SIERA

SIERA
50



Dua bulan sudah Anjeli memaksakan diri tetap bertahan di kota menara Eiffel, sebenarnya ia bukannya betah tinggal di negri orang, hanya saja Anjeli ingin menenangkan hati dan menata hidupnya kembali terutama kehidupan rumah tangganya yang sejak pertama kali mereka menikah hanya terlihat seperti istana kokoh nan megah dari luar akan tetapi di dalamnya sangatlah rapuh.


Anjeli bukan pula tak memikirkan pendidikan Siera yang sempat mengenyam TK di negri tercinta, namun keadaan yang tak mungkin lagi membuatnya tetap bertahan di kediaman mereka, tempat yang menyimpan sejuta kenangan baik kenangan terindah maupun kenangan sangat memilukan.


Ia sadar betul jika dirinya saat ini terlihat bagaikan pecundang yang melarikan diri dari masalah dan seakan tak sanggup untuk menghadapinya.


Inilah cara Anjeli menyelesaikan biduk rumah tangganya, membuatnya kokoh kembali, dengan menegakkan tiang-tiangnya, membuat kokoh pondasi, dan menjadikan penghuninya teguh pada pendirian.


Anjeli harus meyakinkan Bagas jika dialah satu-satunya wanita terakhir dalam hidupnya dan dirinya juga harus mengambil langkah menyadarkan suaminya jika dia pergi, maka akan banyak lelaki yang melirik dan siap menjadi imam ke dua untuknya.


Dan hal itu sangat efektif baginya, dengan langkah gercep sang suami menyusul dan membuat kejutan untuk dirinya dan anak-anaknya, ini memang salah satu tujuan dari keputusan terbesar Anjeli, tak ada niatan hati untuk benar-benar meninggalkan pria yang sudah memberinya dua buah hati yang sangat lucu.


"Mas maafin aku, sikap ku mungkin kekanakan akan tetapi semoga langkan yang aku ambil saat ini cukup membuat kamu paham, jika aku menginginkan rumah tangga kita kokoh dan tak mudah diterpa oleh badai... apapun itu, keputusan mu menyusul diri ku aku rasa cukup tepat, karena jika tidak aku mungkin akan mengirimkan mu gugatan perceraian," ujar Anjeli duduk di samping suaminya yang tengah fokus dengan berkas yang harus ia periksa dan tanda tangani.


Mendengar penuturan istrinya yang mulai membahas rumah tangga mereka, Bagas menghentikan pekerjaannya dan fokusnya kini teralihkan pada Anjeli.


"Aku juga minta maaf, sayang!, aku bukanlah suami yang baik dan setia untuk mu. Akan tetapi mulai saat ini aku akan berusaha sebaik mungkin menjadi imam yang bertanggung jawab untuk keluarga dan lagi lebih mengutamakan kalian dari pada yang lain, termasuk ambisi ku mendirikan perusahaan number one dan bersaing dengan para pengusaha terhebat manca negara."


"Bagaimana dengan kasus... Mira?, aku penasaran karena kau tak pernah membahasnya!," tanya Anjeli penuh selidik.


"Kisahnya sudah tamat sebagai pelakor dan aku yakin ia pasti sudah bertobat, karena karma yang aku berikan diluar dugaan dan prediksinya," Ujang Bagas dengan santai dan tersenyum manis membuat kejelasan akan nasib pelakor itu pada istrinya.


"Apa yang kau lakukan padanya?, kenapa aku mencium kekejaman mu saat ini."


"Aku hanya memberinya pelajaran yang setimpal," jawab Bagas yang kini menarik istrinya dan mendudukkan dirinya dalam pangkuannya, tak hanya itu Bagas juga kini mengeluarkan jurus mautnya mulai mencumbu tengkuk leher istrinya, hingga Anjeli cukup geli di buatnya.


"Mas, jangan modus deh...!," ucap Anjeli menghentikan hasrat liar suaminya yang jika ia ladeni pasti akan membuatnya tak bisa bangun dari tempat tidur pada keesokan harinya, hal itu disebabkan karena Anjeli membuatnya berpuasa selama berada di kota Paris.


"Anjeli apa kau tidak tahu, kau membuatku gila sepanjang kita berada di Paris?," ucap Bagas dengan memelas belas kasih pada istrinya.


