
Selamat Membaca
Belum sampai sebulan Anjeli merasakan kehidupan bahagianya kembali, ia harus dihadapkan dengan ujian yang membuat hatinya harus tersakiti kembali.
Dengan tangan gemetar Anjeli melihat beberapa foto suaminya sedang bersama dengan seorang perempuan di diskotik milik Ardi.
"Bagas apa yang sedang ia lakukan di tempat haram itu, bukannya ia sudah tak pernah lagi ke tempat itu. Apa sebenarnya ya g sedang terjadi?, apa ini ada hubungannya dengan Mira?" guman Anjeli dengan beberapa foto di tangan miliknya.
Di tempat persembunyian miliknya, Mira sangat puas melihat raut wajah Anjeli ketika pertama kali menerima paket miliknya di depan rumah mewah milik suaminya.
"Ini baru pemanasan sayang, sebentar lagi kamu akan melihat foto yang lebih mesra dari itu, yang akan membuat mata kamu terbelalak menyaksikan apa yang Bagas lakukan pada ku."
Tanpa Anjeli sadari jika foto itu merupakan foto lama mas Bagas ketika ia meninggalkan Siera dan suaminya, dan saat itu Bagas memang kerap kali ke tempat hiburan dan minum-minum seperti dulu.
Namun, Anjeli bukan lah orang yang sama yang mudah untuk dipengaruhi sekarang, ia sudah mencurigai jika ini semua ada hubungannya dengan Mira, kerena hanya dialah satu-satunya orang yang tak suka dengan kebahagiaannya sekarang.
"Jika itu memang dia, maka aku akan menemani mu bermain kali ini hingga akhir permainan selesai, jika permainanmu cukup jauh maka bersiaplah untuk menahan rasa malu, permainan murahan dari wanita seperti mu, sudah sangat akrab denganku."
Dalam suasana rumah yang hening disore hari, Siera hanya nonton film kesukaannya ditemani sang Oma, dan Amar masih tertidur setelah di susui olehnya.
"Selamat sore semuanya." Sapa Bagas yang berusaha untuk selalu pulang tepat waktu demi memberi waktu yang cukup untuk keluarga kecilnya sekarang yang sudah lengkap.
Anjeli langsung menyambut sang suami seperti biasa. "Sayang kok, rumah kayaknya sepi...?" Ucap Bagas yang heran tak biasanya rumah miliknya sunyi seperti sekarang.
"Amar sedang tidur, Anjeli di ruang TV sama Ibu."
"Oh...pantes aman."
"Memangnya kenapa?"
"Ngak biasanya aja."
"Mas, ada yang aku harus beritahukan padamu, tapi kamu harus janji akan menghadapi semuanya dengan tenang, dan tak gegabah."
"Hmmm...."
"Ada yang memberikan paket ini pada ku."
Sambil memperlihatkan sebuah foto miliknya dan perempuan yang bersamanya tampak seperti Mira.
"Oh...itu foto lama sayang. Jangan dipedulikan."
"Tapi kamu harus berhati-hati kali ini rencananya kayaknya lumayan berani."
"Mas Tetap aja aku tak sudi jika suamiku tidur dengan wanita lain."
"Kau ini, pantas Siera sangat cemburuan, ternyata itu menurun dari dirimu."
"Mas aku serius."
Anjeli mulai memberi peringatan keras pada suaminya, ia tak mau jika harus bermasalah lagi dengan para gadis yang masih mengincar Bagas meski sekarang mereka telah menjadi suami istri dan memiliki dua anak. "Ingat ditengah kita sekarang ada Siera dan Amar, jika masalah kecemburuan pada Ki sekarang, aku sudah bisa mengontrolnya, tapi tidak untuk kedua buah hati kita aku tak mau mereka terlibat lagi dengan gadis yang masih mengincar mu, aku tak akan pernah menerima hal itu lagi, "tegas Anjeli pada sang suami, yang terlihat santai dengan rencana Mira pada mereka.
"Sudah, tenang lah. Aku akan selalu menjaga kalian selamanya, kejadian penculikan Siera tak akan terulang lagi. Aku janji jika ia berani mengganggu ketenangan keluarga kita maka akan aku pastikan, ia akan menerima balasan yang setimpal dengan perbuatannya." Bagas mulai menenangkan Anjeli dengan kelembutan hati yang ia miliki sekarang.
Diluar sana Mira mulai merencanakan jebakan maut pada Bagas, kali ini jebakan yang Mira rencanakan sungguh sangat menjijikkan, dan tak bermoral sama sekali.
