
Anjeli ke luar dari kamar mandi setelah membersihkan diri, dan berjalan melewati Bagas yang duduk di dekat jendela kamar, tanpa berucap sepatah katapun , Anjeli mengambil baju dan memakainya. Setelah selesai, Anjeli duduk sebentar dan mengambil sebuah benda pipih yang terletak di meja rias miliknya. Ia mulai mengotak atik tampak sedang menekan beberapa tombol dan terlihat serius dengan benda tersebut.
Bagas hanya memperhatikan gerak gerik Anjeli dan tak menanyakan apapun padanya.
kring ... Anjeli kini sedang menghubungi seseorang, entah siapa yang ia hubungi sekarang, sedang Bagas masih dalam mode yang sama, tak menegur dan tak bertanya sedikitpun.
"Halo....kamu masih di sana atau ikut dengan suami kamu sekarang?"
Bagas mengerutkan kening, mendengar pertanyaan yang Anjeli tujukan padanya, entah siapa yang sedang ia hubungi.
"Aku berencana ke situ dalam waktu dekat, tolong siapkan semua berkas laporan, aku ingin melihat laporan bulanan, jika memuaskan, sudah saatnya kita memperluas cabang baru, maaf aku baru menghubungi sekarang karena setelah lahiran aku sepertinya agak drop dan harus istirahat total, " Lanjut Anjeli dengan obrolan mereka tanpa memperdulikan Bagas yang sejak tadi memperhatikan dirinya.
"Tolong kirimkan dua orang asisten untuk membantu saya, dan menjaga anak saya selama perjalanan," ucap Anjeli meminta bantuan pada orang yang mungkin Bagas tak mengenalnya.
Dari kalimat terakhir inilah Bagas langsung merespon cepat.
"Kau mau pergi saat kita sedang tak baik?, apa kau sudah dewasa? apa pikiranmu masih kekanak-kanakan?, kamu pikir ini jalan keluar terbaik?, Hah ?."
"Mas cukup, aku ingin bekerja dan aku sudah lama meninggalkan pekerjaan ku, kasian Alma, dia pasti kelelahan mengurusnya seorang diri."
"Alasan.....! gayamu ini sangat jelas ingin menjauh dari ku, dari dulu kau selalu menyelesaikan masalah dengan seperti ini, patuh lah sekarang tanpa izin dari ku jangan harap kau bisa keluar dari rumah ini."
"Cukup, sebaiknya kamu fokus dengan masalah kamu sekarang....!, masalah kamu itu sudah menjerat, Aku, Siera, Alma, Sean dan mas Rama. Semua orang terdekat kamu, apa kamu belu sadar dengan semuanya."
"Beri aku sedikit waktu, aku akan segera menyelesaikan semuanya."
"Mas, izinkan aku ke Malaysia selama setahun, aku ingin fokus dan membuka cabang baru."
"Setahun, kau pikir itu waktu yang singkat. Anjeli apa artinya diri ku untuk mu?" Bentak Bagas dengan luapan emosi yang tak mampu ia kendalikan lagi.
"Mas, jangan salah paham, Sean juga disana, dia sedang melanjutkan studinya, dia bersama kami dan Alma."
"Huft....Kau memang tak mencintaiku lagi, wajar jika semudah itu mengakan ingin pergi." Bagas terlihat sedih dengan ucapannya, menyadari perubahan sikap Anjeli padanya.
"Mas, sekarang ekonomi kamu sudah membaik, bahkan lebih baik dari dulu. Apa harga jet pribadi terlalu mahal untuk kau dapatkan, hingga merasa kami akan pergi jauh."
Anjeli mendekati suaminya, dan mulai menenangkan dirinya, " jangan berpikir terlalu jauh, aku harus punya identitas yang kuat agar bisa bersanding denganmu dan tak ada lagi orang yang merendahkan posisi ku, dan membandingkan dengan mu."
"Maaf, aku tak berpikiran ke tingkat itu, aku tak sadar jika dirimu tanpa karir malah mengundang mereka menggunjing bahkan sampai menghina. Maaf, aku tak berguna dan tak mampu melindungi mu, hingga untuk hal ini istri dari Bagas Wirawan harus berjuang sendiri."
