
Hari ini ada hari tersibuk yang pernah Anjeli rasakan, pagi hari ia harus berangkat dadakan menuju Malaysia, tiba di tempat tujuan Anjeli kembali di sibukkan dengan persiapan operasi sahabatnya, meski Sean adalah seorang dokter, namun karena rasa gugup yang mendera dirinya belum lagi kekhawatiran terhadap Alma membuat pria dengan rambut abu-abu itu terlihat kacau, ia tak atau apa yang harus ia lakukan membuat Anjeli dan Bagas yang mengambil peran penuh dirinya.
"Ckkk....apa yang kau lakukan?, puluhan tahun menjadi dokter saat dibutuhkan kau menjadi sebodoh ini," cetus Bagas sambil duduk disamping Sean yang hanya melongo di kursi tunggu depan ruang operasi.
"Jangan mengatai diri ku, kau pun juga sama. Puluhan tahun menjadi pengusaha bersosialisasi hingga mancanegara, namun masih terjebak pada Mak Lampir tengik itu, menjadikan Anjeli menderita hingga kini."
"Apa hubungannya Mak Lampir dengan keadaanmu sekarang, yang benar saja?"
"Ya ada lah...!, kau mengatai profesiku, jadi aku juga membalas mu dengan hal yang sama pula."
"Dokter otak tapi otak mu sekarang korslet, sebaiknya kau periksakan segera sebelum terlambat dan menular ke anakmu."
"Hahaha...."
Sean hanya menertawakan obrolan konyol mereka, " Aku panik Bagas, aku baru kali ini berada di posisi ini, orang yang terpikir pertama kali aku hubungi adalah kalian, kau tau sendiri keluargaku jauh."
"Akhirnya kau merasakan apa yang pernah aku rasakan dulu, kau pun juga tak segan mengatakan seperti itu padaku, aku bahkan terlihat lebih bodoh dari mu dulu," ucap Bagas mengingat perjuangan Anjeli saat melahirkan putranya.
"Ya, Anjeli wanita yang hebat Bagas, kau beruntung bersamanya, jadi mulai sekarang kau jangan pernah sekali-kali menyakitinya."
"Kau ini, asal kau tau kehidupanku di di Paris sangat miris."
"Aku tak percaya...!, memang siapa yang berani menindas mu, seorang Bagas mengatakan hidupnya miris, aku sangat prihatin untuk itu sobat...!" ucap Sean dengan meledek Bagas yang terlihat serius dengan ucapannya.
"Huft....Diman lebih baik dari mu diajak curhat."
"Hahahaha......Apa kau masih normal?, Aku siap memeriksa mu sekarang," ujar Sean semakin meledek Bagas.
"Ckk...dokter apaan yang hanya duduk melongo melihat istrinya berjuang."
Sean yang penasaran dengan isi otak Bagas yang sebenarnya kini terlihat memperhatikan dirinya dari atas hingga ke bawah, membuat Bagas kehilangan kendali dan menjitak jidat Sean sekeras mungkin. Semua orang yang berada di ruang tunggu yang memperhatikan mereka menjadi tertawa terbahak melihat tingkah kekanakan mereka, tak terima dengan sikap Bagas yang menyentilnya tepat di jidatnya Sean meluncurkan balasan kilat dengan sentilan balik pada Bagas.
"Sean..." bentak Bagas padanya.
Sean hanya menertawakan kelakuan mereka, sementara orang - orang disekitar mereka yang menyaksikan hanya tersenyum melihat tingkah lucu mereka yang sangat kekanakan sedang Bagas masih melototi dirinya, namun Sean acuh saja dengan tatapan tajam mengarah padanya.
"Apa kalian akan terus seperti ini?" ujar Anjeli dengan kelakuan kedua pria dihadapannya, mereka sontak melirik ke arah sumber suara dan mengarahkan pandangan keatas karena posisi Anjeli yang masih berdiri tegak dihadapan mereka.
"Hah....pawang Lo datang," ucap Sean dan kini mengarahkan pandangan ke ruang operasi dan sudah tampak para suster yang sibuk dengan seorang pasien yang baru saja selesai di operasi, dan sekarang akan di bawa menuju ruang perawatan selanjutnya, " bukan kah itu Alma istri ku," ucap Sean dengan riang langsung berlari ke arah pintu ruang operasi.