Mira sedang mengatur rencana pertemuan dengan Bagas kali ini ia melibatkan bisnis atas rencana terselubung darinya. Mira mengambil alih sebuah bisnis keluarga yang berhubungan dengan kerja sama perusahaan milik Bagas, Mira sedang mengatur pertemuan yang tak biasanya yaitu di hotel yang bersifat jamuan privat.
Bagas menerima informasi atas semua rencana Mira dari asistennya. Bagas tak tinggal diam begitu mengetahui tentang paket untuk Anjeli dugaannya sangat kuat tertuju pada sang Mak Lampir.
"Gadis ini, memang sangat gigih untuk mendapatkan diri ku, tapi sayangnya incaran dia sesungguhnya hanyalah harta dan ketenaran, demi meningkatkan strata sosial dirinya, sungguh gadis yang busuk, pantas hingga saat ini tak ada satupun pria yang berniat baik untuk melamarnya," guman Bagas dengan melihat beberapa bukti dokumentasi yang sempat Alang ambil untuk nya sebagai barang bukti.
"Tuan ada undangan pertemuan dari keluarga Mira, namun undangan tersebut bersifat privat, bahkan kehadiran saya sebagai asisten tidak disebutkan dalam undangan tersebut, namun dalam undangan tersebut juga tidak tertera dengan jelas siapa dari pihak keluarga yang akan mewakili pertemuan itu."
"Tak lain ini pasti bagian dari rencana darinya. Kamu harus bersiap-siap Alang melakukan penyamaran, untuk berjaga-jaga jika ia sampai melakukan hal diluar batas kendali."
"Baik, tuan. Aku mengerti."
Bagas dan Alang mulai bersiap untuk menghadiri pertemuan privat sesuai dengan jadwal yang di tetapkan malam ini, Bagas turun dari mobil seorang diri, sementara Alang menunggu suasana aman dan mulai melakukan penyamaran. Bagas memasuk hotel dan bergegas ke sebuah ruangan yang sudah ditentukan dalam undangan. Baru di luar ruangan sudah terlihat dua orang pria sedang berjaga di luar, " Terlalu privat, entah apa rencana busuknya kali ini." Memasuki ruangan Bagas mulai merasakan ada sesuatu yang aneh pada dirinya, ia merasakan pusing sejak memasuki ruangan itu. Tak lama kemudian......
Buk.
Ada seseorang yang memukul dirinya dari arah belakang, dan Bagas masih bisa melihatnya dengan samar sebelum ia akhirnya tak sadarkan diri.
Mira segera melakukan aksi busuknya, memanfaatkan kondisi lemah Bagas, dan melucuti semua pakaian milik Bagas, dan berpose seolah mereka sedang melakukan hubungan suami istri.
Krek...krek...krek...beberapa para orang suruhannya mengambil gambar pose yang dibuat seakan nyata oleh Mira.
"Bagus kalian melakukan dengan sempurna, ini bayaran kalian beserta bonusnya, dan tunggu info dari ku selanjutnya." Mira tersenyum sinis melihat kelihaiannya menipu Bagas berhasil mulus seratus persen tanpa perlawanan apapun dari Bagas.
Alang sangat gelisah dan mulai mencurigai jika dirinya dan Bagas kini sudah masuk dalam jebakan, ia sama sekali tak bisa mendekat pada ruangan dimana Bagas sebelumnya masuk, Alang terpaksa menghubungi Rama, untuk membantu Bagas.
Mendengar hal itu Rama langsung bergegas ke hotel dengan pihak keamanan. Rama langsung menemui Alang dan menanyakan posisi Bagas saat ini, Alang menunjukkan sebuah ruangan khusus yang sudah dipesan privat oleh pihak perusahaan dibawah naungan keluarga Mira. Kini Rama sudah sangat paham, Rama segera menemui pihak manager bersama dengan pihak yang berwajib, mengetahui ada niat busuk dari pertemuan itu, pihak hotel yang merupakan kolega Bagas sendiri segera turun tangan dan membantu, mereka menerobos pertahanan dari perusahaan keluarga Mira dan masuk menemui Bagas, dugaan mereka benar Bagas sedang tak sadarkan diri di sebuah ranjang, dengan hiasan ruangan bernuansa merah bak kamar pengantin, dan tak ada siapapun dalam ruangan tersebut. Namun, anehnya tak ada sehelai kain pun yang menutupi tubuhnya, Rama segera menghubungi Sean agar standby di rumah sakit miliknya sekarang, dan segera membawa Bagas ke rumah sakit melakukan pemeriksaan secara khusus.