SIERA

SIERA
22. Kebenaran Terungkap



Negri Jiran....


Suasana kota yang begitu indah, membuat Anjeli betah tinggal di negri Jiran Malaysia.


Lingkungan yang bersih dan warga yang selalu ramah padanya.


Anjeli bersama seorang sahabat masa kecilnya merintis sebuah butik yang sedang tersohor namanya sekarang, pakaian yang di desain oleh Anjeli cukup menarik banyak peminat. Hingga mengantarkan Anjeli dan sahabatnya Alma mencapai puncak kesuksesan, sebagai desainer muda berbakat tahun ini.


Seiring berjalannya waktu, Anjeli sekarang berada pada bulan tafsiran persalinan, Anjeli merasa gelisah memikirkan kedepan, entah bagaimana ia menghadapi persalinan sekarang terlebih lagi posisi janin dalam kandungan Anjeli tidak dalam posisi normal, sehingga sulit untuknya melahirkan secara normal.


Hari ini adalah jadwal pemeriksaan Anjeli ke dokter kandungan.


Hasil pemeriksaan masih menunjukkan hal yang sama, dokter memberikan pilihan pada Anjeli untuk melahirkan secara sesar atau lewat operasi kebidanan.


Yang membuat Anjeli gelisah adalah persyaratan administrasi yang harus mendapatkan persetujuan dari sang suami secepat mungkin. Hal yang tak mungkin untuk Anjeli lakukan.


Alma yang menemani Anjeli, hanya bisa membujuk Anjeli agar menghubungi mas Bagas sesegera mungkin, mengingat jadwal operasi yang akan di lakukan pekan depan.


"Alma, aku tak mungkin melakukan itu, hatiku masih sakit oleh penolakannya tentang anak ini, aku tak sudi jika ia melihatnya apalagi sampai menggendongnya," Tegas Anjeli pada Alma.


"Tolong lah Anjeli tepis kan ego kamu itu, ada dua nyawa yang kamu pertaruhkan, nyawa kamu sendiri dan anak itu."


"Alma.....tapi...!"


"Tak ada kata tapi, lagi. Detik ini, jam ini, sekarang hubungi suami mu...!, aku tak mau dia menyalahkan ku gara-gara ulah mu ini."


Alma kalau sedang marah, mengerikan juga, pikir Anjeli sesaat.


Dua hari berselang Anjeli belum memperlihatkan niatnya untuk menelpon Bagas suaminya.


Dia masuk sibuk dengan rancangan terakhirnya yang sudah jatuh tempo untuk diserahkan pada kliennya.


"Aissss....sakit." Anjeli terlihat sedang meringis.


Alma memperhatikan langsung mendekat dan melihat keadaannya.


"Mana yang sakit?, apa sudah waktunya?, sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang....!"


"Ah...kau ini cerewet sekali, hanya sakit biasa kok, aku selesaikan rancangan ku dulu. Lalu istirahat sebentar dan sakitnya pasti akan hilang."


"Tapi wajah mu pucat."


"Sudah lanjut sana, rancangan kita sedang di tunggu oleh klien penting, harus selesai segera mungkin."


Tanpa menghiraukan rasa sakit, Anjeli masih sibuk melanjutkan kerjaannya.


Alma yang tak bisa diam lagi melihat keadaan Anjeli berinisiatif menghubungi dokter Farah dan memberikan kabar tentang keadaan Anjeli sekarang.


Farah yang terkejut mendengar kabar itu, langsung bergegas mencari dokter Sean, dan menyampaikan kabar tersebut.


"Kapan dokter akan ke Malaysia menjemput calon istri kamu?"


"Emangnya kenapa?"


"Aku mau ikut..!"


"Apa kau sudah gila?, mau si Rama itu naik pitam dan membunuhku, lagian kamu juga sekarang sedang hamil."


"Tapi Anjeli, sekarang dia sedang dalam masalah, ia tak bisa lahiran normal, karena posisi janinnya sulit untuk dilahirkan secara normal, dan pekan depan ia akan menjalani operasi sesar, namun Hemoglobin dalam darahnya sangat rendah, kemungkinan terjadi perdarahan saat operasi nanti, dokter di sana menyarankan agar suaminya menanda tangani berkas persetujuan untuk memilih ibu atau anak jika ada sesuatu yang gawat pada pasien." Jelas Farah pada Sean.


"Ya, aku mengerti. Peraturan di sana lebih ketat, apalagi jika di rumah sakit bertaraf internasional."


"Biar aku yang menangani semuanya, kamu jangan terlalu banyak berfikir, kasian janin dalam kandungan kamu."


"Ya, baiklah," Farah meninggalkan ruang dokter Sean dengan wajah murung.


Sean langsung keluar dari rumah sakit dan menuju kantor Bagas.


