SIERA

SIERA
61



Sean melajukan mobil sport miliknya menuju bandara menjemput adik Rama yang sudah lama ia tak jumpai lagi, entah seperti apa wujud mereka sekarang. Setelah sampai di bandar Sean memilih duduk di kursi tunggu penumpang yang senasib dengan dirinya menunggu sanak keluarga mereka. Belum lama ia duduk santai gadget miliknya berdering ia merogoh kantung celana dan mengambil benda pipih itu dan ternyata Anjeli yang menghubungi diri, Anjeli menanyakan jika mereka sudah tiba di bandara atau belum.


Sean menjawab apa adanya, hingga pembicaraan mereka lewat telpon pun berakhir. "Kenapa mereka belum tiba, bukannya ini sudah lewat dua puluh menit lamanya," guman Sean.


Sean memilih memainkan sebuah game dalam gadget miliknya sembari menunggu mereka tiba, "Kak Sean," teriak seorang gadis cantik dengan rambut terurai indah, yah itu tak lain adalah Rina adik Rama sedang di samping Rina tampak seorang gadis imut rambut pendek sebahu dengan dress selutut nampak anggun dan lebih feminim dari pada Rina yang sedikit tomboy dengan pakaian jeans miliknya.


"Hay kak...!" sapa Rina.


"Kalian lama sekali, pantatku sampai berkarat duduk menunggu kalian."


"Ah....kakak tak pernah berubah masih lebay seperti dulu kala,"


Mereka pun tertawa bersama dengan candaan mereka.


"Hay...kenalkan teman aku, namanya elin."


"Ya, aku sudah tahu dari Anjeli."


"Yuk, berangkat sekarang. Anjeli sudah menunggu kalian dan bersiap lanjut menuju kota Paris menjemput Siera," lanjut Sean.


"Okey."


Meraka pun langsung kembali ke rumah, sampai di rumah tampak Anjeli sudah menunggu mereka, tanpa banyak obrolan Anjeli langsung memberi tahu mereka jika sebentar malam mereka sudah ada di Paris dan langsung balik ke indo, "Mendadak sekali kak?" tanya Rina pada Anjeli.


"Nenek Siera semakin parah, aku harus segera balik, jika tidak bisa jadi aku tak akan bertemu dia lagi," sahut Anjeli dengan wajah sedih.


"Sudahlah kalian istirahat sejenak untuk penerbangan selanjutnya," ujar Anjeli kembali.


Gadget Anjeli tiba-tiba berdering...ketika ia lihat ia cukup di kejutkan dengan panggilan Diman.


"Eh....kak Diman kenapa menghubungi ku lagi," ucap Anjeli menjadi heran dengan sikap kakak sepupu yang tak biasanya.


"Anjeli kamu udah siap?, aku sudah di bandara sekaran, suruh Sean mengantar kamu dan kami menunggu di bandara, sekarang juga."


Sean yang mendengar obrolan mereka karena Anjeli sengaja mengeraskan suara gadget miliknya, langsung beranjak dari tempat duduknya, "kita berangkat sekarang," ucap Sean tanpa basa basi lagi.


Sean langsung menemui Alma dan putranya, "Sayang aku tinggal ke indo, kamu disini ada Rina dan Elin, untuk sementara kamu sama mereka dulu."


Melihat kepanikan dari Sean Alma langsung menebak apa yang sedang terjadi, "Kabari aku jika sudah sampai dan jaga Anjeli untuk ku ia pasti sedih jika sampai terjadi hal yang buruk pada mertuanya meski hubungan mereka tak sedekat ibu dan anak pada umumnya."


"Ya, kamu juga kabari aku. Aku janji tak lama dan aku akan menjemput kalian segera."


"Rina, Elin...aku titip Alma dan putra ku pada kalian, hubungi aku segera jika ada masalah,"


"Baik kak," sahut Rina dan Elin bersama.


"Ibu pasti gawat, apa dia menghubungi mu?"


"Ya, Bagas menyuruhku segera di sana sekarang."


Anjeli kembali terdiam hanya air mata yang mulai membanjiri pelupuk matanya, tak kuasa menahan sedih, Sean langsung menarik bahu Anjeli dan membuat dirinya menjadi sandaran untuk wanita yang selama ini ia kagumi, meski rasa yang ia miliki sudah banyak berkurang sejak kehadiran Alma di sisinya, namun tak bisa di pungkiri jika masih ada sebuah rasa yang selamanya akan terus tersimpan rapi dalam hatinya untuk Anjeli.


