
"Ya, kami berteman akrab saat sama-sama mengenyam bangku kuliah dulu, hingga sekarang kami masih akrab."
"Apa ia juga mengenal Anjeli?," lanjut Bagas.
"Ya, tentu saja ia mengenal Anjeli, aku hanya punya satu adik sepupu dan tak punya saudara lain, pastilah aku hanya bercerita tentang Anjeli jika ia menanyakan keluarga pada ku."
"Lalu apa niatnya mendekati istri ku?" tanya Bagas semakin menginterogasi Diman.
Diman menjadi tak senang dengan pertanyaan Bagas yang bertubi-tubi padanya.
"Makanya cepat bawa pulang istri mu ke indo..!, aku tak bertanggung jawab jika ia mengincar istri mu di sini."
"Apa di dunia ini sudah tak ada perempuan lain sampai harus menjadi pebinor segala, aku harap aku tak punya ipar seperti itu," ujar Bagas semakin memperlihatkan sikap emosinya pada Diman tentang teman karibnya.
"Jika Sean tak bertanggung jawab dengan baik pada Alma aku pastikan akan menjadi pebinor untuknya, lalu dengan mu juga jika kau tak memperlakukan adik ku dengan baik aku juga pastikan akan merestui Anjeli bersama dengan teman karib ku, gimana?" jelas Diman pada Bagas dengan balasan kalimat seakan membuat emosi iparnya menjadi membludak di hadapannya.
"Redam sedikit amarah mu itu, aku tak suka jika kau sering menunjukkan wajah poker mu pada adikku."
"Sialan kau Diman," amuk Bagas dengan mengepal tangannya dan menatap Dimas yang masih santai dengan ucapannya barusan.
"Bagas..!, kau ini terlalu emosian wajar Anjeli sedikit menghindari mu."
"Ckk...kau yang memancing emosi ku!," tukas Bagas sambil melipat tangan di dada bidangnya, memperlihatkan sikap arogannya pada Diman.
"Huft....sampai kapan mau berperan menjadi bos arogan?" tanya Diman dengan sinis pada Bagas yang masih melipat tangan di dada.
"Makanya jadi bos...!" balas Bagas tak kalah sengit.
Mengingat sikap iparnya yang berubah 180 derajat di depan Anjeli membuat Diman menyungging senyum sambil melirik Baga yang di kursi samping pengemudi. Rasanya begitu tak percaya jika seorang Bagas Wirawan yang terkenal dengan sikap dinginnya lebih kekanakan dan tunduk pada seorang wanita yang tak lain adalah adik kecilnya.
"Hmmm....aku yakin ada yang tidak beres dengan isi otak mu sekarang ?" pertanyaan Bagas langsung membuat Diman tertawa geli melihat Bagas dan membayangkan dirinya dihadapan Anjeli bak kucing jantan basah kuyup.
"Dasar gila," cetus Bagas tak peduli lagi dengan sikap Diman yang sedikit tak waras menurutnya.
Tiba di parkiran apartemen, Diman memarkirkan mobil kesayangannya dengan sangat hati- hati, sedangkan Bagas memilih turun duluan dari mobil dan melangkah meninggalkan Diman, " dasar pria arogan, main tinggal begitu aja," cetusnya dan kembali menyusul Bagas yang sementara menunggu di depan lift.
Diman berhenti tepat dibelakang Bagas dan mereka sama sekali tak membuka suara satu sama lain, seakan tak kenal sama sekali jika terlihat dari sudut pandang orang lain.
Lift membuka Bagas dengan cepat masuk ke lift dan hendak menutupnya, untungnya Diman dengan gerakan cepat menahan pintu lift tersebut dengan kaki kanannya, " Kau ini...!" cetus Diman memicingkan mata pada Bagas yang tersenyum miring padanya, sikap mereka benar-benar kekanakan, tak memperlihat kedewasaan sama sekali.
setibanya di lantai yang menjadi tujuan mereka pintu lift terbuka kembali, Bagas dan Diman sontak di kejutkan dengan keberadaan tuan Randi sedang asyik mengobrol di depan apartemen, Bagas dengan cekatan langsung mengambil langkah seribu berdiri diantara kedua insan yang sedang asyik dengan obrolan mereka.
"Mas, gak sopan...!, lagian aku juga ngobrolnya hanya di depan."
