SIERA

SIERA
15.



Bagas yang mengikuti Anjeli, sangat marah melihat Rama menggendong istrinya menuju ruang UGD rumah sakit milik Sean.


"Sungguh murahan aku semakin jijik dengan mu, baru beberapa menit yang lalu kau menyerahkan tubuh mu pada ku, sekarang malah berada di pelukan pria lain.


Anjeli...Anjeli....Anjeli...."


Amuk Bagas dengan menghantam setir mobil dan menyebut nama istrinya berkali-kali dengan emosi.


Bagas yang sangat mudah dipancing emosi tidak lagi melanjutkan niatnya untuk menyelidiki Anjeli menurutnya kejadian di depan matanya sudah cukup memberikan bukti yang nyata jika Anjeli memang berselingkuh dengan Rama.


"Cepat cari tau jika pertemuan malam ini ada campur tangan Rama." Bagas yang curiga melihat Rama bersama Anjeli, membuat Bagas ingin tau detailnya bagaimana seorang Rama Putra Hardian sedang mempermainkan dirinya sekarang.


Tak butuh waktu lama, Bagas akhirnya mendapatkan informasi jika pertemuannya malam ini memang telah diatur oleh Rama, dan keuntungan satu milyar yang ia berikan pada pemilik klub ternyata ada turut andil rencana Rama di dalamnya dengan bagi hasil lima puluh persen.


Jadi ia menjual istri ku sendiri pada ku, dan mengambil keuntungan banyak darinya.


"Anjeli kau sangat naif dan bodoh,"


guman Bagas yang semakin membenci istrinya.


Tanpa Bagas ketahui jika istrinya sedang mempersiapkan diri untuk pembedahan yaitu operasi tumor otak yang sudah lama bersarang di kepala Anjeli.


"dokter Farah langsung menghubungi dokter Sean dan menyampaikan jika kondisi Anjeli semakin parah dan operasi harus segera dilakukan secepatnya."


"Segera persiapkan operasi aku akan terbang menuju ke Indonesia sekarang."


"Apa kondisi Anjeli memang sudah gawat, hingga ia harus segera di operasi?" ucap Rama semakin gugup mendengar kata operasi.


"Ya, jika tidak dilakukan sekarang takutnya ia tak tertolong, sepertinya kekerasan yang ia alami cukup berdampak pada penyakitnya."


"Bagas Wirawan, aku pastikan akan membuat perhitungan denganmu, dasar pria buas tak punya hati nurani, lihat saja kau akan datang merangkak dan memohon pada Anjeli, jika kau tau kebenaran Anjeli"


guman Rama dengan menggenggam kuat tangannya, menahan emosi.


Farah yang memperhatikan Rama dengan raut wajah merah membara, langsung menenangkannya, Farah langsung memegang kepalan tangan Rama untuk meredakan emosinya sekarang.


"Bukan waktunya untuk marah sekarang, mas Rama harus ke kantor pusat PMI dan menyerahkan ini pada mereka."


"Apa Anjeli butuh kantong darah sebanyak ini?" amarah Rama padam seketika melihat jumlah kantong darah yang dibutuhkan Anjeli untuk dapat di operasi sekarang.


"Iya, kadar sel darah merah pada tubuhnya menurun drastis mau tidak mau kami tak berani melakukan tindakan operasi jika kantong darah tak tersedia."


"Baik, aku akan menyuruh seseorang kesana sekarang"


"Mas Rama, ini ada beberapa berkas yang harus di tanda tangani oleh pihak keluarga, apa kamu bersedia atau kita informasikan pada mas Bagas sekarang."


"Biar aku saja yang tanda tangani, iblis seperti itu mana peduli dengan istrinya," ucap Rama yang mulai emosi mendengar nama Bagas dari dokter Farah.


"huft....serba salah ngomong sama dia," cetus Farah dalam hati.


Tak menunggu lama kantong darah telah siap dan berkas persetujuan juga sudah di tanda tangani, tinggal menunggu dokter Sean dan operasi segera di mulai.


"Farah, apa Sean belum ada kabar, berapa lama ia akan sampai, apa di udara juga ia terkena macet, kenapa ia lama sekali?."


