
Bagas yang selalu sok kuat, tempramen penuh, ngomong gak filter, kadang dingin, bahkan tak peduli sama sekali. kini terlihat menyembunyikan kesedihannya yang mendalam, Bagas ingat sebelum ia berangkat ke Paris ibunya berpesan jika ia harus menyusul anak dan istrinya, dan membujuk Anjeli pulang serta berjanji tak akan melukai hatinya, menyayanginya sepenuh hati dan ke dua buah hatinya. Entah pesan itu akan ia dengarkan kembali atau mungkin itu menjadi satu-satunya pesan terakhir untuknya.
"Hmm....Aku lapar, kalian mau pesan apa?" tanya Bagas pada mereka, namun jujur di lubuk hatinya itu hanya kedok belaka Bagas ta kuasa menahan kesedihannya pada orang terdekatnya, ia tak ingin memperlihatkan sisi lemahnya, ia lebih memilih menenangkan diri sendiri diluar dan tak melibatkan siapapun untuk masalahnya hati terdalamnya.
"Mas, Aku ikut," ucap Anjeli menghentikan langkah suaminya.
"Anjeli, baiknya kau tetap disini Sean pasti butuh kamu..!"
"Mas....!"
"Anjeli..." ucap Sean menahan dirinya, Anjeli terlihat bingung, biasanya Bagas tak akan membiarkan pria manapun dekat dengan dirinya, namun ia mengalah dan menuruti perkataan Sean untuknya.
Anjeli menatap punggung suaminya hingga menghilang di balik pintu, dan tatapan itu putus saat terdengar suara pintu tertutup. Anjeli kembali terdiam terlihat memikirkan sesuatu, " ia bersikap seperti itu, karena tak ingin kita melihat kesedihannya. Sejujurnya suaminya sangatlah rapuh, yang kau lihat selama ini dalam dirinya hanya topeng belaka," ucap Sean pada Anjeli membuat Anjeli mengerutkan kening pernyataan dari Sean seolah mempertanyakan dirinya selama bertahun-tahun sisi rapuh dalam diri suaminya tak pernah terbayang atau pun terpikir olehnya.
Anjeli teringat saat dirinya meninggalkan Bagas dan Siera, " Apa dulu ketika aku pergi, ia juga seperti itu?"
"Kau tak tau betapa gilanya dirinya, aku bahkan hampir tak mengenalnya."
Anjeli kini tertunduk membisu, hanya genangan air mata yang mampu menjelaskan betapa bersalahnya dirinya dulu, ia sungguh salah paham pada suaminya. "Aku pikir ia telah menipu diri ku dan serakah, aku pikir dia sama seperti ibunya, kenapa aku melakukan sebuah kebodohan hingga saat ini, aku bahkan membuatnya menjadi antagonis," lirih Anjeli.
"Dia juga harus diberi pelajaran, jika tidak kita akan terus bersama dengan seorang Bagas yang arogan selamanya, apa itu yang kau mau?" ucap Sean tak menyalahkan Anjeli sama sekali.
"Kau ini, aku yakin kau pasti orang pertama sama sekali tak bersimpati padanya saat itu, dan Rama seperti itu pasti karena rencana kalian juga."
"Ckk....hubungan macam apa yang kalian jalin?, Bahkan sampai sekarang jika tak melihat kalian akur, aku bahkan lupa jika kalian adalah sahabat sejati satu visi misi yang aneh."
"Jika pria tak setia pada satu orang gadis di masa muda, itu wajar. Jika tidak kami belum insaf sekarang!"
"Hah?, yang benar aja?, menyakiti hati gadis seenak jidat kalian dan itu wajar, semoga keturunan kalian tak ada yang mewarisi sifat itu, wajar juga sampai sekarang, aku, Alma, dan Farah, sama sekali tak yakin dengan cinta kalian pada kami."
"Hey...itu dulu, kami sekarang adalah playboy insaf."
"Hahaha....aku tak yakin?"
Sikap Anjeli sekarang memang jauh berbeda dengan dirinya yang dulu, Anjeli sekarang bahkan mampu menundukkan seorang singa seperti Bagas Wirawan yang bahkan dengan tatapannya saja mampu membunuh mental seseorang dihadapannya.
Sean hanya tersenyum kearah wanita yang pernah ia sangat kagumi dan sekian lama mendiami hatinya, bahkan mungkin hingga kini meski dalam hatinya sekarang sudah didominasi oleh Alma seorang.
"Perhatikan tatapan mu, kau memang tak bisa aku percaya...!" ucap Bagas yang tak ada angin, tiba-tiba muncul dengan sikap arogannya.
Sean hanya menghela napas panjang dengan sikap Bagas yang tak pernah berubah, "Anjeli nasehati suami mu jangan terlalu sering mengambil peran antagonis, aku takut ia akan menyaingi rambut eksotik ku ini..!"
"Hahaha .... iya, kau benar kali ini. Aku setuju dengan mu...kita memang harus membuat sering mengambil peran protagonis itu jauh lebih baik untuk perubahan tubuhnya. Lagian mana tertarik aku dengan pria tua seperti kalian ?"
"Hey, aku ini eksotik. Tentu tak sebanding dengannya."
"Apa yang kau beli?" lanjut tanya Sean sambil mengendus tentengan yang Bagas bawa untuk mereka.
