
Tanpa Anjeli sadari jika perusahaan tersebut sudah berdiri kokoh, bahkan gedung perusahaan pun sedang di bangun dan hampir mencapai seratus persen pembangunan.
Perekrutan pegawai pun sedang dilakukan dan yang tak disangka adalah perusahaan itu mempunyai nama yang unik yakni nama putri mereka SIERA.
Namun, nyatanya semua tak seindah yang terlihat sekarang, Anjeli duduk termenung di dalam ruangan yang menyimpan banyak kenangan dirinya dan Alma saat pertama kali merintis usaha bersama disaat dirinya sedang terpuruk.
Ada rasa benci yang muncul dalam hatinya ketika mengingat kejahatan suaminya terdahulu.
Rasa yang mungkin tak akan pernah hilang dari ingatannya.
Namun, seiring berjalannya waktu kini Anjeli sudah bersahabat dengan rasa sakit itu, hingga melebur dalam hatinya, entah sampai kapan ia menguburnya dalam-dalam.
"Mas, aku ingin menerimamu seutuhnya seperti dulu namun luka itu terlalu dalam, meski kau menyembunyikan semuanya tapi aku tau jika dirimu memang pernah bersama Mira, dan itu terjadi pada awal pernikahan kita, kau berkhianat meski akhirnya kau menyadari jika dia hanya memanfaatkan dirimu. Kamu hanya tak ingin kalah dari Rama , itulah sebabnya kau mengambil paksa pernikahan dengan ku. Aku membenci mu, tapi rasa cinta ini terlalu dalam dan mengalahkan rasa benci padamu," menatap masa depan yang akan ia jalani bersama Bagas entah kenapa Anjeli malah teringat masa lalu yang menyakitkan hingga kini ia belum terbebas dari masa lalu tersebut.
Anjeli mengusap air mata karena mengenang masa itu, tanpa ia sadari jika dokter Sean sedang mengamati dirinya.
"Kenapa harus kembali jika masih sesakit itu?" ucap Sean dan sontak membuat ya kaget.
"Kamu salah sangka, aku hanya sedang mengenang kebersamaan kami ketika pertama kali merintis usaha ini," dalih Anjeli tak mengakui perkataan dari dokter Sean.
"10 tahun aku mengenal mu, jauh sebelum kamu bertemu dengan Bagas dan Rama, dan aku mengagumi secara diam-diam, melihat mu seperti ini tanpa harus kamu jelaskan pun aku sudah tau. Bahkan penyakit yang kamu derita dulu itu karena sakit hati yang kamu pendam sekian lama dan membuat mu menjadi stres. Apa aku salah mendiagnosa dirimu kali ini?" Anjeli seketika bungkam mendengar penjelasan dokter Sean.
"Lalu, apa bedanya dengan dirimu. Menikahi sahabat ku sendiri meski tanpa rasa sedikitpun!" balas Anjeli.
"Huh .... itu karena aku ini menyelamatkan hati ini dan menghidupkannya kembali," jawaban yang Sean berikan pada Anjeli terdengar sangat memilukan.
"Maaf, orang lain yang membuat luka dan kamulah yang menyembuhkannya, penyesalan itu ternyata benar adanya selalu datang di belakangan," Anjeli memberi tanggapan yang tak kalah memilukan dari perkataan Sean sebelumya.
"Kali ini, dia sungguh mencintaimu, tolong lupakan semuanya," ucap Sean berusaha meyakinkan Anjeli.
"Cinta yang pudar untuk apa di pupuk kembali," jawaban Anjeli sontak membuat Sean tak bisa berpikir.
"Anjeli,"
"Aku lelah, dan hanya ingin mengistirahatkan hati ini sejenak, aku iri dengan pria yang dulu pernah memuja diri ini, dan sekarang sudah menemukan kebahagiaannya, sedang aku masih terjebak dalam lubang yang sama," jelas Anjeli dengan tatapan kosong melihat beberapa karyanya terpajang dengan indah.
"Demi Siera dan Amar, kembalilah padanya."
Ucapan terakhir dari mulut Sean akhirnya menyentuh lubuk hati terdalam diri Anjeli, membuat Anjeli terpaksa melepaskan butiran air mata yang telah lama tergenang sejak adu argumen dengan Sean.
Air mata yang hanya mengalir tanpa Isak tangis sedikitpun, mengisyaratkan betapa dalam sakit hati yang ia miliki untuk Bagas suaminya.
Sean menggenggam membentuk kepalan yang memperlihatkan urat nadi miliknya.
"Kenapa baru aku sadari akan celah yang kamu berikan tapi aku malah menyiakan semuanya, aku pikir kau bahagia dan sangat mencintainya, hingga Rama tak terlihat sedikit pun oleh mu," ucap Sean yang baru memahami isi hati Anjeli yang sesungguhnya.
