SIERA

SIERA
10.



Rama tak kuasa menahan emosi, meninggalkan Anjeli dan kembali ke ruangannya.


"Mas Rama maaf, tapi dia memang sangat mencintai ku, dan itu yang membuat aku bertahan disisinya sapi sekarang, sepertinya ini bukan tempat yang cocok untuk ku,"


guman Anjeli setelah Rama pergi meninggalkannya.


Rama kembali ke ruangannya dan berusaha menenangkan diri.


Bertahun-tahun berusaha melupakan mu, kenapa harus bertemu kembali, dan aku bertemu dengan mu dalam keadaan tersakiti olehnya, aku pikir kamu akan bahagia dengan pilihanmu dulu,"


gumannya sambil melihat wajah manis Anjeli yang terlihat ceria ketika masih menjadi Asistennya dulu.


"Apa yang Bagas akan lakukan jika aku mengambil paksa miliknya, andai saja aku punya kekuatan setara dengannya, detik ini juga Anjeli sudah berada di pelukanku."


Rasa khawatir muncul, ketika ia mengingat Bagas hampir membunuhnya dulu, pada saat Rama kedapatan mencumbu Anjeli ketika Anjeli sedang mabuk karena perbuatan Rama yang ingin memaksakan kehendaknya untuk menikahi Anjeli, namun Anjeli menolak karena restu ibunya yang tak kunjung Bagas dapatkan. Bagas dengan liciknya membuat Anjeli mabuk untuk menidurinya, dan Rama menyelamatkan Anjeli, namun tak tahan melihat Anjeli yang mabuk dan terus membangkitkan nafsu Rama, akhirnya ia tak kuasa menahannya gejolak dalam dirinya dan mencumbui Anjeli yang sedang mabuk dan terus bermanja pada dirinya.


"Andai Bagas tak datang malam itu, aku pasti sudah mendapatkan mu meski dengan cara itu, tapi setidaknya kamu tak akan tersakiti seperti ini Anjeli." Rama sangat menyesal karena dulu tidak berusaha menjadi laki-laki sejati untuk mendapatkan Anjeli, Rama lebih memilih mengalah pada Bagas meski ia tau Anjeli sebenarnya menaruh perasaan dengannya meski tak sebesar cintanya untuk Bagas.


Karena resah Rama memutuskan keluar kantor untuk menemui Bagas.


Sampai di kantor san rival, Rama langsung masuk dan menuju ruangan Bagas Wirawan.


Tok....Tok....Tok


"Masuk." Terdengar Sahutan dari dalam ruangan, yang tak lain adalah suara dari sang rival yakni Bagas Wirawan.


"Panjang umur, kamu. Aku baru saja mempelajari berkas kerja sama kita, dan membuat strategi baru, agar kali ini aku bisa meraup banyak untung dari mu, dan tentunya keuntungan itu aku ingin persembahkan untuk seorang wanita yang akan menemani tidur ku dalam semalam, setelah itu aku bisa melelangnya kembali."


"Terima Kasih atas pernyataan mu, tanpa perlu aku pancing ternyata sudah kamu katakan dengan sendirinya, kayaknya rekaman ini akan menghancurkan hubungan mu dengan Anjeli untuk selamanya." Rama yang semakin lihai ternyata sudah mempersiapkan jebakan untuk Bagas.


"Sepatah kata saja yang Anjeli dengar dari rekaman itu, maka akan aku patahkan tangan mu dan aku jamin senjata pusaka yang kamu miliki tak akan pernah dapat kau gunakan untuk selamanya."


Ancam Bagas pada Rama.


Ancaman yang baru saja Bagas katakan tak membuat ciut nyali Rama, ia semakin tertantang melihat sikap ketakutan yang Bagas tunjukkan dihadapannya.


"Tampaknya kita sama-sama mempunyai sisi kelemahan, tapi sayangnya Anjeli sendiri yang datang ke pelukanku, setelah ia meninggalkan mu, meski ia adalah bekas dari mu, tapi nikmat tubuhnya membuatku candu."


"Rama Putra Hardian, aku peringatkan kau untuk terakhir kalinya, jangan berani menyentuh Anjeli." Bagas tersulut api amarah mendengar ucapan Rama tentang Anjeli.


"Hahaha ... sudah terlanjur, tapi aku ikhlas kita menikmatinya bersama, tapi hanya satu malam, dan setelah itu, malam-malam berikutnya akan menjadi malam terindah untuk kami, orang ketiga seperti mu harap menyingkir jauh dari hidup kami."


Tak tanggung lagi, Bagas memberikan peringatan Bogeman mentah untuk Rama atas perkataannya lancangnya barusan.