Randi tersenyum puas dengan tingkah cemburu Bagas dan langsung mendapat protes dari Anjeli.
Diman yang sudah khatam dengan karakter Randi tanpa aba-aba langsung menarik tangannya dan mengajaknya ke apartemen miliknya, "Apa kau sekarang berubah profesi menjadi pebinor?" ucap Diman ketika memasuki apartemen.
"Hey....cinta itu butuh perjuangan, jodoh juga harus dikejar bukan menunggu seperti mu."
"Hey kolot....itu jodoh orang, berhenti bermimpi....!, jika kau bermimpi setidaknya yang masuk akal, jangan mengada-mengada," tegas Diman memperlihatkan sikap tak setuju sama sekali dengan apa yang dilakukan Randi.
"Hanya jodoh sementara, liat aja nanti akulah jodohnya yang sebenarnya."
"Aduh....sakit tau...!" bentak Randi.
Diman tersenyum sinis padanya lalu berucap, " pulanglah dan berhenti bermimpi dengan jodoh orang, bangun mimpi anda sendiri."
"Kau mengusir ku?" bentaknya kembali pada Diman.
"Apa aku perlu memanggil guru privat dan mengajarkan mu bahasa indo agar kau cepat paham, hah?" balas Diman dengan penuh penekanan pada teman, tapi sekarang serasa menjadi musuh baginya.
"Dia pasti bukan sepupumu?, dia sangat lembut dan kau jauh berbeda bagaikan langit dan bumi," tutur Randi dan meninggalkan kediaman milik Diman.
Begitu membuka pintu dan hendak melangkah keluar Randi dihadapkan kembali dengan sosok Bagas yang sudah menunggu dirinya di depan pintu, tanpa basa basi kepalan tinju Bagas langsung melayang begitu saja tepat di wajah Randi, "Masuk kembali...!" bentak Bagas.
"Apa kalian keluarga gila?, yang di dalam barusan mengusirku dan kau tiba-tiba muncul dan memukul ku sekarang, kau juga memaksaku masuk, yang benar aja?" ucap Randi sambil mengelus bekas hantaman Bagas di pipi kanannya.
Bagas yang pada dasarnya sulit mengontrol emosi langsung menarik tubuh Randi dan melemparkannya begitu saja, untung sofa yang menjadi tumpuan badan Randi saat tersungkur cukup lembut, namun tetap saja perlakuan Bagas padanya membuat Randi semakin emosi, belum selesai dirinya berhadapan dengan Diman, kini ia malah berurusan dengan manusia dingin seperti Bagas.
"Diman, ambilkan berkas kerja sama kami..!" perintah Bagas dengan tegas.
"Mulai lagi, apa ia sangat senang dengan peran bos arogan," guman Diman namun tetap menuruti Bagas.
Diman mengambil berkas itu dan membanting berkas tersebut diatas meja. Bagas langsung mengambil berkas tersebut dengan memicingkan mata ke arah Diman.
"Tak sopan...!" ucap Bagas.
Bagas terlihat langsung menanda tangani selembar berkas dan melemparkan ke arah Randi " bubuhkan tanda tangan mu...!" perintah Bagas.
" Hey....bung, kau tak bisa lakukan ini, kita sudah sepakat."
"Kau menolak tanda tangani sekarang, maka jangan harap kau bisa keluar dengan utuh dari ruangan ini, paham...!"
"Kalian memang benar keluarga gila..!" ucap Randi sedikit bergetar melihat amarah Bagas padanya.
"Sudah tau dengan siapa kau berurusan sekar ang?, aku harap kau juga tau arah jalan keluar dari ruangan ini," tutur Bagas dengan nada penuh penekanan pada Randi dan membuat Randi semakin gemetar dengan sikap tegas Bagas terhadap dirinya.
"Dan kau Diman, sekali lagi aku melihat mu dekat dengannya aku pastikan akan mematahkan kaki mu," bentak Bagas memperingatkan Diman.
"Apa kau juga cemburu pada ku?, aku sebaiknya jaga jarak dari mu, aku ini masih normal."
"Diman kau_...!" bentak Bagas dan langsung terhenti mendengar pintu apartemen terbuka.
...----------------...
Bonus malming....
Author ucapkan terimakasih buat pembaca yang masih setia hingga sampai pada bab ini.
tetap berikan dukungannya sebagai 💪💪💪
❣️❣️❣️ untuk semua.