
Diman yang emosi langsung menarik ke dua keponakan imutnya dan membawa mereka kembali ke apartemen sebelah.....
Diman langsung masuk ke dalam apartemen yang di tempati Anjeli dan Bagas.
Di dalam tampak Anjeli yang baru saja bangun...." Hahaha.....hebat ya!, baru bangun, Bu!" tanya Diman yang sudah menunjukkan muka kesal dipagi hari.
"Ada apa?, masih pagi sudah ngajak berantem!" komentar Anjeli masih santai.
"Liat gak?"
"Ya, mereka keponakan kakak, terus maksudnya apa?" lanjut Anjeli belum peka sama sekali.
"Hah...malah bertanya lagi, tau gak anak kalian ini, pagi-pagi sudah ke sebelah minta makan, mereka kelaparan. Bisa ngak jadi ibu tanggung jawab sedikit sama anak...!" omel Diman pada Anjeli.
"Salahkan dia, bos gak tau diri, gak tau malu, dan nyebelin...!" ketus Anjeli dan meninggalkan Diman menuju dapur.
Diman menatap Bagas dengan tajam dan keluar dari apartemen mereka dengan membanting pintu.
"Paman galak kalau lagi marah...!" ucap Siera.
"Jangan salah, Nak, Ibu mu lebih galak lagi," timpal Bagas pada putrinya.
"Hah...!" Siera sedikit ngeri, tapi bukan dengan ucapan ayahnya melainkan menatap Ibu yang sudah mulai menampakkan taringnya di belakang suaminya.
Anjeli yang kesal mengeluarkan jurus jewer telinga pada suaminya dan menarik telinga suaminya menuju dapur berniat memberi hukuman pada Bagas kerena telah membuatnya kesal selama beberapa hari.
"Pak Bos, yang baik hati...!, mulai sekarang kamu yang masak dan aku akan mandi, terus siap-siap dan setelah aku bersiap diri, berdandan yang cantik, kita makan bersama dan setelah itu, pak bos tersayang akan menjadi supir kami untuk keliling kota menikmati indahnya pemandangan di kot ini," jelas Anjeli dengan memperlihatkan sikapnya yang mendominasi dari pada suaminya sendiri.
Bagas yang baru melihat sikap dominan istrinya, hanya bisa melongo dan lama terdiam di tempat, hingga Siera menyadarkan dirinya.
"Ayah, Ayuk buruan....nanti Ibu marah lagi."
"Kayaknya ibu kamu lagi kerasukan hantu kota Paris, ia sampai bertingkah aneh," pikir Bagas.
"Bukan, ayah salah. Mungkin hantu yang selama ini bersemayang di tubuh ayah sekarang pindah ke tubuh ibu, makanya ibu bersikap seperti Bos sekarang dan ayah jadi bawahannya."
Bagas menatap Siera dan mengangkat putinya setinggi bahu dan membuat permainan pesawat dengan menjadikan tubuh Siera sebagai objek pesawat, Amar sangat menikmati permainan hingga ia tertawa riang, Anjeli yang penasaran langsung keluar dari kamar setelah mandi, begitu melihat tingkah suaminya iapun berdecak pinggang melempar tatapan tajam pada mereka.
"Iya, masak...jangan marah!" ucap Bagas dan langsung bergegas ke dapur mungil mereka.
"Ayah, biar Siera bantu."
Bagas ditemani Putri tercintanya mulai memasak sebisa mereka, memasak menu sederhana.
"Nah...beres deh...!, tinggal panggil nyonya besar...!" ucap Siera sambil mengangkat tangan dan mengajak ayahnya tos, sebagai ungkapan keberhasilan duet masak mereka.
Amar sebagai penonton, ikut riang gembira melihat suasana di dapur.
Anjeli yang merasakan aroma masakan kolaborasi suami dan putrinya langsung menuju dapur, Anjeli dengan penasaran melangkah mendekati meja makan dan memperhatikan menu masakan yang tersedia di meja makan..."masak omelet aja sampai heboh...!, syukur rasanya enak, awas kalau gak enak, malam ini Ayah tidur di luar...!" ucap Anjeli sebelum mencicipi hasil masakan mereka.
"Hmmm....gimana?" tanya Bagas penasaran.
" Lumayan....!"
"Yes, malam ini aman," ucap Bagas setengah berbisik.