"Karena sikap ku yang membuat dirinya semakin parah, seharusnya aku tak se egois ini, aku seharusnya berada disisinya saat seperti ini, tapi aku dan Bagas justru meninggalkannya berjuang seorang diri," ucap Anjeli semakin berderai air mata.


Sean menyeka air mata Anjeli " hapus air mata mu, jangan perlihatkan dirimu yang lemah pada putri kecil mu. Bukan kah ini janji mu padaku sebelumnya?, akan menjadi Anjeli yang kuat apapun yang terjadi."


"Kau masih mengingatnya?" ucap Anjeli kembali menatap pria yang selalu bersikap lembut padanya.


"Sampai kapan pun," balas Sean dengan tersenyum pada Anjeli.


"Kenapa ?"


Sean hanya kembali memperlihatkan senyuman itu, cukup dirinya yang tahu alasan itu, tak perlu ia ungkapkan pada Anjeli. Sean kembali menatap wanita yang selama ini ingin ia lindungi selamanya, "Karena aku adalah sahabat suami mu," sahutnya pelan namun menyiratkan makna terdalam.


Anjeli kembali menatap netra yang selalu meneduhkan dirinya, yang selalu bersikap lembut padanya, berbanding terbalik dengan pria yang merupakan pilihan hidupnya sebagai pendamping yang selalu menemaninya meski mereka selamanya tak akan pernah akur.


"Andai saja Bagas memiliki sikap yang Sean lakukan padaku, aku akan menjadi wanita paling bahagia, andai saja aku mampu membalas perasaan Sean pada ku mungkin bahagia itu akan menjadi milik ku, sikap lembut itu akan selalu menentramkan hati ini, tapi takdir berkata lain, tuhan memberikan ku ujian yang lebih dan aku tau maksudnya, agar aku lebih kuat dan mandiri dalam hidup ini," guman Anjeli yang masih menyandarkan diri pada bahu pria yang sudah menjadi suami sahabatnya dan menjadi ayah baru."


Sean kembali membuat lamunan Anjeli menghilang dari pikirannya, " sudah sampai."


Anjeli kembali menata diri dan menyeka sisa air mata yang masih tergenang di pelupuk matanya. Sean kembali memperhatikan sikapnya, memastikan ia lebih kuat dan tak memperlihatkan Anjeli yang lemah di depan Siera.


"Ibuuuuuu......" teriak Siera menyambut mereka sedang Amar masih tertidur lelap dalam gendongan Sean.


"Kita harus bergegas," ucap Diman.


Sean dan Anjeli langsung berjalan secepat mungkin mengimbangi langkah Diman dengan Siera berada di gendongan pamannya. "Paman kenapa meski buru-buru, kita gak jalan-jalan dulu," tanya Siera yang sama sekali tak tau jika nenek kesayangannya sedang saki parah, bahkan mungkin sedang sekarat sekarang ini.


"Gak, Sayang. Lain kali paman pasti akan ajak kamu dan adik Amar jalan-jalan ke suatu tempat yang sangat indah di negara tercinta kita, di sana lebih banyak pemandangan indah dan menyejukkan mata."


Selama perjalanan Siera terus mengoceh sedang Anjeli tak banyak bicara ia hanya bersandar di bahu Sean, hingga mendapat lirikan tajam dari Diman. "Jaga sikap mu Anjeli, meski Sean sahabat suami mu dan suami sahabat mu, jaga jarak darinya. Bisa jadi fitnah nantinya," ucap Diman memperingatkan mereka.


"Bujang lapok, sok menasehati...!"


"Dasar pria tua mesum...!, tak berubah sama sekali, entah apa yang Alma lihat dari mu hingga menjatuhkan pilihan hati pada pria tua seperti mu."


"Hmmm...." Siera yang sedikit paham situasi langsung berdehem memperingatkan ke dua pria yang terus saling berada mulut.


"Jaga sikap kalian juga, itu tak baik untuk perkembangan otak anak-anak seperti ku," ucapan Siera berhasil membuat susana kembali mencair sedang Anjeli memindahkan sandaran ke bahu Diman dan malah tertidur pulas.


"Anak ini, tak pernah berubah sama sekali, selalu saja mabok dalam perjalanan."


"Tapi waktu aku bersama ibu, dia tak mabok sama sekali, tertidur pun tidak," ucap Siera menimpali dan membela ibunya.


"Itu karena dia stres," ucap Diman dan Sean bersamaan.


"Berisik," ucap Anjeli sambil memperbaiki posisi tidurnya dan malah mengubah posisi menjadikan paha Diman sebagai bantal empuknya dan menggeser posisi duduk putrinya yang berada di atas pangkuan pamannya.


"Ibuuuuu....." teriak Siera tak senang posisinya diambil alih.


...----------------...