SIERA

SIERA
36.



Selamat Membaca


Sean mulai melakukan pemeriksaan fisik pada Bagas, syukurnya dia hanya diberikan obat bius dan luka dibelakang tidak terlalu parah, namun yang Sean khawatirkan adalah foto tentang Bagas yang mulai beredar di internet, foto dirinya yang hampir tak mengenakan pakaian, dan gadis yang sedang bersamanya.


"Perbuatan Mira memang cukup membuat kita resah saat ini. Apa yang harus kita lakukan Rama?"


"Aku akan berusaha menghentikan beberapa pihak media yang sudah menyebarkan berita ini."


"Apa kita harus hubungi Anjeli sekarang?" Sean kembali mempertanyakan tentang Anjeli , jujur yang mereka khawatirkan adalah Anjeli, gadis yang mereka cintai dan perebutkan dulu, namun Bagas lah yang menjadi penengah di hati Anjeli.


"Sebaiknya seperti itu, dan suruh dia bersiap diri mengadakan konferensi pers secepat mungkin setelah Bagas sadarkan diri, agar masalahnya tak berlarut dan membuat masyarakat membuat opini baru tentang Bagas dan keluarganya."Jelas Rama pada Sean yang masih sibuk mengurus Bagas dan berusaha menyadarkannya secepat mungkin.


"Hey .... bro, bangun jangan kelamaan tidur ... sudah enak-enak malah asik tidur, malah kita yang dapat getahnya."


Bagas yang sudah tersadar, namun masih sulit membuka mata, langsung terbangun mendengar ucapan Sean padanya, Bagas seketika membuka mata dan melototi sahabatnya karena perkataannya barusan, "Apa maksudmu?" tanya Bagas dengan intonasi tak enak didengar.


"Hah, kau ini masuk dalam jebakan sarang betina buas, kau sudah seperti lelaki bayaran sekarang, ia sungguh menikmatinya bersamamu," ucap Sean menggoda Bagas yang masih merasakan nyeri di bagian belakang tengkuknya akibat pukulan yang ia terima saat memasuk salah satu ruangan di hotel milik salah satu teman bisnisnya.


"Sean kau jangan bercanda, mana ada pria yang melakukan hal seperti itu dalam keadaan tak sadar."


"Tenang saja semua, masih aman meski ia dapat mengambil beberapa gambar bersama dirimu, namun tidak ada apapun yang terjadi semau masih dalam kondisi aman sekarang."


"Kali ini ia pasti akan mendapat balasan yang setimpal dengan perbuatannya sekarang."


"Ya, sudah seharusnya kita memberikan pelajaran kepada gadis itu, perbuatannya kali ini sudah sangat meresahkan dan membuat kita semua dalam masalah."


"Bantu aku sekarang, saya harus segera mengadakan konferensi pers dengan Anjeli dan menjelaskan semua masalah yang terjadi , aku juga punya beberapa bukti tentang perbuatan dia sebelumnya, semoga kali ini rencana kita berjalan lancar tanpa kendal, akan tetapi aku mohon kalian rahasiakan dulu semuanya, jangan terlalu di umbar takutnya ia punya rencana jitu untuk menggagalkan semuanya."


***


"Ibu, kok Ayah belum pulang, Siera rindu Ayah?"


"Siera, ayah disini nak, Anak cantik...maaf Ayah tak pulang semalam."


"Mas, kamu kanapa gak memberi kabar. Kamu tau Amar dan Siera ganti-gantian rewel sejak semalam, aku sudah berkali-kali menghubungi kamu, dan kamu juga tak mengangkatnya. Aku kan sudah beberapa kali bilang, tolong kabari kami jika kamu ada urusan mendadak atau ada masalah."


"Siera kamu main sama Omah dulu ya, Nak. Ayah mau ngobrol dengan ibu sebentar."


"okey, Ayah."


"Sayang, maaf jangan marah. Mendekat Lah, ada sesuatu yang harus aku bicarakan dan perlihatkan dengan mu tapi janji jangan marah."


"Mas, apa ini serius."


"Hem...."


"Lihat foto ini....!"


"Baru janji tak akan marah....!"


ucap Bagas sambil mencium kening istrinya.


