
Selamat membaca
"Kenapa mas? ada sebenarnya dengan dirimu?, entah apa yang sebenarnya terjadi, aku akui Mira juga memang cantik. Andai sifatnya tak seburuk itu mungkin akan banyak pria yang mengincarnya."
Anjeli mulai terbawa suasana meski ia sadari jika ini sebenarnya hanya permainan Mira, namun siapa yang tak cemburu melihat beberapa foto suaminya bersama dengan gadis lain.
Bagas tak berhasil mencegah Anjeli memilih mengejarnya dari belakang, sedang Rama mengurus para wartawan yang masih bergelut dengan beberapa pertanyaan, Rama sadar jika ia meninggalkan konferensi pers yang masih berlanjut maka si Mak Lampir akan semakin membuat drama dan menjadikan suasana semakin kacau.
Anjeli tiba di rumah dan langsung masuk, tak lama kemudian Bagas muncul setelah Anjeli tiba lebih dahulu. Pak satpam yang tengah bertugas terlihat keheranan melihat Tuan rumah dan nyonya pulang masing-masing. "Lho' tadi perginya bersamaan tapi kok pulangnya masing-masing, waduh....kayaknya tuan dan nyonya bertengkar.
Bagas segera menyusul Anjeli yang langsung masuk kedalam kamar setibanya di dalam rumah. Bagas membuka pintu kamar dan menjumpai sang istri, sedang memberikan asi pada Amar anak bungsu mereka. "Anjeli kita perlu membicarakan kembali tentang keputusan yang kau ucapkan tadi, aku sama sekali tak menyetujui hal itu, dan aku bersumpah atas nama kalian aku tak pernah menyentuhnya sedikit pun."
Bagas sangat cemas dengan sikap Anjeli, ia khawatir jika hal ini akan menjadi penyebab masalah baru untuk mereka.
"Mas, aku lelah. Aku ingin istirahat dan tak ada yang perlu kita bicarakan lagi, aku hanya mencoba mengikuti permainan yang Mira sedang mainkan sekarang."
"Anjeli, tolong jangan bersikap seperti ini, cukup sekali aku merasakan kehilangan dirimu, dan itu tak akan terjadi lagi, jika ada yang harus pergi untuk selamanya, biarlah itu terjadi pada ku. Jika bukan mengingat diriku sekarang memiliki kalian yang harus aku lindungi, dan andai aku masih sendiri mungkin gadis itu sudah kehilangan segalanya, namun jika ia berbuat nekat dan melampaui batasannya aku pastikan dia dan keluarganya tak akan pernah lagi menikmati indahnya dunia mereka seperti sekarang."
"Bagas, apa yang kau katakan?. Aku hanya sedikit lelah, jangan bertindak gegabah ada Siera dan Amar diantara kita, mereka adalah incaran para saingan mu, jangan biarkan kejadian ini menjebak mu untuk kesekian kali, Aku bukan Anjeli yang dulu, percaya padaku...!, untuk sekarang biar lah keadaan kita tampak seperti ini dari luar, biarkan mereka membuat opini yang baru tentang hubungan kita, berikan Mira kesempatan untuk menikah dengan mu, agar ia puas, dan mulai sekarang selidiki siapa pria di balik kehamilannya."
Bagas mengerutkan kening mendengar Anjeli. "Siapa yang mengajari bermain seperti ini, apa Rama ada dibalik semua ini?" tanya Bagas tak percaya dengan pemikiran Anjeli jika itu adalah dari pikirannya sendiri.
"Mas, aku dan Rama tak pernah ada sesuatu yang spesial, satu-satunya yang pernah terjadi pada diri ku adalah dia memang pernah mencium ku dan saat itu aku hanya terdiam, aku ingin merasakan perasaan dalam diriku tentang dirinya, namun semua itu ternyata sangat berbeda dengan apa yang telah kau berikan pada ku, maaf mas...!"
Bagas sangat emosi seketika mendengar pernyataan Anjeli. "Sudah ku duga pasti ia akan mengambil kesempatan di belakangku."
"Mas Bagas, sudahlah....! bukankah kau juga dengan Mira lebih intim jadi kita impas sekarang, jangan marah lagi."
