
"Anjeli..." ucap mereka bersamaan di sela perdebatan sengit yang sedang mereka lakon kan.
"Mas, aku minta tolong pesan kan tiket ke Malaysia sekarang...!"
Anjeli terlihat panik dan membuat ke dua pria dihadapannya tampak kebingungan.
Bagas langsung beranjak dari tempat duduknya dan menenangkan Anjeli. " Tenang dulu, coba katakan dengan pelan kenapa kau terlihat panik seperti ini?"
"Alma_"
"Huft...kirain apa....!" sahut Diman.
"Ckk...ini urusan orang dewasa anak kecil gak boleh komentar," ucap Bagas nyolot pada Diman.
"Hah?, aku bocah....!, yang benar aja aku tua setahun dari mu."
"Udah nikah belum?," lanjut Bagas meledek Diman.
"Jodoh di tangan tuhan...!, apaan sih?"
Anjeli terdiam kesal melihat tingkah kekanakan mereka lagi. "Alma sedang persiapan SC sekarang, penyakit lamanya kambuh lagi, Sean sangat panik, aku harus secepatnya di sana, Sean sangat membutuhkan kita sekarang," tegas Anjeli pada mereka.
"Aku tak ikut, kalian bawa si bungsu saja biar Siera dengan ku sekarang," ucap Diman menawarkan bantuan pada mereka, Diman tak mungkin ikut bersama mereka kehadirannya pasti akan membuat canggung.
Anjeli terlihat berfikir sejenak, sebenarnya ia tak yakin menitipkan Siera pada Diman, tapi membawa kedua anaknya lumayan akan merepotkan bagi mereka.
"Kenapa gak keduanya saja," ucap Bagas semakin tak tau terimakasih.
"Ckk....dikasi hati mau jantung...!, sudah sana siap-siap biar aku yang pesankan tiket, bujuk Siera untuk tinggal dengan ku, aku gak mau berdebat dengannya, itu akan menguras otak ku."
"Apanya yang mau dikuras jika isinya kosong...?" ucap Bagas dan berlalu meninggalkan Diman yang masih kesal dengan ucapan yang ia lontarkan tanpa filter padanya.
"Dasar pria brengsek, tau begitu aku sama sekali tak membantu mu berbaikan dengan adik ku, awas kau...!" kesal Diman dengan memberikan tatapan tajam mengikuti langkah kaki Bagas keluar dari apartemen.
Anjeli kembali terdiam, ia sama sekali tak ingin berkomentar jika keadaan sudah seperti itu, melarang juga tak akan memperbaiki keadaan jadi terpaksa kerap kali kekanakan mereka terjadi di depan matanya, ia hanya menjadi penonton saja dan mengamati mereka jika saja perdebatan itu menjadi perkelahian nyata.
"Aku hanya punya satu saudara dan tak bisa akur sama sekali dengan suami ku, keluarga macam apa yang aku punya sekarang?" ucap Anjeli pada Diman.
"Kau yang buta asal milih suami dan suami seperti itu dipertahankan," cetus Diman dan tak disangka masih terdengar oleh Bagas yang masih berdiri menunggu Anjeli di balik pintu.
"Diman...! urusan kau dan aku belum selesai, tunggu setelah kami pulang," ucap Bagas dan melangkah masuk menarik tangan istrinya.
"Gak usah pulang sekalian, kau kembali ke asal mu saja,"
Ucapan Diman terakhir membuat Bagas berhenti melangkahkan kakinya dan berbalik menatap tajam iparnya, "Kau dengar apa yang ia katakan?" tanya Bagas pada Anjeli.
"Ya, dia benar. Mas gak usah balik ke sini lagi, perusahaan menunggu mu di indo, Alang kerap kali mengeluh pada ku jika ia sampai kewalahan mengurus semuanya dan dia memintaku membujuk mu pulang secepatnya."
"Ckkk....Kakak beradik yang kompak," cetus Bagas dan melepas tangan istrinya melangkah mendahului dan Bahkan meninggalkan Anjeli.
"Huft...kakak sama saja, jangan mengejeknya."
"Ya, sudah sana pergi sekarang, kalian datang hanya membuatku pusing."
"Kak, gak suka Anjeli di sini?, baik aku pulang sekarang."
