SIERA

SIERA
52.



Tiba saatnya menghadiri perjamuan yang dinanti-nanti.


Anjeli duduk termenung...mata indahnya tak henti-henti menatap gaun elegan dengan bahan brokat bagian dada, dan bawahan berwarna krem berbahan satin silk. Tampak indah dengan menonjolkan lekuk tubuh bagian atas, apalagi dengan bentuk tubuh Anjeli yang sedikit montok tapi ramping di bagian pinggang dengan tulang bahu yang terlihat seksi...pipi tak begitu tembam namun tak juga tirus...ukuran yang sangat pas dengan tubuhnya jika ia kenakan.


Pikiran Anjeli terus bergerilya mencari ide konyol untuk mengelabui suaminya. "Aku harus tampil cantik malam ini," guman Anjeli.


Gaun yang sudah ia siapkan tampak rapi ia sembunyikan di balik beberapa gaun miliknya, sedang gaun yang harus ia gunakan telah Bagas siapkan untuknya...tapi hati kecil Anjeli sedikit kecewa karena gaun yang disiapkan Bagas sama sekali bukan tipenya. Sebuah gaun tertutup hingga bagian leher dan bawahan model payung. Sungguh gaun kuno dan sangat memalukan untuk Anjeli kenakan. Anjeli kini iseng mengenakan gaun tersebut dan memotret dirinya.


Hasil potret tersebut ia kirimkan kepada Alma. Sungguh tak terkira Alma langsung membalas dengan menghubungi Anjeli lewat video call...."Hahahaha....Anjeli apa yang terjadi dengan diri mu?, apa di Paris lagi tren model gaun zaman kerajaan...kenapa aku melihatmu seakan bernostalgia kembali ke jaman dulu."


"Ah...pendapat mu itu sangat jujur" ujar Anjeli dengan wajah murungnya.


Anjeli mulai menceritakan semua pada Alma dan memperlihatkan gaun yang ia telah siapkan, namun ia tak tau bagaimana caranya mengelabui Bagas agar mereka tak ke pesta bersamaan dan ia memiliki kesempatan untuk tampil cantik bak sang ratu semalam.


Giliran Alma yang memeras otaknya sekarang...tanpa mereka sadari jika Sean sedang menguping pembicaraan mereka, karena sifat jahil Sean tiba-tiba kambuh dan sudah lama ia sangat ingin membalas Bagas yang sudah membuat ia menunda pernikahan dua kali dan malam pertamanya. Kini ia tiba-tiba muncul ditengah pembicaraan hangat dua sahabat tersebut.


Kemunculan Sean dengan tiba-tiba mengagetkan mereka dan membuat keduanya menghunuskan tatapan tajam pada pria yang kini hampir berubah status menjadi seorang ayah. "Eits...tunggu dulu" jawab Sean membela diri mendapatkan tatapan maut dari Anjeli dan Alma. Sambil mengelus dadanya, menahan rasa takutnya...ia memulai mengajukan usulan super jahilnya pada istrinya dan sahabatnya, mendengar saran gila dari Sean Anjeli langsung tertawa terbahak sedang Alma hanya mempu menahan tawanya mengingat usia kehamilannya yang hampir tiba saatnya melahirkan dan keadaannya dengan perut buncit membuat ia kesulitan tertawa seperti Anjeli.


"Kamu gila sayang memberi ide buruk padanya," ucap Alma pada suaminya.


Sean hanya membalas dengan senyum kekompakan pada Anjeli. "Anjeli aku tunggu kabar baik dari kamu, sekarang udahan dulu, Alma akhir-akhir ini sering mengalami kontraksi."


"Ya, aku juga tunggu kabar baik dari kalian, semoga kamu lahiran dengan selamat dan perlihatkan segera padaku baby boy kalian," ucap Anjeli sangat senang sekaligus khawatir mendengar kabar tentang Alma yang hampir waktunya lahiran.


"Gila, ide Sean kali ini pasti membuat Bagas marah abis ketika melihat ku di pesta, dengan alasan yang Sean usulkan pada ku, Ah ... masa bodoh, itu urusannya nanti, sekarang aku harus akting sebaik mungkin."


Bagas akhirnya pulang dan jam dinding kini sudah menunjukkan pukul 6 sore, sedang acara perjamuan jadwalnya dua jam dari sekarang. Tak lama Bagas pulang, Diman muncul dari balik pintu. "Gimana?, kalian jadi ke pesta?" tanya Diman memastikan.


"Ya" jawab Bagas.