Anjeli yang masih bisa mendengarkan langsung memicingkan mata, "hanya tidur dan gak ada yang lebih dari itu," tegas Anjeli.
"Huft...orang dewasa terlalu banyak masalah," cetus Siera dan mulai menyantap makanannya bersama adiknya.
"Ingat...!, setelah makan masih ad tugas lain."
...****************...
Bagas yang biasanya memakai setelan jas, berjalan dengan angkuh, layaknya Big Bos, namun sekarang ia berada dibawah telunjuk sang istri demi sebuah kata maaf dari istrinya. Sungguh pria yang malang, nasibnya sekarang sungguh berbanding terbalik dari sebelumnya.
"Mau kemana?" tanya Bagas agak kesal karena Anjeli menyuruhnya berpakaian layaknya seorang supir angkot.
"Jalan aja pak, aku akan arahkan sepanjang jalan, tugas bapak hanya nyetir mobil dan jangan banyak tanya."
Bagas menghela napas panjang melihat tingkah istrinya hari ini, "Anjeli...tunggu sebentar malam, aku pastikan akan membalas mu berkali lipat, lihat saja nanti," guman Bagas sambil mencuri pandang kearah istrinya lewat kaca spion.
"Bagas, memang aku gak tau apa yang sedang bersarang di otak kamu, liat aja aku juga akan ngerjain kamu habis-habisan...!"
guman Anjeli menebak isi kepala suaminya.
Anjeli sengaja memilih destinasi wisata yang lumayan jauh dari apartemen mereka hingga membuat Bagas kewalahan sebagai supir setia mereka.
"Habis ini, kita mau kemana lagi?" tanya Bagas yang sudah sangat lelah, setelah menjadi supir ia malah harus mendalami sebuah peran sebagai ayah yang baik menemani buah hatinya bermain, sementara Anjeli nampak asyik menikmati pemandangan layaknya seorang gadis dan tak perduli sama sekali dengan Siera dan Amar.
"Hey ..... Sayang...gantian donk!, anak kamu terlalu liar bermain kesana-kemari aku lelah mengejar mereka, tau kita mau ke pantai aku sebaiknya ajak Diman tadi," ucap Bagas dengan napas terengah-engah.
"Apa?" ucap Anjeli pura-pura tak mendengarkan.
Bagas hanya menggelengkan kepala dan berlari kembali mengejar Amar yang sudah sampai di pinggir laut dan hampir terhempas ombak.
"Hahahah...., Lucu sekali dia. Katanya mau nambah momongan lagi, tapi punya dua anak saja sudah kewalahan," ucap anjeli melihat Bagas yang sibuk menjaga kedua anak mereka.
"Hay....anda dari Indonesia...?" sapa salah seorang wanita hampir seumuran Anjeli dan terlihat seperti blasteran indo.
"Ya...!" ucap Bagas membalas sapaan wanita tersebut, namun dengan mata melirik ke arah macan betina miliknya, yang tak lain adalah Anjeli yang sedang duduk menikmati indahnya suasana pantai.
"Mereka pasti putra dan putri kamu, yang satu cantik dan satunya lagi ganteng, mereka sangat mirip satu sama lain, hanya warna mata mereka kayaknya berbeda."
"Ya, putri saya ikut ibunya dan putra saya tentu gennya lebih banyakan saya," ucap Bagas memperjelas.
"O..., mereka sangat lucu."
Anjeli yang sudah sejak tadi melihat keakraban suaminya dengan wanita yang baru ia kenal, kini mulai gelisah dan gak tenang, "Dasar Bagas...!, Player tengik, udah punya dua ekor masih tebar pesona tak jelas," guman Anjeli.
"Ayah...tengok ibu, kayaknya ada bau hangus dikit....!" ucap Siera.
"Hangus....?" tanya wanita yang sedang bergabung bersama mereka.
"Eh .... iya, istri saya lagi bakar ikan...!" ucap Bagas asal.
"Sejak kapan disini ada turis bakar ikan?, kalau di indonesia sih, aku pernah liat, tapi disini aku belum pernah," guman wanita tersebut merasa aneh.
"Ayah, kau membuatnya bingung...!" bisik Siera sambil tersenyum, melihat Ayahnya yang sedikit khawatir jika istrinya mengamuk ditengah keramaian.
...----------------...