SIERA

SIERA
44.



Mendengar suara keributan Siera langsung bergegas menuju sumber suara tersebut.


Siera melihat Ayahnya sedang terbaring di atas lantai seorang diri, Siera merasa bingung dan juga sedih, baru pertama kali ia melihat ayahnya sangat kacau, bahkan Bagas terlihat sedang mengusap air mata yang tak mampu ia bendung.


"Ada apa dengan mu ayah?, Oma sakit ayah tak terlihat sedih sedikitpun, lalu siapa yang membuat ayah meneteskan air mata seperti ini?" ucapan Siera yang tak kalah dari perkataan orang dewasa, membuat Bagas semakin sedih.


"Cih....Ayah jangan malu-maluin kayak gini donk...!" lanjut Siera.


" Bantu Ayah mendapatkan ibumu kembali, Nak...!"


"Hah?, bukannya ibu dan ayah baik-baik saja?, Ayah bikin ulah apa lagi hingga ibu marah?" tanya Siera dengan beruntun.


Bagas menatap putri kecilnya berusia TK, namun sudah pandai bersilat lidah, bahkan mengalahkan orang dewasa.


"Ayah dulu melakukan kesalahan fatal dan hingga kini ibu kamu tetap tak bisa memaafkan hingga saat ini. Dia benar - benar belum bisa memaafkan kesalahan Ayah dan yang Ayah baru tahu akan hal itu saat ini.


Ayah sangat sedih, Nak. Ayah memang sangat bodoh telah menyakiti ibumu dulu dan bersama dengan perempuan lain," jelas Bagas pada putri ciliknya.


"Perempuan yang tak pantas sama sekali menjadi pendamping hidup Ayah, saat itu aku terlalu terobsesi dengan surga dunia yaitu nikmat harta yang begitu melimpah jika ayah bersama dengan perempuan itu dan saat itu ibu kamu sedang hamil hamil kan kamu, Ibu sangat sakit hati saat itu, saat ibu menyaksikan perselingkuhan Ayah dengan wanita yang baru saat ini ayah tahu Kebenaran akan dirinya.


Ia ternyata sangat jahat dan hanya ingin mengambil keuntungan dari Ayahmu ini.


Maafkan Ayah, Nak!, karena kesalahan ayah ini membuat kacau kehidupan kita," lanjut Bagas kembali menjelaskan duduk permasalahannya.


"Ayah, jika Siera boleh tahu, siapa wanita yang telah mengacaukan kehidupan ayah dan ibu dan berusaha mengambil keuntungan dari dari ayah?" tanya Siera begitu penasaran dan emosi mendengar penuturan sang Ayah.


"Dia adalah orang yang sama saat ini," jawab Bagas.


"Apa?, jadi Mak lampir itu adalah penyebab semuanya dari dulu hingga saat ini, wajar saja jika Ibu sangat marah, sudah lama hal ini terjadi dan Ayah masih terjebak dengan hal yang sama hingga saat ini, memang Ayah sangat keterlaluan bisa membangun kerajaan bisnis yang begitu besar dan memukau banyak orang, namun terlalu lama menyelesaikan permasalahan keluarga, hingga Ibu memendam kekecewaan, amarah, kebencian, bahkan aku juga yakin ini mungkin penyebab Ibu sakit saat sakit dulu."


Pernyataan yang Siera tuturkan cukup membuat Bagas tercengang, tanpa perlu menjelaskan detailnya, Siera sudah paham akan pokok permasalahannya.


"Ayah baru tahu semuanya dari percakapan antara Uncle Sean dan Ibu kamu barusan," ucap Bagas.


"Hah...?, Ayah benar sangat parah, bahkan Ibu lebih memilih Uncle Sean untuk mengutarakan semuanya." Cetus Siera pada Ayahnya yang tak bisa ia andalkan.


"Jujur Ayah sangat kecewa kenapa hal yang sebesar itu, Ia Ungkapkan kepada orang lain, di hadapan ku, justru malah menyembunyikan dengan apik semua dalam hatinya dan membuatnya lemah dan sakit," lanjut Bagas.


"Memang benar semua tak sebanding dengan perbuatan Ayah dulu, aku memang bejat mungkin tak pantas untuk dimaafkan tapi Ayah sudah menyesali semuanya dan menyadarinya sejak ibumu meninggalkan Ayah.


Siera, Ayah lemah saat ini, ayah tak tahu harus berbuat apa lagi, pikiran Ayah kosong, tak ada ide apapun, hanya kamu satu-satunya harapan ayah yang mampu membuat keluarga kita utuh kembali dan bahagia hingga selamanya.