"Kalau seperti itu, aku bawa kurcaci kecil ku ke sebelah. Tapi Anjeli, bukannya kau janji membuatkan kami makan malam sebelum berangkat."


"Udah siap di apartemen sebelah," sahut Anjeli dari dalam kamar.


"Sayang, kamu dah mulai siap-siap?" tanya Bagas mengingat perjalanan yang mereka tempuh nantinya sekitar 15 menitan menempuh perjalanan.


"Jangan lama, aku malas terburu-buru di jalan."


Anjeli masih tenang dan belum menampakkan pergerakan apapun dan kini sudah menunjukkan jam 7 lewat 15 menit.


"Huft .... kamu duluan aja, perut aku masih mules. Nanti aku hubungi," tutur Anjeli berpura-pura akting di tempat tidur mengelus perutnya yang sehat dan tak mules sama sekali.


Bagas mengerutkan kening, ia sebenarnya cukup mencurigai sakit Anjeli yang tiba-tiba, namun melihat gaun yang telah ia persiapkan masih tertata rapi, kecurigaannya mulai menghilang, tanpa ia sadari jika ada gaun lain yang sedang Anjeli sembunyikan.


"Baik, hubungi aku jika kamu jadi ke pesta dan supir akan mengantarkan mu," ucap Bagas dan mencium kening istrinya dan mengelus perut Anjeli, " kabari aku jika sakitnya semakin parah."


"Udah sana cepetan...!, biar aku cepat bersiap juga," guman Anjeli tak sabar melihat Bagas yang terlalu lebai.


Setelah Bagas keluar dari apartemen, kini giliran Anjeli yang beraksi, ia mulai berdandan cantik, memoles wajahnya dengan make up natural namun senada dengan gaun yang ia kenakan.


Anjeli terlihat beberapa kali memeriksa penampilannya pada sebuah cermin miliknya, setelah yakin dengan penampilannya, tanpa meminta supir pribadi mengantarnya, Ia langsung tancap gas dan meninggalkan apartemen menuju lokasi perjamuan dengan bantuan google Map. Diperjalanan pikiran Anjeli cukup berantakan, bahkan ia hampir tak fokus dengan roda empat yang sedang ia kendarai.


"Ya, ampun hampir saja." ujar anjeli yang mengendarai mobil hampir menabrak pembatas jalan.


Anjeli langsung kembali fokus dengan perjalanannya hingga ia tiba di sebuah rumah super mewah nan eksotik....tamu undangan sudah nampak ramai, anjeli dengan gugup mulai memasuki pintu gerbang dan menunjukkan kartu undangan dengan warna hitam berukiran gold. Undangan yang dipegang Anjeli ternyata merupakan undangan ekslusif hingga Anjeli di minta menunggu sementara dan tuan rumah yang langsung menjemput.


Anjeli tampak terperangah mendengar penuturan sang body guard itu, namun Anjeli masih berusaha tenang, tak lama menunggu akhirnya seorang pria dan wanita keluar dengan pakaian formil. " Maaf apa kami sekarang dengan ny. Anjeli Wirawan...?"


"Ya," angguk Anjeli dengan membalas jabat tangan dari mereka.


"Maaf seharusnya tuan kami yang menjemput, namun tuan sedang sibuk menyambut para tamu, biar kami antarkan ny. pada tuan Bagas Wirawan....dan kebetulan Tuan kami sedang bersama dengan Tuan Bagas di ruangan Ekslusif," ujar para asisten dari tuan rumah yang tak Anjeli kenal sedikitpun.


"Apa ini gak berlebihan?" guman Anjeli merasa heran dengan sambutan spesial tersebut sambil mengikuti langkah mereka.


Sampai di pintu dengan ukuran emas di dominasi warna putih gading...Anjeli terdiam_seketika ia menghentikan langkah. Sang asisten menatap dirinya dengan mengerutkan kening " udah jangan gugup, didalam juga ada tuan Bagas suami anda tak ada yang perlu dikhawatirkan dan nyonya adalah tamu tercantik yang saya lihat diantara para tamu ya g hadir, tuan Bagas sangat beruntung memiliki anda."


Pujian yang di utarakan gadis bermata amber itu, sama sekali tak meredakan rasa gugup Anjeli, ia justru semakin gugur hingga ia memilih menggandeng tangan sang asisten tuan rumah. " Nyonya jika seperti ini aku akan sangat malu, karena kesenjangan penampilan kita, aku tak pantas nyonya...!"


"Udah, biarkan seperti ini dan buka pintunya."


Kreek.....


Anjeli melangkah masuk dengan anggun dan membuat semua mata tertuju padanya....


...*********...