SIERA

SIERA
17



Ucapan Rama terus terngiang di telingan Anjeli sepanjang perjalanan menuju vila mas Rama.


"Gugurkan saja, dia juga pasti gak peduli dengannya, Siera saja yang jelas-jelas seperti itu, ia tak peduli apalagi dengan kehamilan kamu yang sekarang, pasti ia menyangka itu anak aku."


"Mas Bagas, kenapa kamu berubah seperti ini. Walaupun aku bukan istri yang baik, setidaknya kamu jangan abaikan Siera anak kita. Aku benci kamu mas, aku sangat membenci mu."


Pip...pip...pip.


Seorang pengendara motor tampak dari arah belakang terus memberi klakson pada Anjeli.


Anjeli menurunkan kaca mobil dan mengurangi kecepatan mobil yang ia sedang kemudikan.


"Mbak hati-hati bawa mobil, ini bukan jalan nenek moyang Lo'."


ngenggg.......


Oceh pengendara motor yang sebelumnya melihat Anjeli kurang fokus mengendalikan laju mobilnya.


"Galak amat,"


gumannya Anjeli yang sudah fokus kembali.


Sampai di vila Anjeli langsung memarkirkan mobilnya dan bergegas memasuki vila mas Rama untuk mengambil semua pakaian miliknya.


Anjeli tak membuang waktu berlama-lama di vila tersebut, ia langsung bergegas meninggalkan tempat itu, dan melajukan kembali mobilnya ke perumahan yang sudah ia beli.


Setelah sampai di kompleks perumahan tersebut Anjeli terlebih dahulu menemui pihak pemasaran dan mengabari jika hari ini ia ingin menempati rumah yang telah mereka sepakati sebelumnya.


Pihak properti segera mengantar Anjeli dan memberikan kunci rumah.


"Selamat ya mbak, semoga mbak senang tinggal disini."


"Ya, terimakasih atas bantuannya."


"Sama-sama."


Anjeli sangat senang, akhirnya ia memiliki sebuah hunian dan tak perlu lagi numpang tinggal di vila milik mas Rama.


Anjeli melangkahkan kaki memasuki hunian barunya, hunian yang menyuguhkan rasa nyaman dan tak akan ada lagi yang menindasnya di dalam rumahnya sendiri.


Hunian yang Anjeli beli adalah salah satu hunian terbaik di kota itu, hunian ini menawarkan harga promo dengan product perlengkapan rumah tangga yang telah terpasang dan tersedia, dari tempat tidur, kulkas, dispenser, kitchen set, televisi, lemari, dan lain sebagainya. Hal inilah yang membuat anjeli tertarik dengan hunian yang sekarang ia miliki, tinggal angkat koper dan sudah bisa menempati hunian tersebut tanpa harus memikirkan perabot ini dan itu.


"Ah....indahnya hidup, andaikan Siera bersama ku sekarang pasti lebih indah lagi" gumannya sambil menatap hiasan plafon kamar yang begitu indah.


***


Suasana dikantor Bagas Wirawan sedang rame, hari ini ia sedang melakukan sebuah ivent penting, dan mengundang para pebisnis kelas atas, kebetulan event tersebut di hadiri oleh keluarga besar Mira.


Tentu kesempatan langka seperti ini tak dilewatkan oleh ibu Miranti, ia terus mencari celah agar Bagas dan Mira bertemu langsung dengan harapan Bagas bisa membuka hati pada Mira.


sedang Siera sedang sibuk bermain bersama Beby Suster.


Dengan usaha yang tak pantang menyerah ibu Miranti akhirnya berhasil mempertemukan Bagas dan Mira dalam satu kamar yaitu di kamar Siera.


"Mira kata ibu Siera terjatuh dan luka?."


"Ya, aku juga baru tiba di kamar dan Siera memang terjatuh lukanya sudah di obati oleh baby suster dan ia sudah tenang."


Mendengar jawaban itu Bagas lekas pergi meninggalkan mereka.


"Tunggu mas, ada yang mau aku bicarakan berdua dengan mu."


"Hari ini aku tak ada waktu, lain kali saja."


"Mas hanya sebentar saja."


"Baiklah, silahkan katakan."


"Mas apa kamu tak ada rencana untuk mencarikan seorang ibu untuk Siera, sepertinya ia sangat butuh kasih sayang dari seorang ibu."


