SIERA

SIERA
54.



Anjeli menatap suaminya yang sedang frustasi akibat ulahnya. Berjalan kearah dirinya dan duduk menyandarkan diri pada tembok yang sama, duduk berdampingan, dengan tatapan sama, menatap sebuah kursi yang menjadi sasaran amukan Bagas. " Aku memang sengaja melakukan ini semua, kamu lihat kursi itu, sama dengan diri ku dahulu, tapi aku tak rapuh dan masih kokoh hingga saat ini."


Bagas kini menarik pandangan dari kursi tersebut, mata sayupnya kini tertunduk terarah pada lantai marmer yang memantulkan cahaya lampu tepat diatasnya, menarik napas dalam hingga terucap satu kata mewakili hati terdalam pada seorang wanita yang sungguh sangat ia cintai.


"Maaf " ucapnya lirih.


"Aku sangat menyesali semuanya, berapa pentingnya dirimu dalam hidup ku," lanjutnya setengah berbisik namun masih terdengar jelas menembus indra pendengaran Anjeli.


Anjeli Terdiam, mencerna makna dari setiap kata yang terucap, hati Anjeli seketika bergetar mendengar sebuah pengakuan jujur dari suaminya.


"Seorang Bagas Wirawan jatuh cinta dengan istrinya, setelah melakukan hal yang begitu buruk padanya, rasanya tak masuk akal," lirih Anjeli dengan tatapan masih tertuju pada sebuah kursi yang masih tergeletak dihadapannya.


"Sejak kau pergi, aku sudah menjadi gila, sangat tergila-gila merindukan dirimu, hingga rasa rindu itu berubah menjadi benci, meskipun benci tapi rasa itu tetap abadi di hati, hingga bertemu kembali dan melihat mu bersama dengan Rama, hati ini semakin hancur, sehancur hancurnya, hingga trauma itu masih aku rasakan melihat dirimu berada di ujung tatapan pria lain."


Anjeli kembali terdiam, Indra penglihatan miliknya yang selalu mengarah tajam pada pria disampingnya, kini tak bereaksi apapun dan tertutup oleh kelopak mata indah miliknya, ada sebuah rasa yang selama ini ia pendam tak sanggup ia ungkapkan, dalam diam akhirnya terdengar lirih, namun menyimpan makna terdalam untuk seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya.


"Aku juga sangat merindukan mu, betapa banyak rayuan yang aku dapatkan dari Rama, tapi tak pernah membuat hati ini tergerak untuk memberinya sedikit ruang."


Bagas mengangkat wajah sendu, menatap sosok makhluk cantik bak bidadari di sampingnya, namun kali ini bukan beradu tatap karena anjeli memilih menutup netra miliknya, sedang kata demi kata terucap dari bibir mungilnya mengungkap rasa terdalam yang ia pendam.


Setelah mengungkap rasa terpendam dalam hati, giliran bulir air mata mulai keluar melalui netra indah sebagai pelengkap luapan emosi yang tak terbendung membasahi pipi mulusnya.


Tak sanggup menyaksikan, Bagas langsung menarik tubuh istrinya menenggelamkan dirinya dalam pelukan hangat di dada bidangnya.


Sebuah kata maaf terucap kembali, membuat netra itu semakin menumpahkan air mata dan kini membanjiri pipinya.


"Mari memulai semuanya dari awal, berikan sebuah keluarga yang bahagia untuk buah hati kita. Ayo' kita kembali jika kau tak ingin kembali ke rumah itu lagi, aku sudah membangun sebuah hunian yang lebih indah, kita akan pindah dan memulai semuanya dengan indah."


"Anjeli" lanjut Bagas memanggil nama istrinya.


"Sebenarnya ada hal yang harus aku lakukan_"


"Apa ?" tanya Bagas tak sabar dengan lanjutan dialog Anjeli yang terhenti.


"Melanjutkan studi."


"Jika aku mendatangkan mentor terbaik, apa itu akan memenuhi keinginan mu?"


"Mas"


"Sst, aku menginginkan mu malam ini, apa itu boleh ?"


Anjeli tak menjawab ia hanya memberi tatapan hangat pada pria yang telah mewarnai hidupnya, memberi seribu satu macam rasa, dan meluluhlantahkan hati dan menjadikan dirinya mengerti apa makna dari sebuah kata cinta.


