
Keesokan harinya.
Anjeli terlihat sangat sibuk, mulai dari jam 5 teng, hingga menjelang jam 6 lewat 15 menit Anjeli pun dan anak-anak sudah siap dan tinggal berangkat, Alma dan Sean yang belum puas tidur terpaksa harus memaksakan diri bangun sepagi itu untuk mengantar mereka ke bandara.
Alma yang sebelumnya terlihat santai, namun setelah di bandara, ia malah membuat drama sedih ditinggal pergi sahabat dan dua ponakan kecilnya.
"Jangan lebai deh...!, kami gak pergi lama, nanti juga pulang," ucap Anjeli menenangkan sahabatnya itu.
Saatnya mereka berpisah dan Anjeli beserta ke dua buah hatinya, memasuki ruang tunggu dan siap-siap menunggu giliran mereka.
Tak selang waktu lama, pemberitahuan keberangkatan dengan nomor pesawat yang mereka tumpangi pun diumumkan dan semua penumpang di persilahkan naik.
Sementara diluar Sean dan Alma masih setia menunggu hingga pesawat yang Anjeli tumpangi lepas landas dan terbang membawa sahabat dan keponakan kecilnya menuju kota yang terkenal dengan menara Eiffel.
"Dia sudah pergi lagi, kali ini akan kah ia pergi dalam waktu lama, sayang," tanya Alma
"Entahlah aku tak tahu, tapi semoga ya, ia ingat untuk kembali."
"Iya, back to home, yuk...!, ucap Sean mengajak istrinya pulang.
Anjeli dan kedua buah hatinya kini terbang menuju kota Paris, kota yang pernah menjadi impiannya dahulu dan kini sudah bisa melangkahkan kaki di kota tersebut. Kota yang terkenal dengan menara yang sangat indah dan merupakan destinasi wisata impian pasangan muda-mudi.
Sebelum berangkat menuju kota Paris Anjeli sudah menghubungi Kakak sepupunya yang sudah lama tinggal dan menetap di kota Paris tersebut.
Entah sudah berapa tahun lamanya kak Diman kakak sepupu Anjeli tinggal di kota Paris tersebut, entah ada apa dengan Kota Paris?, hingga Kakak sepupu sangat betah dengan kota tersebut dan seakan melupakan tanah air tercinta.
Semoga aku juga tak seperti dengan Kak dirimu kak, jatuh cinta dengan keindahan kota Paris dan jadi lupa kembali ke negara tercinta.
Sebenarnya yang dia sangat khawatirkan, jika perjalanan mereka nanti Amar akan rewel selama dalam perjalanan.
Namun, nyatanya setelah dalam perjalanan Amar sangat nyaman dan tak rewel sama sekali, dia memang anak yang cerdas dan cepat paham keadaan.
Tak lama berselang di pesawat, akhirnya mereka pun mendarat, Anjeli sangat bahagia karena ini pertama kalinya dalam hidupnya yang menginjak kota impiannya sejak kecil.
Kak Diman yang sudah menunggu semakin tak sabar, sudah lama mereka tak bertemu.
Angeli melangkahkan kaki keluar dari bandara tersebut ke arah ruang tunggu dimana Kakak sepupunya sudah lama menunggu dirinya dan kedua buah hatinya.
Kakak, di mana ya?, ucapnya bertanya-tanya dalam hatinya, Ia pun menolehkan ke arah kanan dan ke kiri mencari kak Diman yang sudah lama tak pernah bertemu tatap muka dan entah seperti apa wujudnya sekarang.
Hampir sekitar 10 menit mencari, akhirnya ia mendengarkan suara sangat persis dengan suara kakak sepupunya itu, suara yang sangat familiar, ia pun berjalan dan menemui sumber suara itu, baru beberapa langkah, sosok yang tadinya membelakangi dirinya, menoleh ke arah Anjeli dan mereka pun saling menatap hingga akhirnya berpelukan satu sama lain melepas rindu.
Namun, ada sesuatu hal yang membuat yang Anjeli tak nyaman, ternyata dirinya bukan lagi fokus utama kakak sepupunya, melainkan fokusnya kini pada kedua keponakan lucu yang imut dihadapannya, ia pun mengabaikan Anjeli dan langsung memeluk kedua keponakannya.
"Aku sudah bosan dengan kamu, mereka lebih lucu dan imut, sebaiknya kita segera ke rumah sekarang, supaya kalian bisa segera istirahat."