"Pukul....ayo', pukul lagi, sikap tempramen kamu dan ibumu telah membuat Anjeli menderita dan sekarang kamu ingin menghina dia dengan menjadikannya wanita penghibur untuk mu."


"Jadi ini yang membuat mu datang menemui ku."


"Ya, jika kamu mau silahkan nikmati tubuhnya untuk semalam, dan jual dia padaku, aku akan memberikan seluruh perusahaan travel milik ku padamu, tapi ingat satu hal jika sampai kau muncul dan menyakitinya lagi, maka kau akan melihat Rama yang diam selama ini, menghancurkan hidup mu dalam sekejap."


"Sayang sekali, Bagas Wirawan istrimu sekarang ada kediaman ku.


Tenangkan dirimu sekarang, tiga tahun sudah cukup untuk ku menahan hawa nafsu ku pada Anjeli, ingatlah waktu Anjeli mabuk, jika saja kau terlambat sedikit bukan kah dia milik ku sekarang, jangan sampai hal itu terjadi lagi."


Setelah ucapan terakhirnya, Rama langsung meninggalkan Bagas dengan emosi yang masih membara untuknya.


"Rama.......aku akan buat perhitungan padamu, jika kau berani menyentuh Anjeli," ucap Bagas dengan kepalan tinju menghantam tembok di hadapannya sebagai pelampiasan emosi yang berapi-api karena kelakuan Rama yang semakin berani menentangnya.


Setelah pulang dari kantor Bagas, Rama bergegas masuk kedalam kantor miliknya dan langsung menuju ruang kerja Anjeli yang


Tampak sedang sibuk didalam ruang kerjanya, dan tanpa sepatah kata Rama langsung menarik tangan Anjeli dan membawanya ke suatu tempat dimana Bagas tak dapat menemukan keberadaan Anjeli.


Anjeli yang tak paham sama sekali sepanjang jalan terus menanyakan pada Rama tentang apa yang sebenarnya terjadi, dan kenapa ia membawanya keluar sedang Anjeli masih bekerja dan belum saatnya untuk pulang. Rama hanya menyetir dengan kecepatan maksimal, tanpa memperdulikan Anjeli.


Anjeli yang tak pernah melihat Rama emosi seperti itu, sekarang tak banyak tanya lagi, ia hanya terdiam dan sesekali menatap Rama yang terlihat sedang emosi.


"Pelan-pelan aku masih mau hidup," ucap Anjeli dengan hati-hati takut membuatnya semakin emosi.


Rama membawa Anjeli kesebuah vila yang tak banyak orang tua jika Vila tersebut telah berpindah tangan menjadi milik Rama, yang sebelumnya pemilik vila itu adalah seorang pengusaha di bidang perhotelan seperti Bagas, namun pemiliknya tak sanggup mempertahankan perusahaan hingga gulung tikar.


"Masuklah ini adalah rumah kita sekarang, dan kamu tak perlu bekerja lagi."


"Tidak Rama. Kamu salah paham aku hanya butuh bantuan pekerjaan untuk nafkah sehari-hari."


Rama yang tak tahan dengan ocehan Anjeli langsung menggendong Anjeli masuk ke dalam vila dan langsung menuju kamar milik pribadinya, dan membaringkan Anjeli diatas kasur empuk miliknya.


"Rama....apa maksud kamu?."


"Diam lah...!,"


ucap Rama dengan nada penuh penekanan pada Anjeli.


Rama membuka pakaian atasannya dan menindih Anjeli, dengan tak sabar ia membuka paksa pakaian atas Anjeli, dan mulai mencumbuinya dengan nafsu menggebu-gebu.


Anjeli yang tak bersedia tubuhnya disentuh oleh pria lain, berusaha memberontak dan melawan sekuat tenaga, tapi sayangnya ia tak punya cukup tenaga untuk melawan nafsu Rama yang sudah semakin menjadi-jadi dan terus mencumbuinya.


Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Anjeli berusaha melepaskan ciuman paksa dari Rama.


"Tolong jangan lakukan itu, aku sangat mencintai Bagas. Membuatku mengkhianatinya sama saja dengan mengakhiri hidup ku.


Tangis Anjeli pun pecah di pelukan Rama.


"Anjeli, kau memohon pada ku untuk laki-laki brengsek itu, ambil rekaman ini dan pasang telingamu dengan baik, dengarkan perkataan orang yang sangat kamu cintai untukmu, dan semoga itu akan membuatmu sadar untuk tidak dibutakan oleh cinta."


Rama memberikan rekaman itu pada Anjeli dengan emosi yang hampir tak sanggup ia tahan untuk Anjeli.


Rama yang masih kecewa dan marah pada Anjeli, meninggalkan Anjeli seorang diri di dalam kamarnya.