
Anjeli yang masih kesal dengan Bagas, terlihat mendiamkan suami sudah dua hari lamanya mereka bersama, namun Anjeli masih acuh pada Bagas.
Dengan perselisihan mereka Bagas memilih mengungsi dan tidur dengan kedua buah hatinya, tapi malam itu...Bagas sedang apesnya....ia terlambat masuk dan mengamankan diri di kamar Siera dan Amar, maklum saja kemarin malam Siera kecolongan dan membiarkan Ayahnya tidur bersamanya, alhasil sikap diam kedua orang tuanya berlanjut hingga malam kembali menjelang.
Bagas memang tak ada jadwal rapat di luar, ia hanya sibuk di apartemen sebelah yang ditempat oleh Diman, mereka sibuk dengan cabang perhotelan yang baru saja Bagas buka di kota Paris dan di kelola oleh Diman, meski dengan terpaksa, semua demi kebahagiaan adik sepupu semata wayang.
"Pulanglah, dan berbaikan dengannya. Aku malas bekerja sama dengan bos down sepertimu. Bikin mood buruk saja," cetus Diman pada iparnya.
"Enak aja, ini juga rumah ku, terserah aku mau tinggal dimana?," jawab Bagas yang masih khawatir dengan amukan Anjeli, jika ia muncul dihadapan istrinya.
"Kau ini, semua orang takut padamu ketika berada di kantor, tapi menghadapi satu wanita , nyali ciut bagai kucing basah."
"Kau yang belum mengenalnya sekarang, dia itu beda dengan yang dulu, setelah Siera dan Amar lahir ia berubah menjadi monster," jawab Bagas dengan emosi pada Diman.
"Hahaha.....bukan dia yang berubah...!, kau yang pengecut," ledek Diman.
"Dasar lajang lapuk, beraninya ngatain pengecut," balas Bagas tak mau kalah.
"Jangan ungkit yang itu. Aku jadi kesal dengan Sean, bukannya menikah dengan dokter cantik di rumah sakit miliknya, ia malah merebut Alma dari ku. Kayak gak ada perempuan lain aja. Kenapa juga si Rama gak nikah dengan adik saya, kan dengan begitu Rama dengan Anjeli, terus Alma dengan aku, kemudian Sean dengan si dokter cantik itu," jawab Diman asal tanpa perduli perasaan Bagas.
"Kau...., jika istriku dengan Rama, aku dengan siapa?," tanya Bagas dengan nada meninggi pada Diman.
"Hahahaha ..... tentu dengan si Mak Lampir itu."
"Dunia baru adil.....!" lanjut Diman dengan semakin terbahak melihat ekspresi Bagas dengan mata melototi dirinya, namun Diman yang terkenal jahil semakin bahagia melihat tingkah Bagas.
Bagas yang kesal membanting berkas perusahaan dan balik ke apartemen sebelah memberanikan diri menemui Anjeli.
"Dasar tempramen buruk, tak berubah sama sekali, pantas saja adik kecil ku berubah menjadi monster, itu karena contoh buruk suaminya," guman Diman masih tersenyum melihat Bagas menghilang dibalik pintu apartemen yang masih bersebalahan.
Bagas mengetuk pintu kamar, Anjeli. Sepuluh menit berlalu tak ada jawaban apapun hingga Siera keluar kamar dan malah menertawakan ayahnya yang sudah duduk di depan pintu kamar.
"Hahahaha.....Ayah ngapain?"
"Ibu kamu masih ngambek, bantuin kek...!, bukan diketawain, gitu...!, pinta Bagas dengan mengemis belas kasihan pada Siera.
"Sssstttt...Siera punya kunci reserep, tapi ayah hanya bisa menyelinap jika ibu sudah tidur dan ingat jangan bikin gaduh malam-malam," bisik Siera dan kembali ke kamar bersama Amar.
Jam dinding baru menunjukkan angka jam 10 malam, tentu Anjeli mungkin masih terjaga, Bagas memutuskan menunggu hingga keadaan benar-benar sunyi.
"Pasti ia sudah terlelap, giliran ku masuk dan tidur di kamar." Bagas mengendap-endap masuk ke kamar mereka dan menutup pintu kamar dengan pelan.
