SIERA

SIERA
38.



Semakin penasaran dengan senjata yang Siera maksud. Anjeli mencoba menanyakan hal itu pada sang mertua dan alangkah terkejutnya Anjeli mengetahui betapa liciknya Mira. Anjeli seakan menyesali keputusannya memberikan Mira sebuah jalan untuk masuk dalam keluarganya, namun sudah terlanjur ia katakan di depan umum tak mungkin ia tarik kembali.


"Anjeli, Ibu sudah tau apa yang sedang kau pikirkan sekarang nak. Tapi semua mungkin sudah jalannya, ada semoga kali ini mereka akan merasakan akibatnya, karena ke dua orang tua Mira bukan tidak tau tentang perbuatan anaknya, tapi melainkan ini bagian dari rencana mereka semua."


"Apa, jadi mereka itu. Memang sudah terbiasa memanfaatkan keadaan seperti ini demi bisnis?, keluarga itu sangat mengerikan Bu, menghalalkan segala cara demi kemajuan bisnis."


"Ya, berhati-hatilah mulai sekarang, Nak."


"Iya, Bu. Semoga kita bisa memberi pelajaran terpenting buat mereka."


Anjeli tak mau tinggal diam, dia mulai bergerak sendiri di belakang Bagas dan Rama. Anjeli mulai menyelidiki dengan hati-hati dengan siapa Mira bekerja sama sekarang, dengan menyewa mata-mata bayaran anjeli kini mengetahui sebuah kelicikan dari Mira ternyata ketika di Malaysia Mira mempunyai kolega bisnis, umurnya lima tahun lebih tua dari dirinya, dan menurut penyelidikan pria itu memiliki istri yang mandul, ia menyewa rahim Mira untuk mendapatkan keturunan, namun Mira malah memanfaatkan kehamilannya itu untuk meraup untung banyak, dan liciknya lagi sang pria yang menyewa rahim Mira ternyata mereka saling bekerja sama satu sama lain untuk mendapatkan keuntungan lebih.


Terpikir oleh kecerdasan Siera, kali ini Anjeli ingin mengetes bagaimana kecerdasan putrinya. Anjeli bergegas ke kamar sang putri dan melihat Siera sedang melakukan sesuatu dan entah apa yang sedang anak itu persiapkan, dan alangkah terkejutnya Anjeli mengetahui Siera dengan lincah dapat mengotak atik laptop miliknya, "Siera apa ibu boleh tanya, tentang rencana Siera untuk aunty Mira, dan kamu sedang apa dengan benda milik Ibu?" tampak Siera sedikit terkejut karena ketahuan oleh Ibunya, namun bukan Siera jika tak punya seribu alasan untuk menyelamatkan diri.


"Eh...Ibu, ini cuman main game, bosan nonton terus jadi Siera minjam Laptopnya buat main game online."


"Kalau ngambil diam-diam itu namanya minjam, ya?"


"Eh....maaf Bu, Siera lupa bilang."


"Ehem....boleh kan Ibu liat yang sedang Siera bukan barusan...!"


"Waduh....kalau Ibu sampai tau jika aku sedang menyabotase akun media sosial Ayah, bisa gawat," guman Siera yang takut ketahuan oleh Anjeli dengan kelakuannya sekarang.


"Menyabotase akun media orang lain itu memang gak baik, tapi jika tujuannya untuk ngerjain si Mak Lampir, harus ngajak Ibu juga, bukannya kita ini partner....?"


"Eh...Ibu. Yuk Bu, sini dekatan, liat Bu si Mak Lampir itu sudah masuk dalam jebakan kita sekarang. "Hahaha....Ayah pasti marah jika tau ini."


"Ah...ibu jangan bilang-bilang ini rahasia kita."


"Okey deh. Dari mana anak ini belajar seperti ini, mana kata-katanya persis dengan ucapan orang dewasa." Bayangin aja jika anak kecil bilang kek gini.....


Bagas : Hay.....gi ngapain?


Mira : Lagi di RS periksa.


Bagas : Kok gak kasi kabar.


Mira : Aku pikir kamu gak percaya, kalau aku lagi hamil anak kamu.


Bagas : Jelas lah, emang kapan bikinnya?


Mira : Itu hari kamu lagi mabuk dan aku temanin kamu ke hotel dan kamu maksa aku, masa kamu lupa?


Bagas : Lain kali kalau mau periksa bilang?


Mira : Terus kalau mau ketemu sama kamu...? Aku kan kangen.


Bagas : Liat jadwal dulu, kalau bisa nanti kita ketemuan di hotel, tempat yang dulu.


Mira : Anjeli gimana?


