
Sebaiknya malam ini aku kembali ke vila, melihat Anjeli dan meminta maaf padanya, jika memang bukan jodoh aku harus berusaha mengubur rasa ini dalam-dalam.
Entah itu rasa rindu atau khawatir yang membawa Rama teringat untuk kembali ke vila miliknya, setelah pertengkaran mereka yang membuat Anjeli marah dan kecewa.
Tanpa ia ketahui jika Anjeli tak lagi tinggal di vila tersebut, kekecewaan Anjeli dengan perkataan Rama terhadap bayi yang di kandungnya membuat Anjeli tersadar jika Rama dan Bagas hampir mempunyai sifat yang sama, yaitu sama-sama miskin hati nurani.
Sesampainya di vila Rama langsung menuju kamar Anjeli.
Tok...tok...tok.
"Anjeli..., apa kamu di dalam?," Kenapa dengannya?, apa ia sungguh marah pada ku, pikiran Rama menjadi tak karuan ketika Anjeli tak kunjung menyahut.
"Tuan, nyonya sudah meninggalkan vila sejak kemarin."
"Apa .....!, kenapa kalian tak memberi kabar padaku?."
"Maaf Tuan, kami pikir anda sudah mengetahuinya."
"Hah...Tau apanya...!, Kalian ini."
Dengan amarah level tinggi Rama meninggalkan vila dan kembali ke kediamannya di kota, menemui Elin dan Rani.
"Kakak tumben baru muncul?,"
sapa Rani yang baru melihat sang kakak pulang ke rumah.
"Mana Anjeli?."
"Hah....bukannya ia selama ini tinggal di vila dengan kakak?."
"Kemana wanita itu?, apa ia tak perduli dengan bayinya sampai berkeliaran di luar sana sejak kemarin."
"Kalian bertengkar ya, kak?."
Tanpa membalas pertanyaan Rani, Rama bergegas meninggalkan kembali kediamannya dan mencari keberadaan Anjeli.
"Sebaiknya aku menghubungi Farah, bukan kah akhir-akhir ini ia tampak dekat dengannya."
Kringgg.....
"Rama, kenapa ia melakukan panggilan tengah malam buta seperti ini, apa ia vampir masih on hingga jam satu dini hari?," gumannya melihat kontak yang memanggilnya sekarang.
"Ya, ada apa?, kamu tak liat ini jam berapa?."
"Maaf mengganggu tidur mu, aku hanya ingin tanya apa Anjeli ada bersama mu sekarang?."
"Apa kau menyinggungnya lagi, hingga ia pergi?."
"Di tanya bukannya dijawab, malah balik bertanya, apa susahnya tinggal jawab ya atau tidak."
"Rama....mulut kamu itu. Huft....Anjeli tak ada di sini, mungkin ia pulang ke rumah suaminya sekarang."
"Bagas..."
Tut...Tut...Tut....
"Ini orang makin hari makin bikin darting saja, sudah mengganggu tidur ku, mematikan panggilan tanpa basa basi. Pantas Anjeli tak betah disisinya, semoga ia sudah menyadari jika pilihannya sama saja dengan istilah keluar dari kandang harimau masuk ke kandang singa."
Farah sungguh emosi di buatnya.
"Selidiki dimana Bagas sekarang, aku ingin membuat perhitungan dengannya." Perintah Rama kepada body guard nya.
"Baik Tuan."
Tak lama berselang Rama menerima informasi jika Bagas sedang berada di diskotik milik Ardi.
"Ardi.....apa yang sedang kamu lakukan, apa ia sedang bermain dibelakang ku bersama pria brengsek itu?," guman Rama dengan mengepalkan tangannya.
Atas informasi dari orang kepercayaannya, ia langsung bergegas menemui Bagas.
Rama semakin emosi mengingat Anjeli yang sedang hamil sementara Bagas tak punya hati nurani sama sekali, bukannya mencari tau keberadaan Anjeli ia malah asik bermain di diskotik.
"Kenapa aku baru tau jika Ardi masih menjalankan bisnis kotor ini, pantas Elin tak bisa lepas darinya, apa ia juga mengancam Elin untuk menjadikannya wanita penghibur.