"Mas, tapi Anjeli tak perduli dengan Siera."


"Jadi apa kamu mampu menjadi seorang ibu baginya?."


"Mas, aku sangat menyayangi Anjeli, jika Mas bersedia aku akan menjadi ibu terbaik untuknya."


"Cih....ibu terbaik katamu, Anjeli saja yang susah payah melahirkan Siera pergi meninggalkannya, apa lagi kamu yang sama sekali tak punya hubungan dengan Siera."


"Mas, aku janji akan menyayanginya."


"Sudah jika itu yang mau kamu bicarakan, cukup sampai disini saja, carilah pria lain yang lebih baik dan lebih pantas menjadi pendamping mu di banding diri ku."


Bagas yang kesal karena waktunya telah terbuang oleh obrolan yang menurutnya tak penting sama sekali, berlalu dan meninggalkan Mira.


"Mau menggantikan Anjeli, apa dia pikir ia pantas untuk itu," gumannya Bagas terlihat sedang kesal.


Rama yang memperhatikan Bagas dari kejauhan, melihat raut wajahnya ia langsung mengetahui jika suasa hati Bagas sekarang sedang tak baik. Rama melangkahkan kaki mendekat kearah Bagas.


"Kawan lama ternyata masih perhatian, masih ada waktu untuk mengundang."


"Jangan GR kamu,aku mengundang kamu kesini karena kamu termasuk kolega Bisnisku. Bukan karena kita adalah kawan lama."


"Cuih....berlagak sok."


Melihat kesombongan Bagas yang tiada Tara, Rama menjadi malas berurusan dengan orang seperti Bagas.


Rama pun meninggalkan Bagas dan menemui kolega bisnis Bagas yang ia kenal.


Bagas menjadi heran melihat tingkah Rama yang biasanya tak mau kalah sekarang ia lebih memilih menghindar dan tak meladeninya.


Tak hanya kolega bisnis Bagas juga mengundang kawan lamanya termasuk dokter Sean ditemani oleh dokter Farah.


Mereka tampak asik dengan obrolan yang hanya membahas masalah medis. Sean tiba-tiba menangkap bayangan Rama dan langsung memanggilnya.


"Rama ... eits' maksud ku pria pebinor, kamu juga juga di undang oleh pria sombong itu?."


"Pri tua, sedang beralih profesi rupanya, udah bosan ngurus orang sakit?."


"Cih....dasar dari dulu tak pernah berubah, ejekan kalian makin lama makin miris terdengar,"


Ucap Bagas yang tiba-tiba muncul ditengah obrolan panas mereka.


"Pria tak bertanggung jawab dilarang berkomentar di sini!, urus sana bisnis mu dan jangan lupa urus istrimu diluar sana yang sedang hamil," ucapan Rama membuat Bagas terpancing emosi. Omongan yang barusan terucap dari mulut Rama membuat darahnya mendidih.


"Apa maksudmu?, bukannya dia tinggal dengan mu selama ini, lalu kenapa melempar aib pada ku."


Sean yang belum tahu kebenaran jika Anjeli sedang berbadan dua, tampak bodoh dan bengong sendiri.


"Apa sih yang mereka bicarakan?."


"Rupanya Rama sudah tau jika Anjeli sedang hamil dan dia sangat marah dengan Bagas karena telah menggagalkan rencananya untuk menikahi Anjeli," jelas Farah.


"persoalan rumit kalau begitu, harus di pecahkan dengan tes DNA, namun jika hal itu tejadi pintu Bagas untuk kembali ke sisi Anjeli akan tertutup rapat."


"Ya, Anjeli juga mengatakan hal yang sama jika Bagas tak akan mengakui anaknya, tapi aku yakin itu anak Bagas dan Anjeli."


"Ya, kamu benar Farah, Anjeli bukan tipe wanita yang mudah untuk di dekati."


"Lalu bagaimana dengan pria sombong itu jika ia tau kebenarannya?."


"Maka tamatlah riwayatnya, ia akan menjadi pengusaha kaya pengemis cinta."


"Hahahaha......"


"Ups' .... mereka mendengarkan kita."


"Hey...kenapa berhenti lanjutkan gosip kalian kami belum puas mendengarnya," cetus Bagas dan Rama.