"Tumben kamu muncul disiang bolong?"


"Ada hal penting yang aku ingin bicarakan."


"Penting ya paman?, kalau begitu aku juga harus terlibat, siapa tau ada yang bisa aku bantu?"


"Huft...Apa kau kekurangan pegawai sampai harus memperkerjakan gadis cilik ini?"


"Sudah, sama anak kecil harus mengalah. Katakan hal apa yang sangat penting itu?"


"Ini tentang Anjeli..."


"Kenapa dengannya?"


Bagas menghela napas panjang mendengar cerita Sean.


"Ayah...Siapa Anjeli itu?, dengar cerita tentangnya aku sangat sedih, suaminya pasti orang jahat tak peduli padanya."


"Puft...." Sean hampir tertawa mendengar tutur kata Siera yang sangat polos.


Melihat Sean hampir menertawakan dirinya, Bagas langsung memicingkan mata kearahnya.


"Sudah jangan melihatku seperti itu, yang dikatakan oleh Siera itu sangat tepat."


Mendengar Siera menanggapi cerita Sean, Bagas seakan tercekak, tak mampu berucap sepatah katapun.


"Apa perlu aku jelaskan siapa Anjeli itu, Nak?"


"Iya, jelaskan sekarang paman, agar Siera bisa bantuin pecahin masalahnya."


"Sean, apa kau tak punya kesibukan dirumah sakit sekarang?, Apa perlu aku tutup rumah sakit mu itu?"


"Ah...Ayah ini, gak boleh di tutup nanti mereka yang sakit gak bisa di rawat lagi."


"Oh...anak pintar, Kenapa Ayah mu itu tak sepintar dirimu?"


"Sean....."


"Baik, aku keluar sekarang."


"Ayah ini galak sekali."


Bagas terlihat berpikir keras akan informasi yang barusan ia peroleh dari Sean tentang istrinya.


"Ayah, aku ikut ya ke Malaysia, pengen lihat Tante Anjeli. Kayak apa sih orangnya?"


Bagas hanya terdiam tak menanggapi Siera, ingin rasanya ia bilang sekarang juga jika Anjeli adalah ibu kandungnya, namun mengingat kepergian Anjeli meninggalkan mereka dua tahun yang lalu membuat Bagas enggan memberitahu pada putrinya siapa sebenarnya Anjeli.


"Ayah dari tadi diam aja, gak seru...!"


"Ayo, bersiaplah kita akan pulang sekarang...!"


"Ih...Ayah, gak boleh bolos kerja, harus disiplin, ini belum jam pulang kantor."


Bagas tak menghiraukan perkataan Siera, ia langsung menggendong putrinya menuju mobil dan melajukan mobil kembali ke kediamannya.


"Nak, main dulu sama omah, Ayah ada urusan sebentar."


Bagas langsung naik ke lantai dua dan menuju ruang kerja miliknya.


mencari berkas persalinan Anjeli lima tahun yang lalu. Ia lalu terfokus pada map hijau yang terselip seperti disembunyikan oleh Anjeli.


Bagas membuka berkas itu, dan mulai membacanya satu persatu.


Di dalamnya tertera nama Anjeli dan diagnosa penyakit dari Anjeli.


"Tumor Otak"


Ia mulai membukanya lagi satu persatu dan menemukan nama dokter Sean sebagai dokter penanggung jawab atas penyakit Anjeli.


"Sean"


Bagas tak berhenti ia terus membuka berkas tersebut, dan menemukan nama dokter Farah sebagai asisten dokter penanggung jawab penyakit Anjeli.


"Farah"


Niat hati ingin mencari berkas persalinan, tapi yang Bagas temukan lebih mengejutkan lagi, Bagas bergegas keluar dari kediamannya membawa berkas tersebut dan menemui Sean di rumah sakit.


Bagas melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi tanpa memperdulikan pengendara yang lain, sikap tempramen Bagas, memang sulit di kendalikan.


Setelah sampai di rumah sakit Bagas langsung menemui Sean di ruangan kerja miliknya.


"Sean"


Panggil Bagas dengan nada tinggi.


Sean yang sedang sibuk dengan berkas pasien di mejanya, langsung tersentak kaget mendengar panggilan Bagas.


Bagas lalu melemparkan berkas ke atas meja Sean. Sean yang belum paham, mengambil berkas dan membukanya, matanya terbelalak kala ia melihat nama Anjeli yang tertera dengan diagnosa penyakit yang telah lama Anjeli sembunyikan dari Bagas.


"Apa yang kamu bisa jelaskan dari berkas itu?, jelaskan lah dengan terperinci, jika aku tak paham maka nyawamu taruhannya."


Amarah Bagas membuat Sean ketakutan luar biasa.