SIERA

SIERA
27.



Siera tampak murung setelah menangis sesegukan, dia semakin ingin bertemu dengan sang ibu.


Setelah beberapa jam di dalam ruang pasca operasi akhirnya, Anjeli sadarkan diri. Bagas yang selalu setia menemani sang istri, duduk disamping ranjang pasien dan terus mengelus rambut Anjeli dan menciumnya dari jidat, hidung, pipi, mata, hingga bibir, menjadi tempat mendarat semua ciuman kasih sayang itu.


"um...." Anjeli terbangun dengan perasaan yang aneh, karena ia masih merasakan sensasi ciuman yang Bagas berikan.


"Udah, bangun sayang?"


"Kamu disini?" Anjeli membuka mata dengan perlahan dan melihat Bagas ada disampingnya, perasaan senang, sedih, marah, semua bercampur aduk ia rasakan pertama melihatnya.


"Iya...." Masih mengelus rambut dan menghujaminya dengan ciuman bertubi-tubi, hingga daerah bibir, Anjeli yang masih bingung, hanya bisa pasrah menerima, meski ia bertanya-tanya dalam hati, jika Bagas seperti itu pasti ada sesuatu yang telah terjadi atau mungkin ia sudah tau semuanya.


Dengan wajah datar Anjeli menanyakan Siera.


"Mas, mana Siera, aku sepertinya melihatnya bersamamu, sebelum aku pingsan."


"Apa hanya Siera yang kamu tanyakan?, yakin tak mau tau dengan menanyakan anak kita yang lain?"


"Ah...anak ku?" Menyadari perutnya sudah kempis Anjeli langsung teringat putranya.


Bagas menunjukkan ruangan sebelah dan terlihat bayi mungil sedang tidur di dalam inkubator.


Anjeli menatapnya dengan wajah nanar kearah bayi mungil itu, entah apa yang telah terjadi padanya dan bayinya.


"Kau hampir meninggalkan kami lagi, dan membuat anak-anak ku hampir tak punya ibu." Bagas memeluk erat Anjeli dan menangis, sesegukan dalam pelukannya.


"Kau ini kenapa?, bukannya kau tak peduli dengan kami.?"


Mendengar ucapan itu, Bagas langsung mencium bibir Anjeli, untuk menghentikan ucapannya itu, tak ada nafsu dalam ciuman tersebut, melainkan dengan kasih sayang yang sangat dalam melebihi cintanya yang dulu pada Anjeli.


Anjeli tersenyum, dan mengerutkan kening.


"Ada apa sih, mas. Kamu aneh hari ini. Aku ingin bertemu mereka...!"


"Nanti, setelah keadaan kamu lebih baik. Karena kamu sudah sadar, Aku tinggal dulu, mau liat kamar rawat inap yang telah aku pesan untuk mu, dan di luar masih ada Alma, Alang, dan putri kita, sekalian mereka bisa beristirahat di kamar itu sambil nungguin kamu dan si jagoan kecil kita. Mereka pasti lelah menunggu."


"Hm..." jawab Anjeli hanya berdehem.


"Sayang, aku mencintaimu." dan mendaratkan ciuman di kening Anjeli.


Ketika Bagas hendak mendaratkan ciuman di tempat lain, langsung di dorong dan di tolak oleh Anjeli dengan senyum manisnya.


"Udah, sana....cepat. Kasian mereka sudah lelah semalaman tak tidur, terutama Siera."


Bagas pun meninggalkan ruangan dan menuju keluar menemui semuanya.


"Ah...itu dia Ayah, Aunty....bangun Ayah udah keluar!"


Siera yang sudah bangun dan bermain bersama asisten Alang langsung membangunkan Aunty Alma, ketika ia melihat sang Ayah keluar dari ruangan tempat ibunya di rawat semalaman.


"Mas...gimana Anjeli dan anak kamu?" Tanya Alma sambil mengucek mata miliknya pertanda ia baru saja terbangun setelah mengistirahatkan penat bergelut dengan pikirannya yang ia hadapi semalaman, karena Bagas tak kunjung keluar.


"Keadaan mereka sudah lebih baik sekarang. Alang bawa barangnya dan kita ke kamar rawat inap untuk Anjeli, dan kalian juga bisa istirahat di kamar itu, cukup kok untuk kita semua."


Mereka menuju ruangan rawat inap.


"Sus, kamar yang saya pesan untuk pasien atas nama Anjeli, sebelah mana?" tanya Bagas kepada sang suster yang bertugas.


"Mari pak, saya antar ke ruangan nyonya Anjeli."


Meraka berjalan menuju kamar yang dimaksud, Siera yang berada di gendongan Ayahnya, terus kegirangan, karena terpesona dengan indahnya rumah sakit tersebut.


"Wuah....Ayah rumah sakitnya besar dan cantik lagi. Aku suka."


"Kamu suka, nanti Ayah bikinkan rumah Sakit besar kayak begini."


"Benar, Ayah?"


