SIERA

SIERA
31



Mendengar bunyi klakson mobil, Anjeli langsung menuju keluar dan membuka pintu pagar lebar-lebar. Ada rasa tegang pada dirinya karena baru pertama kali bertemu dengan mertua untuk waktu yang lama, tanpa ia sadari kabar tentang Alma dan putrinya lebih menegangkan ketika ia mengetahuinya.


"Lho, Alma dan Siera mana mas?"


Bagas terdiam sesaat, otaknya sekarang sedang ia paksa untuk berpikir keras menemukan jawaban yang tidak akan membuat khawatir sang istri, hingga terpikir olehnya, jika Alma dan Siera sedang bersama Sean. Mereka bertemu Sean di bandara dan Sean mengajak mereka untuk jalan-jalan sebentar.


"Sean?" Anjeli mengerutkan kan kening dan menatap suaminya, dengan penuh pertanyaan.


"Kamu gak tau jika, mereka sedang menjalin hubungan?" tanya Bagas kembali.


"Maksudnya?", Anjeli semakin tak paham.


"Ah...sudahlah nanti kamu tanyakan sendiri padanya?" Bagas tak mau menjelaskan lagi, karena sebenarnya ia sedang mengarang alasan untuk membuat anjeli tenang.


"Tapi kan gak harus ajak Siera juga, takutnya ia akan mengganggu mereka," ucap Anjeli kembali, ia mulai connect dengan apa yang suaminya maksud, akan tetapi ia belum mengetahui jika hubungan kedua orang terdekatnya itu sudah jauh mendalam terjalin dibelakangnya.


"Aku pamit keluar, ada urusan sebentar."


"Ibu tolong rahasiakan dulu, aku akan mengabari ibu jika ada informasi dari mereka," bisik Bagas dan pergi meninggalkan mereka.


Miranti bukanlah seorang aktris berbakat, meski ia ingin menyembunyikan hal itu pada menantunya, namun mimik wajahnya tak mampu menutupi kekhawatirannya, hingga membuat Anjeli curiga padanya.


"Ibu, katakan yang sebenarnya apa yang sedang terjadi?, aku bukan Siera yang dengan mudahnya kalian bohongi, bahkan Siera pun mampu membedakan mana raut muka bahagia, sedih, dan khawatir."


Miranti mulai meneteskan bulir air mata, membasahi kedua pipinya, ia tak sanggup lagi menyembunyikannya, hingga ia pun menceritakan kejadian yang mereka alami ketika mereka mendarat di bandara malaysia sejam yang lalu.


Benar yang Bagas khawatirkan Anjeli mulai panik, ia sama sekali tak menyangka jika Mira sudah semakin jauh melewati batas, gadis itu memang sangat terobsesi dengan mas Bagas dan sangat membenci dirinya, karena telah mengacaukan segala rencananya.


Setelah mengetahui segalanya Anjeli mengambil benda pipih miliknya, yang ia letakkan diatas meja dekat televisi, Ia mulai mencari kontak suaminya dan memencet tombol panggilan, sekitar tiga kali panggilan yang ia lakukan namun tak ada jawaban dari sang suami, Anjeli pun beralih, mengacak nomor kontak di handphone miliknya, hingga ia menemukan nama Sean, dan melakukan panggilan yang sama pada nomor suaminya sebelumnya, namun tak ada jawaban juga.


Semakin panik, anjeli tak tau apa yang harus ia perbuat, meninggalkan Ibu mertua seorang diri dan menjaga sang buah hati tampaknya tak mungkin ia lakukan. Ia duduk di sofa yang terletak di depan televisi tempat mereka biasa nongkrong sambil menonton acara televisi nasional. menata sejenak hati dan pikiran yang kacau.


Ditengah suasana yang menegangkan, terdengar suara tangisan Amar dari dalam kamar, sebuah nama yang sempat bagas berikan, sampai sekarang Anjeli belum tau mengapa Bagas memberi nama Amar pada putranya itu, anak itu seakan ada kontak batin dengan sang kakak yang tidak tau keberadaannya sekarang, dan apa gerangan yang sedang terjadi padanya dan Aunty Alma. Anjeli pun bergegas masuk dan melihat putranya dan diikuti oleh Miranti dari belakang.


"Baru beberapa menit yang lalu aku susui tapi dia mulai rewel lagi," ucapnya sambil menggendong sang buah hati.


