
Keesokan harinya....
Anjeli pun berangkat ke Malaysia dengan membawa ke dua buah hatinya.
Mertua Anjeli sangat sedih dengan perpisahan mereka, tapi karena kesalahan terdahulunya sekarang ia tak bisa berbuat banyak, kecuali dengan berbesar hati dan lebih banyak bersabar.
Bagas dengan berat hati mengantar mereka ke bandara, setelah sampai di bandara Bagas tak henti-henti memeluk sang istri.
"Mas, sudah. Malaysia itu tak jauh buat mu, kamu masih bisa mengunjungi kami, kok," ucap Anjeli berusaha menenangkan suaminya yang terlihat sangat sedih karena kepergiannya dan membawa kedua buah hati mereka.
Bagas memang semakin pintar drama dengan kesedihan yang dibuat dramatis, akan tetapi justru di rumah kediaman mereka ibu mertua Anjeli di buat sedih tak habis-habis da karena dengan kesedihan yang teramat dalam membuat tekanan darahnya meninggi dan ia pun ta sadarkan diri.
Bagas dan Anjeli sama sekali tak menyadari hal itu, bahkan ketika pulang dari bandara Bagas masi sempat ke kantor untuk menanda tangani berkas yang sempat ia tinggalkan bersama sang asistennya.
Setelah selesai Bagas tiba-tiba teringat akan sang ibu di rumah.
Bagas langsung bergegas pulang, dan entah ada apa dengan perasaannya kali ini ia seakan sangat mengkhawatirkan sang sang ibu.
Tiba di rumah Bagas langsung, menuju kamar ibunya, alangkah terkejutnya dirinya saat menemukan sang ibu sedang tergeletak lemah di lantai kamarnya.
"Ibuuuuu....." teriak dengan sangat syok menemukan ibunya sudah pingsan.
Bagas langsung membopong ibu Miranti keluar dari kediamannya menuju rumah sakit.
Tiba di rumah sangat ibu Miranti langsung mendapatkan penanganan yang serius.
Ditengah penanganan dirinya ibu Miranti tiba-tiba sadarkan diri dan mencari Bagas putranya.
"Mana putra ku?, ada ingin aku sampaikan padanya, tolong aku ingin bertemu dengannya sekarang!"
Tanpa pikir panjang sang dokter langsung memberikan arahan pada sang asisten agar segera memanggil keluarga dari pasiennya.
"Bu, ada apa?, kenapa ibu seperti ini?, kita bisa bicarakan semuanya setelah ibu baikan," Bagas semakin merasa ada sesuatu yang ibu sembunyikan padanya.
"Tidak, Nak. Ibu tak punya banyak waktu. Sebaiknya kamu jangan main-main dengan Mira, dia pasti akan menghancurkan keluargamu, aku mendapat informasi jika ia telah menggugurkan kandungannya dan berniat menjebak dirimu, dan satu lagi Mira sekarang sedang bekerja sama dengan salah seorang pembantu di rumah kita, kamu harus hati-hati, Nak."
Setelah menyampaikan hal tersebut ibu Miranti langsung tak sadarkan diri kembali dan dokter pun menjadi panik kembali.
Bagas semakin bingung di buatnya.
"Ada apa dengan ibu ku, dok?"
"Maaf, apa anda tidak tau jika beliau terkena serangan jantung beberapa bulan yang lalu dan sekarang ia kembali ke rumah sakit dengan penyakit yang sama, dan kami takut ibu anda tak mampu bertahan kali ini."
"Apa........?" Bagas sangat terkejut dengan pernyataan sang dokter.
Sementara di luar ruangan tampak Mira sedang memantau keadaan, ia pun sangat puas dengan hasil kinerja orang suruhannya yang tak lain adalah pembantu Bagas sendiri.
Mira dengan kejam menyuruh pembantu tak setia dari Bagas untuk menaruh obat yang dapat mengakibatkan gagal jantung pada ny. Miranti dan itu sudah berlangsung selama berbulan-bulan lamanya.
Hari ini Miranti baru mengetahui semuanya, dan itu membuat dirinya sangat syok, belum lagi kesedihan yang ia harus terim dengan keputusan sang menantu.
"Gila, apa Mira sampai sekejam itu. Apa ia berubah menjadi psikopat sekarang?, aku tak menyangka, statusnya sebagai keluarga terhormat menjadikan ia tak punya hati nurani sama sekali," Bagas semakin emosi dengan hal tersebut.