"Perjalanan Kalian pasti sangat melelahkan," lanjut kak Diman.
Selama perjalanan menuju ke rumah, Anjeli sangat senang melihat pemandangan kota Paris, pemandangan kota yang sangat menyejukkan mata menentramkan hati yang sedang galau dan suasana kota yang sangat hangat mengalihkan perasaan yang sebelum mengiris pilu hatinya.Ya, benar saja pemandangan yang disuguhkan oleh kota Paris memberikan mood booster tersendiri untuk hati yang sudah lama tak merasakan damai dan bahagia. Ia pun sangat senang dengan suasana seperti ini, yah "semoga saja aku bisa menyembuhkan hati ini dari luka yang selama ini aku rasakan, selama aku berada di kota Paris ini dan semoga aku bisa menata hati ini jauh lebih baik untuk menyongsong masa depan selanjutnya," guman Anjeli dengan harapan ia jauh lebih baik.
"Angeli apa suami tak nyusul ke sini?" tanya kak Diman yang langsung mengalihkan pandangan Anjeli.
"Wajah kamu kenapa di tekuk seperti itu?, apa hubungan kalian lagi bermasalah, makanya kamu kesini dan ingin tinggal bersama ku sementara waktu?"
"Ya. Aku yakin dia pasti sudah menghubungi kakak."
"Kamu tau sendiri suami mu seperti apa. Dia arogan dan egois, tapi yang aku suka darinya karena ketika ia mencintai seseorang maka ia akan setia, meski sulit karena pesona kami terhadap para gadis terlalu silau, jadi wajar jika kami terkadang sulit menghindari hal semacamnya."
"Apa ia menyogok kakak?, atau ia menjanjikan sesuatu?" tanya Anjeli penuh kecurigaan.
"Hahaha....wanita memang jika sudah menikah semakin menyerupai detektif, bahkan lebih profesional."
"Kak, aku serius," lanjut Anjeli dengan nada kesal.
"Ya, dia menghubungi ku sebelumnya," jawab Diman jujur pada adik sepupu unlimited edition baginya.
"Pasti ia curhat ini dan itu, pantas saja kakak dapat bocoran tentang keadaan ku."
"Yakinlah sama suami mu, karena keputusan dadakan kamu ini, ia terpaksa menerima proyek besar di Paris, padahal kamu tau dia sangat jarang turun tangan langsung, semua di handle oleh asisten cerdasnya itu," jawab Diman langsung terbuka dengan Anjeli.
"Jadi, ia juga akan pindah kesini?," tanya Anjeli semakin penasaran.
"Ya, donk...!, aku malah senang kalian tinggal di sini, akhirnya aku bisa berkumpul dengan kalian lagi."
"Huh...percuma jauh-jauh ke Paris jika ujung-ujungnya, ketemu juga. Bikin malas aja....!," cetus Anjeli.
"Dan ia sudah membelikan apartemen di sini buat kalian. Sekarang malah saya yang numpang sama kalian, tapi liciknya suami mu itu, ia malah tak membiarkan ku tinggal bersama kalian, ia malah membeli dua petak dan membiarkan ku tinggal sendiri. Pelit...!"
"Hah...?, Aku cuman sementara disini, apa ia punya segudang uang hingga bisa boros seperti itu...?"
"Mas Bagas, awas kau...!" ancam Anjeli.
"Sudah sampai....!"
"Siera....Amar....bangun, Nak...!, sudah sampai rumah," ucap Anjeli membangunkan kedua buah hatinya yang telah terlelap selama perjalanan.
"Traaaaa.....selamat datang di kota Paris....sayang ku!, istri tercinta ku....!" ucap Bagas memberi kejutan khusus buat istri dan anaknya.
"Ayah....!" Siera dan Amar langsung memeluk Ayahnya dengan wajah riang gembira.
"Kak Diman.....!, teriak Anjeli semakin kesal. "jadi ia sudah di sini dan kakak bercerita seakan ia jauh di luar angkasa."
"Maaf .....! aku hanya ikut arahan sutradara. Siera dibantu oleh Sean dan Alma.
"Hehehe....Maaf kan kami, ibu!....pis......!" ucap mereka bersamaan dengan menunjukan dua jari pada Anjeli.
Anjeli pun kesal dan masuk ke apartemen dengan suasana hati yang semakin kesal, ingin rasanya ia mencabik-cabik wajah suaminya.
...----------------...