Anjeli memeriksa popok Amar, tampak tak ada yang salah dengannya, Anjeli mulai memeriksa seluruh badan Amar ia juga tak demam, dan sepertinya perutnya juga baik-baik saja. Anjeli mulai terpikir pada Siera dan Alma jangan sampai mereka sedang mengalami masalah yang berat, atau Mira semakin khilaf dan menyiksa mereka.


"Bu, bagaimana ini, apa mungkin mereka sedang dalam bahaya sekarang?"


"Sudah kamu tenang dulu, sini biar Ibu yang menenangkan cucu Ibu, dan kamu bisa tenangkan pikiran kamu dulu."


***


Bagas dan Sean terus mencari keberadaan Alma dan Siera, pihak keamanan juga turut membantu dan mereka mulai melakukan pengecekkan di ruang kontrol sisi TV. Mengecek setiap sudut lokasi, namun mereka sama sekali tak menemukan kecurigaan apapun dalam ruang tunggu bandara.


Sepertinya mereka belum sempat masuk ke dalam bandara dan penculikan itu terjadi.


Pihak keamanan mulai mengecek sisi TV yang mereka letakkan secara tersembunyi di parkiran, dan benar saja, terlihat ada sebuah mobil yang dihadang di sebuah parkiran, mereka memutar rekaman itu lebih lanjut dan memperlihatkan seorang gadis dan anak kecil dari arah belakang sedang di bekap mulutnya, sementara sang gadis karena ia meronta dan terus berusaha lolos, tampak dihantam tepat pada bagian belakang hingga ia tak sadarkan diri.


Ketika salah satu dari mereka akan memarkirkan mobil milik gadis itu, barulah terlihat nomor plat mobil milik Alma.


Setelah mendapatkan bukti pihak keamanan bandara langsung menghubungi pihak kepolisian dan melaporkan kejadian tersebut, dengan pergerakan yang cepat pihak kepolisian langsung turun tangan menangani kasus penculikan yang terjadi pada Alma dan Siera.


Ditempat lain, di sebuah rumah kosong dan gelap, Siera dan Alma di sekap, Siera terus berusaha membangunkan Aunty Alma, meski tangan dan kakinya terikat serta mulutnya disumpal dengan kain.


Usaha Siera tampaknya belum berhasil membangunkan Aunty Alma. Namun, sekarang Siera harus di hadapkan lagi dengan kemunculan Mak Lampir licik yang tiba-tiba membuka pintu secara paksa dan menyiramkan segelas air di wajah Alma dan membuat Alma tersadar.


"Oh...jadi ini semua rencana Mak Lampir itu," guman Siera.


Siera yang cerdas tampak sedang berpikir untuk mengelabuinya seperti yang sering ia lakukan padanya dulu. Siera yang cerdas sudah tau kelemahan dari sang mak lampir yang terus meneror hidupnya, dan memaksakan diri menjadi ibu tiri yang baik hati, jika saja Ayahnya mudah tertipu maka tentu sekarang pemain licik dihadapannya itu sudah menjadi Ibu tirinya.


Siera menunggu celah agar bisa mendapatkan sesuatu yang bisa ia gunakan untuk membuka tali ikatan pada dirinya dan aunty Alma. Melihat sebuah pisau kecil yang tergantung di pinggang aunty Mira, Siera terus memperhatikan dan mencari cara agar dapat mengambilnya, namun sangat disayang kan hal itu diketahui oleh Mira.


Mira mendekati Siera dan dengan mengarahkan pisau kecil miliknya tepat di leher Siera dan meminta seseorang untuk merekam apa yang sedang ia lakukan pada anak itu. Tampaknya ada rencana yang tengah ia persiapkan untuk menjebak Bagas.


"Otak mu itu, masih kalah jauh dari saya anak brengsek, jangan pernah sekali lagi kau mencoba meloloskan diri dengan trik kecil mu itu. Nikmati saja detik-detik terakhir mu, jika Ayah bodoh mu itu tetap mau bersama Ibu mur*han mu itu, maka nyawamu lah yang akan menjadi taruhannya."


Ancaman itu seketika membuat ciut nyali Siera meski ia cerdas, namun sudah tentu Aunty Mira bukan tandingannya, terlebih lagi ia memiliki banyak bodyguard yang sering bersamanya, rasanya tak mungkin untuk melawannya.