
"Anjeli berhenti bersikap seperti itu....!." Diman melirik tajam Anjeli hingga membuat Anjeli memanyunkan bibir, berhasil membuat Sean tertawa terbahak melihat tingkah anak dan ibu yang tak ada bedanya.
"Aku tak pernah melihat mu berebut seperti itu pada Bagas. Sekarang kau malah terlihat lebih kekanakan dari pada Siera, dan justru Siera yang mengalah padamu," ujar Sean setelah menertawakan tingkah Anjeli.
"Kapan aku pernah nyaman bersamanya...?" cetus Anjeli dengan pertanyaan balik.
"Dah punya dua anak masih berkilah tak nyaman." Diman kembali menimpali ucapan Anjeli.
"Yang terakhir itu terpaksa demi uang satu milyar untuk operasi tumor aku," sahut Anjeli.
"Sean, kau berutang penjelasan atas ucapan adikku."
"Apa?"
"Bagas keterlaluan seperti itu dan kalian menyembunyikan hal itu pada ku, andai saja ibu Rianti tak gawat, anak itu akan aku beri pelajaran setimpal, ia ternyata seenaknya pada adikku selama ini."
"Paman jangan marah sama ayah....!, biar bagaimanapun dia tetap ayah Siera dan Amar."
"Ayah mu yang brengsek dan tau terimakasih, aku pikir menyerahkan Anjeli padanya itu kepuasan terbaik, ternyata ia berulah dibelakang ku."
"Dan wanita tua licik itu, ia pantas terbaring koma tak berdaya sekarang, itu balasan dari kebodohannya dulu," lanjut Diman semakin emosi.
"Paman, dia juga nenek Siera dan Amar. Jangan marah padanya juga....!" ucap Siera masih membela ayah dan neneknya.
"Lalu paman, marah sama siapa....?, yang salah mereka...!" ucap Diman dengan penuh penekanan.
Anjeli hanya diam tak berkutik, kesalahan tak menjaga dengan baik omongannya membuat Boomerang untuk dirinya sendiri, ia lupa jika Diman dulunya adalah ahli bela diri.
"Marah sama diri paman sendiri, paman tak menjaga kami dengan baik. Hingga ibu jadi kewalahan dengan sikap ayah. Ibu tak ada sandaran siapa pun saat itu, dan ibu sangat menderita, Siera tak punya kekuatan membela ibu, jadi Siera hanya bisa membantu dengan berada di pihak ibu," jelas Siera pada paman Diman.
"Maafkan paman, Nak...!, Paman melakukan kesalahan fatal meninggalkan kalian."
"Kakak harus pulang...Aku punya hunian pribadi yang aku beli dengan uang pribadi dan mungkin sudah selesai tahap renovasi. Aku ingin kita langsung ke tempat itu....mungkin aku lebih nyaman tinggal di sana dari pada di istana mas Bagas."
"Baik, kita akan langsung kesana dan kalian segera ke rumah sakit, biar aku yang jaga Amar dan Siera."
***
Anjeli dan Sean tiba dirumah sakit. Mereka dikagetkan dengan suasana rumah sakit milik Sean yang terlihat agak ramai dari biasanya. Setelah memasuki ruangan perawatan intensif untuk pasien gawat barulah Sean dan Anjeli menyadari jika banyak dari kalangan pebisnis yang berdatangan menjenguk ny. Rianti, mengingat sepak terjang Bagas sebagai sang putra dengan julukan si raja bisnis kini sedang berada di puncak karir.
Anjeli dan Sean disambut hangat oleh para pembesuk dari berbagai kalangan bisnis. Anjeli nampak anggun meski dengan dress sederhana yang belum sempat ia ganti sebelumnya. Semua mata tertuju pada wanita usia dua puluh delapan tahun dan berhasil mengharumkan nama negri tercinta dengan bisnis Fashion miliknya.
"Kami mengerti ny. Anjeli, semoga kalian semakin sukses di balik ujian yang sedang kalian hadapi sekarang," sahut salah satu kolega bisnis Bagas yang kebetulan mengenal baik Anjeli.
Setelah menyapa para tamu Anjeli dan Sean segera undur diri, pamit meninggalkan para tamu yang masih antusias dengan obrolan mereka.