Bagas melirik Anjeli dengan tatapan buas, karena apa yang di ucapkan Anjeli sungguh diluar dugaannya sekarang, semakin hari Anjeli semakin pandai bermain taktik "Aku rasa kamu sekarang sudah sembuh, sepertinya kamu sudah lama tak melakukan kewajibanmu sebagai seorang istri. Aku menunggunya sebentar malam dan aku akan menganggap sebagai kompensasi permintaan maaf."
"Mas, yang sembuh hanyalah luka luar, namun tidak dengan luka dalam diriku."
"Anjeli, kau....!"
Bagas tersentak mendengarkan pernyataan sang istri, Bagas tersadar jika mungkin sekarang Anjeli memang belum memaafkan sepenuhnya tentang apa yang pernah ia perbuat dulu.
***
"Ayah....Ibu....Kapan kita akan pergi jalan-jalan. Janji itu harus di tetapi lho, kalau ngak bisa jadi dosa," teriak Siera dari luar pintu kamar yang memang tak di tutup oleh Bagas.
"Hust....apa yang mas barusan katakan, jangan mengajarkan yang bukan-bukan pada Siera."
"Tapi putri Sean memang cantik, ia sangat manis, aku harap jodoh anak ku tak jauh-jauh dari lingkungan kita."
"Mas jangan berkhayal terlalu jauh, urus anak mu yang di luar juga."
"Ist....dia bukan darah daging ku, jangan menyebutnya dalam rumah ini."
"Ayah, siapa yang ayah bilang?, apa Mak Lampir itu, berbuat jahat lagi?"
"Iya, Nak, kali ini Mak Lampir itu sedang bermain dedek - dedekkan, sama Ayah mu."
"Oh...jadi dia sedang berpura-pura hamil. Wah...Ibu kita punya misi baru untuk dilaksanakan, dan aku siap menjalankan misi dengan Ibu."
"Anak ini, kenapa aku baru sadar jika Siera tampak berbeda dengan anak seusianya," guman anjeli dengan sikap Siera.
"Jangan melakukan hal-hal yang diluar kendali, kau belum mengenal Siera dengan baik, dia itu lebih cerdik dari pada si Mak Lampir."
"Hahaha....bagus donk, jadi sekarang Ibu punya partner yang bisa di diandalkan tak seperti mu yang selalu masuk dalam jebakan si Mak Lampir itu."
Bagas yang tak bisa berkutik dihadapan putri dan sang istri, melangkah keluar kamar dan meninggalkan mereka, "Aku lanjut ke kantor ada hal yang aku akan aku selesaikan bersama Alang," ucap Bagas dan menghilang dibalik pintu kamar mereka.
"Bu, apa rencana kita selanjutnya?, wah...Bu Siera tak sabar bermain taktik dengan si Mak Lampir, Ibu tau gak dulu aku sering bangat kerjain si Mak Lampir itu, sampai-sampai ia kewalahan. Jika ia menemui Ayah di kantor, maka Siera akan berpura-pura sakit perut, dan paman Alang selalu siap jadi peran pembantu, wah seru sekali Bu...Siera gak sabar lagi."
"Jadi ini sifat asli putri Ibu." Anjeli sama sekali tak menyangka jika Siera memang memiliki sisi kedewasaan dan kecerdasan seperti orang dewasa, bukan hanya itu Anjeli juga sudah mendengarkan beberapa cerita dari Alang tentang kelakukan putrinya yang sering membantu Bagas bekerja di kantor, dan mengusulkan beberapa solusi untuk sang Ayah ketika mereka sedang memiliki masalah di kantor."
"Bu, aku punya rahasia dengan Mak Lampir itu, dan aku dapat dari kamar Omah, kita bisa jadikan itu sebagai senjata ampuh melawan dia, kali ini Mak Lampir itu pasti tak berkutik lagi."
"Apa yang sedang kamu bicarakan, Nak?"
"Bu, liat Siera beraksi nanti. Pasti akan seru bermain dedek-dedekkan dengan Mak Lampir itu."
Anjeli semakin tak menyangka dengan sifat putrinya, ia sangat khawatir jika putri kecilnya suatu saat akan menjelma menjadi rubah cilik.
~Bersambung~