SIERA

SIERA
33.



Mira mengakui jika dirinya telah dikalahkan dengan permainan licik Bagas. Posisinya kali ini bak senjata makan tuan.


Mira akhirnya terpaksa melepaskan Siera dan Alma, dan rencana yang sudah di susun dengan sempurna harus berakhir gagal dengan rencana licik balasan dari Bagas.


Bagas meninggalkan kamar hotel tersebut dan pergi menjemput ke putri dan sahabat istrinya.


"Ayah.....akhirnya Ayah datang, kaki ama tangan Siera sudah pegal, gara-gara di ikat sama Mak Lampir itu."


"Maaf, Ayah agak lama, Nak. Ayah harus bermain kucing-kucingan dulu dengan Mak Lampir."


"Hahaha ... terus tikusnya pasti lari terbirit-birit, kan Ayah?"


"Iya, dia takut dengan taring Ayah mu."


Alma yang jengkel mendengar mereka dengan santai mengobrol, langsung berteriak ke arah Bagas.


"Maaf...aku masih terikat, malah asik mengobrol."


"Ayah, kucing aslinya marah" ucap Siera menyindir Aunty Alma.


Sean yang sudah ada sejak tadi hanya menonton suguhan drama kecil dihadapannya. Alma yang kesal mengambil sendal miliknya dan melemparkan kearah Sean yang sudah setengah mati menahan tawa melihat dirinya di cuekin oleh sepasang anak dan Ayah di sampingnya.


Dengan cekatan Sean menangkap sendal milik Alma. "Akhirnya aku dapat sendal." ucapnya lantang ke arah mereka.


"Hahaha....aku pikir kalian pasangan romantis, tapi malah seperti tom and Jerry.


"Nah, Siera kamu tak perlu lagi buang waktu, setel siaran tv hanya untuk lihat adegan Tom and Jerry."


"Yah, Ayah. Sudah ada versi kisah nyata di depan mata"


"Paman Sean jadi tom, dan Aunty Alma jadi Jerry."


"Sungguh pasangan Romantis"


"Hahaha..."


Alma yang kesal dengan mereka semua berdiri dan hendak meninggalkan mereka, tapi apalah dayanya sekarang ketika ia hendak berdiri ia langsung jatuh, untung Sean sigap menahan tubuhnya.


"Dasar Mak Lampir sialan, beraninya melukai Alma. Awas aja kau...!"


ucap Sean dengan nada kesal.


Alma langsung di bopong oleh Sean dan membawanya menuju mobil miliknya, Bagas yang sudah standby di depan setir langsung melajukan mobil milik Sean, "Kita singgah di bandara terlebih dahulu atau membawa mu ke rumah sakit?"


"Pulang aja, aku istirahat di rumah, kamu kan dokter kenapa harus cari dokter lagi, kau ini gimana, tak becus, bagaimana nanti nasibku ketika menjadi istrimu."


"Jangan merembet kemana-mana, ini tak ada hubungannya dengan suami istri."


"Siera nanti kita pindah di mobil aunty Alma"


"Ya, Ayah...!"


"Bagas, malam ini aku tak pulang membawa Alma kerumah, aku akan membawa dia dan merawatnya di apartemen milik ku."


"Eh....kita belum sah...jangan main bawa pulang anak orang sembarangan, enak aja" cetus Alma padanya.


"Bagas sepertinya ada yang panik...?, Tenang aja, aku juga tak nafsu dengan gadis lemah sepertimu sekarang."


"Tak nafsu katamu, siapa yang percaya pada buaya?" cetus Bagas.


"Ya, betul mas, jika buaya sungai masih mending, tapi ini buaya lautan."


"Paman Sean, melihara buaya dirumah?, boleh donk kapan-kapan ajak Siera tengok..!"


"Tengok pala mu, buaya yang meraka maksud itu aku" ucapnya lirih. Dan langsung mendapatkan hadiah sentilan di jidat dari Alma.


"Ngomong sama anak itu di filter, bukan asal ceplos."


"Bagas turunlah, dan bawa Bebek Donal mu itu," cetusnya pada Bagas yang tak berpihak padanya.


"Kalau Siera kamu juluki bebek donal itu masih jauh lebih mending, dasar buaya lautan." balas Bagas dan meninggalkan mereka berdua.