"Aduh...bisa diam gak, itu orangnya sudah di belakang kamu sekarang," ucap dokter Farah yang akhirnya konsentrasi kerjanya buyar akibat celoteh Rama.


Ucapan Rama barusan di dengar oleh Sean yang sejak Rama mengomel ia sudah ada tepat di belakangnya, dan Rama tak menyadari jika dirinya sedang di perhatikan oleh Sean dengan muka masam.


"Dasar pria tua, cepat lakukan operasi dan sembuhkan Anjeli, dan kamu jangan sampai gagal, jika itu terjadi aku akan mempertanyakan keahlianmu itu," cetus Rama mendengar dirinya disebut oleh Sean sebagai mulut petasan.


"Kenapa kau yang disini?, mana suaminya?, jangan bilang kamu sekarang jadi pebinor di sini" ucap Sean yang heran tak melihat batang hidung Bagas yang selalu mengekor pada Anjeli.


"Ya, tunggu saja ketika Anjeli sembuh aku akan mengajaknya ke pelaminan," ucap Rama dengan sangat yakin.


"Hey....wake up bro' di dunia ini masih banyak gadis lain, dengan posisimu sekarang sepuluh gadis bisa kamu nikahi, jangan jadi pebinor. Yang duduk di samping mu juga masih gadis dan masih belum ada yang punya"


Sambil mengarahkan pandangannya kearah dokter Farah.


"eits....kenapa bawa-bawa aku dalam perdebatan kalian, lagian dalam situasi begini masih punya waktu berdebat, dasar pria aneh pantas gak ada gadis yang betah," cetus Farah pada kedua pria dihadapannya.


"Baru aja tunangan sombongnya udah selangit, cepat sana lakukan tindakan operasi pada Anjeli." balas Rama.


"Kamu yah, kayaknya setelah operasi selesai aku perlu memeriksa otak mu juga," ucap Sean yang semakin jengkel diperintah oleh Rama.


Farah hanya bisa tertawa di belakang mereka dan berjalan cepat melalui dua pria yang tak pernah habis berdebat ditengah kondisi Anjeli yang semakin gawat.


Operasi Anjeli sedang berlangsung,


Rama terlihat mondar mandir di depan ruangan operasi, sedang Bagas yang seharusnya berada di posisi Rama sekarang sama sekali tak menyadari jika istrinya sedang berjuang di meja operasi.


Pembedahan pada bagian otak bukanlah operasi yang mudah, membutuhkan waktu yang cukup lama pada prosesnya.


"Lama sekali, apa Anjeli baik-baik saja di dalam, semoga pria tua itu berhasil menyelamatkan dia"


Setelah lama menunggu akhirnya dokter Farah keluar dari ruang operasi dan Rama langsung melangkah kearahnya.


"Gimana, apa ada masalah?" tanya Rama yang sudah tak sabar ingin melihat keadaan Anjeli.


"Alhamdulillah operasinya berhasil, Mas!"jawab dokter Farah.


"Mana si pria tua itu, kenapa belum keluar?."


dokter Farah tak menanggapinya, ia malas berdebat dengan mereka.


"Pria tua katamu. Kamu dan aku hanya beda dua tahun, berhenti menyebutku dengan sebutan pria tua."


"Emang sudah tua rambut mu saja udah beruban."


Rama yang mengolok Sean dengan rambut beruban karena memang rambut Sean terlihat pirang karena ia keturunan blasteran dan fisiknya mengikuti genetik daddy nya.


"Rama....!, masih mending aku pria tua dari pada kamu pebinor (perbuat bini orang)."


"Mas, sudah. Semua memperhatikan kalian dan didalam kondisi Anjeli belum stabil, tolong perhatikan sikap kalian"


"Ya, nyonya Rama"


Sean yang jengkel asal ceplos dengan Farah, sementara Rama mengerutkan kening mendengar julukan Sean pada dokter Farah.


"Tuh kan, kalian cocok. Di coba aja mas bro, dari pada jadi pebinor."


Dokter pasien sudah sadarkan diri tapi dia terdengar menyebut nama Siera.


"Kasian Anjeli, Bagas memang keterlaluan," guman Sean yang sebenarnya masih punya perasaan terpendam pada Anjeli.