Bagas : Tenang aja dia masih sibuk dengan ke dua anak ku, senang-senangnya sama kamu dulu. Nanti setelah lahiran kamu jangan marah, karena aku bakalan sering senang-senang sama dia.


Mira : Ini beneran kamu gak sih....?


Bagas : (Foto Bagas lagi kerja di ruang kerjanya di kantor yang di ambil atas bantuan asisten Alang.)


Mira : ❤️


"Hahaha....kalau Ayah tau kamu pasti kena hukum sama Ayah.


"Bu, sekarang rencana selanjutnya, paman Alang mau jebak Ayah buat ketemuan dengan si Mak Lampir itu, dan peran ibu, tiba-tiba muncul dan berpura-pura kaget dan marah gitu."


"Gak kebayang muka Ayah nanti."


"Ibu mau kan ikut main...?"


"Kenapa gak ngasih tau Ayah ...?"


"Ih....klo Ayah tau dia bisa ngerusak rencana, terus gak natural gitu."


"Hahaha...." anak siapa si ini kelakuannya gini amat, ngidam apa sih dulu sampai buat anak kayak gini. hal yang terlintas dipikiran Anjeli melihat Siera tumbuh besar dengan kelakuan di luar nalar.


"Okey Ibu ikutan main, tapi janji jangan suruh Ibu bilang ke Ayah, kamu harus tanggung jawab sendiri."


"Hehehe....Ibu juga bantuin, kan partner."


"Hmm...liat nanti aja."


Anjeli berjalan keluar dan meninggalkan Siera yang masih sibuk mengatur rencana selanjutnya. "Kalau Bagas sampai tau, aku bakalan bisa KO, ini yang kamu gak ngerti nak, Ayah kamu itu kalau sudah di atas ranjang bukan satu ronde. Kapan tuanya sih, biar bisa pensiun. Dulu aja kelelahan apa lagi sekarang punya dua ekor." Anjeli memikirkan nasibnya yang bakal di lahap abis olehnya.


Kring....kring....kring.


Anjeli langsung berlari masuk ke dalam kamar hendak mengangkat sebuah panggilan dari miliknya, namun ternyata pas tiba di kamar, panggilan tersebut berhenti. "Siapa yang menghubungi ku?" Anjeli mengambil hp miliknya dan melihat siapa yang barusan menghubunginya.


"Tolong bilang Siera, Aku gak bisa pakai akun media aku sekarang, ingatkan dia jangan Aneh-aneh. Awas ya....! tunggu Ayah pulang."


"Waduh....ini pesan dari mas Bagas. Kok agak seram bacanya...!"


Anjeli langsung bergegas ke kamar putrinya, "Siera, kamu masih di dalam, Nak?"


"Ibu, kenapa?"


"Nak, berhenti bermain dengan akun media milik ayah, dia sudah tau sekarang."


"Ah...gak seru ini pasti paman Alang gak becus mainnya."


"Hah....anak ini, jelas-jelas dia yang salah malah nyalahin orang lain, mengkambing hitamkan paman Alang." Anjeli mulai mengerutkan kening melihat sikap Siera yang semakin menjadi-jadi.


"Nak, ibu boleh gak bicara sebentar aja...!"


"Kenapa Bu?"


"Sayang yang barusan kamu lakukan itu jangan di ulangi lagi ya, kasian Ayah lagi kerja terus mau pake sarana akun miliknya kagak bisa, jadi terhambat donk kerjaan Ayah, kan Ayah di luar lagi kerja, cariin uang yang banyak buat kita, agar hidup kita jadi senang dan gak kekurangan, Siera sayang sama Ayah ngak?"


"Sayang kok Bu. Tapi Siera kan juga bantuin pecahin masalah Ayah."


"Ya, Ibu bangga kalau yang satu itu, tapi kamu juga harus tau kalau membantu orang lain itu, ada baiknya gak menimbulkan masalah baru. Yang Siera lakukan sekarang, emang lagi bantu Ayah dan Ibu tapi, Siera juga buat masalah baru untuk Ayah."


"Maaf deh, Bu. Lain kali gak gitu lagi."


"Okey, untuk masalah ini, sampai disini saja. Kedepannya gak boleh terulang lagi, jika tidak bukan Ayah lagi yang marah tapi Ibu."


"Awu.....kalau ibu yang marah lebih seram dari pada Ayah, aku pernah lihat Ayah dimarahin sama ibu, dan Ayah malah nunduk dan diam, terus Ayah duduk di pojokan."


"Iya, Bu. Siera ngerti. Gak bakalan nakal lagi."


"Nah, ini baru putri ibu."


****