"Ayah...Paman Sean kenapa membawa Aunty Alma."


"Tak apa. Nak, nanti paman Sean dan aunty Alma, akan sama kayak Ayah dan Ibu."


"Oh...jadi mereka akan jadi suami istri yah?"


"Anak ini aku sudah ngomong diperhalus, dia malah membuat penyataan lebih jelas lagi."


Tiba di rumah, Siera langsung turun dan membuka pagar, namun pagar itu terlihat berat dan tak mampu Siera buka, Bagas turun memperlihatkan senyum manis melihat tingkah lucu Siera dengan kekuatan penuh mendorong pagar tersebut.


"Bisa...?"


"Gak bisa Ayah!"


"Nanti makan yang banyak supaya kuat, kayak Ayah."


Ucapnya sambil mendorong pagar besi tersebut.


"Hehehe .. udah makan banyak Ayah, tapi bukan tambah kuat, melainkan tambah gendut."


"hahaha ..." mendengar celoteh putrinya Bagas tertawa lepas padanya.


Mendengar kehebohan mereka di luar Anjeli dan Miranti langsung keluar menemui mereka, "ini ada apa, kok rame sekali ibu dengar?" tanya Anjeli pada putrinya.


"Rahasia Bu," ucap Siera dengan terkekeh pelan.


"Mas, mana Alma?" tanya Anjeli yang terlihat bingung karena mereka hanya pulang berdua.


"Masuklah dulu biar aku ceritakan semuanya."


Mereka masuk dalam rumah dan Bagas mulai menceritakan semua perjalanan penyelamatan Siera dan Alma. Termasuk Alma yang dibawa oleh Sean ke apartemen miliknya untuk merawat calon istrinya itu.


Mendengar kata calon istri Sean, Anjeli tampak geram pada Alma rencana besar seperti itu ia malah tak cerita padanya, dan terlihat seperti sedang merahasiakan semuanya.


"Aku pikir kau sudah tau tentang kisah dua sejoli itu, yang masih seperti dulu bagaikan tom and Jerry," ucap karena tak menyangka jika Anjeli memang belum mengetahui hubungan Sean dan Alma.


"Ya, mungkin Alma merahasiakannya padaku karena takut aku memarahinya, karena dulu Sean sempat mengkhianati Alma."


"Anjeli, kapan kita akan kembali ke rumah?, Perusahaan sedikit terabaikan akhir-akhir ini, aku tak bisa fokus dengan perusahaan dengan keadaan keluarga kita yang terpisah."


"Mas, aku hubungi Alma dulu, dan menanyakan rencana pernikahan mereka, dan memang ada gaun pengantin yang masih harus kami selesaikan dan sampai sekarang aku belum tau siapa pemesan gaun tersebut, Alma hanya memberitahukan jika gaun itu akan segera diambil oleh pemesannya dalam waktu dekat." Jelas Anjeli pada Bagas.


"Mungkin gaun itu ada hubungannya dengan pernikahan mereka?" tebak Bagas.


"HM....bisa jadi mas...!"


"Ayah....Ibu...Adek nangis, minta neneng....!"


Amar yang sudah bangun, memecah suara keheningan di rumah tersebut dengan suara tangisannya yang lantang.


"Cup....cup...cup....jagoan ibu kalau nangis bikin heboh satu rumah," Anjeli menggendong Amar dan langsung menyusui jagoan kecil mereka.


Bagas mendekati putranya dan mencium keningnya meski Amar masih dalam pangkuan ibunya sedang menyusu.


"Mas, jangan ganggu dulu, nanti nangis lagi, dia beda dengan Siera, jagoan mu ini, sama dengan mu susah di bujuk."


"Iya, Ayah...adek kalau nangis susah di kasi diam, aku dan ibu, serta Aunty Alma kewalahan."


"Masa, berarti kamu harus giat belajar lagi biar rawat adek biar bisa bantu ibu."


"Masih kecil Ayah, Siera hannya bisa bantu hibur Amar saja, belum bisa gendong, Amarnya berat nanti jatuh digendong sama Siera."


"Ya, udah nanti belajarnya pelan-pelan. Kalian mandi dulu, Omah sudah siapin makanan enak."


"Baik, Bos," ucap mereka bersamaan.


"Apaan sih, Ayah dan Anak kompak sekali."