SIERA

SIERA
63



Begitu sampai di toilet Anjeli langsung memuntahkan semua isi perutnya, hingga tak bersisa. Bagas dengan sabar membantu Anjeli, dan membersihkan diri Anjeli setelah mengeluarkan semua isi perutnya.


Tak lama berselang Anjeli dan Bagas keluar dari dalam toilet dan melihat Rama, Sean, dan Farah berjejer menunggu mereka di depan pintu. "Anjeli apa kau sedang hamil ?" tanya Farah mengingat kejadian Anjeli saat hamil kan Amar dulu.


"Jangan membuat asumsi yang tidak-tidak dokter Farah....Amar belum genap setahun, aku kemarin riwayat SC, bukan kah itu resiko tinggi untuk aku hamil lagi...?" jawab Anjeli tak terima dengan diagnosa sementara Farah.


"Gimana kalau kamu periksa?" ucap Bagas mendukung diagnosa dari dokter Farah.


"Sudah jangan pada aneh, bantu aku menemukan kursi roda perutku semakin nyeri sekarang."


"Anjeli kau_ada darah mengalir_" belum sempat Farah melanjutkan perkataannya Anjeli tiba-tiba tak sadarkan diri dan langsung ambruk untuk Bagas dengan sigap menahan tubuh istrinya.


"Farah bawa Anjeli ke ruang persalinan sekarang, lakukan pemeriksaan USG, panggil dokter kandungan yang bertugas, sekarang...!" perintah Sean yang terlihat panik begitu Bagas dan Rama yang langsung membawa Anjeli menuju ruang persalinan untuk melakukan pemeriksaan.


Anjeli langsung mendapatkan penanganan secepat mungkin, Farah terlihat sangat sibuk membantu dokter kandungan yang sedang memeriksa Anjeli, dan dokter menarik diagnosa jika Anjeli mengalami keguguran. Farah tercengang sesaat mendengar ucapan dokter kandungan yang memeriksa keadaan Anjeli. "Ny. Anjeli mengalami perdarahan diusia kandungan memasuki dua bulan, abortus imminens masih bisa diselamatkan tapi kemungkinan besar janin ny. Anjeli kembar dan salah satunya sudah keluar melalui perdarahan yang terjadi saat ini, sementara janin yang lain masih bisa dipertahankan. Pasien harus bed rest total selama sebulan penuh hingga usia janin melewati 3 bulan dan pemeriksaan melalui alat USG akan dilakukan kembali untuk melihat perkembangan sang janin, jika ia berkembang dengan sempurna makan kehamilan masih bisa dipertahankan, namun jika hal sebaliknya yang terjadi aku sarankan kehamilan ny. Anjeli harus segera di terminasi."


Bagas terdiam mendengar kata terminasi untuk buah hatinya, ia merasakan kesedihan yang semakin berkecamuk dalam hatinya, disisi lain ibu Rianti masih dalam perawatan intensif dan sekarang Anjeli dalam kondisi seperti ini, Bagas teringat perjuangan istrinya saat melahirkan Amar, Anjeli berjuang antara hidup dan mati, tak ada yang bisa Bagas lakukan saat itu, ia terlihat bagaikan orang paling bodoh di dunia menyaksikan perjuangan sang istri melawan maut.


"Terminasi sekarang juga dan tutup kandungan istri ku," ucapan Bagas terdengar jelas dan tegas tanpa ada keraguan sedikit pun, "Mas, jangan gegabah. Anjeli pasti akan murka dengan keputusanmu itu," ucap Farah memperingatkan keputusan Bagas.


"Aku yang menyaksikan dia meregang nyawa saat setelah Amar lahir, dan kau tau saat itu akulah pria terbodoh di dunia ini, menyaksikan Anjeli terkulai lemas tak bisa berbuat apapun untuknya, apa kau ingin membawaku dalam posisi seperti itu lagi, tidak Farah cukup sekali," bentak Bagas pada Farah.


"Bagas jaga sikapmu pada istri ku. Kamu semua paham akan kondisi ku, tapi pertimbangkan lagi konsekuensinya dari segi medis, salah tindakan maka dua nyawa akan melayang, kau bukan dokter dan tolong hargai mereka."