"Hah...?, memang apa yang aku lakukan..?," tanya Anjeli terlihat tak berdosa sama sekali.


"Huft, kau merawat tubuhmu hingga siapapun mengenal mu dahulu dan melihatnya pasti menilai kau lebih cantik saat ini dan tubuhmu saat ini semakin terlihat seksi dan berisi, kulitmu semakin halus, aku mana tahan dengan mu, aku hanya bisa bersemedi di kamar mandi setiap kali melihat ritual mu dengan pakaian seksi dan memakai handbody memperlihatkan lekuk tubuh dari kaki hingga bagian atas, oh...Anjeli, kau tidak tau..! kau hampir membunuh suami mu dengan hasrat terpendam," jelas Bagas raut wajah sangat mendramatisir sikap istrinya selama ini.


"Hahaha....kau yang bodoh, kau tak pernah memintanya, dan aku pikir kau bukan lagi Bagas yang dulu, yang sedikit-dikit minta jatah tiap malam membuat tubuhku remuk tiap saat," ujar Anjeli santai semakin tak berdosa.


"Memang, kenapa?, Mas, terlihat sangat serius?"


"Entahlah, aku menemukan investor misterius yang ingin membantu usahamu melambung naik ke tahap mancanegara," ujar Bagas yang masih penasaran dengan jejak pria yang begitu ngotot mengajaknya kerja sama, pria blasteran indo Jerman dan meraup keuntungan besar di bidang fashion dinegri Eiffel.


"Aku penasaran?, apa kau tak jelaskan jika kau hanya melanjutkan usaha ku dan mengambil alih sementara?," tanya Anjeli lagi.


"Sudah, bahkan aku bilang jika pemilik sesungguhnya masih pengusaha amatir, namun dia cukup yakin dan tak takut mengalami kerugian besar," ujarnya dengan santai, namun langsung mendapatkan tatapan tajam dari Anjeli.


"Enak saja, jika aku dan Alma amatir, lantas kenapa sekarang berkembang pesat?" tanya Anjeli sedikit memberi pernyataan jika dirinya tak se amatir yang suaminya katakan.


"Hahaha...." tawa Bagas langsung mengisi ruangan minimalis dengan suasana sedikit sunyi tempat ia berkantor sementara di apartemen miliknya.


"Kenapa tak memuji ku di depannya?, supaya ia semakin tertarik dengan kerja sama kalian dan kau malah menjatuhkan kami, ah...aku harus memberi tahu Alma kabar baik ini," ujar Anjeli kembali.


"Jadi ini berkas yang kau maksud adalah berkas kerja sama kalian?" lanjutnya.


"Iya, sayang. Dan ingat suami mu pantang memuji istrinya di depan pria lain jadi kau jangan harap berlebihan dan jangan pula kecentilan di depannya...nanti."


Bagas teringat jika pria itu mengundang dirinya dan Anjeli menghadiri sebuah jamuan yang mengundang beberapa designer ternama.


"Nanti....?" tanya Anjeli penasaran.


"Ya, besok malam kita akan ke perjamuan para designer ternama dan dia juga mengundang mu, entah....tapi dia ngotot mengundang istri ku, semoga ia tak tertarik dengan mu, dan satu lagi....pokoknya kau jangan berdandan cantik, aku tak suka itu," ujar Bagas dengan permintaan anehnya.


"Ckkk...penyakit mu kumat lagi."


"Ini bagian dari pertahanan ku dan kau jangan coba meruntuhkannya," ucap Bagas sinis.


Anjeli menatap tajam suaminya ia tak terima dengan permintaan Bagas yang melarang dirinya berdandan cantik esok malam, Anjeli menjadi semakin penasaran dengan pria yang Bagas sebutkan, entah ada apa sebenarnya tapi jujur saja Anjeli tiba-tiba merasa jika ia mengenal pria yang suaminya maksudkan dan satu lagi Anjeli tak habis pikir kenapa dengan Bagas hingga sangat protektif padanya,..."Jangan-jangan, Bagas merasa jika pria ini akan menjadi saingan dirinya namun bukan sebagai saingan bisnis, kok filing ku berasumsi demikian?," guman Anjeli melihat sikap suaminya barusan.


...----------------...