"Itu dulu, tapi sekarang entah usaha apapun yang aku lakukan tapi cinta itu hilang entah kemana, aku tak bisa bersamanya lagi, bantu aku satukan Bagas dengan Mira. Aku ingin menemukan kebebasan diri ku yang dulu, aku rindu dengan Anjeli yang dulu, yang menikmati hidup tanpa beban dan tersenyum indah menyambut hari demi hari, Anjeli yang dulu sangat bahagia, tapi cinta itu merenggut segalanya," ucap Anjeli kini dengan derai air mata mengalir dari pelupuk mata indah miliknya.
Bagas yang baru saja tiba di ruangan tersebut, niat hati ingin memberi kejutan malah ia mendapat kejutan balik dari pengakuan isi hati sang istri pada sahabat karibnya.
Terdiam mematung, meski telinga dan pikiran terus bekerja ekstra menyalurkan rasa hingga menembus jantung dan melemahkan rasa yang menggebu sejak kelahiran Amar buah hati ke dua mereka.
Jantung Bagas terus memompa dengan cepat, ia tak menyangka pengakuan hati terdalam anjeli mengejutkan dan sakitnya lagi hal itu ia katakan pada sahabat karibnya yang sama sekali tak masuk hitungannya sebagai rival cintanya dari dulu.
Sean dan Anjeli sontak menoleh ke arah belakang dan betapa terkejutnya mereka melihat Bagas dan Alma di depan pintu.
Alma pun juga merasakan hal yang sama, bertanya dalam hati kenapa baru sekarang Anjeli mengungkapkan semuanya, kenapa ia harus menahan rasa itu hingga membuat dirinya sakit dan hampir merenggut nyawanya.
"Anjeli, aku minta maaf atas semuanya. A_ku minta maaf," ucap Bagas pada Anjeli sambil menjambak rambut miliknya dan menjadikan dirinya terlihat acak.
"Mas, Aku hanya asal ngomong dengan dokter Sean, jangan dianggap serius."
"Ya, kamu gak mendengarkan semuanya dari awal, Anjeli benar dia hanya asal ngomong saja."
Sean langsung membenarkan perkataan Anjeli untuk meredam suasana.
"Cukup Anjeli, jangan berdusta lagi, aku disini sejak awal percakapan kalian," sahut Alma.
"Alma tolong jangan salah paham!" ucap Anjeli semakin kacau.
"Cukup!" ucap Alma dan meninggalkan mereka.
"dokter Sean tolong jelaskan padanya, dia sedang hamil sekarang, aku tak ingin dia dan bayinya dalam bahaya," kini Anjeli panik akibat ungkapan isi hatinya membuat banyak hati yang terluka.
"Kenapa aku harus ungkapkan semuanya, seharusnya aku biarkan hati ini membusuk selamanya," ucap Anjeli penuh penyesalan.
Melihat Anjeli frustasi, Bagas mencoba mendekati dirinya, namun tak disangka Anjeli menolaknya dan melangkah meninggalkan dirinya.
Sean masih berdiri melongo di hadapan Bagas, pikirannya seketika menjadi kosong.
"Sean...!, bentak Bagas, "apa hatimu begitu terpikat dengan Anjeli hingga istri mu sendiri tak kau pedulikan lagi," ucap Bagas dengan nada menggema di seluruh ruangan.
"Jaga mulut kamu, seharusnya kau berkaca dengan apa yang kau perbuat selama ini, mangaku cinta pada Anjeli tapi masih tidur dengan perempuan lain," Balas Sean tak kalah dari bentakan Bagas.
"Kau, kenapa mengungkitnya lagi, aku bahkan sudah melupakan malam itu," kini Bagas menurunkan nada bicara namun masih penuh penekanan pada Sean.
"Ya, malam yang indah di saat Anjeli sedang hyperemesis mengandung anak kamu, dan menahan rasa sakit hingga hampir merenggut nyawanya, dan berjuang seorang diri menghadapi semuanya," jelas Sean dengan tatapan tajam pada Bagas sahabatnya yang sangat ia hormati sebelumnya.
"Seharusnya dari dulu aku menggunakan mulut ini untuk membela orang yang aku sayangi, dan tidak membiarkannya hidup menahan derita bersama pria bejat seperti mu, bahkan Rama lebih baik dari mu Bagas," ucapan Sean membuat Bagas kehabisan kesabaran dan melayangkan kepalan tinju kearah wajah Sean, namun Sean dengan sigap menahan tinju dari Bagas dan hanya dengan satu gerakan Sean berhasil menjatuhkan Bagas hingga tersungkur di hadapannya.
"Rasa sakit mu ini, tak sebanding dengan apa yang dirasakan Anjeli, dan mulai sekarang jangan pernah memaksanya lagi untuk bersama dengan pria bejat sepertimu. Paham !" ucap Sean dan mengejar Alma dengan harapan ia mampu membujuknya dan memperbaiki kesalahpahaman itu.
*
*
*
Terimakasih atas dukungannya.🙏
Semoga bisa terus menghibur meski hanya dengan cerita receh.
Mohon do'anya spy bisa menyelesaikan kisah Siera hingga Happy Ending.❣️🙏
lov u all.