
Sebulan kemudian Bagas mulai menata hatinya yang remuk redam akibat ditinggal istri tercinta.
Akan tetapi menata hati yang dimaksud adalah menjadi semakin kejam dengan tempramen tak tertandingi diantara deretan Tuan Pengusaha Kejam.
Usaha yang sebulan lalu diambang pailit sudah mulai dapat ia hidupkan kembali.
Kecerdasan seorang Bagas dengan tingkat ketelitian tinggi, serta taktik strategis yang tepat sasaran, dan inovasi yang tiada tandingannya, membuat seorang Bagas Wirawan melambung kembali, karakter kuat sebagai pemimpin yang karismatik membuat setiap saingan bisnis menyingkir di setiap jalan strategis yang Bagas tempuh.
Sungguh sangat mengagumkan, selain mahir dalam bisnis, ia juga memiliki wajah yang rupawan, sungguh memang Bagas Wirawan adalah paket komplit bagi para kaum hawa.
Akan tetapi kisah pilu, terluka namun tak berdarah, merana, dan ditinggal sang pujaan hati, membuat seorang Bagas Wirawan alergi terhadap semua perempuan yang ada di hadapannya, termasuk ibu dan putrinya sendiri.
Patah hati yang ia alami membuat Bagas mati rasa terhadap semua wanita.
***
Di Kantor pusat bisnis perhotelan milik Bagas sedang kedatangan tamu spesial, seorang artis ternama, kedatangannya kali ini merupakan sebuah kehormatan untuk kemajuan bisnis perhotelan yang sedang mulai bangkit.
Bagas sangat senang atas waktu luang yang diberikan artis papan atas tersebut atas undangan perjamuan yang Bagas selenggarakan, untuk ajang promosi Hotel miliknya.
Berbagai diskon menarik di tawarkan dengan fasilitas mewah, membuat Bagas mendapatkan banyak kontrak dari beberapa perusahan termasuk dari pihak travel.
Selain itu Bagas menyiapkan paket komplit dengan harga istimewa untuk Ballroom hotel miliknya.
Sungguh strategis usaha yang Bagas buat sehingga mampu menutupi semua kerugian yang dialami perusahaan akibat pandemi.
Banyak hotel yang gulung tikar dan tak mampu untuk bangkit lagi, hal ini juga tak Bagas lewatkan untuk mengambil alih hotel-hotel yang tak mampu lagi dipertahankan oleh pemiliknya, dengan berbagai tawaran menarik yang diusulkan oleh Bagas kepada para investor, mereka bersedia membuka lebar sayapnya dan mulai terbang bersama seorang perintis usaha muda dengan taktik strategis jitu dalam setiap tawaran yang Bagas ajukan.
Tak butuh waktu lama bagas mulai diperhitungkan kembali di kancah nasional sebagai pengusaha muda bergelimang strategis jitu membangkitkan kembali usahanya.
Selain bisnis perhotelan yang mulai bangkit kembali, Bagas juga kini sedang mengambil peluang besar di bisnis kuliner, dengan memadupadankan bisnis perhotelan dan kuliner, ia memiliki strategis khusus setiap kali ada ivent di hotel miliknya ia selalu berusaha menawarkan paket komplit yaitu jasa penyedia makanan jadi.
Bagas memang top dalam mengembangkan bisnis, wajar jika dalam sebulan ia mampu memulihkan kondisi keuangan perusahaan kembali.
***
Kebaikan Elin untuk mengajak Anjeli tinggal dirumahnya sangat membantu keadaan Anjeli saat ini.
Sebenarnya Anjeli dulu punya tempat tinggal bersama ibunya, namun rumah itu sudah Anjeli jual untuk melunasi utang berobat ibunya ketika masih hidup. Dan syukurnya sisa uang itu masih ada tersimpan rapi di rekening milik Anjeli sendiri dan uang itulah yang sekarang jadi penopang hidup Anjeli.
Anjeli berusaha mencari pekerjaan kembali. Sebenarnya sebelum menikah dengan Bagas Wirawan Anjeli adalah seorang pegawai di bank swasta posisi Anjeli lumayan baik yaitu asisten menejer, namun karena kehamilannya dan tubuh Anjeli tentang sakit ia memutuskan untuk resign dari bank tersebut.
Dengan pengalamannya terdahulu ia mencoba keberuntungan kembali bekerja sebagai pegawai bank.
Anjeli membawa lamarannya di bank swasta yang sedang membuka lowongan pekerjaan meski kali ini posisi yang ditawarkan hanya sebagai costumer servis, namun hal itu tak jadi masalah buatnya yang penting ia dapat pekerjaan untuk menafkahi hidupnya.
