SIERA

SIERA
12.



Banyak hal yang terjadi, namun ia tak mengetahui sama sekali membuat Rama terdiam dan terlihat memikirkan sesuatu.


"Jadi apa rencana kalian?" ucapnya dengan nada lebih tenang.


"Aku berencana menyuruh Elin dan Rani menemui pemilik Klub malam tempat ibunya menjualnya dulu, kata Elin pemiliknya lumayan baik dan sopan, semoga mereka bisa bernegosiasi dengan baik"


"Baik aku akan memberikan pengawalan ketat pada mereka" Rama akhirnya mau mendengar dan menyetujui semua rencana Anjeli yang baru terlintas dari benak Anjeli melihat selebaran pengumuman itu.


"Dan jika kamu bersedia tolong bantu aku mengurus surat perceraian sebelum pertemuan itu terjadi" Permintaan yang Anjeli sampaikan sangat menyakitkan untuknya karena mengingat Siera yang masih berada di kediaman mas Bagas, dan entah apa yang sedang dia alami sekarang bersama ibu mertuanya.


"Baik, biar aku yang mengatur semuanya dan aku minta kamu jangan terlalu banyak berfikir itu tak baik untukmu"


"Mas Rama, aku minta maaf"


Anjeli menatap orang yang selama ini bersamanya dan melindunginya dengan baik meski ia tak mampu membalas perasaan itu untuknya.


"Maaf untuk apa?" Balas menatap Anjeli yang sudah berkaca-kaca, menahan air mata.


"Atas semuanya" ucapnya lirih dengan air mata yang akhirnya tak dapat ia tahan.


"Aku memaafkan mu asalkan kamu berjanji akan memberi aku kesempatan ke dua, aku sanggup untuk menunggumu"


Terdiam seribu bahasa, tak terlintas sepatah kata pun sebagai jawabannya untuk permintaan itu. Melainkan hanya menunduk dan merasa bersalah.


"Jangan jawab sekarang, tiga tahun bukan waktu yang singkat, pergi dan istirahatlah"


Mendengar perkataan itu, Anjeli mengangkat dagu dan memberanikan diri menatap Rama, mencari sesuatu dalam diri pria dihadapannya yang bisa merubah hatinya yang membeku untuknya.


Rama tak kuat menahan diri, Ia mendekati Anjeli dan berinisiatif untuk mencumbunya, benar saja Anjeli kali ini tak menolak, ia menerima semua itu dengan tenang, Anjeli mencoba membalas namun ia tak merasakan apapun seperti perasaan di saat Bagas melakukan hal yang sama pada dirinya.


Anjeli yang menyadari itu, langsung mendorong Rama, dan tautan mereka terlepas.


"Maaf" hanya itu yang mampu terucap dari bibirnya, dan ia berlalu meninggalkan Rama.


Rama yang masih bingung tak melepaskan pandangan ke arah Anjeli hingga menghilang dibalik pintu ruang kerjanya.


"Huft....Anjeli mencoba untuk meyakinkan dirinya tentang perasaannya untuk ku, tapi sepertinya aku masih harus bersabar. Kenapa susah sekali menaklukannya, terbuat dari apa hati mu Anjeli?, sangat sulit untuk menembusnya !."


***


Bagas telah menemukan keberadaan Anjeli di sebuah vila milik Rama, namun kali ini Bagas tak mau gegabah, kerena melihat sikap Rama sekarang sepertinya itu tak mudah untuk menaklukannya seperti dulu.


"Terus perhatikan pergerakan mereka, jangan sampai Rama curiga pada kalian" ucap Bagas pada anak buahnya yang masih memantau Rama di vila milik pribadinya.


Rama yang paham betul siapa Bagas Wirawan semakin memperketat penjagaan di sekita vila miliknya.


"Aku harus bergegas secepatnya, Bagas pasti sudah tau jika aku menyembunyikan Anjeli di sini"


Rama mengatur siasat menghubungi adiknya dan memberikan penjelasan sedetil mungkin tentang rencana Anjeli, Rani tampaknya sudah mengerti, dan siap melaksanakan rencana bersama Elin yang kini sudah tinggal di kediaman Rama bersama dengan adiknya.


"Akhirnya Elin dan aku berhasil membujuk kakak dan kak Anjeli. Aku pikir kak Anjeli tak perduli dengan selebaran pengumuman dan foto kwitansi itu. Ternyata membuahkan hasil yang di luar dugaan ku.


