SIERA

SIERA
60



Setelah tiga hari perawatan akhirnya Alma bisa pulang kembali ke rumah, tempat ternyaman yang ia miliki. "pulang membawa anggota keluarga baru, sekarang rumah ini akan ramai dengan tawa mu kelak baby boy," ucap Sean yang sudah pandai menggendong bayi mungilnya, dan meletakkan di samping Alma.


"Karena kamu sudah lebih baik, aku akan kembali ke Paris dan membawa Siera pulang ke indo," ujar Anjeli.


"Kamu tak jadi melanjutkan studi di sana?" Alma kembali mempertanyakan rencana Anjeli sebelumnya.


"Tidak, aku bertemu dengan seseorang, kemungkinan besar, keluarga saya akan kacau jika saya bertahan di sana."


"Lagian aku juga dulu pergi karena si Mak Lampir itu, tapi sekarang semua sudah teratasi, kita bisa pulang bersama dan menetap di indo, aku sudah menyiapkan asisten yang akan membantu kita di sini dan Bagas sudah membangun butik pusat di indo untuk kita," jelas Anjeli pada Alma, membuat Alma terdiam cukup lama, hingga Sean menyela pembicaraan mereka, " itu ide yang bagus, aku sangat ingin berkumpul seperti dulu," ujarnya pada ke dua sahabat itu.


"Apa perlu aku menemani kalian ke Paris?" lanjut Sean.


Alma terlihat mengiyakan rencana mereka mengingat Anjeli pasti akan kerepotan. "Tidak usah aku berangkat dengan adik Rama dan sahabatnya mereka akan tiba di sini sebentar lagi."


"Apa?" Alma sedikit terkejut, entah kapan Anjeli menghubungi mereka..."jangan kaget seperti itu, Rama sempat menghubungi aku jika adiknya ingin bergabung dengan kita, ia juga mengambil jurusan fashion dan aku senang mendengarnya, jadi aku menawarkan kerja sama dengannya dan ternyata ia mengajak sahabatnya yang dulu pernah menolong aku ketika aku pergi dari rumah dalam keadaan sakit parah."


Mengingat masa lalu yang kelam itu, raut wajah anjeli kembali menyiratkan kesedihan yang sulit ia lupakan. Kejadian masa lalu yang begitu memilukan, meninggalkan buah hati dalam keadaan tak berdaya. " Hey....kan dah janji gak akan sedih lagi, kenapa muka cantik jelita seperti ini di tekuk lagi, entar cantiknya hilang," ucap Alma dengan tutur kata yang begitu lembut meski sedikit menyinggung tentang janji mereka dulu.


Anjeli kembali menatap teduhnya wajah sahabatnya yang selama ini terus menguatkan dirinya membawanya hingga melalui badai derita yang begitu menyita perasaan dan menenggelamkan dirinya dalam kesedihan berlarut hingga ia bangkit dan menjadi Anjeli yang kuat.


"Aku bersyukur memiliki dirimu, aku lebih sanggup berpisah dengan si brengsek itu dari pada diri mu, kau harus janji setelah pulih angkat barang kamu dan pindah ke indo, rumah Sean sudah terbengkalai di sana, sayang jika tak di tinggali jika perlu angkat sekalian dengan rumah mu ini kembali ke indo," ucap Anjeli dengan senyum dibalut air mata pilu dan bahagia.


"Jangan lebai deh...aku janji setelah sebulan ia istirahat kami akan pulang tapi dengan syarat jemput kami dengan jet pribadi suami arogan mu itu,"


"Jangan bercanda, sejak kapan ia memilikinya?" ucap Anjeli sama sekali tak tau jika Bagas telah memboyong satu jet pribadi dari negara yang terkenal dengan fashion tersebut.


"Makanya pulang dan selidiki, jangan sampai ia juga punya istri lain kamu gak tau?" ucap Sean tak tanggung-tanggung.


"Jika Bagas punya istri lain dan berkhianat kembali aku yakin tak hanya dia, aku juga pasti akan membuat kalian di sunat berkali-kali," ucap Alma menimpali ucapan suaminya yang sungguh keterlaluan menusuk telinganya.


