tiket?"


"Jam 15.00 tuan."


"kalau begitu singgah lah di supermarket belikan cimilan Siera."


"Baik'


Pukul .... 15.00...saatnya mereka segera naik pesawat....dan terbang menuju Kuala Lumpur.


"Siera yang terlelap tidur dipangkuan Ayahnya, seketika langsung terbangun, karena guncangan diatas pesawat yang hendak lepas landas."


"Ayah.....Wah ... sudah di dalam pesawat, ah....Ayah curang tak bangunin Siera. Aduh...ketinggalan banyak aku."


"Dasar cerewet kamu, udah...duduk yang benar."


"Sekitar dua jam, pesawat akhirnya mendarat di bandara internasional Kuala Lumpur."


"Wah ... dah sampai, Asik jalan-jalan keluar negri," seru Siera karena girang, ini baru pertama kali ia diajak Ayahnya keluar negri.


Bagas langsung mencari alamat yang di berikan oleh Sean padanya.


Tak butuh waktu lama, alamatnya pun mereka temukan.


Bagas sangat deg degan, setelah sekian lama, ini adalah pertemuan mereka untuk pertama kalinya.


Ting...tong...


Bagas dan Siera berdiri di luar pagar menunggu pemilik rumah keluar setelah mereka memencet bel rumah.


Terlihat seorang wanita keluar dari rumah tersebut, berjalan ke arah pagar.


"Maaf, cari siapa?" tanya Alma yang memang tak pernah bertemu dengan Bagas, ia hanya mendengar cerita tentangnya dari Anjeli saja sebelum mereka menikah, karena Alma sudah lama menetap di Kuala Lumpur.


"Anjeli nya ada?" ucap Bagas dengan ramah.


"Oh...cari Anjeli, mari silahkan masuk dan tunggu sebentar biar aku panggil orang nya menemui anda."


"Baik, terima kasih."


Alma masuk ke dalam rumah dan menuju ruangan kerja mereka, disana tampak Anjeli yang masih sibuk bergelut dengan rancangan baju miliknya.


"Anjeli, ada yang mau ketemu denganmu, dia menunggu di ruang tamu."


"Siapa?"


"Ah ... aku lupa menanyakannya, lihat aja sendiri."


"Kamu selalu saja begitu, kebiasaan tau..."


"Maaf, tapi aku lihat dia bersama gadis kecil cantik dan imut mirip dengan mu....Tu_tunggu kok' kayaknya mukanya familiar bangat."


Anjeli tak lagi menghiraukan penjelasan Alma, ia langsung bergegas menemui tamu tersebut."


Deg....


"Mas Bagas...!"


Anjeli membekap mulut sendiri, bukan karena bertemu dengan mas Bagas, melainkan pandangan matanya tertuju pada gadis cilik yang duduk diatas pangkuannya Bagas.


"Siera.....!" suaranya hampir tak dapat ia keluarkan, seperti ada sesuatu yang mengganjal tenggorokan miliknya, karena rasa kaget teramat dalam melihat putri kesayangan di depan mata, Anjeli tak mampu menopang tubuhnya dan hampir jatuh ke lantai, untung nya Bagas dengan sigap langsung menarik tubuh Anjeli dan mendekapnya agar tak jatuh.


"Maaf" ucap Anjeli yang belum bisa fokus dengan dirinya.


"Anjeli...kamu kenapa?,


Sepertinya Anjeli sangat kelelahan, aku harus segera membawanya ke rumah sakit sekarang...!, Pak tolong berkunjung di lain hari saja."


"Biar aku yang mengantarnya, kamu siapkan saja berkas yang di perlukan dan persiapan persalinan Anjeli."


"Ta_tapi, anda siapanya Anjeli?."


"Aku Bagas, suaminya."


"Hah...Mas Bagas. Kalau begitu anak itu pasti Siera."


"Kalau begitu, mas Bagas bawa Anjeli dulu, ke rumah sakit, pake mobil aku, biar aku dan Siera menyusul."


"Baik kamu naik taksi yang di depan rumah, aku sudah memesannya untuk hari ini."


"okey"


"Mas .. sakit, aku tak tahan lagi...!"


"Anjeli, kamu tahan sebentar, kita akan segera menuju rumah sakit."


"Mas kata dokter dia adalah seorang laki-laki, jika ada apa-apa tolong selamatkan dia, aku sudah menepati janjiku akan melahirkan penerus untukmu."


Anjeli memejamkan mata tak sadarkan diri lagi setelah ucapan terakhirnya pada suaminya.


"Anjeli bangun....!, aku minta maaf atas semuanya, aku terlambat, seharusnya aku disisi mu sejak aku tau jika kau sedang hamil."


"Maaf" ucapnya lirih dengan air mata mengalir dari sudut matanya.


"Alang, cepatlah sedikit, Anjeli terlihat mengeluarkan banyak air, mungkin ini air ketuban anak ku."


"Baik, Tuan. ini sudah kecepatan maksimal."


"Anjeli, sadarlah," bisik Bagas di telinga Anjeli yang masih terlihat menutup rapat matanya.


Tegang gak ya, liat Anjeli berjuang....?


Jangan lupa dukungannya, biar semangat up_nya.🥰


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Segudang hati buat pembaca setia.


Lov U All.