Akan tetapi hal ini pasti membuat kak Rama sakit hati, siapa yang tega melihat orang yang ia cintai tidur bersama pria lain" guman Rani karena lega mendengar kakaknya setuju, bahkan ia tak menyangka jika kak Anjeli menyetujui permainan bodoh suaminya yang sangat sombong itu.


Rani bergegas menemui Elin yang sedang sibuk mempersiapkan malam malam.


"Elin aku dapat kabar baik dari kakak, kita harus segara melaksanakan rencananya"


jelas Rani pada Elin tentang semua rencana yang telah disiapkan oleh kak Anjeli dan kakaknya.


"Sudahlah jangan dipikirkan sebaiknya kita makan dulu dan bersiap-siap menemui pemilik Klub malam itu"


"Ya, kamu benar semakin cepat semakin baik."


Mereka pergi ke klub malam dengan pengawalan ketat dari kak Rama.


Sampai di klub malam tersebut Elin dan Rani langsung menemui pemilik Klub itu dan memberikan surat perjanjian kerja sama mereka atas nama Rama Putra Hardian.


Melihat nama yang tertera pada surat perjanjian itu pemilik Klub tak berani banyak komentar karena posisi Rama sekarang sangat di pertimbangkan di dunia bisnis, usaha Rama sedang berkembang dengan pesat dan semau orang sudah mengetahui dan mengenalnya, iapun langsung membubuhi tanda tangan dapa lembaran perjanjian itu.


"Kapan kami bisa mengantar nyonya kepada Tuan Bagas?"


"Besok malam" ucap Rani.


"Dan ingat ini adalah rahasia kita, katakan saja jika nyonya Anjeli sendiri yang menyerahkan dirinya"


"Baik aku setuju, kami menunggu nyonya besok malam dan biarkan kami dengan pengawalan khusus mengantarkan nyonya di hotel yang telah kita sepakati"


Rama yang cerdas tak mungkin memilih hotel yang Bagas miliki, ia lebih memilih melakukan pertemuan itu di hotel ternama saingan Bagas, agar Rama leluasa mengawasi Bagas dari jauh.


Setelah kerja sama disetujui, Rani dan Elin langsung pulang.


Agar tak menimbulkan kecurigaan pada pengunjung lain karena Anjeli menjadi incaran semua orang kali ini akibat pengumuman yang Bagas sebarkan.


Sesampainya di rumah Rani langsung mengabari kakaknya jika semua rencana sampai saat ini masih berjalan tanpa kendala apapun.


Disisi lain Bagas yang sudah menerima informasi itu, sangat tak sabar menantikan pertemuan tersebut, ada rasa rindu yang sangat ia ingin curahkan pada istrinya itu, namun di lain hal Bagas telah menyiapkan rencana untuk menjadikan Anjeli tawanannya seumur hidup.


Bagas tak mau melewatkan kesempatan tersebut berbagai taktik telah ia rencanakan untuk menangani Anjeli.


Rama yang sudah curiga akan niat busuk Bagas Wirawan berusaha bekerja sama dengan pihak hotel yang akan menjadi lokasi kebejatan Bagas Wirawan pada Anjeli yang masih berstatus istrinya.


Ditangan Rama sekarang telah siap surat perceraian mereka dan tinggal ia berikan pada Anjeli.


Rama menghampiri Anjeli yang masih istirahat di kamar karena beban pikiran yang banyak hari ini Anjeli nampak sangat lemah dan pucat.


Rama yang sudah tau kondisi Anjeli sempat memanggil dokter untuk memeriksakan dan memberikan resep pada Anjeli.


"Anjeli, apa kamu baik-baik saja hari ini?"


"Ya mas, aku baik dan aku harus kuat untuk menjadi wanita penghibur esok malam"


"Tolong jangan ucapkan itu, emosi aku tak terkontrol mendengarnya."


sambil menyodorkan surat gugatan perceraian pada Anjeli.


"Cepat sekali mas"


"Tentu, bukan kah aku banyak uang sekarang, hal ini sangat mudah untukku, apa kamu masih tak yakin dengan keputusan ini?"


"Tidak, bukan begitu mas, aku hanya khawatir akan rencana mas Bagas padaku, aku yakin dia bukan orang dengan pemikiran sempit, pasti ada rencana lain di balik ini semua"


"Jangan khawatir aku dan anak buah ku akan berjaga di luar mengawasi pergerakan mereka."


Ucap Rama dengan berat hati, siapa yang tega menunggu orang yang ia cintai sedang bersama pria lain, dan ia tak mampu berbuat apa-apa untuknya.