"Aku berjanji, aku dan Sean akan berada dibalik usaha kalian, dan akan menjadi pemeran pendukung tiap saat dan selalu berada di garda terdepan, besok - besok juga jika butuh seorang model, kami siap jadi model dadakan untuk kalian, asalkan jangan yang berhubungan dengan dalaman."
"Hahaha.....Mas bisa aja."
"Aku hanya ingin menjadi model dalaman, asal berdua dengan mu." Bagas mulai melancarkan aksinya menggoda Anjeli yang bau saja selesai memakai pakaiannya.
"Jika ingin pergi, kau harus memberi jatah tiga ronde semalam selama tiga hari berturut-turut."
"Mas, anak kita masih kecil, aku masih mau hidup."
"Hahaha....aku mengajakmu menikmati surga dunia, bukan mengajakmu mati bersama, yang benar saja, Anjeli."
"Tiga hari tiga malam, sama saja dengan membunuhku, gila aku bisa cacat menderita patah tulang panggul seumur hidup."
"Aku rasa otak mu sekarang agak bermasalah, aku dengan senang hati bersedia menemani mu menemui Sean sekarang."
"Dua kali membuatnya gagal nikah dan kamu mau mengajakku menemui mereka dan mengganggu bulan madunya, aku rasa dia bisa membunuh kita dalam sekejap."
"Hahaha"
Anjeli sebenarnya tak sanggup untuk berpisah kembali, namun mengingat Mira yang semakin nekad, Anjeli berpikir jika ia harus meninggalkan kota kelahirannya dan menangani bisnis yang sudah setahun belakangan ia rintis bersama sahabat karibnya di negri Jiran.
"Aku harus berjaya Mas, agar kita bisa mengalahkan kerajaan bisnis keluarga Mira, dengan begitu aku yakin dia takkan berani menyinggung bahkan menganggu keluarga kita lagi, Mas."
"Iya kamu benar, Sayang. Aku akan selalu mendukung karir kamu, asalkan kamu jangan meninggalkan diriku seperti dulu."
" Mas, Sudahlah. Jangan di bahas lagi."
Anjeli langsung menghentikan suaminya, ia tak ingin kejadian masa lalu akan memperburuk situasi sekarang.
"Beri tahu aku jika kamu membutuhkan bantuan, aku akan selalu ada untuk kamu."
"Aku mencintai mu mas."
"Kalou begitu bukti kan perkataan kamu, dan jangan hanya di bibir saja."
"Bukti, maksudnya....????"
Anjeli mengerutkan kening dan menatap suaminya.
Bagas semakin berulah dengan mencoba mengambil keuntungan dari situasi sekarang, ibarat kata mengambil kesempatan dalam kesempitan.
Bagas menaikkan alis dengan senyuman licik sambil berjalan semakin mendekati Anjeli.
"Mas, jangan mulai lagi deh, anak-anak belum tertidur lelap," ucap Anjeli membuat alasan yang tak jelas.
"Hehehe....aku tak terima alasan sekarang, pokoknya kamu harus buktikan dengan tindak an nyata."
Bagas mulai mencumbu sang istri dan menggila, bagaikan harimau yang baru berhasil menangkap buruannya.
"Mas, kamu kenapa sih?"
"Hust, diam dan nikmati saja semuanya," bisik Bagas pada sang istri.
Bagas menatap dalam Anjeli dan membelai rambut hitam miliknya yang tergerai indah, dengan tubuh yang semakin montok, membuatnya semakin bergairah.
Anjeli malah berpikir lain dengan tingkah aneh dari suaminya, ia seakan ingin melarikan diri sekarang, namun apalah dayanya ia sekarang bagaikan seekor mangsa yang sudah masuk dalam perangkap sang predator.
Malam itu menjadi saksi cinta mereka yang begitu kuat, meski sudah terpisah begitu lama namun rasa itu semakin kuat dan dan tergoyahkan. Meski Mira dengan berbagai rencana licik untuk memisahkan mereka namun semua itu tak meruntuhkan cinta kasih mereka.
Bagas sekarang malah semakin mencintai Anjeli dan tak menyisakan ruang sedikitpun untuk wanita lain dalam hidupnya.
...----------------...