Anjeli sedikit berlari ke arah ruang perawatan khusus sang mertua. Anjeli kembali terdiam sejenak berdiri mematung di depan pintu ruangan, wajahnya langsung berubah sedih begitu melihat ibu Rianti terbaring tak sadarkan diri lengkap dengan peralatan medis terpasang di tubuhnya.
"Anjeli jika kau tak sanggup tunggulah di luar, aku dan tim dokter yang lain akan segera melakukan pemeriksaan untuk menentukan diagnosa terbaru dan tindakan medis yang tepat," ucap Sean pada Anjeli yang masih terdiam di depan pintu ruangan.
"Tidak, izinkan aku menemuinya."
Anjeli memberanikan diri melangkah masuk hingga berdiri tepat di sebelah pasien terbaring lemah. "Ibu_ ini aku Anjeli, jika kau masih bisa mendengarkan ku, aku mohon maafkan aku, aku membuat keputusan yang keliru meninggalkan mu seorang diri dan memberi peluang si rubah betina mendekati dan meracuni diri mu. Bangunlah aku mohon...izin kan aku berbakti padamu untuk menebus penderitaan mu ini," ucap Anjeli dengan air mata tergenang di pelupuk matanya, menyiratkan penyesalan yang begitu mendalam, egonya kali ini telah mencelakakan seorang wanita yang telah melahirkan suaminya dan selalu berada dibalik sukses Bagas sekarang.
Anjeli kini duduk di samping mertuanya dan menundukkan kepala, menumpahkan air mata penyesalan dirinya, tak sanggup lagi menerima kenyataan harus kehilangan orang terdekatnya meski hubungan mereka baru memasuk awal kedekatan antara anak dan ibu.
"Anjeli," terdengar sayup ditelinga Anjeli, bibir kebiruan sang ibu mertua terlihat bergerak, kelopak mata mulai merespon dan terlihat berusaha membuka. "Sean....ibu merespon aku."
Sean dan tim dokter yang berada dibelakang Anjeli langsung melakukan pemeriksaan intens, dan Anjeli memilih meninggalkan ruangan dan menunggu mereka melakukan pemeriksaan pada ibu mertuanya.
"Anjeli, ada apa ?" ucap Bagas dan Rama yang dari tadi sudah berada di depan ruangan menunggu dokter Sean dan dokter Farah melakukan pemeriksaan bersama tim dokter emergensi lainnya.
"Ibu merespon ucapan ku barusan, tim dokter langsung melakukan pemeriksaan intens dan aku tak ingin mengganggu mereka, aku langsung keluar setelahnya," ucap Anjeli masih syok dengan keadaan sang mertua.
"Hey...kenapa kau tampak lemas seperti ini?, seharusnya kau tak datang jika kau tak enak badan.
"Tidak, aku rasa aku hanya masih kurang fit setelah melalui penerbangan," ucap Anjeli dengan mata semakin berkurang.
Bagas pun memilik duduk dikursi tunggu dan membaringkan Anjeli di kursi tersebut. Tak ada yang bisa mereka lakukan selain menunggu kabar baik dari Sean dan Farah, yang masih berada dalam ruangan dan belum menunjukkan tanda-tanda jika pemeriksaan telah berakhir.
Dalam suasana hening, Farah tiba-tiba memunculkan kepala dari balik pintu ruangan, " Anjeli," panggil Farah.
"Mas, dia kenapa?, Farah langsung keluar melihat Anjeli justru sedang terbaring lemas di kursi tunggu bersama Bagas.
"Anjeli," panggil Farah kembali, Anjeli langsung membuka mata begitu melihat Farah dan Sean dihadapannya.
"Kalian....Ibu kenapa?" ucap Anjeli yang sempat tak sadarkan diri sejenak setelah ia merasakan pusing.
Farah menatap Anjeli yang langsung memucat dan hingga akhirnya ia memperlihatkan keinginan dirinya memuntahkan isi dalam perutnya, "Mas Bagas, bantu aku ke toilet aku rasanya ingin muntah." ucap Anjeli dan langsung mendapat respon dari Bagas suaminya yang langsung membopong dirinya menuju toilet rumah disebelah ruangan ibunya di rawat.
...----------------...