"Ini adalah foto yang diambil oleh Mira saat aku tak sadarkan diri, dia berhasil menjebak aku dan Alang, dan semalaman aku di rawat di rumah sakit milik Sean, mereka tak mengabari kamu karena mereka tau, kau pasti akan panik dan kasian anak-anak. Jadi Rama turut membantu dengan menekan beberapa pihak media dan menghentikan penyebaran berita ini, namun tak semua media mau membantu, uang adalah segalanya, jadi berita ini masih disiarkan dan masih dapat dilihat di beberapa media tertentu."


"Mas, apa tindakan mu kali ini, aku takut akan mempengaruhi Siera dan juga perusahaan kamu."


"Bersiaplah, pagi ini kita akan mengadakan konferensi pers."


"Lalu apa ibu sudah tau semuanya...?"


"Iya, semalam Sean sudah mengabari ibu, maaf ibu tak memberimu kabar karena itu bagian dari rencana mereka."


"Mas, apa lukamu parah, biar aku lihat sekarang."


Melihat sikap perhatian Anjeli yang sama sekali tak terpengaruh dengan foto itu, membuat Bagas kagum dengannya, " Anjeli aku sangat beruntung memiliki mu," guman Bagas dan memeluk erat Anjeli.


"Mas, aku harus bersiap."


"Ayah, Ibu. Siera mau ikut ke konferensi pers, Siera juga pengen di wawancara kayak para artis."


"Nak, kalau kamu ikut siapa yang temanin Ade Amar?"


"Bu, boleh ya?" rengek Siera yang belum paham dengan keadaan sekarang.


"Nak, setelah semua selesai Ibu janji kita akan jalan-jalan, okey?"


"Baik Bu."


Siera akhirnya mau mengerti dan bersedia tinggal di rumah. "Ah...jadi orang dewasa ternyata serumit itu, tiap hari ada aja masalah yang harus diselesaikan. Aku tak mau jadi dewasa jika banyak masalah begitu," guman Siera melihat kepergian kedua orang tuanya.


Bagas dan Anjeli langsung di sambut saat mereka masuk dalam gedung konferensi pers diadakan, terlihat para bodyguard mengawal penuh Anjeli dan Bagas, hingga mereka duduk di sebuah kursi dan disamping mereka ternyata sudah ada Mira yang sejak tadi menunggu mereka. "Apa yang ingin dia lakukan lagi, kenapa perasaan ku saat ini, Mira sedang membuat jebakan lagi." Bagas yang sudah curiga nampak berhati-hati dengan apa yang akan dilakukan Mira.


Konferensi pers berlangsung Bagas mulai menjawab beberapa pertanyaan, yang diberikan olah para wartawan secara bergantian, hingga Bagas nampak kelelahan, untung Rama datang ke acara konferensi pers dan membantu sahabatnya itu.


Ditengah penjelasan mereka, Mira...tiba-tiba membuka suara, dan memperlihatkan sebuah Plano tes yang tertera jika hasil pada tes kehamilan itu menunjukkan hasil positif dengan garis dua berjejer berwarna merah. "Anjeli dan Bagas baru saja kembali bersatu, namun dulu pada saat mereka berpisah karena ada kesalahpahaman Bagas sempat dekat dengan ku, dan kami memang menjalin hubungan. Dan semua itu bukan tanpa bukti apapun, aku juga tak akan berbicara seperti ini jika tak punya bukti, Bagas meninggalkan ku setelah mengetahui jika Anjeli akan melahirkan seorang putra untuknya, penerus yang telah lama ia nantikan kehadirannya, aku di abaikan dan di campakkan olehnya pada saat itu juga, namun ternyata tuhan berkehendak lain aku juga mengandung buah cinta kami." Mira menjelaskan semua rencana nya dengan penuh dramatis seakan dirinyalah yang menjadi korban dari semuanya.


Bagas dan Rama tak kuasa menahan emosi mereka, hingga Anjeli terpaksa membuka suara.


"Baik, cukup sudah semuanya. Untuk keadilan sesama perempuan, tentu aku tak akan egois, aku menyatakan mengizinkan suami saya untuk menikah lagi, dan aku bersedia untuk di madu. Akan tetapi pernikahan yang akan berlangsung hanya pernikahan secara agama dan aku jamin aku dan suami ku akan mengurus pernikahan secara resmi jika anak dalam kandungan Mira terbukti adalah anak kandung Bagas Wirawan." Setelah mengungkapkan keputusan darinya, Anjeli langsung meninggalkan gedung itu, Bagas dan Rama bergegas mengejarnya. Namun, Anjeli tak memperdulikan mereka ia lebih memilih pulang kerumah dengan menaiki sebuah taksi.


~Bersambung~