Mendapat sambutan hangat, Bagas tak menyiakan dengan segera ia memberi kecupan hangat di bibir lembut istrinya, dari kecupan meningkat menjadi cumbu yang semakin hangat dan membangkitkan gairah.


"Hmmm....apa kita akan melakukan di lantai?, itu pasti akan membekukan hati ku kembali."


Bagas melanjutkan adegan panas mereka, melakukan dengan lembut hingga Anjeli terbuai dalam permainan panas suaminya, malam yang indah, susana hening menjadi saksi pertautan dua insan manusia yang saling mencintai.


Gairah berganti lelah...mereka pun tertidur pulas saling memeluk satu sama lain, memberi kehangatan atas nama cinta.


Sebuah kecupan selamat malam tak lupa ia berikan pada wanita yang kini telah melengkapi kehidupannya dan merupakan tujuan utama hidupnya.


****


"Paman Diman, ibu dan ayah tak pulang ?" tanya Siera sedikit mengkhawatirkan kedua orang tuanya yang tak pernah ada akurnya.


"Entahlah....!, aku juga tak bisa menghubungi mereka," jawabnya sambil membelai rambut indah milik Siera yang selalu tergerai indah sebahu.


"Tidurlah, paman yakin besok pagi mereka akan segera pulang."


"Hmmm .... ibu dan ayah mulai curang sekarang...!" guman Siera dan meninggalkan pamannya di ruang tamu menuju kamar.


Siera merebahkan tubuh mungilnya diatas kasur dan mulai menutup mata dan dalam sekejap iapun tertidur kembali.


Diman masih berusaha menghubungi kontak kedua pasangan yang semakin hari membuat kepalanya pusing, "ijinnya hanya memenuhi undangan, masa sampai sekarang belum pulang juga, emang benar pasangan serasi, sama-sama tak punya tanggung jawab, apa mereka juga akan menitipkan sembarang keponakan ku kelak?, awas sampai nanti terjadi, aku pastikan akan memberi mereka pelajaran," guman Diman penuh amarah dan sekaligus khawatir pada mereka.


Lelah menanti hingga jam dinding menunjukkan pukul 12 malam, Diman menghentikan pekerjaannya dan melangkah menuju kamar keponakannya memastikan jika mereka telah terlelap. Kedua malaikat kecil yang lucu membuat Diman teringat pada gadis yang telah membuatnya jomblo hingga sekarang, " andai Sean tak mengacaukan semuanya, aku dan Alma mungkin sudah memiliki buah hati yang selucu mereka, tapi sekarang semua sudah terlambat, dia kini hampir memiliki baby, namun Sean lah yang menjadi pemenang hatinya," gumanya sesaat menatap kedua bocah yang terlelap dalam mimpi indah mereka.


Diman mengakhiri penantiannya pada kedua pasang tom and Jerry, menuju kamarnya dan mulai merebahkan tubuhnya berharap esok hari ia mendapatkan kabar dari adiknya.


Pagi menjelang Diman yang biasanya bangun kesiangan harus memaksakan diri membuka kelopak matanya dan menyambut sinar matahari pagi, " Siera apa yang kamu lakukan, Nak?" tanya Diman padanya dengan suara berat melihat Siera membuka gorden kamar pamannya.


Matanya kembali menutup dan terlelap dalam mimpi, " Paman....!, bangun adik lapar." ucap Siera dengan nada sedikit meninggi.


"Mereka belum pulang?" tanya Diman sementara matanya masih tertutup enggan membuka.


"Cih....apa mereka lupa jika sudah punya ekor sekarang?" cetusnya dan langsung melompat dari ranjang miliknya dengan di sertai omelan yang tertuju pada orang tua Siera.


"Paman maaf, kami merepotkan," ucap Siera yang masih menggandeng adiknya melangkah dibelakang pamannya.


Langkah Diman terhenti dan tubuhnya langsung berbalik menatap Siera, ia merasa salah dengan ucapannya, "Siapa yang bilang paman repot?"


"Barusan paman mengomel_?"


bantah Siera dengan ucapan terpenggal mendengar seseorang mengucapkan selamat pagi.


"Akhirnya mereka ingat pulang juga...!" cetus Diman tak peduli dengan mereka.


...----------------...