Perjalanan Anjeli untuk mencari pekerjaan tak semudah dulu ketika ia masih berstatus singgel. Tak banyak perusahaan yang mau menerima pegawai dengan status menikah, namun hal ini tak menciutkan nyali Anjeli sama sekali, ada beberapa perusahaan yang ia datangi namun belum membuahkan hasil.
"kak bagaimana udah dapat pekerjaan?," tanya Elin karena sudah beberapa hari memperhatikan dan juga sempat menemani Anjeli mencari pekerjaan namun belum berhasil.
"Kak, aku punya teman dan kakaknya seorang pengusaha travel, jika kakak mau aku akan tanyakan jika ada lowongan pekerjaan di travel kakaknya."
"Wah...boleh dek, semoga kita mendapat keberuntungan dari kakak teman kamu itu."
Dengan senang hati Elin menghubungi temannya dan ternyata travel milik kakaknya membutuhkan seorang pegawai dengan ketrampilan mengelola bagian promosi agar travelnya semakin berkembang. Mendengar penuturan dari temannya Elin.
Keesokan harinya Anjeli ditemani oleh Elin mencoba keberuntungan melamar pekerjaan tersebut.
"Jadi dong, kenalkan ini kak Anjeli, yang saya ceritakan kemarin,"
jawab Elin dengan memperkenalkan Anjeli pada temannya karibnya.
"Oh .... jadi kakak yang mau daftar, mari kak biar aku antar keruangan kakak saya, biar kita ketemu langsung dan gampang untuk Kakak saya pertimbangkan lamaran kerja kak Anjeli dan semoga kakak beruntung!."
"Eh...., main serobot aja, kamu gak kenalan dulu," cetus Elin melihat temannya yang terlalu semangat.
"Eh iya...., aku sampai lupa, kenalkan kak, aku Rani teman SMA Elin dulu."
"Oh..., jadi kalian sudah berteman lama, pantas akrab bangat," sela Anjeli yang kagum dengan pertemanan mereka, sementara Anjeli sendiri semenjak menikah dengan Bagas, ia tak pernah lagi bertemu dengan sahabatnya.
Meraka berjalan beriringan masuk ke ruang kerja kakak Rani.
Tok...tok.
"Masuk...!," terdengar suara laki-laki dari dalam ruangan.
Suara yang sepertinya familiar ditelinga Anjeli.
"Hay....kak, nih aku bawain orangnya, yang tadi sempat aku ceritakan kekakak."
"Kamu...!," Sapa Anjeli melihat Mantan Menejer nya semasa kerja di Bank Swasta dulu.
"jadi kakak saling kenal," ucap Rani dan Elin secara serentak.
"Ya, dunia memang sempit Anjeli, kita bertemu lagi!."
"Ya, sepetinya." jawab Anjeli.
"Gak, salah. Bukannya suami kami pengusaha tajir melintir, kenapa sekarang istri dari Bagas Wirawan malah ada di travel aku sedang mencari pekerjaan?,"
ucapnya pada Anjeli karena agak bingung melihat Anjeli mencari pekerjaan sementara usaha suaminya sekarang sudah membaik.
"Em...Itu dulu, sekarang aku bukan siapa-siapanya lagi,"
Jawab Anjeli sedikit gugup, membahas masalah pribadi di depan umum.
"Tapi saya tidak mendengar kabar perceraian kalian?, suami tajir seperti itu, kamu tinggalkan begitu saja, sayang loh, dulu aja aku kamu tolak mentah-mentah, sekarang kamu malah seperti ini."
Dengan menatap gadis yang pernah ia perjuangkan, namun kalah performa dengan Bagas, meski wajah rupawan mereka sebelas dua belas, namun karisma Bagas harus dia akui karena mampu meluluhkan hati Anjeli.
"Jangan Bahas yang dulu lagi kak, jika kakak bersama saya dulu pun pasti kakak akan kecewa, buktinya sekarang ini, aku malah bukan istri yang baik," ucap Anjeli menyembunyikan keadaannya yang sebenarnya.
"Kalau begitu, aku ada lowongan kerja tapi bukan di travel ini."
"Maksudnya?." Dengan mengerutkan kening meminta penjelasan dari perkataannya mantan manajernya barusan.
"Ya, jika masih ada kesempatan ke dua, lowongan istri untuk mu masih kosong"
"Mas Rama, bercandanya jangan kelewatan deh, disini ada Rani dan Elin."
"Oh..., jadi dia gadis yang sering kakak cerita, pantas kakak mati-matiannya mengejarnya dulu," guman Rani melihat ekspresi senang kakaknya bertemu dengan kak Anjeli.
Sementara Elin hanya bengong mendengar jati diri kak Anjeli yang sebenarnya.