"Maaf pak, mohon sabar dulu. Pasien masih butuh istirahat dan pemantauan penuh selama dua jam kedepan, mohon bersabar jika bapak ingin berbicara padanya," ujar perawat yang bertugas memberi penjelasan pada Sean, Bagas, dan Anjeli.
"Oke, kami akan tunggu di luar saja," ujar Anjeli.
Sean kembali duduk di sebuah kursi tunggu tempat mereka duduk sebelumnya, entah sampai kapan ia mampu menahan dirinya menunggu Alma, sedang dirinya sangat ingin melihat dengan jelas keberadaan istrinya.
"Tampaknya kau telah benar-benar jatuh cinta padanya, Syukurlah setidaknya pengagum istri ku kini berkurang satu orang," ucap Bagas yang duduk kembali di samping Sean, sementara Anjeli memilih kembali di ruang perawatan Alma bersama Amar putra bungsunya.
Dalam keheningan ruangan perawatan, gadjet Anjeli tiba-tiba berdering dan ia segera meraih benda pipih itu dan melihat siapa gerangan yang menghubungi dirinya, tak disangka nama Diman terpajang dalam layar benda pipih miliknya, dengan segera ia langsung mengangkat panggilan tersebut.
"Ya, kak"
"Akhirnya khawatir juga sama mantan."
"Jangan mengalihkan pembicaraan," tegas Diman pada Anjeli.
"Ya, maaf. Alma sudah selesai SC dan sekarang dalam perawatan lanjutan, putranya masih di ruang bayi masih dalam pemantauan berkala oleh dokter anak."
"Alhamdulillah, baik kalau begitu, aku tutup dulu, jaga dirimu baik-baik."
"Ya, kak."
Tak lama berselang, benda pipih itu berdering kembali dan kini giliran nama Rama yang nongol di layar gadget miliknya, tanpa Anjeli ketahui jika Sean dan Bagas sudah berada dalam ruangan tersebut, "Halo...apa kau tak punya kontak ku sampai harus menghubungi bini orang lain?" ucap Sean yang langsung merampas benda pipih milik Anjeli tanpa memberikan Anjeli kesempatan sekedar say hallo dan menanyakan keadaan pria yang pernah bersamanya selama setahun saat dirinya menderita tumor.
"Kalian jangan seperti itu, walau bagaimana pun dia pernah berjasa pada ku," ucap Anjeli tak senang dengan sikap kekanakan mereka.
"Biar aku yang hubungi balik," ucap Bagas.
"Hay....gimana kabar kamu?"
ucap Bagas masih dengan tutur kata sopan pada Rama.
"Jangan sok sopan, udah main sabotase panggilan ku ke Anjeli." balas Rama disebrang telpon.
"Kau ini, cepat sekali tersinggung. Itu inisiatif Sean sendiri aku gak terlibat dengannya."
"Apa Alang sudah menghubungimu jika, ibu mu sedang gawat di RS sekarang...?"
"tidak, belum. Jadi kau sekarang ada di RS?"
"Ya, aku dan istri ku sedang di RS sekarang. Apa Alma sudah SC?, gimana keadaannya sekarang?," tanya Sean.
"Alhamdulillah, sudah dan sekarang masih dalam perawatan lanjutan."
"Oky, kau tak usah khawatir, kami disini membantu mengurus ibu mu, kau temani si pria tua itu dulu, jika Alma sudah baekan kalian segera kembali ke indo secepatnya."
"Ya, aku sangat berterimakasih dengan bantuan kalian."
"Ya, kau tak perlu sungkan, dia sudah seperti ibu ku. Biar kami yang menjaganya."
"Oky, aku tutup dulu. kabari kami jika udah terbang ke indo, biar aku menjemput kalian karena asisten setia kamu masih sibuk."
"Ya, sampaikan salam ku padanya, aku sudah mendengar keluhannya dari istri ku."
Bagas pun menutup sambungan telpon miliknya dengan wajah cemas. Anjeli yang mendengar obrolan mereka sudah menebak jika yang mereka bicarakan adalah tentang mertuanya yang sudah sakit memang sejak masalah mereka di indo.
"Apa ibu gawat, mas?, apa sebaiknya aku pulang duluan saja?," ucap Anjeli langsung panik.
...----------------...