Kamu adalah anak yang cerdas, kamu pasti bisa melakukannya, tolong Ayah sangat membutuhkan bantuanmu saat ini!, maaf atas ketidak berdayaan Ayah dan kebodohan Ayah dulu."


"Ya, sudah lah mau buat apa lagi sekarang, semua udah terjadi. Saatnya Ayah berjuang kembali menaklukkan hati Ibu dan membuatnya bahagia selamanya dan Ayah harus janji jangan pernah mengulang hal itu lagi, Ayah harus menyayangi ibu dan tak akan pernah menyakitinya lagi.


Jika itu terjadi untuk kedua kalinya lagi, maka Siera, Ibu, dan Amar, tak akan peduli lagi dengan Ayah, kami akan pergi meninggalkan Ayah untuk selamanya," ucap Siera sedikit memberikan saran sekaligus ancaman pada Ayahnya.


"Maafkan Ayah!" ucap Bagas semakin tak berdaya dengan sikap putrinya.


"Sudahlah Ayah jangan minta maaf terus, semua sudah berlalu, yang harus kita lakukan sekarang adalah terus berjuang menaklukkan hati Ibu, Siera hanya bisa membantu seadanya, namun ini adalah perjuangan Ayah, ini adalah kesempatan yang harus Ayah gunakan sebaik-baiknya dan berjanjilah untuk selalu ada untuk kami."


"Sekarang Siera hanya bisa bantu membujuk ibu untuk pulang kembali, setelah Ibu menyetujuinya. Tugas Ayah melanjutkan semuanya, maaf Ayah hanya membantu seadanya, Siera tak mau ikut campur terlalu dalam masalah ayah dan ibu. Ayahlah yang harus bertanggung jawab dan menjadi tokoh utama sekarang, kebahagiaan keluarga ini ada di tangan Ayah sekarang tinggal bagaimana caranya membuatnya kembali menjadi keluarga yang bahagia dan takkan pernah terpisahkan," lanjut Siera dan mengakhiri percakapan antara mereka.


Siera kembali ke dalam kamar dan menemui adiknya, mereka bermain bersama seolah tak ada apapun yang terjadi, seolah semua baik-baik saja.


Bagas masih termenung di tempat yang sama, merenungkan semua kesalahannya, hingga ia kini mulai menyadari sikap Anjeli yang selalu menolak dirinya dan mengatakan berbagai alasan saat Bagas mengajaknya bersama, saat Bagas menyentuhnya, bahkan ada beberapa sikap Anjeli yang tak seperti dulu, ia sedikit acuh, tapi kenapa aku tak menyadari semuanya, aku pikir dia hanya sedang menyesuaikan diri kembali seperti dulu.


"Kau terlalu pandai menyembunyikan sakit, hingga aku menjadi egois!?, dan kau terlalu pandai menyembunyikan rasa hingga aku merasa semua baik-baik saja. Anjeli kau memang wanita yang sangat unik keras kepala, tapi kau tak tahu aku mencintaimu dengan dengan tulus dan menerima semua yang ada padamu," ucap Bagas menatap sebuah gaun yang sangat cantik karya sang istri tercinta.


"Anjeli, awas kau jika kau tak memberi ku kesempatan lagi, maka aku akan membuat baby ketiga untuk mu, hingga kau sibuk dengan anak-anak ku, ah....kau tak tau bibit ku sangat unggul, sekali tancap kecebong milik ku langsung bisa menembus inti sel telur milik mu, kita melakukan itu bersama kemarin sayang saat masa subur mu sedang di puncak," guman Bagas tersenyum licik.


Bagas pun keluar dan menemui ke dua buah hati tercintanya, bukannya mencari Anjeli ia malah dengan santainya mengajak Amar bermain kuda-kuda.


Siera cukup heran dengan tingkah Ayahnya.


"Apa Ayah tak perlu menemui Ibu dan membujuknya?, apa Ayah tau di mana Ibu?, apa yang membuat Ayah begitu santai?, apa ini cara Ayah menyelesaikan masalah?," tanya Siera beruntun dengan sikap kesal.


Bagas hanya tersenyum dan mencium kening Siera dan Amar. Tak sepatah katapun terucap.


Bagas memandangi putrinya, lalu memeluknya. "Semakin hari kau mirip dengan Ibu," bisik Bagas.


"Ayah_.." sahut Siera pelan. "Santai sekali dia, pantas Ibu marah. Baik lah, kali ini aku dan ibu akan bekerja sama dan memberi pelajaran pada Ayah, hingga ia tau rasanya kehilangan dan tersakiti seperti yang Ibu rasakan. Ayah kau pria yang payah, aku sedikit membenci sikap mu!" guman Siera dalam pelukan Ayahnya.


...----------------...