Bagas membuka selimut dan berbaring pelan di samping istrinya yang lagi ngambek. Karena tak sanggup menahan gelora hasrat terpendam, Bagas kini mulai berulah, memeluk Anjeli diam-diam dan mencium kening istrinya, Anjeli yang merasakan kehadirannya akhirnya terbangun juga.
"Mas....kau...!" cetusnya pada suaminya.
"Hehehe....sedikit saja sayang, cuman peluk doank dan cium kening. Plis jangan marah lagi...!" ucap Bagas mengeluarkan bujuk rayunya pada sang istri.
"Keluar....!" bentak Anjeli dengan menunjukkan arah pintu kamar.
Bagas yang hendak membujuk kembali, sama sekali tak mendapat kesempatan kedua.
"Mas, aku masih marah. Aku masih muak dengan mu, jika kamu tak mau ke luar biar aku saja....!" tegas Anjeli dan hendak keluar dari kamar.
Bagas diam saja, ia tak menghentikan istrinya , kerena kunci kamar telah ia sembunyikan.
"Sial, orang ini semakin hari makin licik" guman Anjeli, "mana kuncinya...!" pinta Anjeli dengan emosi.
"Lakukan tugas kamu dulu, baru aku kasi...!" jawab Bagas dengan santai.
"Bagas Wirawan...! Aku tanya sekali lagi mana kuncinya...?" teriak Anjeli dengan emosi semakin ngelunjak.
Bagas tak peduli, ia malah memperbaiki posisi tidur dan mulai memasuki alam mimpi. Anjeli yang sudah kesal hingga ubun-ubun, mengambil bantal dan menghantamkannya ke tubuh suaminya, Bagas hanya membuka mata dan melirik Anjeli yang sudah berubah wujud menjadi monster baginya.
"Anjeli, tidurlah...!, aku sudah mengantuk...sini....biar aku peluk.....Nina bobo sekalian," bujuk Bagas semakin santai dan tak peduli amukan istrinya.
"Hah ....?," Anjeli terperangah dengan sikap santui suaminya.
Karena kesal akhirnya ia memilih merebahkan diri dan menata hati dan pikirannya dari emosi yang membludak.
"Sini....dekatan....!, aku sangat merindukan betina galak ku...." Bagas menarik tubuh Anjeli dan memeluknya dengan paksa, Anjeli tak lagi meronta, ia kini pasrah dan membiarkan.
"Jangan marah....! tidurlah...!" ucap Bagas dan suasana kembali sunyi dan tenang.
Siera dan Amar yang terbangun mendengar keributan yang dibuat orang tuanya....hanya saling memandang dan saling memberi kode, Amar memang masih mungil tapi sudah bisa diajak kompromi oleh Siera..." akhirnya perang antara ibu dan ayah kelar, yuk....lanjut bobo..!," ucap Siera pada adik kecilnya.
...****************...
Pagi menjelang .... Siera dan Amar terbangun lebih dahulu dari kedua pasangan yang sudah bertempur tengah malam, ibu dan ayah mereka.
"Kayaknya mereka masih tidur ....!" ucap Siera berdiri di depan pintu kamar ayah dan ibunya dengan menempelkan kuping mungilnya di pintu.
"Amar, Ayuk....! kita bangunin paman Diman aja," ajak Siera pada adiknya.
Mereka pun menuju apartemen sebelah...."paman....!" teriak Siera dari luar.
"Berisik....!, ets' tapi suaranya mirip ponakan ku."
Diman langsung bergegas dan membuka pintu, benar saja, bocah imut dan lucu sedang berdiri di depan pintu. " Mana orang tua kalian?, kenapa udah punya dua bocah, malah gak bertanggung jawab, membiarkan mereka berkeliaran sepagi ini?" cetus paman Diman, agak kesal dengan tingkah adik sepupunya.
"Ayah dan ibu masih tidur, mereka bertengkar tadi malam....aku tak tega membangunkan mereka....," ucap Siera.
"Masuklah...!"
"Paman....aku dan adik lapar...!" Siera menunjuk perut mungilnya yang sudah keroncongan.
"Bagas....Anjeli....!, kalian memperlakukan keponakanku seperti ini, awas kalian...!" guman Paman Diman menahan emosi.
...----------------...