
"Selamat pagi putri kecil," sapa suster yang mengantar Anjeli.
"A_.....Ayah. ibu, sudah datang.
Wahhhh....ada adek bayi juga.
Siera....senang....Horeeeeee ......!"
Anjeli yang belum bisa bergerak leluasa, hanya mampu menatap Siera dengan senyum bercampur haru.
Bagas bergegas membopong tubuh istrinya, dan memindahkan ke kasur pasien.
Anjeli tampak meringis saat Bagas memindahkan tubuhnya.
"Maaf sayang."
Setelah membaringkan sang istri, Bagas lalu mengambil pakaian ganti untuknya.
"Mas, gak usah. Rumah sakit sudah menyediakan pakaian khusus untuk pasien, dan biar perawat yang membantu, kamu baiknya istirahat dulu, entar aku yang sembuh, malah kamunya lagi yang dirawat."
"Kalau gitu aku lihat pangeran kecil kita dulu."
"Mas, istirahat."
"Ya, sayang. Bentar doang kok'."
"Apa ia gak lelah, semalaman gak tidur." Gumannya, melihat suaminya yang tak lelah sama sekali.
"Ayah, liat dedeknya lucu. mulutnya monyong-monyong gitu." ucap Siera yang terlihat sangat gemas pada adiknya.
"Mungkin dia lapar sayang." Alma langsung menggendongnya dan memberikan pada Anjeli.
"Sini sayang. Neneng sama ibu." Anjeli tersenyum dan langsung mencium kening putranya.
"Lapar ya, lama nungguin ibu. Maafin Ibu ya, Nak."
Karena pengalaman Anjeli sebelumnya saat melahirkan Siera, kini ia sudah mahir mengurus anak ke duanya.
Karena tempat tidur hanya ada dua bad saja, Bagas lebih memilih naik tidur di tempat Anjeli.
"Mas..."
tegur Anjeli.
"Tempat tidurnya luas kok' kita masih muat bertiga."
"Terus Siera dimana?" cetus siera, dengan memperlihatkan sikap cemburunya.
"Nak, kamu sama Aunty Alma dulu ya.!" ucap Alma menghibur Siera.
"Iya Aunty."
Degan wajah cemberutnya dia langsung naik ketempat tidur yang memang disiapkan khusus penjaga pasien.
"Sayang, sekarang kan udah ada dedek bayi, jadi kamu harus belajar berbagi dengannya."
Siera tak menjawab. Ia hanya terdiam, dan mulai memejamkan mata, dan akhirnya tertidur pulas.
Tak terasa hari sudah sore, akhirnya mereka bisa tertidur pulas menggantikan istirahat yang terabaikan sepanjang malam.
"Mas, bangunlah. kamu harus pergi membelikan kami makan malam, makanan di sini aneh rasanya, lidah ku gak cocok."
"Hm...."
Bagas membuka mata dan bangun dari tempat tidur. Melihat Anjeli dan putranya, Bagas malah terdiam dengan pandangan menatap wajah putranya.
"Ia sungguh mirip dengan mu, tapi aku harap ia tak mengambil sisi buruk mu, dengan tempramen yang buruk."
Bagas mengerutkan kening, dan hendak mencumbu Anjeli.
"Mas, stop. Aku barusan habis melahirkan, tahan nafsu mu. Sifat kamu yang satu ini, sangat mengerikan."
"Hahaha" Melihat tingkah Anjeli Bagas malah menertawakannya.
"Udah, sana. Klo gak mau pergi sendiri, ajak Siera saja. Kasian tuh, tadi kayaknya, ada yang cemburu."
"Ayah....!, Siera ikut"
Tanpa mereka sadari ternyata Siera sudah bangun dan mendengarkan perkataan Ibunya.
"Kamu bisa, mandiin dia?"
"Semenjak kamu pergi aku terus belajar menjadi mandiri. Hingga aku terbiasa. Tak enak rasanya membiarkan ibu mengurus Siera sepanjang hari."
"Maaf" lirih Anjeli padanya.
Jika diperhatikan memang mas Bagas agak kurusan dan terlihat tak merawat diri seperti ketika mereka masih bersama dulu, tapi mas aku belum bisa kembali ke pangkuan mu sekarang. Aku harus benar-benar punya pondasi yang kuat untuk menjadi istri mu lagi, agar tak ada seorang pun yang dengan mudah merendahkan diri ku.