"Sepertinya kau lupa sesuatu,"
"Apa?" sahut Anjeli.
"Alat filter agar omongan suamimu dapat di kontrol."
"Sean kau....!" teriak Bagas lantang padanya, namun langsung di lerai oleh Anjeli.
***
Tok....tok....tok.
Alma hanya tersenyum, dengan lemas ia hanya mengangguk, dan menuruti instruksi mereka, Alma akhirnya di tempat tidur perawatan ia terlihat baik saat di pindahkan karena sikap lembut Sean padanya.
"dr. Sean ini adalah beberapa obat yang harus ibu Alma minum, dan obat injeksinya akan ada suster yang akan menyuntikkan secara i.v sesuai jadwal, kami tinggal ya, Bu' jika ada masalah kalian bisa pencet bel segara dan kami akan segera membantu."
"Terimakasih," ucap Alma pada para tenaga medis yang sudah membantu perawatan dirinya.
"Kami pamit," ucap salah satu petugas kesehatan dan meninggalkan ruangan perawatan Alma.
"Alma kau mau makan apa?, Bagas sempat membelikan bubur ayam uang enak, bubur yang kamu sering belikan ketika aku operasi SC Amar dulu."
Alma tak menyahut sama sekali, ia terlihat memaksakan diri dan merentangkan tangan selebar mungkin meminta pelukan dari Anjeli, namun Sean segara berdiri di hadapan Anjeli dan memeluk istrinya serta mencium keningnya, "Aku tak mau pelukan dengan mu aku mau dengan Anjeli, kenapa kau yang nyosor?"
"Hahaha...." tawa Bagas terdengar nyaring meramaikan ruangan, yang hampir menjadi haru dengan kedatangan Alma yang baru selesai berjuang melawan maut melalui operasi SC.
"Kau ingat kawan...!, kau harus puasa sebulan lamanya, full...!" ucap Bagas dan menepuk pundak Sean.
Sean membalas ucapan sahabatnya dengan pijakan tepat di kaki Bagas dan membuatnya mengeluh kesakitan. " aduh...sakit tau," ucap Bagas pada Sean.
"Makanya jangan mengingatkan penderitaan ku kedepannya...!, kau pikir aku sama sepertimu suka bersemedi diruang dingin berukuran sempit.
Kini giliran Alma dan Anjeli yang tertawa melihat tingkah mereka, "Alma asal kamu tau aku tak hanya satu bulan, demi membalas sakit ku, aku masih membuatnya puasa hingga di Paris, dan kau tau dengan siapa ia curhat...!" ucap Anjeli tanpa memperdulikan dua pasang tatapan tajam mengarah pada mereka saat asyik dengan obrolan mereka.
"Siapa," lanjut Alma begitu penasaran.
"Diman,"
"Hahaha....si bujang lapuk itu?, aku jadi penasaran dengan wejangan yang ia berikan, semoga ia tak memberikan saran yang aneh."
"Cikk...kau barusan melahirkan buah hati kita dan malah riang membicarakan pria lain." ucap Sean dengan wajah sedikit emosi karena cemburu.
"Abaikan mereka, Anjeli lanjut. Aku jadi penasaran."
"Anjeli Amar Bagun, ia minta neneng kayaknya," padahal jelas-jelas yang membangunkan Amar adalah mereka berdua, karena tak ingin mendengar lanjutan gosip mereka yang kadang tak ada ujungnya, bahkan melupakan keberadaan orang lain di sekitar.
"Lihat, pasti mereka membangunkan Amar untuk mengganggu kesenangan kita, dasar suami tak becus, tau bikin anak gak bisa ngerawatnya!"
"Jangan salah kami merawat Siera saat kamu gak ada, jangan sepelekan kemampuan kami, kau salah," sahut Sean tak mau kalah.
"Ckkk.....bahkan Siera lebih dewasa dibanding kalian," balas Anjeli hingga membuat kedua pria itu saling bertatapan sebelum akhirnya tertawa terbahak mendengar putri kecil yang cerdik dan pandai membuat ulah.
"Aku sangat merindukannya, kenapa kalian tak membawanya bersama?" ucap Alma di pembaringan tempat tidur kala mendengar nama keponakan kecilnya.
"Aku juga sangat merindukan Siera, setelah kamu sembuh sebaiknya kita pulang ke indo dan berkumpul seperti dulu. Suasana keluarga yang utuh sangat memberi kedamaian dalam hidup," ucap Sean dan melangkah mendekati istrinya, dengan mangkuk bubur ditangan dan mulai menyuapi Alma.
"Makan sayang biar cepat sembuh, Baby Boy kita membutuhkan kamu, ia juga butuh asi dari ibunya yang super cantik dan menggemaskan seperti bola bekel sekarang,"
"Pujianmu itu, seperti kau sedang memujiku dan sekejap kau menjatuhkan harga diri ku."
"Hahaha...."
"Tak romantis sama sekali," ucap Alma dengan bubur penuh di mulut akibat ulah Sean yang sengaja agar istrinya berhenti berbicara.
"mmmmm....." tolak Alma dengan suapan selanjutnya, dan membuat mereka semua kembali tertawa melihat kelakuan suami istri yang jauh dari kata romantis.
...----------------...