"Iya, tapi tunggu Siera besar dulu, kalau jadi dokter Ayah pasti bikinkan yang lebih besar."


"Horeeeee....tapi...tunggu Siera besar artinya itu masih lama......ahhhhhh.....Ayah curang lagi....tak suka...!"


"Hahahaha ...." semua yang mendengar tingkah lucu Siera langsung tertawa.


"Pak, ini ruangannya, dan saya pamit dulu," ucap suster yang mengantar mereka ke kamar rawat inap yang telah disiapkan.


Sampai diruang VVIP.


Ruangannya sangat besar, dengar perabot yang lengkap, ada kulkas, lemari, dan dapur kecil di dalamnya, serta dilengkapi dua bad tempat tidur yang empuk dan dari depan tampak terlihat sofa untuk tamu yang berkunjung.


"Woahhh....kamarnya mirip kamar hotel Ayah, bahkan lebih luas lagi."


"Ayah, nanti bikin kamar yang begini di hotel Ayah, Siera suka."


"Ayah, jangan bilang seperti itu, Siera bahagia kalau sama Ayah, Ibu, dan Adik Bayi, bukan sama uang Ayah."


"Masih kecil, udah pandai bersilat lidah." Balas Bagas sambil memberikan senyuman manis untuk Putri cerdasnya.


"Siera memang beda dengan anak yang lain, Mas!" ucap Alma memberikan pujian pada Siera.


"Apa Ia banyak ulah, ketika kalian menunggu semalaman di luar?"


"Ya, sempat akting sakit perut, membuat Aku dan Alang jadi pemeran figuran. Dan kami berhasil memenangkan piala Oskar."


"Ah....Aunty. Itu karena susternya pelit gak mau kasi ijin masuk ke dalam sama Ayah, Siera kan mau ketemu sama Ibu Anjeli."


"Tapi pialanya belum dapat Ayah, aktingnya belum selesai, langsung kepotong sama kabar ibu yang sementara gawat dan sedang di tangani oleh dokter, kata Aunty suster." Lanjut Siera kagi, dengan cara bicara yang khas yang kadang terdengar seperti orang dewasa.


"Nak, lain kali jangan seperti itu, berbohong itu dosa, sayang."


"Itu bukan bohong Ayah, hanya akting saja." Balas putrinya membela diri.


"Tetap bohong namanya, sayang. Sekarang Ayah tanya kalau Ayah pura-pura sakit perut dan Siera panik, kemudian Siera yang pintar tau di belakang jika Ayah bohong, Siera senang gak?"


"Ngak, Siera bakalan marahin Ayah karena bohong, jadi...?"


"Ya, Siera minta maaf gak begitu lagi..!"


"Janji...!"


"Iya, Ayah Siera gak nakal lagi."


"Nak, kamu harus berprilaku baik sekarang, kan udah punya dedek bayi, nanti di tiru sama adek, kan gak baik, jadi kakak harus ngajarin adik bayi yang benar, supaya besar jadi anak pintar."


"Iya, pak ustad."


"Hahahaha......" Tawa riang mereka kembali terdengar, semua karena tingkah lucu Siera yang tak pernah kehabisan kata-kata membalas semua ucapan Ayahnya.


"Siera memang anak yang cerdas," guman Alma yang sangat senang melihat Siera yang tak pernah kalah debat dengan siapapun.


Ruang Pasca Operasi.....


"Nyonya Anjeli, suami anda belum kembali?"


"Belum dokter."


"Kalau begitu, kami ijin tak menunggunya lagi, karena kondisi Nyonya dan bayi anda sudah stabil, maka sekarang kami akan pindahkan Nyoya ke ruang perawatan kamar inap, dan bayi anda juga sudah bisa keluar dari perawatan inkubator."


"Baik, dokter. Saya mengucapkan banyak terima kasih pada kalian yang telah menyelamatkan nyawa saya dan anak saya. Terimakasih, dok."


"Sudah kewajiban kami nyonya, tak perlu sungkan seperti itu."


"Meski itu kewajiban, tapi yang kalian lakukan sangat berarti buat saya dan keluarga."


"Sama-sama nyonya, kami akan selalu mendo'akan nyonya dan keluarga sehat dan panjang umur."


Anjeli dan putranya diantar oleh perawat ke ruangan rawat inap.


Setelah sampai ke ruang rawat inap, suster yang sedang berjaga langsung menyambut mereka dan mengantarkan ke kamar pasien.


Tok...Tok...Tok...


"Ayah, biar Siera yang buka pintunya, " ucap Siera dan langsung berlari kearah pintu, seakan ada kontak batin, jika yang berada di luar adalah Ibu dan Adiknya.


*


*


*


Sampai disini dulu yah....dan tunggu kisah selanjutnya.


Pertemuan Siera dan Ibu Anjeli serta Dedek bayi.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Sekebon bunga untuk pembaca setia dan yang baru mampir.


semoga terhibur....!


Terimakasih


~Lov U All~