Bagas tak membuang waktu ia langsung memerintahkan Alang untuk mengecek sisi TV kediamannya dan benar saja semua terkuak, memang Mira lah yang menjadi dalang semuanya.
Bagas tanpa pikir panjang lagi, ia langsung memerintahkan kepada para orang suruhannya untuk melakukan penyelidikan sesegera mungkin.
***
Anjeli segera menghubungi suaminya dan menanyakan kebenaran kabar tersebut.
"Mas, apa benar ibu sedang dirawat di rumah sakit sekarang?" tanya Anjeli dengan perasaan yang sangat kacau saat mendengar berita tersebut.
"Ya, aku sekarang sedang menyelidiki semuanya, aku curiga ini semua adalah ulah dari di Mak Lampir itu," ucap Bagas dengan sedikit menahan emosi.
"Mas, apa aku pulang sekarang?" tanya kembali Anjeli yang semakin kalut dengan pikirannya sekarang.
"Jangan, sebaiknya kamu tetap di Malaysia. Aku takut Mira akan semakin nekat dan mencelakai kalian juga."
"Kenapa kamu bisa seyakin itu, jika dia adalah dalang dari semuanya?" Anjeli semakin penasaran dengan sikap Bagas.
"Aku mendapatkan bukti jika ia bekerja sama dengan salah satu pembantu di rumah kita," jawab Bagas dengan menahan emosi mengingat kejadian yang ia saksikan dari rekaman CCTV kediamannya.
"Gila, Mak Lampir itu semakin menjadi sekarang, kamu harus berhati-hati, Mas," ucap Anjeli yang semakin khawatir.
"Aku juga menemukan bukti jika ia telah aborsi dan sekarang mungkin ia sedang mengatur rencana menjebak kita kembali dan menghancurkan mahligai rumah tangga kita, sayang," Bagas terpaksa harus memberitahukan semua pada Anjeli agar kedepannya meraka bisa lebih waspada lagi.
"Ya udah Mas, ingat kabarin aku tentang keadaan ibu Miranti."
"Baik, Sayang. Kamu juga jaga diri baik-baik di negri orang, dan kabarin balik juga jika kamu kenapa-napa di sana."
Setelah obrolan mereka selesai Bagas langsung menghubungi asistennya dan menanyakan perkembangan dari penyelidikan mereka.
" Tuan, Penyelidikan berjalan cukup lancar dan Mira sekarang sedang merencanakan sesuatu untuk menjebak Tuan dengan membuat berita palsu, mengedarkan beberapa foto lama di medsos miliknya. Aku khawatir nyonya Anjeli akan terpengaruh dengan berita ini."
"Jangan khawatir dia bukan wanita sebodoh itu."
Bagas yakin jika istrinya sekarang sudah menjadi wanita yang cerdas dan tak mudah terpengaruh oleh berita seperti itu.
Tanpa menghubungi istrinya Bagas langsung mengurus beberapa pekerjaan yang sempat tertunda sebelumnya.
Bagas berusaha untuk tetap kuat dan tak terpengaruh oleh keadaan sekarang.
Disisi lain Siera semakin lihai menjaga sang adik, dan menemaninya untuk bermain ketika Anjeli sedang sibuk dengan butiknya.
"Ibu, maafin Siera. Tapi tadi aku dengar ibu bilang jika Oma masuk rumah sakit?"
"Ya, Nak. Oma memang sedang di rawat di rumah sakit sekarang, tapi Ayah melarang kita pulang karena si Mak Lampir itu, sekarang semakin jahat, Nak."
"Bu, apa Ayah tak butuh bantuan kita sekarang?" Siera kini khawatir jika Ayahnya masuk dalam jebakan lagi.
"Ayah mu orang yang cerdas dan kuat, ibu yakin dia pasti bisa menanganinya."
"Cerdas apanya Bu, dia malah terjebak berulang kali, semoga kali ini ibu benar tentang Ayah."
"Hahaha.....kamu kok menganggap remeh Ayah?"
"Ibu belum tau aja jika Ayah itu kadang sering ceroboh."
"Iya, tapi ibu yakin dia sudah cukup belajar dengan kesalahannya sekarang. Buktinya sekarang Ayah sangat sayang sama kita."
"Semoga, tapi yang jelas Siera masih meragukan dirinya, semoga aja dia gak bikin kacau sekarang."
"Puft....anak ini benar-benar punya otak diluar jangkauan orang dewasa," guman Anjeli dengan menahan tawa, melihat sikap Siera barusan.
...----------------...