"Hahahaha...itu namanya kebiri, sayang," lanjut Anjeli memperjelas ucapan Alma dengan nada meninggi pada suaminya.


"Cikk...kalian seperti ini terlihat mengerikan," ucap Sean dan meninggalkan kedua wanita galak itu, memilih mengamankan diri dari pada terlibat adu mulut dengan mereka terlebih lagi ia tak memiliki pemeran pendukung sekarang.


Anjeli meninggalkan Alma bersama sang baby boy dan menyusul Sean, " Ayah baru, jangan lupa jemput adik Rama dan sahabatnya, mereka masih asing di sini, tolong yah...!" ucap Anjeli dengan ucapan memelas pada suami sahabatnya itu.


"Kalau saja ada mau, baru bersikap baik pada ku, kalian ini sama aja," cetusnya tanpa menoleh kearah Anjeli.


"Alma, kalau suami kamu menolak menolong sahabat terbaikmu, bagus nya diapain, sayang?" teriak Anjeli dari ruang tamu.


"Dengar sendiri jadi silahkan anda memilih sekarang, mau ke tukang sunat atau jemput Rani dan Elin?."


Sean semakin tak masuk akal dengan tingkah kedua sahabat itu seakan sedang mempermainkan dirinya sekarang. "Pantas Bagas yang begitu tangguh sampai bertekuk lutut dibawah kekuatan ke dua sahabat ini, sangat bahaya jika mereka bersatu, aku dan Bagas akan menjadi orang bodoh belum lagi di tambah si Farah yang terlihat sangat pro dengan Anjeli, hidup kami pasti akan sulit kedepannya, aku menyesali perkataan ku sekarang ingin berkumpul seperti dulu, ternyata itu adalah Boomerang bagi kami kelak," guman Sean mengarahkan tatapan ke Anjeli yang terlihat bingung dengan wajah bengong Sean dihadapannya.


Anjeli menepuk bahu laki-laki yang merupakan salah satu penyelamatnya dulu dan selalu pro padanya saat suaminya menggila.


"Kau ini, kalau mau menyesal jangan sekarang, sudah terlambat," ucap Anjeli seakan sedang terkoneksi dengan isi kepala Sean dihadapannya.


Sean hanya menyunggingkan senyum tak menyangka isi otaknya ketebak dengan baik dihadapan Anjeli, gimana nantinya jika dihadapan mereka berdua.


"Memeng benar jika cari istri jangan dekat dengan sahabatnya, itu sama saja dengan menjerumuskan diri sendiri dalam jurang kematian," cetusnya kembali.


Tak disangka Alma tiba-tiba muncul dihadapan mereka, " kalian ini asyik berdebat di sini rupanya, aku berteriak dari tadi gak ada satupun yang dengar, entah apa yang akan anak-anak pelajari dari tingkah orang tuannya yang gak ada dewasanya sama sekali."


Setelah mengomeli mereka Alma balik menuju kamar dengan berjalan tertatih memegang tembok sepanjang perjalanan menuju kamarnya, rupanya Alma berteriak meminta tissue basah yang terletak di ruang tengah.


"Ish...kau ini. pasti si boy lagi pup, biar aku bantu dia, kamu sebaiknya berangkat sekarang, nanti mereka kelamaan menunggu." Anjeli meninggalkan Sean setelah ucapannya berakhir dan berjalan menuju kamar Alma dan langsung mengambil alih tissue ditangan Alma dan mengganti popok Keponakan imutnya.


"Apa yang kalian perdebatkan lagi?" tanya Alma penuh selidik.


"Si uban itu menolak menjemput adik Rani dan sahabatnya , aku pun jadi jengkel."


"Masalah itu, kalian ini....! kapan jadi orang dewasa?"


"Dia yang duluan," sahut Anjeli dengan wajah masam.


"Udah punya dua anak masih bertingkah seperti ini, untung Siera anak yang cerdas jika tidak entah apa yang akan di pelajari dari sikap kalian?"


"Yah, maaf...!, kalian emang serasi, pasangan tua."


"Anjeli...berhenti kekanakan....!"cetus Alma tak tahan dengan sikapnya.


"Sorry....!" ucap Anjeli dengan dua jari membentuk huruf V, sebagai permintaan damai.


...----------------...