Memang kalian berdua sangat cocok satu sama lain, Tak puas dengan satu wanita. Dan pria brengsek itu, bukan kah ia alergi dengan wanita, apa alerginya itu hanya pura-pura belaka." Cetus Rama dengan memperhatikan Bagas dan Ardi dari kejauhan dengan segelas anggur di tangannya.
Lama memperhatikan mereka dari jauh, Rama semakin geram dan tak sanggup menahan diri hingga akhirnya ia putuskan untuk menemui Bagas dan Ardi.
"Apa yang kamu lakukan disini?," apa kau sama sekali tak khawatir dengan istrimu yang sedang hamil sekarang?."
"Cih....jika tak ingin punya anak jangan menghamilinya, dan melemparnya pada ku."
"Ucapan mu ini..."
Buggg....
Tanpa melanjutkan perkataannya Rama langsung melayangkan kepalan tinju kearah wajah Bagas.
Brukk ....
Bagas langsung jatuh tersungkur di hadapan Rama. Menahan rasa sakit di wajahnya.
"Aisss....."
"Kau cari mati dengan ku, hah...?, merebut istri ku dan menghamilinya lantas kau campakkan begitu saja"
"Bagas Wirawan, apa kau ini terlahir dari rahim seorang iblis?, apa di dalam dirimu ini masih ada hati nurani?, sudah ku katakan berkali- kali aku bukan pria brengsek sepertimu yang memaksakan kehendak pada seorang wanita."
"Rama Putra Hardian, kendalikan lidah mu, sebelum aku buat kamu bisu selamanya."
"Tuhan terlalu baik pada mu Bagas, masih memberi keturunan untuk mu meski kau tak pantas mendapatkannya."
"Rama...."
Bagas yang sudah naik pitam, membalas hantaman Rama tepat di perut berototnya.
"Cih...hanya segitu nyalimu...! Aku peringatkan diri mu, jangan pernah kau muncul di hadapan Anjeli untuk memohon belas kasih padanya jika suatu hari nanti kau tau kebenaran dirinya."
Rama yang tak goyah sama sekali setelah menerima hantaman Bagas tepat di perutnya, mendekat dan mencengkram kuat leher Bagas dan menghempaskan dirinya ke lantai, sementara Ardi tak berkutik melihat Rama dengan emosi memuncak, Bagas saja tersungkur di buat olehnya apa lagi dirinya.
"Dan kamu, aku peringatkan jauhi Elin jika kau tak serius dengannya, jika tidak benda pusaka yang selalu kau gunakan untuk menindas wanita seperti Elin, aku jamin akan ku buat dia tertidur untuk selamanya."
"Ra ... Rama....apa kau sedang kerasukan?, kau sangat menakutkan."
"Ya, kerasukan roh jahat yang ingin membasmi pria brengsek seperti kalian."
Setelah ucapan terakhirnya, Rama meninggalkan diskotik milik Ardi yang ia sudah ia porak-porandakan dengan tangannya sendiri.
Berjalan kearah mobil miliknya dan menyuruh sang supir pribadinya turun dari kendaraan miliknya.
"Tapi Tuan sedang tak baik, biar saya yang mengantar."
"Cari mati, hah?."
"Tidak Tuan."
Supir itu langsung gemetar melihat Rama yang tak biasanya.
Rama mengendarai mobil miliknya dengan setengah sadar akibat alkohol yang sempat ia teguk di diskotik milik Ardi karena tersulut emosi melihat kelakuan Bagas di depan matanya.
Menjalankan mobil dengan kecepatan tinggi hampir membuat Rama menabrak mobil di hadapannya, namun dengan kelihaiannya mengendarai mobil Rama mampu menghindar dan membanting setir menjauh dari mobil di hadapannya.
"Hampir saja," ucap Rama yang masih dalam pengaruh alkohol namun masih bisa mengendalikan diri.
Tampak mobil yang di hadapannya berhenti...., dengan mata sayup-sayup, Rama melihat seorang wanita yang sangat familiar baginya turun dari mobil. Ia melangkah mendekati mobilnya.
"Rama....., kamu baik-baik saja di dalam?"
"Ah..., rupanya dia dokter Farah?," meski sedang mabuk namun Rama masih bisa mengenali dirinya.
Rama membuka pintu dan meminta tolong agar Farah mengantarnya ke hotel terdekat karena ia tak sanggup lagi mengendarai kendaraan dalam kondisinya seperti ini.