"Rama, asal kau tau saat itu, tak satupun dokter mampu membangunkan Anjeli, mereka malah menarik diagnosa, menyimpulkan keadaan dengan dalih pasien tak bisa tertolong, mengurungku di ruangan Amar, bahkan derai air mata tak menggugah hati meraka saat itu, hingga aku menyaksikan istriku meregang nyawa, aku bahkan harus mengamuk dan mengancam mereka, kau tau apa yang aku rasakan saat itu?, jantung inj seakan berhenti berdetak...harapan hidup ku hancur, aku ingin marah bahkan jika itu bisa aku ingin melenyapkan semua orang dalam ruangan itu. Aku sanggup kehilangan ibu bahkan sanggup melihat ibu kandungku terkulai di sana, tapi entah kenapa dengan hati kecilku, aku sama sekali tak bisa kehilangan dirinya, mungkin ini karma bagiku, tapi aku sungguh sangat mencintai Anjeli, tolong pahami posisi ku sekarang," ucap Bagas dan tersungkur di samping tempat Anjeli terbaring lemah.


"Bagas, kau jangan egois dengar baik-baik. Kondisi Anjeli sekarang sedang tidak stabil ia baru mengalami perdarahan hebat, bahkan hingga saat ini perdarahan masih terjadi, keadaan tubuh tak mungkin sanggup untuk menerima tindakan operasi ataupun kuret kandungan, jika kau mau menerima hal yang tepat menjadi pilihan terbaik saat ini adalah mempertahankan kehamilan dan transfusi darah secepatnya," ucap Sean dengan pelan mulai membujuk Bagas yang terlihat pasrah dengan keadaan anjeli.


"Mas, tenangkan dirimu dulu. Jangan seperti ini, kami semua bersamamu dan kau tak sendirian menghadapi ini semua. Aku yakin kau adalah orang yang kuat, Mas ," ucap Farah turut andil membujuk Bagas meski sebelumnya ia mendapat bentakan tegas dari Bagas.


"Bagaimana keadaanya?" tanya Rama setelah ia tiba di dalam ruangan.


"Keadaan ny. Rianti mulai membaik, tanda-tanda vital sudah hampir mendekati normal, pasien mulai merespon dengan baik, hanya saja pasien belum sadarkan diri sepenuhnya," jawab salah satu dokter yang masih stay memantau keadaan pasien tiap saat.


Sementara diruangan persalinan, Anjeli mulai sadarkan diri, ia tampak bingung dengan situasi disekelilingnya, "Mas, aku dimana?"


"Kau sedang dirawat diruang persalinan, kau mengalami perdarahan dan_ " Bagas terhenti dengan penjelasannya jujur ia tak sanggup melanjutkan lagi, berat rasanya menyampaikan kata kehilangan pada istrinya.


"Farah" panggil Anjeli meminta Farah melanjutkan penjelasan suaminya yang terpotong.


"Kau sedang hamil sayang," jawab Farah dengan singkat.


"Lalu kenapa aku transfusi sekarang, tolong berikan jawaban yang jelas dan jangan nanggung seperti ini...!" pinta Anjeli kurang paham dengan penjelasan mereka.


Bagas akhirnya terbuka dan menjelaskan semuanya, termasuk niatnya dengan tindakan terminasi kehamilan dirinya.


Anjeli diam membisu, air mata mulai mengalir , wajah sedihnya ia palingkan kearah berlawanan dari suaminya, jujur tersirat rasa kecewa dengan keputusan Bagas, namunia paham betul dengan perasaan suaminya. "Mas, apapun yang terjadi jangan melampaui batasan kamu, kita ini hanyalah makhluk ciptaan dan tak berarti apapun, ingat kuodrat kita mas, jangan angkuh dengan takdir, tuhan maha tahu segala yang terbaik untuk kita semua.


"Jangan ucapkan kata mengakhiri kehamilan aku lagi, itu sama dengan membunuh darah daging kamu sendiri, kamu masih tega karena dia masih berbentuk segumpal daging, tapi caba mas bayangkan sedang mencekik Amar dan Siera sekarang, apa mas tega, dia juga akan tumbuh seperti mereka, ucapan mas ini akan berakibat buruk dimasa depan, kita kufur akan nikmat tuhan, aku bahkan tak akan memaafkan dirimu jika kelak nanti Tuhan mengabulkan semuanya disaat dia sudah lahir bahkan tumbuh besar seperti anak kita yang lain, setiap ucapan itu adalah do'a, Mas....tolong bertobatlah dengan niat mu barusan," ucap Anjeli membuat Bagas semakin tersudut dengan niatnya yang menggebu sebelumnya.


"Maaf," ucap Bagas lirih dan memeluk tubuh lemah istrinya.


Setelah memberi nasehat pada Bagas Anjeli langsung tak sadarkan diri kembali, membuat Bagas dan dokter yang bertugas kembali panik dengan keadaan Anjeli.