Mas kamu harus bersabar sedikit, setelah aku pulih, aku berencana membuka cabang butik aku dan Alma di di indonesia, dan biar Alma yang menangani semuanya di sini.
Anjeli memang harus memikirkan matang-matang semuanya agar ia dapat menjadi istri yang kuat dan tangguh, tak seperti dulu saat mertuanya menghinanya terang-terangan di depan mas Bagas.
"Mikir apa sih?, jangan suka mikir yang aneh-aneh dan jangan pernah berharap aku akan menceraikan mu, setelah sembuh, kamu harus bersiap untuk melahirkan anak ketiga kita." Sebenarnya itu hanya candaan Bagas saja karena Bagas sudah menanda tangani persetujuan untuk melakukan vasektomi.
"Hah...tau begitu, aku lebih memilih tak bangun lagi, waktu aku tak sadarkan diri."
"Husst....jangan suka sembarang ngomong..!" omongan Anjeli membuat Bagas sedikit tak nyaman. Bagas sadar betul kehilangan orang yang disayangi itu sangat menyakitkan.
"Siera, mau ikut ngak?"
"Ikut Ayah, tungguin Siera."
"Wah...cantik, anak Ayah sangat mirip ibu Anjeli.."
"Kasi liat Ibu donk..!, perasaan Ibu juga belum dapat pelukan, rindu tau. Tapi putri Ibu tak peduli lagi."
Bagas langsung menaikkan Siera ke atas ranjang Anjeli. Siera langsung memeluk dan mencium seluruh wajah Ibunya, sehingga Anjeli merasa geli karenanya.
"Kamu ini, mirip Ayah suka semangat 45 kalau disuruh nyium."
"Ayah, Ibu bilang mau dicium sama Ayah sebelum pergi."
"Heh .... Ibu gak bilang gitu..!"
Bagas langsung mendekat, dan sengaja memonyongkan bibir kearah istrinya.
"Mas, ngajarin apa sih sama Siera, mau besok kelakuannya kayak gitu."
Sambil menekan bibir monyong suaminya.
Alma yang sedang menggendong si kecil, hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah keluarga kecil itu, yang tak pernah terfikir olehnya, jika mereka akan bersatu kembali.
"Ayah, ayok. Siera udah lapar"
"Alang, kamu ikut. Jaga-jaga jika tuan putri belanja banyak, aku tak sanggup jadi tukang angkat barang sendiri."
"Baik. Tuan"
Ternyata dia memang sudah sangat berubah dan terlihat jika ia dibawah kendali putrinya sekarang.
"Kenapa? kok melamun?"
"Dia sudah sangat berubah Alma, dulu mana mau dia mengangkat belanjaan milik ku, selalu Alang jadi korbannya."
"Hahaha...namanya juga, Bos."
"Tapi sekarang, dia lucu. Seorang Bos dibawah kendali seorang putri kecilnya, belum lagi kalo yang kamu gendong itu, berulah. Aku tak yakin jika dia sanggup."
"Hahaha....kayaknya dia kena karma, abis pernah buat kamu sakit hati."
"Mungkin aku perlu mengujinya lagi, aku belum bisa percaya dengannya."
"Tapi, aku percaya dengan Mas Bagas, Anjeli. Aku lihat dia sangat sayang padamu"
"Tapi, dia harus tau batasan antara Ibu dan istri, sebab musabab kami berpisah karena perkataan ibunya."
"Ya, kalau itu. Aku juga setuju."
Alma tiba-tiba fokus dengan pengeran kecil di gendongannya, sepertinya ia merasakan ada yang membasi bagian perutnya, " eh...sepertinya aku kena ngompol."
"Hahaha....itu tandanya kamu akan segera dapat pasangan. Aku aja udah sepasang. Kamu pasangan saja belum ada."
"Topik pembahasan ibu mu ini sedikit membuat aku tersinggung, sayang."
Dia mulai mengalihkan lagi, jelas-jelas pemuda yang kemarin itu orangnya sangat baik, tapi kok kayaknya aku familiar dengan orangnya, "huft....sayang sekali aku hanya melihatnya dari jauh, andaikan bisa pake teropong aku pasti bisa melihatnya dengan jelas."
Anjeli masih penasaran dengan pemuda yang menemui Alma, tapi sayangnya Alma agak introvert dengan dirinya, ia belum terlihat ingin menceritakan semua rencana masa depan padanya.