Anjeli langsung berlari dengan air mata kembali ke sebelah, "Gawat masalah lagi...!, guman Diman dan menyusul adiknya secepat kilat sebelum menjadi bencana antara dirinya dan bos arogan Bagas. Diman membuka pintu dengan kasar dan mengagetkan Bagas dan kedua keponakannya yang sedang sibuk Packing.
"Anjeli mana?" tanya Diman pada mereka,
Bagas terlihat bingung karena tak menyadari jika Anjeli kembali dengan ekspresi wajah sedih. Bagas dan Siera kompak menunjuk ke arah kamar.
"Ada apa dengan mereka?" ucap Bagas dan Siera serentak.
Diman langsung melangkah menuju kamar dan langsung menemui Anjeli yang ternyata sedang menangis di dalam kamar miliknya, Diman langsung mendekati adik sepupunya dan menenangkan dirinya, "Kau ini cepat sekali tersinggung, aku tak serius dengan ucapan ku, aku bahkan sangat senang kalian di sini, aku sudah lama merindukan mu dan sekarang kau datang dengan ke dua bocah imut itu, aku sangat bahagia dan baru kali ini aku merasakan betapa indahnya memiliki keluarga, kau juga membuka hati ku untuk menemukan seorang istri dan memiliki impian memiliki sebuah keluarga kecil sama seperti mu."
Diman mendekati Anjeli dan mendekap adiknya dengan penuh kasih sayang, ia pun meneteskan air mata dalam pelukan mereka, kasih sayang bersaudara yang begitu erat membuat setiap orang yang menyaksikan iri pada mereka, termasuk Bagas yang berdiri di depan mereka menyaksikan kisah haru antara mereka berdua, tapi kali ini Bagas cukup toleran terhadap Diman, ia sama sekali tak menghentikan Diman memeluk Anjeli ia cukup hapal karakter iparnya yang lebih seram darinya ketika sedang naik pitam.
"Peluknya jangan kelamaan, kau membuatnya tak bisa bernafas."
"Sebenarnya kau cemburu sama siapa?, kerap kali aku sudah bilang meski aku bujang lapuk tapi aku masih suka dengan lawan jenis."
"Hahaha....apa kalian akan seperti ini terus?, aku rasa kalian tak cocok bersama," sahut Anjeli langsung ceria mendengar gurauan Diman pada suaminya.
"Nah, kau dengar itu?, kau sebaiknya cari pasangan lain."
"Diman aku sumpahin kau lapuk selamanya...!" ucap Bagas dan bersiap menerkam Diman di hadapan Anjeli.
"Hahaha...." tawa bahak Diman dan bersembunyi di balik badan adiknya dan dengan kekompakan mereka Diman berhasil kabur dari amukan singa milik Anjeli.
"Sayang kenapa kau membeli si lapuk itu?"
"Tarik kembali sumpahmu, ia tak punya siapa-siapa selain aku dan bibi, jika aku sampai kenapa-kenapa apa kau bersedia bersamanya dan saling menjaga satu sama lain?"
"Apa kau juga tak waras, mengira aku gay?"
Anjeli kembali tertawa mendengar protes dari suaminya, "Ya, bisa jadi aku perhatikan kau sekarang jarang minta jatah padaku, jadi aku pikir kemungkinan besar kau sudah berubah haluan," ucap Anjeli semakin tak merasa bersalah dengan kata-katanya.
"Huft....kau yang membuat ku puasa dan sekarang mengatakan aku berubah haluan, yang benar aja Anjeli, kau ini sama dengan Diman tak punya perasaan dan berucap seenak hati."
Anjeli mendekati Bagas dan memberikan kecupan hangat padanya, Bagas menunjuk bibir miliknya mengisyaratkan agar Anjeli memberikan cumbu hangat padanya, "cicil dulu Mas, apa 3 ronde di hotel belum cukup?" ucap Anjeli semakin menggoda Bagas. Ketika Bagas hendak memeluk dan mencumbu Anjeli terdengar Suara Siera dari luar, "Ibu....adik pup!"
"Huft....Siera mengacau lagi!" cetus Bagas dan membuat Anjeli kembali terbahak dan menekan bibir lembut suaminya dengan satu jari, namun Bagas tak puas jika tak menyentuhnya hingga Bagas hanya mempu bersabar dengan kecupan kilat Anjeli padanya.
"Apa semua suami diluar sana merasakan hal yang sama dengan ku juga?, berbagi istri dengan buah hati cukup merepotkan."
...----------------...